Menghadapi Wabah Covid-19: Respon Orangtua dan Ruang Belajar Berperilaku untuk Anak

Kondisi pandemi covid-19 atau wabah corona yang melanda dunia saat ini telah memberi begitu banyak konsekuensi di segala sisi kehidupan. Pun demikian dalam lingkup keluarga. Pola aktivitas sehari-hari yang harus disesuaikan dengan membatasi interaksi sosial demi membantu mengendalikan penyebaran penyakit membawa pekerjaan rumah yang tidak sedikit,

Diperlukan upaya signifikan untuk dapat menjalaninya dengan baik. Tentang bagaimana menyesuaikan ritme tubuh agar tetap terjaga dengan kesibukan yang berubah; Bagaimana membuat pengalihan sekian banyak tugas pekerjaan dari yang sebelumnya biasa diselesaikan dengan interaksi langsung menjadi melalui media daring yang pada kenyataannya tidak selalu mudah diikuti oleh semua orang; Termasuk tentang bagaimana mendampingi anak-anak yang dalam fase perkembangannya perlu banyak eksplorasi di lingkungan luar, juga anak-anak usia sekolah yang biasanya sibuk belajar di ruang-ruang kelas sekarang mendadak harus bertahan sepanjang hari tinggal dan bersekolah dari rumah. Berbagai perubahan situasi yang terjadi simultan ini menuntut orangtua sigap menyikapi dengan langkah-langkah yang tepat.

Membantu mengantisipasi persoalan dalam pendampingan belajar anak, saya dalam kapasitas sebagai Ketua Ikatan Psikologi Perkembangan Indonesia (IPPI) telah menyampaikan beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh para orangtua, sebagaimana tercatat secara ringkas berikut ini:

Namun demikian, tetap disadari bahwa tantangan yang dihadapi oleh para orangtua tersebut tidak lah mudah, sehingga kerap memicu berbagai pergulatan dalam pikiran.

Pada satu waktu yang sama, misalnya, mengkhawatirkan ancaman penyakit yang sedang menyebar, di sisi lain juga memikirkan berbagai tugas terkait pekerjaan atau tanggung jawab lain yang menjadi rumit karena harus serba disesuaikan kembali cara dan waktu penyelesaiannya, di saat juga harus menghadapi kewajiban menemani aktivitas anak yang sepenuhnya berada di rumah.

Beberapa rekan menyampaikan cukup kawalahan, sehingga tanpa sadar menjadi emosional karena harus menyesuaikan dan memenuhi berbagai tuntutan dalam satu waktu yang bersamaan. Terlebih jika situasi semakin bertambah rumit, manakala anak kurang kooperatif dan justru menunjukkan perilaku yang tidak diharap karena faktor bosan dan jenuh. Kecemasan orangtua pun bertambah, hingga akhirnya mempengaruhi situasi rumah menjadi kurang nyaman, diwarnai oleh banyak kepanikan.

Dalam sejumlah kesempatan memberikan materi parenting, saya kerap menyampaikan pada para peserta bahwa setiap kondisi lingkungan pada dasarnya adalah ruang belajar bagi anak. Belajar untuk menyaring dan mengolah informasi, mengelola emosi, serta memproduksi dan mengevaluasi perilaku tertentu sebagai bentuk respon terhadap situasi yang dihadapi.

Anak belajar sesuatu dari situasi yang normal kondusif, belajar pula dari situasi krisis. Semuanya berpeluang meningkatkan ketrampilan psikologis anak, untuk mampu menerapkan koping dan adaptasi secara tepat. Namun ini tentu dengan catatan, jika dalam setiap situasi tersebut informasi, contoh, dan pemaknaan positif yang memang banyak diakses oleh anak.

Apabila orangtua tepat dalam mendampingi proses belajar ini, maka penguatan ketrampilan positif lah yang akan terjadi. Sebaliknya, jika orangtua keliru mengambil langkah dan tanpa disadari justru banyak mencontohkan respon-respon negatif, maka pola ini pula yang akan diperhatikan dan diserap oleh anak, lalu direproduksi pada waktu-waktu berikutnya.

Sebagai contoh, jika anak setiap harinya dalam situasi krisis ini terlalu banyak melihat ekspresi orang-orang dewasa di sekitarnya yang didominasi oleh emosi-emosi negatif seperti cemas, khawatir, takut dan stres yang tertampak jelas, maka pola perilaku penuh kecemasan yang akan dijadikan referensi untuk dilakukan pada situasi menekan yang lain. Lebih-lebih jika orangtua sampai memunculkan tindakan yang mencolok misalnya menakut-nakuti anak agar patuh, berkomentar mendiskriminasikan mereka yang terjangkit, melakukan pembelian impulsif alat-alat pelindung diri, vitamin dan bahan-bahan makanan, atau respon emosional lain berkait dengan situasi pekerjaan selama masa terjadinya wabah maupun pendampingan sekolah anak di rumah yang dipandang menambah beban.

Proses belajar berperilaku pada anak di contoh pertama tersebut akan berbeda dari anak lain yang orangtuanya tidak mudah terpancing emosi, bertindak tanggap dan rasional namun tetap dalam ekspresi tenang, mampu mengelola kepanikan, serta mempertimbangkan segala sesuatu dengan seksama sebelum bertindak. Anak pada keluarga yang sedemikian akan berpeluang mencermati, membangun pemahaman, dan mereproduksi perilaku positif yang serupa pada situasi lain yang penuh tekanan.

Pertanyaannya kemudian, pola perilaku mana kah sebenanya yang lebih penting di masa krisis sehingga perlu ditumbuhkan? Baik untuk pertumbuhan pribadi maupun mempertimbangkan dampaknya secara sosial. Pola pertama, atau kedua? Rasanya kita sepakat bahwa pola kedua yang lebih tepat, memuat rangkaian perilaku yang berpeluang positif mendatangkan solusi atas persoalan dan bukan berisi respon-respon yang reaktif emosional yang justru berpotensi mendatangkan persoalan baru berikutnya.

Lantas, bagaimana membantu anak agar dapat memiliki kesempatan belajar untuk berperilaku tepat di masa krisis ini? Kuncinya ada pada pengelolaan diri orangtua atas segala kekhawatiran yang dirasakan, ketakutan berlebih dan pikiran-pikiran negatif yang dimiliki. Mengimbangi desakan emosi dengan logika untuk selalu mampu berpikir rasional, agar pada gilirannya tidak mempengaruhi bagaimana interaksi mereka dengan anak dan pendampingan belajar berperilaku yang dilakukan kemudian.

*****

Beri Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s