Menjaga Tumbuh Kembang Anak Usia Dini di Masa Pandemi

Beberapa hari yang lalu mendapatkan penugasan dari HIMPSI untuk menyampaikan materi selaku Ketua IPPI di Kementerian Kesehatan RI, dalam rangka Sosialisasi Perlindungan Anak Usia Dini di Masa Pandemi Covid-19, Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat.
Kegiatan ini berusaha memfasilitasi sinergi lintas sektor untuk bersama-sama membantu masyarakat dalam melawan Covid-19, dan melindungi Anak Usia Dini dari penularan penyakit dengan tetap memperhatikan optimalisasi tumbuh kembangnya.

Senang sekali mendapat kesempatan untuk berbagi pemahaman dengan perwakilan penggerak dan pendamping masyarakat lintas bidang dari berbagai daerah di seluruh Indonesia, antara lain: Dinas Kesehatan, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Tim Penggerak PKK, HIMPAUDI, Dinas Pendidikan, BKKBN, Perwakilan Dharma Wanita, dan berbagai organisasi masyarakat yang lain.

Berikut adalah versi ringkas dari materi yang saya sampaikan..

Baca lebih lanjut

Menuju Era New Normal, Apa yang Harus Dipersiapkan oleh Orangtua?

Catatan kecil untuk mendampingi orangtua dalam beradaptasi dengan Era “New Normal”. Kapan persisnya era ini akan dimulai di Indonesia, masih bergantung pada kebijakan pemerintah dan kesiapan berbagai protokol untuk tetap meminimalkan penularan virus. Namun, kesiapan menjalaninya perlu dilakukan sejak sekarang, karena adaptasi perlu proses.
Kita sama-sama tidak ingin anak-anak masuk sekolah dengan perilaku yang masih berisiko mudah tertular. Mereka perlu dibantu agar nantinya secara mandiri mampu untuk disiplin melindungi diri.
“New normal” pada prinsipnya adalah “New habit”.
Sebab penularan bukan saja terjadi karena tidak amannya kondisi lingkungan, namun juga dipersangat oleh kebiasaan kurang baik dengan minimnya kesadaran, kewaspadaan dan langkah preventif masing-masing individu dalam melindungi diri.
Soal “new habit” ini pun orangtua juga harus mengupayakan untuk dirinya sendiri, bukan hanya anak. Harus punya kesiapan dengan segala kondisi yang mungkin terjadi, termasuk jika diputuskan anak tetap belajar di rumah hingga kurun waktu yang tidak bisa ditentukan. Harus siap untuk terus mendampingi proses belajar tersebut setiap harinya. Harus siap ikut belajar memperbarui kemampuan dalam menggunakan teknologi daring. Harus turut mengupayakan ragam aktivitas yang bisa membantu anak memahami sesuatu. Harus siap mengelola emosi sebagai guru mereka di rumah, bukan kemudian banyak mengeluh seperti yang sudah-sudah.
Karena itu selagi masih ada waktu, mari sama-sama berproses membantu anak-anak dan diri sendiri untuk menumbuhkan berbagai kebiasaan baru yang lebih adaptif dengan kondisi sekitar.

Baca lebih lanjut

Refleksi Ibu Belajar (3): Mengelola Kekhawatiran, Mengoptimalkan Percakapan

Sebelum menyimak catatan reflektif ini, saya menyarankan rekan-rekan meluangkan sedikit waktu untuk menengok apa yang sudah ditulis oleh Damai tentang buku yang belum lama selesai dibacanya. Tulisan berjudul “Book Review: Kafka on the Shore – Haruki Murakami” ini menggambarkan setidaknya tiga hal: (1) Salah satu jenis buku yang diakses oleh Damai; (2) Bagaimana ia mengambil pelajaran dari materi yang telah dibacanya; dan (3) Bagaimana ia mengolah informasi dan pemahaman untuk memberikan catatan preventif bagi orang lain yang akan mengikuti membaca buku tersebut, agar tidak terjebak pada pemaknaan yang berdampak kurang baik.

Saya kutipkan beberapa bagian tulisan Damai. Terkait poin pertama, gambaran jenis buku:

Through this book, Haruki Murakami explores the theme of consciousness and unconsciousness. It’s very interesting, since the book follows 2 storylines simultaneously.  For every odd numbered chapter, it is about a boy named Kafka Tamura, who lives with his dad; a famous sculptor, in Tokyo. On his 15th birthday, he makes up his mind to run away from home with hope to break the Oedipus curse that his father made about him.

Lalu tentang bagian dari pelajaran yang diambil:

This combination of bizarre plot, mysterious characters, and the use of figurative language are some of the aspects that distinguish Haruki Murakami works with other stories. Everything in ‘Kafka on the Shore’ feels so dream-like, yet so vivid. While reading, the narrative evokes our imagination to feel the surroundings. What does it look like, what kind of emotions that the character feels, what sounds we would hear, and more.

For me, the novel tells that it is nearly impossible for us to be able to understand our own fate. Even if fate itself might be something that affects our life the most. And through the writing style, the reader may learn how to capture the five senses using language. But at the end, I believe that everyone may learn a lot of different things from ‘Kafka on the Shore’.

Dan bagian ketiga tentang bagaimana Damai memberi catatan untuk calon pembaca buku tersebut:

However, for those who want to read this book, it’s better to know that violence is usually described explicitly in certain chapters. And it might be triggering for some people.

There are also some controversial thoughts and concepts that not everyone might agree on. Therefore it’s way better if you keep an open mind while reading the book. As it might stirred up your perspectives towards these certain concepts and leave you wondering about your understanding about your mind and the world around you.

Baca lebih lanjut

Mendidik di Tengah Pandemi: Upaya Membantu Anak Menumbuhkan Berbagai Karakter Positif

“SELAMAT HARI PENDIDIKAN NASIONAL 2020”

Dalam peringatan Hardiknas yang tidak biasa karena anak-anak penuh belajar dari rumah ini, bersama dengan Ikatan Psikologi Perkembangan Indonesia (IPPI) kembali ingin memberikan dukungan bagi semua orangtua di manapun berada, untuk terus berusaha, tidak patah semangat mengupayakan yang terbaik dalam mendampingi tumbuh kembang generasi penerus kita mendatang.

Catatan-catatan ringkas dalam infografis berikut semoga dapat memberikan informasi yang bermanfaat, tentang bagaimana langkah-langkah yang dapat ditempuh oleh orangtua sebagai pendidik utama anak dalam hidup, untuk menumbuhkan berbagai karakter positif mereka dalam aktivitas belajar sehari-hari.

Baca lebih lanjut

Mengolah Lebih Baik daripada Mengeluh: Lagi, Catatan Kecil untuk Ayah & Bunda

Ini adalah catatan lanjutan dalam bentuk infografis dari yang sudah saya tuliskan dalam unggahan sebelumnya. Masih tetap pula menjadi bagian dari rangkaian edukasi dan dampingan untuk para orangtua selama masa terjadinya wabah corona, dari Ikatan Psikologi Perkembangan Indonesia (IPPI) yang saat ini saya kelola bersama dengan para pengurus lainnya.

Berawal dari mencermati berita di minggu ke-2 masa-masa total beraktivitas di rumah, tercetus menguraikan dengan ringkas bagaimana mengolah kekhawatiran yang meningkat karena kondisi sekitar yang tampak menyangat, menjadi langkah-langkah konkrit yang bermanfaat.

Daripada cemas yang terasa hanya berhenti menjadi keluhan tanpa solusi, lebih baik menggunakan energinya, menyalurkan rasa khawatir itu untuk melakukan sesuatu yang berarti, sehingga lambat laun cemasnya pun akan tereduksi. Silakan baca lebih lanjut uraiannya di bawah ini:

Baca lebih lanjut

Mengolah Situasi Krisis Menjadi Ruang Belajar Anak untuk Mengelola Diri dan Berperilaku Positif

Pada tulisan sebelum ini saya telah menjelaskan bahwa anak belajar sesuatu dari berbagai situasi, baik yang normal kondusif maupun dari situasi krisis. Setiap kondisi lingkungan berpeluang meningkatkan kemampuan psikologis anak, untuk dapat menumbuhkan berbagai ketrampilan kognitif, emosi, maupun sosial, yang kelak akan berguna untuk membantunya menjadi pribadi yang sehat secara mental, memiliki koping dan adaptasi yang positif terhadap berbagai situasi di sekitar.

Namun tentu saja hal ini akan bergantung pada bagaimana orangtua atau pengasuh yang lain mendampingi anak selama proses belajar tersebut. Apabila orangtua tepat dalam mendampingi, maka penguatan ketrampilan positif lah yang akan terjadi. Sebaliknya, jika orangtua keliru mengambil langkah dan tanpa disadari justru banyak memperlihatkan contoh respon-respon negatif, maka pola ini pula yang akan diperhatikan dan diserap oleh anak, lalu direproduksi pada waktu-waktu berikutnya.

Tentu sebagai orangtua kita tidak ingin salah memberi dampingan bukan?
Maka memperjelas paparan tersebut, dalam catatan ringkas yang dikemas dalam format infografis dan telah dibagikan pula melalui media komunikasi Ikatan Psikologi Perkembangan Indonesia (IPPI) ini saya menuangkan apa saja yang sebaiknya dilakukan (Do’s) dan apa yang sebaiknya tidak dilakukan (Dont’s) oleh orangtua, khususnya dalam situasi krisis sekarang selama masa pandemi covid-19, agar anak memiliki kesempatan belajar mengelola diri dan berperilaku secara positif.

Meski ringkas, semoga memberi bermanfaat 🌸🌿

Baca lebih lanjut

Menghadapi Wabah Covid-19: Respon Orangtua dan Ruang Belajar Berperilaku untuk Anak

Kondisi pandemi covid-19 atau wabah corona yang melanda dunia saat ini telah memberi begitu banyak konsekuensi di segala sisi kehidupan. Pun demikian dalam lingkup keluarga. Pola aktivitas sehari-hari yang harus disesuaikan dengan membatasi interaksi sosial demi membantu mengendalikan penyebaran penyakit membawa pekerjaan rumah yang tidak sedikit,

Diperlukan upaya signifikan untuk dapat menjalaninya dengan baik. Tentang bagaimana menyesuaikan ritme tubuh agar tetap terjaga dengan kesibukan yang berubah; Bagaimana membuat pengalihan sekian banyak tugas pekerjaan dari yang sebelumnya biasa diselesaikan dengan interaksi langsung menjadi melalui media daring yang pada kenyataannya tidak selalu mudah diikuti oleh semua orang; Termasuk tentang bagaimana mendampingi anak-anak yang dalam fase perkembangannya perlu banyak eksplorasi di lingkungan luar, juga anak-anak usia sekolah yang biasanya sibuk belajar di ruang-ruang kelas sekarang mendadak harus bertahan sepanjang hari tinggal dan bersekolah dari rumah. Berbagai perubahan situasi yang terjadi simultan ini menuntut orangtua sigap menyikapi dengan langkah-langkah yang tepat.

Membantu mengantisipasi persoalan dalam pendampingan belajar anak, saya dalam kapasitas sebagai Ketua Ikatan Psikologi Perkembangan Indonesia (IPPI) telah menyampaikan beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh para orangtua, sebagaimana tercatat secara ringkas berikut ini:

Baca lebih lanjut