UN, Diantara Dukungan dan Kecemasan

Saya tergelitik menulis ini setelah mendapatkan pertanyaan menarik dari Mbak Su, asisten rumah kami setelah melihat berbagai berita tentang usaha-usaha yang dilakukan sekolah menjelang siswa-siswanya mengikuti UN. Mulai dari mengadakan doa bersama yang diiringi isak tangis penuh dengan sesaknya hati dan pikiran, menyarankan siswa berkeliling sekolah untuk meminta maaf atas semua kesalahan, melakukan ritual mencuci kaki guru dan orangtua sedemikian rupa, sampai ada yang meminta siswa untuk minum air tertentu yang sudah diberi doa-doa.

Kok kula mboten sreg nggih, Bu… (kok saya ndak sreg ya, Bu)…?”, katanya.

Saya tanya apa yang membuatnya tidak sreg. Mbak Su bilang, ia merasa justru dengan itu semakin membuat UN menjadi momok untuk siswa, sehingga siswa pun menghadapinya dengan penuh kecemasan, kekhawatiran yang berlebih.

Yak, saya sepakat dengan Mbak Su. Saya pun merasakan hal yang sama sejak beberapa waktu terakhir sering mendengar ritual-ritual yang menurut saya justru menambah beban psikologis anak setiap kali masa UN datang.

Dipersepsikan dengan sederhana, UN sebenarnya hanyalah satu proses evaluasi dari seluruh kegiatan belajar siswa yang dijalani sejak awal masa studinya. Hasil UN sewajarnya akan mencerminkan apakah siswa optimal atau tidak dalam belajar. Jika sekolah sudah melaksanakan proses pendidikan dengan baik, mengikuti kurikulum dan segala ketentuannya, maka siswa akan dapat belajar dengan benar sesuai target capaian pembelajaran. Dengan demikian, tidak perlu ada kekhawatiran berlebih dalam menghadapi evaluasi yang bernama UN ini.

Kalaupun sekolah akan berusaha keras mendorong seluruh siswa agar dapat melalui UN dengan baik, maka langkah paling tepat menurut saya adalah dengan mengupayakan terlaksananya proses pembelajaran yang sebaik mungkin. Jadi bukan dengan melakukan langkah-langkah yang dinyatakan sebagai bentuk dukungan, namun sejatinya justru menularkan virus kepanikan. Penularan panik dan cemas yang bahkan berantai, dari pihak sekolah ke siswa, juga orangtua. Baca lebih lanjut

Iklan

Berbagi Materi dari Seminar Nasional “Perempuan Pilar Peradaban Bangsa”

Minggu, 30 Oktober 2016, mendapat kepercayaan untuk menjadi salah satu pembicara dalam Seminar Nasional Forum Perempuan yang diselenggarakan oleh BEM Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Dalam seminar tersebut, materi yang saya sampaikan secara khusus mengulas tentang perempuan dari sisi perannya sebagai Ibu, sosok yang signifikan dalam menumbuhkan berbagai karakter positif generasi masa depan.

1476356434452Saya mengambil judul:

GENERASI TANGGUH DENGAN ASUHAN IBU YANG TANGGUH

Dengan judul ini, hal yang ingin saya tekankan adalah bahwa untuk mampu menumbuhkan anak-anak tangguh, yang tidak hanya terampil dan berwawasan luas namun juga memiliki pribadi yang baik, maka Ibu sebagai pendamping tumbuh kembang anak harus lebih dahulu menunjukkan kualitasnya sebagai individu yang tangguh. Sebab pengasuhan anak bukan hanya sekedar teknik, bukan sekedar rentetan tugas rutin yang asal bisa dikerjakan sambil lalu. Mengasuh anak memerlukan penghayatan akan peran, kesadaran terhadap setiap hal kecil dari diri pengasuh yang dapat menjadi sumber belajar, contoh bagi bagi anak-anak dalam bersikap dan berperilaku setiap harinya.

slide2Agar pesan dapat tersampaikan secara jelas dan runtut, materi saya susun dalam tiga bagian. Berikut ini ringkasan isinya: Baca lebih lanjut

Kisah Kasih yang Menghanyutkan

Tak terbantahkan lagi bahwa kasih orangtua adalah zat gizi super duper penting yang berpengaruh besar terhadap perkembangan seorang anak. Dengan kasih, anak yang meyakini bahwa sekitar menyayanginya, akan mampu mengembangkan kepercayaan dan sikap yang positif terhadap lingkungan. Sebaliknya, tanpa kasih anak akan mungkin tumbuh menjadi individu yang kering secara emosional, yang dingin dan sulit memahami perasaan baik diri sendiri maupun orang lain.

Akan tetapi, bagaimana dengan kasih dalam kisah-kisah berikut ini? Mari kita simak. Seperti biasa, nama tokoh yang disebutkan bukan nama sebenarnya ya… 🙂 Baca lebih lanjut

Perkembangan Anak Itu… Bukan Sulap, Bukan Sihir

“Mai, selesai main, kamarnya dibereskan ya… Bersih rapi lagi kayak tadi…”

“Ya, Mam…”, sahut Damai sambil bergerak membereskan mainan dan buku-bukunya.

Mendengar jawaban Damai, N, seorang teman yang waktu itu sedang datang ke rumah bersama anak-anaknya pun berkata, “Aduh…coba anakku ini kayak mbak Damai ya…, mau mbereskan mainannya sendiri. Pasti rumah juga jadi enak…”

Pernyataan itu cukup menarik buat saya. Sama menariknya ketika saya mendengar E, seorang teman yang lain berkata pada anaknya, “Kapan ya, kamu mau rajin baca buku kayak Damai itu…?”, atau keluhan V, “Kenapa anakku ini pendiam sekali? Ada apa-apa nggak mau ngomong. Tahu-tahu sudah kejadian sesuatu…”

Hmmm…..kenapa saya bilang pernyataan itu cukup menarik? 🙂 Baca lebih lanjut

Berteman yang Baik

Ceritanya berawal dari suatu malam di minggu yang lalu. Damai sibuk menggunting gambar-gambar bunga. Saya tanya untuk apa, dia bilang untuk dibagikan ke teman-temannya yang ikut mobil antar jemput sekolah. Biar teman-temanku senang, katanya. Tapi setelah itu dia mengatakan sesuatu.

“Ma, kasihan Vika…”

“Kenapa?” tanya saya.

“Aku nggak boleh sama Nila ngasih apa-apa ke Vika. Besok juga pasti aku nggak dibolehin sama dia ngasih ke Vika…”

“Lho, kok gitu?” Baca lebih lanjut

Si Awan Pancake

Siang tadi saat saya sedang sibuk memasang wall sticker dan Damai membaca majalahnya di dalam kamar, terdengar suara berita dari TV yang sedang ditonton Nenek (ibu saya) di ruang belakang. Inti beritanya adalah tentang kemunculan gumpalan awan yang bentuknya mirip UFO. Sebelum jeda iklan dan berita berlanjut, si pembaca berita berbicara dengan intonasi yang memancing rasa penasaran: “Fenomena apakah ini sebenarnya?”

Hooo…..beneran jadi terpancing nih! Saya lalu memastikan berita itu, dan bertanya ke ibu saya, “Awan apa Nek?”

“Awan mirip UFO! Sik… habis ini beritanya!” jawab ibu saya yang nggak kalah heboh. Langsung terbayang oleh saya, cerita-cerita misterius tentang keberadaan UFO, bercampur dengan aroma mistis yang belakangan juga sering ditambahkan untuk membumbui berita, biar terasa lebih sedap, hehehe…. 😀 Baca lebih lanjut