Refleksi Ibu Belajar (4): Mengelola Emosi, Mengupayakan Ketangguhan

Hidup tidak selalu berjalan sebagaimana yang diharapkan. Ada kalanya kita dihadapkan pada situasi yang penuh tekanan karena persoalan atau kesulitan yang muncul di luar kendali. Entah dalam keluarga, pekerjaan, maupun sisi-sisi hidup yang lain. Bahkan ketika suatu saat tekanan psikologis meningkat, beban terasa begitu berat, kondisi akan membawa pada ketidakstabilan emosi yang jika tidak dikelola dengan tepat akan berdampak panjang ke sekitar, termasuk anak.

Mengingat siapapun akan mungkin mengalaminya, maka usaha untuk terus memperkuat kemampuan dalam mengelola emosi adalah langkah yang penting dilakukan oleh setiap orangtua. Tujuannya tentu agar anak seminimal mungkin terkena dampak permasalahan orangtua; kita menjadi pribadi yang semakin tangguh, yang mampu menghadapi setiap tantangan hidup dengan baik; sekaligus menjadi contoh bagi anak-anak agar nantinya mereka juga mengembangkan kekuatan personal yang serupa, bahkan jika mungkin lebih baik.

Berkait itu pula, saya terkadang meluangkan waktu untuk sejenak menoleh ke belakang. Mencoba mencari hikmah dari perjalanan hidup yang kemudian memunculkan kesadaran bahwa antar waktu, antar episode itu seringkali saling berkait, ada benang merahnya. Pengalaman yang lebih dulu terlewati seolah memberi bekal untuk mampu menghadapi yang kemudian datang.

Barangkali skenario Allah juga kenapa sekian tahun yang lalu saya begitu tertarik untuk mulai mempelajari dan kemudian mendalami resiliensi, sebuah konsep yang menjelaskan tentang ketangguhan dalam hidup. Boleh jadi, itu bagian dari proses bagaimana Allah menyiapkan saya agar bisa menjalani garis-garis takdir-Nya yang tidak biasa.

Dan melalui setiap momen ujian (baca: ruang belajar), Allah seolah menghendaki saya tidak hanya sekedar mempelajari dan membagikan pemahaman ke orang lain, tetapi juga menerapkannya secara langsung ketika diri sendiri menghadapi situasi sulit. Walk the talk. Termasuk mengupayakan agar seberat apapun persoalan yang dihadapi, komitmen terhadap pengasuhan anak sedapat mungkin tidak terlalu terdampak.

Baca lebih lanjut

Menjadi Remaja yang Resilien untuk Mencapai Psychological Wellbeing di Masa Pandemi

Berikut adalah sedikit rangkuman tentang langkah-langkah mengupayakan resiliensi untuk menjaga wellbeing remaja di masa pandemi.

Beberapa kutipan berita di bagian awal disajikan untuk menegaskan bahwa pandemi tidak selalu memberikan efek yang negatif bagi para remaja. Sejumlah data pada pemberitaan tersebut menunjukkan bahwa tidak sedikit diantara remaja yang mampu mengelola situasi penuh tantangan menjadi peluang untuk bisa mengasah kemampuan sekaligus turut berkontribusi membantu masyarakat, dengan terlebih dahulu berproses menjadi individu yang resilien.

Catatan ini sebagaimana tersampaikan pada mahasiswa saat mengisi Kuliah Umum di Prodi Pendidikan Agama Islam, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, 15 Oktober 2021 yang lalu.

Processed with MOLDIV
Baca lebih lanjut

Membantu Anak Berkebutuhan Khusus Memiliki Ketangguhan Psikologis

Terus peduli dan memberikan dukungan terhadap tumbuh kembang setiap anak dengan segala keistimewaannya, kali ini kembali menulis edukasi singkat untuk para orangtua dan pengasuh anak-anak kita yang berkebutuhan khusus. Silakan dibaca, semoga memberikan manfaat.

Baca lebih lanjut

Memahami Benang Merah Solution-Focused Brief Counseling (SFBC) dan Resiliensi

Berjeda sejenak dari rangkaian video webinar, dalam unggahan kali ini ingin membagikan satu tulisan bersama salah seorang kolega, yang pernah bekerjasama menjadi pembicara di Seminar Nasional Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas PGRI Semarang tahun lalu. Catatan mengenai kegiatannya serta materi yang saya sampaikan dapat diakses dalam tulisan: Menumbuhkan Resiliensi Remaja di Era Digital: Peran Praktisi Bimbingan dan Konseling (silakan di-klik).

Ringkas kata, kami menindaklanjuti kerjasama penyampaian materi dalam seminar nasional tersebut dengan menuliskan benang merah antara SFBC dan Resiliensi, untuk membantu para peneliti khususnya peneliti pemula mendapatkan dasar pijakan mengapa SFBC tepat digunakan sebagai pendekatan untuk menumbuhkan resiliensi individu pascatrauma. Dalam artikel telaah literatur yang kami tulis dan publikasikan di Islamic Guidance and Counseling Journal (sila klik untuk mengunduh versi pdf dari artikel ini), terdapat pokok-pokok kesesuaian yang menegaskan relevansi penggunaan SFBC dalam pemulihan psikologis setelah individu mengalami situasi menekan.

Telaah ini sedikit banyak menguatkan landasan teoritik bagi penerapan SFBC dalam upaya meningkatkan resiliensi individu di berbagai konteks persoalan, termasuk pada lingkup yang lebih spesifik seperti resiliensi online (online resilience), resiliensi di tempat kerja (workplace resilience), resiliensi akademik (academic resilience), resiliensi orangtua (parental resilience), resiliensi keluarga (family resilience) dan sebagainya.

Baca lebih lanjut

Resiliensi dalam Situasi Krisis (3): Tanya-Jawab Seputar Tantangan
 Menuju Resilien di Masa Pandemi

Berbagi secara ringkas pemahaman tentang Resiliensi dalam Situasi Krisis kali ini adalah bagian ketiga, setelah terdahulu diuraikan tentang bagaimana menguatkan ketangguhan personal di bagian pertama, dan ketangguhan keluarga di bagian kedua.

Dalam perjalanan menuju pribadi maupun keluarga yang resilien, kita kerap dihadapkan pada tantangan yang tidak mudah untuk diatasi, yakni mengelola naik-turunnya emosi diri sendiri. Ada cukup banyak pertanyaan yang kerap dilontarkan oleh rekan terkait ini, terlebih dalam konteks pandemi seperti saat ini.

Mengingat situasi yang ada dalam pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak sedikit dari kita yang juga mengalami, maka saya coba tuliskan beberapa diantaranya untuk dapat dijadikan sebagai sarana belajar bagi lebih banyak rekan yang lain.

Baca lebih lanjut

Resiliensi dalam Situasi Krisis (2): Menguatkan Ketangguhan Keluarga

Melanjutkan bagian pertama yang telah ringkas memberi catatan tentang bagaimana menguatkan resiliensi individual, maka di tulisan kali ini fokus penjelasan adalah pada bagaimana menguatkan ketangguhan keluarga di tengah situasi krisis seperti masa pandemi sekarang. Materi ini sekaligus sebagai bahan bacaan awal yang akan diperdalam kupasannya saat seminar daring Kesehatan Mental Keluarga, yang akan dilaksanakan lusa (Jumat/17 April 2020) sebagai bagian dari rangkaian kegiatan peringatan Dies Natalis Fakultas Psikologi Universitas Airlangga yang ke-37.

Baca lebih lanjut

Mengelola Risiko Daring (1): Tantangan Menumbuhkannya pada Anak di Masa Belajar/Bersekolah dari Rumah (SFH)

Salah satu konsekuensi dari kondisi yang mengharuskan anak total belajar / bersekolah dari rumah (SFH) adalah meningkatnya intensitas dan frekuensi penggunaan media teknologi berbasis internet.  Setiap hari anak akan berselancar di dunia maya sebagai bagian dari aktivitas belajarnya, dalam durasi waktu yang rata-rata meningkat, bahkan tidak sedikit yang terbilang cukup tajam dari hari-hari sebelum terjadinya wabah corona ini.

Lantas, apakah situasi demikian tidak memunculkan risiko bagi anak? Tentu ya. Namun demikian, orangtua, guru, dan juga pihak-pihak lain yang terlibat dalam pengasuhan dan pendampingan belajar anak dapat mengantisipasinya dengan langkah-langkah yang cermat.

Catatan infografis singkat ini semoga dapat membantu memberikan petunjuknya.

Baca lebih lanjut

Resiliensi dalam Situasi Krisis (1): Menguatkan Ketangguhan Personal

Kembali membagikan isi pikiran tentang ketangguhan psikologis ini secara ringkas, senyampang tepat sesuai kondisi saat ini dimana masyarakat tengah dihadapkan pada situasi krisis akibat pandemi. Mudah-mudahan meski terambil dari ppt yang sudah lama dibuat, namun kontennya masih tetap bisa memberikan manfaat.

Baca lebih lanjut

“Ibu Ingin Pulih Kan?” (Catatan Mendampinginya Berjuang Menuju Sembuh)

Boleh dibilang tahun ini adalah tahun yang penuh warna buat saya. Tahun yang meriah dengan segala kesempatan untuk merasakan pengalaman-pengalaman baru yang menyenangkan (akan saya tulis bagian menyenangkan ini dalam catatan penutup tahun), sekaligus di sisi lain merasakan berbagai tantangan hidup yang dengan tegas saya katakan “tidak mudah”. Salah satunya yang akan saya ceritakan di sini, tentang bagaimana mendampingi Ibu yang atas kehendak Allah harus teruji dengan kanker.

Ya, Ibu saya di luar dugaan dinyatakan mengalami kanker payudara, yang membawanya harus menjalani serangkaian treatment medis yang berat di usia lanjutnya ini, mengingat Ibu sudah lebih dari 70 tahun. Diawali dengan operasi, lalu disambung kemoterapi sebanyak 6 kali, dengan serentetan tahap pemeriksaan berulang diantara waktu-waktu treatment tersebut yang membuatnya harus bolak-balik pergi ke lab dan rumah sakit. Melelahkan sudah tentu buat Ibu, baik fisik maupun psikis. Hingga hari ini, kemo Ibu sudah berjalan 4 kali. So, two more to go!

Baca lebih lanjut

Berbagi Materi Resiliensi di Zhejiang University

Ini sekaligus adalah catatan kunjungan saya ke-3 kalinya ke China, setelah yang pertama di 2009 lalu saat mengikuti gathering fakultas, dan kedua di 2015 ketika mengikuti konferensi psikologi di Zhejiang University. Seperti 2015, kali ini saya kembali ke Zhejiang University, namun untuk aktivitas yang berbeda. Bersama Wakil Dekan 3, seorang mahasiswa S3 dan seorang mahasiswa S1, kami mengikuti Cross-cultural Research Collaboration and Exchange Program (CRCEP) yang diselenggarakan atas kerjasama 6 perguruan tinggi: Universitas Airlangga, Universitas Surabaya, Universitas Islam Indonesia, Universitas Ciputra, Zhejiang University, dan Zhejiang Sci-Tech University. Setiap perguruan tinggi melibatkan baik dosen maupun perwakilan mahasiswa.

Ada serangkaian kegiatan yang dilaksanakan dalam CRCEP, diantaranya: Seminar/kuliah umum, presentasi riset, diskusi riset kolaboratif antar institusi lintas negara, kunjungan laboratorium dan fasilitas penunjang belajar yang lain, kunjungan ke perusahaan/instansi rekanan untuk melihat penerapan hasil-hasil riset psikologi, serta observasi perilaku berbasis budaya pada masyarakat di negara yang sedang menjadi tempat penyelenggara.

Jadi terasa sekali, padat kegiatan, padat belajar. Sampai-sampai 10 hari di China pun minim jeda waktu luang untuk sekedar berjalan-jalan seperti yang umumnya dibayangkan banyak orang ketika mendengar ada kolega yang akan dinas ke luar negeri. Itulah kenapa buat teman-teman media sosial saya yang saat itu sempat keheranan karena tumben saya minim update foto, ya karana yang ada di sini memang didominasi oleh aktivitas ruang kelas, ruang kelas, dan ruang kelas yang lainnya, hehehe…

Baca lebih lanjut