“Ibu Ingin Pulih Kan?” (Catatan Mendampinginya Berjuang Menuju Sembuh)

Boleh dibilang tahun ini adalah tahun yang penuh warna buat saya. Tahun yang meriah dengan segala kesempatan untuk merasakan pengalaman-pengalaman baru yang menyenangkan (akan saya tulis bagian menyenangkan ini dalam catatan penutup tahun), sekaligus di sisi lain merasakan berbagai tantangan hidup yang dengan tegas saya katakan “tidak mudah”. Salah satunya yang akan saya ceritakan di sini, tentang bagaimana mendampingi Ibu yang atas kehendak Allah harus teruji dengan kanker.

Ya, Ibu saya di luar dugaan dinyatakan mengalami kanker payudara, yang membawanya harus menjalani serangkaian treatment medis yang berat di usia lanjutnya ini, mengingat Ibu sudah lebih dari 70 tahun. Diawali dengan operasi, lalu disambung kemoterapi sebanyak 6 kali, dengan serentetan tahap pemeriksaan berulang diantara waktu-waktu treatment tersebut yang membuatnya harus bolak-balik pergi ke lab dan rumah sakit. Melelahkan sudah tentu buat Ibu, baik fisik maupun psikis. Hingga hari ini, kemo Ibu sudah berjalan 4 kali. So, two more to go!

Baca lebih lanjut

Berbagi Materi Resiliensi di Zhejiang University

Ini sekaligus adalah catatan kunjungan saya ke-3 kalinya ke China, setelah yang pertama di 2009 lalu saat mengikuti gathering fakultas, dan kedua di 2015 ketika mengikuti konferensi psikologi di Zhejiang University. Seperti 2015, kali ini saya kembali ke Zhejiang University, namun untuk aktivitas yang berbeda. Bersama Wakil Dekan 3, seorang mahasiswa S3 dan seorang mahasiswa S1, kami mengikuti Cross-cultural Research Collaboration and Exchange Program (CRCEP) yang diselenggarakan atas kerjasama 6 perguruan tinggi: Universitas Airlangga, Universitas Surabaya, Universitas Islam Indonesia, Universitas Ciputra, Zhejiang University, dan Zhejiang Sci-Tech University. Setiap perguruan tinggi melibatkan baik dosen maupun perwakilan mahasiswa.

Ada serangkaian kegiatan yang dilaksanakan dalam CRCEP, diantaranya: Seminar/kuliah umum, presentasi riset, diskusi riset kolaboratif antar institusi lintas negara, kunjungan laboratorium dan fasilitas penunjang belajar yang lain, kunjungan ke perusahaan/instansi rekanan untuk melihat penerapan hasil-hasil riset psikologi, serta observasi perilaku berbasis budaya pada masyarakat di negara yang sedang menjadi tempat penyelenggara.

Jadi terasa sekali, padat kegiatan, padat belajar. Sampai-sampai 10 hari di China pun minim jeda waktu luang untuk sekedar berjalan-jalan seperti yang umumnya dibayangkan banyak orang ketika mendengar ada kolega yang akan dinas ke luar negeri. Itulah kenapa buat teman-teman media sosial saya yang saat itu sempat keheranan karena tumben saya minim update foto, ya karana yang ada di sini memang didominasi oleh aktivitas ruang kelas, ruang kelas, dan ruang kelas yang lainnya, hehehe…

Baca lebih lanjut

Menumbuhkan Resiliensi Remaja di Era Digital: Peran Praktisi Bimbingan dan Konseling (Materi Seminar Nasional Bimbingan dan Konseling UPGRIS 2019)

Sabtu, 28 September 2019. Kembali memenuhi permintaan untuk berbagi pemahaman tentang resiliensi, pada forum ilmiah di luar bidang ilmu psikologi. Kali ini pada Seminar Nasional Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), bertema: “Resiliensi Remaja di Era Milenial dan Pendekatan Solution Focus Brief Counseling“. Seminar dihadiri oleh staf pengajar dan mahasiswa S1, S2, dan S3 Bimbingan dan Konseling serta Ilmu Pendidikan, para guru dan praktisi BK, juga sejumlah elemen masyarakat umum.

Dengan koordinasi yang baik dari penyelenggara, materi yang saya sampaikan lebih berfokus untuk mengupas resiliensi remaja. Sementara itu pendekatan solution focus brief counseling dikupas oleh ahlinya, kakak senior sekohort (biar sekohort tapi tetap lebih senior 😀 ), Mulawarman, S.Pd., M.Pd., Ph.D. dari Universitas Negeri Semarang. Menyimak materi dan penjelasan beliau yang sangat komunikatif, bersyukur sekali saya pun ikut bertambah ilmu. Ini bagian yang selalu menyenangkan dari mengisi sebuah forum ilmiah bersama dengan kolega lintas kepakaran. Tidak hanya berbagi, tetapi diri sendiri juga mendapatkan ruang untuk belajar lebih banyak. Anyway, terima kasih banyak untuk UPGRIS yang telah menyelenggarakan seminar nasional ini, dan memberikan kepercayaan kepada kami. Baca lebih lanjut

Catatan Singkat dari Mengajar Resiliensi di UUM

Belum lama mendapatkan tantangan kembali untuk berbagi ilmu pada mahasiswa dari negara tetangga. Kesempatan keluar dari zona nyaman yang saya terima dengan antusias, sebab tentu akan sangat memperkaya pengalaman ketika bisa berinteraksi dan belajar bersama dengan mereka yang berbeda latar budaya, juga bahasa.

Tugas ini saya penuhi minggu lalu, di Universiti Utara Malaysia (UUM). UUM berada di Kedah, dari Kuala Lumpur masih harus disambung dengan perjalanan darat selama beberapa jam, atau dengan pesawat kurang lebih 45 menit. Saya berangkat bersama Dekan dan dua orang Wakil Dekan kami yang beragenda membicarakan pula pengembangan kerjasama antar kedua perguruan tinggi ini.

Baca lebih lanjut

Membantu Anak Percaya Diri, Tangguh dan Mandiri (Materi “Parent Support” untuk Orangtua Anak dengan Gangguan Pendengaran)

Minggu, 9 Desember 2018, mendapat kepercayaan untuk memberi penguatan pada para orangtua hebat dari anak-anak yang mengalami gangguan pendengaran. Kegiatan ini adalah kerjasama antara Kasoem Hearing Center dengan Jala Puspa RSAL Dr. Ramelan Surabaya.

Bertempat di Gedung STIKES Hang Tuah, parent support dihadiri oleh begitu banyak orangtua. Ada yang datang sendiri, berpasangan, ada pula yang membawa serta putra/putrinya.

Baca lebih lanjut

RESILIENSI: Teori dan Penerapannya dalam Pendampingan Psikologis (Materi National Conference UMG 2018)

Sabtu, 6 Oktober 2018. Kembali berbagi pemahaman tentang resiliensi, kali ini dalam National Conference “Resilience in The World of Competitive, Islamic Perspective” yang diselenggarakan oleh Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Gresik bekerjasama dengan International Institute of Islamic Thought. Selain saya, dua pembicara yang lain adalah Assoc. Prof. Dr. Shukran Abd. Rahman dan Assoc. Prof. Dr. Mastura Badzis, keduanya dari International Islamic University Malaysia.

Konferensi nasional ini di luar dugaan ternyata tidak hanya diikuti oleh para akademisi dan mahasiswa dari berbagai jenjang, tetapi juga praktisi psikologi dan konseling, guru-guru, orangtua, bahkan pelajar SMK yang antusias menguatkan kompetensinya menghadapi tantangan di masyarakat yang semakin beragam. Suasana “gethok tular” ilmu pun terasa menjangkau banyak lapisan. Sangat mensyukurinya.

Sesuai permintaan panitia, saya membawakan materi tentang konsep dasar resiliensi dan perkembangan teorinya, serta gambaran penerapannya dalam pendampingan psikologis. Beberapa bagian dari materi ini pernah saya sampaikan pada saat mengisi Seminar Nasional Pascasarjana di UGM Bulan Maret lalu.

Dengan terus diniatkan untuk memperluas kemanfaatannya, karena menyadari bahwa ilmu adalah milik Allah, berikut saya bagikan pokok-pokok materi yang diringkas dalam beberapa slide presentasi. Semoga memenuhi juga keingintahuan rekan-rekan yang pada hari kegiatan berhalangan untuk turut hadir.

Baca lebih lanjut

Buku “Resiliensi Psikologis: Sebuah Pengantar”

Syukur Alhamdulillah, setelah sekian waktu mengupayakannya di sela tumpukan tugas rumah dan kampus, buku ini akhirnya terbit juga. Sebagaimana tertulis pada bagian Kata Pengantar, buku ini disusun sebagai sebuah penanda perjalanan belajar saya dalam memahami tentang resiliensi. Tentang bagaimana seseorang mampu pulih dan bangkit dari keterpurukan, menjadi sosok resilien di tengah berbagai kesulitan hidup yang sedemikian berat.

Bukan hal yang tiba-tiba bagi saya untuk kemudian memutuskan menekuni topik kajian ini, dalam profesi sebagai pendidik maupun peneliti. Ada proses yang didasari oleh beberapa alasan. Baca lebih lanjut