Pilih 2 Berita

Cerita ini masih seputar obrolan bersama Damai. Lagi? Iya, karena mengobrol adalah aktivitas super penting yang menurut saya perlu untuk selalu diupayakan bersama anak setiap saat.

Pernah saya menuliskan dalam catatan tentang Appreciative Parenting bahwa komunikasi adalah kunci dalam keberhasilan interaksi sosial, termasuk di dalamnya interaksi antara orangtua dengan anak. Komunikasi melalui berbagai percakapan yang positif akan menjadi jalan bagi orangtua untuk dapat menyampaikan berbagai pesan dan umpan balik dengan cara-cara yang mudah diterima oleh anak.

Pesan baik dengan beragam value di dalamnya, ketika disampaikan dalam percakapan yang baik akan dipersepsikan secara baik pula oleh anak. Hasilnya, anak akan lebih mudah menerima, sehingga muncul kesadaran dalam diri untuk berperilaku dan mengembangkan kemampuan positif sebagaimana diharapkan kepadanya.

Nah, percakapan yang akan saya tuliskan ini misi khususnya adalah membantu Damai semakin peka dengan kejadian di sekitar dan lebih telaten untuk membaca koran. Karena sudah ada firasat akan panjang, maka dalam prosesnya saya sempat merekam obrolan kami ini di HP, sehingga tidak perlu bersusah payah mengingat ketika akan menuliskannya lagi 😀

Saya: Mem, yuk kita ngobrol-ngobrolkan berita yuk.. Koran 2 hari ini kayaknya belum kesentuh tuh. Kasihan dicuekin.

Damai: Iya, hehehe…

Saya: Gini, kamu pegang 1, mama 1. Kita baca dulu berita-beritanya, trus masing-masing dari kita pilih 2 berita: satu yang isinya positif, satu lagi yang membuat kita prihatin.

Damai: Oke…

Lalu untuk beberapa saat kami pun sibuk mencermati berita dari lembaran-lembaran kertas yang kami pegang.

Baca lebih lanjut

Sekedar Percakapan Ringan (15): Masyarakat dan Orientasinya Terhadap Penghargaan

Obrolan sambil nemani Damai sarapan beberapa hari yang lalu, tergelitik oleh berita arak-arakan penghargaan kebersihan yang sungguh menarik bagi kami.

“Do you think that this city deserve to get adipura?”, tanya saya.

“Emmm…, no. I don’t think so..” jawab si anak sambil mengunyah telur ceploknya.

“Why?”

“Duh Mam, di banyak tempat umum dan pinggir jalan itu lho sampahnya banyak. Termasuk di alun-alun tu, tiap kita kesana semua juga bisa lihat gimana kotornya”

“Yup. Warga juga belum semua sadar untuk njaga kebersihan. Sampai kahuripan yang sudah dibangun bagus pun taman-tamannya, giliran sudah kena anak-anak nongkrong, sampahnya langsung bertebaran dimana-mana. Eman. GOR, taman pinang juga, dan banyak tempat yang lain. Keluar pintu tol aja, tiap lirik taman kecil yang ada di tengah jalan itu, tumpukan kertas bukti bayar tol juga berserakan. Kok bisa dapat adipura itu asli mama nggak paham..”

“Aku juga. Mungkin yang menilai perlu diberi masukan, menilainya jangan di waktu tertentu yang jadwalnya diberitahukan.”

“Betul. Soalnya di hari itu pasti serba disiapkan, sementara hari-hari lainnya kembali ke kondisi semula yang bikin geleng-geleng kepala”.

Pembicaraan terhenti sampai di sini karena Damai harus segera mandi dan berangkat ke sekolah.

Baca lebih lanjut

Sekedar Percakapan Ringan (14)

Obrolan di suatu petang sambil makan samyang sepiring berdua.

Saya: Apa yang kadang membuatmu sebel sama Mama?

Damai: Hehehe… apa ya… (lama mikir)… Satu, Mamski suka lama kalau dandan. Tapi kebanyakan ibu-ibu memang gitu sih, dan kayaknya ada banyak yang lebih parah dari Mamski. Aku suka krik-krik kalau harus nungguin Mamski ribet.

Saya: 😁…ma’aaap… Trus apa lagi?

Damai: Kedua, Mamski kadang terlalu serius. Nggak selalu sih, cuma kalau lagi kambuh, aku sering mikir “please deh Mam, ini kan cuma bercanda”…

Saya: 😅 hihihi… maafkan ya… itu pasti pas mama lagi kurang aqua 🙈. Trus-trus?

Damai: Ketiga, kalau lagi ngobrol gitu, Mamski suka nglempar pertanyaan-pertanyaan susah yang bikin aku harus berpikir keras menjawabnya.

Saya: Waduh 🙊✌️

Damai: Tapi tenang Mam, nggak papa sih, that’s ok kok. Aku tahu maksudnya Mamski, biar aku lebih paham banyak hal. Dan sebenarnya pertanyaan-pertanyaan Mamski masih lebih mudah daripada kalau papski yang nanya-nanya. Kalau papski sudah nanya-nanya, aku suka pusing-pusing gimanaaa gitu.

Saya: 😄 Syukurlah… urusan sama papski diselesaikan sendiri ya 😅. Masih ada lagi yang nyebelin?

Damai: (jeda mikir…), kayaknya itu sih…

Saya: Nah, kalau yang bikin kamu suka apa?

Damai: Satu, Mamski nggak suka sinetron. Itu aku syukuri banget. Ya meskipun Mamski suka nonton drama Korea, tapi menurutku itu asli nggak apa-apa dibandingkan sinetron yang wis pokoknya nggak banget deh Mam.

Saya: Asiiik…😍 makasih ya Mem…, kamu memang pengertian… (modus) 😁

Damai: 😝 Kedua, kalau kita lagi jalan di mall atau kemana gitu, Mamski berhasil membuatku berpikir dua kali untuk minta beli-beli. Jadinya bisa lebih hemat, and that’s good! Tabunganku jadi lumayan. Ya kecuali kalau untuk beli buku. Trus ketiga, ini yang menurutku paling penting, Mamski mau mendengar dan menghargai pilihan-pilihanku. Itu kayaknya nggak semua ibu-ibu mau. Makasih banget ya Mam…

Saya: ☺️☺️☺️

Damai: Kalau aku, apa yang nyebelin menurut Mamski?

Saya: Nggak ada. Kamu selalu bikin mama bersyukur…

Sekedar Percakapan Ringan (13)

Dalam tulisan terdahulu, beberapa kali saya membahas bahwa menumbuhkan berbagai karakter positif anak merupakan bagian dari tanggung jawab pengasuhan yang harus dilakukan oleh orangtua. Sebab kemampuan yang perlu ditumbuhkan dalam diri anak tidak hanya sebatas wilayah akademik saja, namun juga tentang bagaimana mereka mampu berpikir kritis, memiliki kepekaan emosi, keterampilan sosial, dan sebagainya. Terkait ini, sebagaimana pernah saya ceritakan, saya pun berusaha terus mengingatkan diri sendiri untuk tidak luput mengupayakannya pada Damai. Setiap saat, melalui berbagai obrolan kami sehari-hari.

Berikut adalah catatan dan obrolan ringan yang sempat saya tulis di akun media sosial saya beberapa hari terakhir, menyusul rangkaian cerita percakapan ringan sebelumnya. Saya bagikan juga di sini siapa tahu cerita di dalamnya akan bisa memberi manfaat untuk teman-teman yang lain.

Catatan 10 Mei 2017

Kapan hari membahas dengan Damai, hal-hal apa saja yang digemari anak-anak saat ini. Salah satunya ternyata adalah tren membuat video musik dari lagu-lagu yang sedang hits.
Bertanyalah saya: Gitu itu anak-anak pada tahu nggak, apa isi lagu yang sedang divideokan, sampai ada yang gaya lipsingnya ekstrim ‘songong’ ala-ala gaya artis R&B jaman sekarang?
Damai: Nggak selalu tahu sih kayaknya…
Saya: Nah, kalau kamu sendiri, dari yang kamu tahu gimana?
Damai: Hmm… nggak selalu bagus memang, Mam.
Saya: Nggak bagusnya gimana?
Damai: Yaaa… gitu deh.
Saya: Ada yang isinya sangat orang dewasa ya?
Damai: Hooh… dan lain-lain
Saya: Pernah nggak terpikir, ketika banyak anak-anak yang membuat videonya, lalu upload di instagram misalnya, apa yang akan terjadi pada anak lain yang melihat postingan itu?
Damai: Ya kemungkinan ada yang nirukan, dan semacam tertarik pengen lebih tahu gitu.
Saya: Lalu, apa yang akan mereka lakukan?
Damai: Mencari-cari lagu itu mungkin..
Saya: Dimana?
Damai: Ya yang paling gampang di internet.
Saya: Nah, waktu mereka mencari-cari itu mungkin nggak mereka trus entah sengaja atau enggak akhirnya menemukan video klip yang asli, yang adegannya sama sekali nggak sesuai untuk dilihat anak-anak?
Damai: Ya iya.
Saya: Dan permasalahannya bisa jadi nggak hanya sampai di situ. Kalau mereka lalu keterusan mengakses video-video yang tidak baik, atau bahkan menirukan perilaku yang tidak oke, masalah pun bertambah. Efeknya berantai.
Damai: Iya sih. Berarti kalau melakukan sesuatu itu memang sebaiknya dipikirkan dulu ya kemungkinan efeknya.
Saya: Betul. Mama aja juga sering mikir dulu kalau mau melakukan apapun, meski cuma sekedar share drama korea tertentu di medsos (duh…contohnya 😅), mau nulis sesuatu, atau yang lain-lain.
Damai: Termasuk kalau nulis status-status gitu ya?
Saya: Iya, apapun. Kamu suka ngamati gimana status-statusnya orang di line, twitter atau di mana gitu?
Damai: Iya, dan ada yang nggak banget Mam.
Saya: Yang kayak apa itu?
Damai: Yang ngamuk-ngamuklah, kata-katanya kasar, ngomel-ngomel, pokoknya posting yang nggak enak dibaca atau dilihat.
Saya: Baguslah kamu bisa menilai mana yang ok, mana yang nggak ok. Apapun yang kita lakukan, usahakan jangan sampai berefek tidak baik ke orang lain. Karena sekecil apapun perilaku akan bisa memberi dampak ke lingkungan sekitar.

Baca lebih lanjut

Tulisan Damai di Hari Kartini

Kemarin saya mendapatkan kiriman tak terduga dari Ibu Wali Kelas Damai, sebuah tulisan singkat yang dibuat Damai di sekolah tentang Kartini Masa Kini. Meleleh membacanya, penuh syukur yang tak terkatakan. Terima kasih, Memskipiii

Berbagi bahagia tersebut, berikut adalah isi tulisan Damai yang buat saya begitu indah. Oya, meski terlambat, Selamat Menjadi Kartini Masa Kini juga untuk semua Ibu Hebat di manapun berada…

Ibuku, Kartiniku

Ibuku adalah seorang dosen. Tiap hari beliau mengajar di kampusnya. Tak jarang, beliau pulang malam. Namun seperti tak kenal lelah, selalu bersemangat untuk menjalani  kembali hari esok.

Di luar kesibukan itu, beliau adalah ibu yang tangguh. Seorang Ibu yang selalu bersedia menjagaku, kapanpun, di manapun. Walau beliau tak jarang memarahiku, aku tahu semua dilakukannya karena beliau menyayangiku.

Ibuku memang bukanlah pahlawan seperti di buku cerita. Namun beliau adalah kartiniku masa kini. Seorang yang mengabdi untuk mencerdaskan anak-anak bangsa ini.

memski

Damai, Ujian Royal, dan Sebuah Catatan Reflektif untuk Diri Sendiri

Jika ada pembaca yang berteman facebook dengan saya dan online beberapa hari terakhir, tentu pernah membaca percakapan antara saya dengan Damai berikut ini:

Saya: Kamu senang bermain piano ini?
Damai: Lebih dari senang.
Saya: Kalau ujiannya nanti?
Damai: Ya aku memang mau ikut ujian royal.
Saya: Untuk apa?
Damai: Buat pengalaman, apalagi yang nguji orang asing. Trus biar aku tahu juga dari evaluasinya, aku kurangnya dimana, sudah bagusnya dimana.
Saya: Trus buat apa kalau sudah tahu evaluasinya?
Damai: Ya biar aku bisa memperbaiki kalau masih ada yang kurang, jadinya permainanku bisa lebih bagus lagi. Kalau aku main pianonya bagus, orang yang dengar kan juga lebih bisa menikmati.
Saya: Okesip, sepakat. Yang penting belajarnya ya, karena ujian adalah bagian dari proses belajar itu sendiri. Dan tujuan belajar bukan untuk mencari nilai/hasil ujian, tetapi agar kita semakin mahir melakukan sesuatu yang kita pelajari.

Percakapan tersebut adalah salah satu bagian dari rangkaian pembicaraan yang sengaja saya lakukan sebagai upaya untuk mengembalikan semangat dan fokus Damai dalam belajar piano. Setelah beberapa waktu sempat pecah arah karena beberapa hal. Baca lebih lanjut