Insight dari Ruang Kuliah: Orangtua yang Tak Boleh Berhenti Mengelola Diri

Salah satu bagian menyenangkan dari sebuah proses belajar adalah ketika melihat mahasiswa menemukan insight dalam belajarnya. Sebuah pemahaman mendalam dari apa yang sedang dipelajari, yang membuatnya mampu melihat keterkaitan antar objek, peristiwa, atau perilaku, serta menjelaskan apa maknanya. Insight membantu individu untuk dapat menerapkan segala sesuatu yang telah dipelajarinya secara tepat. Nah, insight yang akan saya ceritakan ini muncul di kelas Positive Parenting, salah satu mata kuliah yang saya ampu di Magister Psikologi Profesi.

Hari itu saya memulai pertemuan dengan mengajak mahasiswa terlebih dahulu merenungkan bersama, bagaimana perkembangan anak-anak di tengah perubahan jaman yang begitu dinamis seperti saat ini. Adakah perubahan pola perilaku dibandingkan sekian waktu yang lalu? Tanpa berpikir lama, serempak seluruh mahasiswa mengatakan YA, lalu menyambungnya dengan serangkaian data yang mereka tangkap dari sekitar tentang perubahan yang dimaksud.

Sebagaimana pernah saya tuliskan, setiap jaman dengan segala kondisinya memang membawa berbagai konsekuensi bagi individu yang hidup di dalamnya. Baik konsekuensi positif dengan meningkatnya kemampuan-kemampuan tertentu, maupun negatif dengan munculnya berbagai permasalahan perilaku yang baru. Ketergantungan terhadap teknologi, adiksi terhadap gawai, pergaulan bebas, kecenderungan menurunnya ketrampilan sosial, serta problem kemandirian adalah beberapa diantara tantangan yang harus dihadapi oleh pada orangtua saat ini terkait perkembangan anak. Tantangan yang semakin menempatkan pengasuhan sebagai suatu proses yang tidak mudah untuk dilakukan.

Baca lebih lanjut

UN, Diantara Dukungan dan Kecemasan

Saya tergelitik menulis ini setelah mendapatkan pertanyaan menarik dari Mbak Su, asisten rumah kami setelah melihat berbagai berita tentang usaha-usaha yang dilakukan sekolah menjelang siswa-siswanya mengikuti UN. Mulai dari mengadakan doa bersama yang diiringi isak tangis penuh dengan sesaknya hati dan pikiran, menyarankan siswa berkeliling sekolah untuk meminta maaf atas semua kesalahan, melakukan ritual mencuci kaki guru dan orangtua sedemikian rupa, sampai ada yang meminta siswa untuk minum air tertentu yang sudah diberi doa-doa.

Kok kula mboten sreg nggih, Bu… (kok saya ndak sreg ya, Bu)…?”, katanya.

Saya tanya apa yang membuatnya tidak sreg. Mbak Su bilang, ia merasa justru dengan itu semakin membuat UN menjadi momok untuk siswa, sehingga siswa pun menghadapinya dengan penuh kecemasan, kekhawatiran yang berlebih.

Yak, saya sepakat dengan Mbak Su. Saya pun merasakan hal yang sama sejak beberapa waktu terakhir sering mendengar ritual-ritual yang menurut saya justru menambah beban psikologis anak setiap kali masa UN datang.

Dipersepsikan dengan sederhana, UN sebenarnya hanyalah satu proses evaluasi dari seluruh kegiatan belajar siswa yang dijalani sejak awal masa studinya. Hasil UN sewajarnya akan mencerminkan apakah siswa optimal atau tidak dalam belajar. Jika sekolah sudah melaksanakan proses pendidikan dengan baik, mengikuti kurikulum dan segala ketentuannya, maka siswa akan dapat belajar dengan benar sesuai target capaian pembelajaran. Dengan demikian, tidak perlu ada kekhawatiran berlebih dalam menghadapi evaluasi yang bernama UN ini.

Kalaupun sekolah akan berusaha keras mendorong seluruh siswa agar dapat melalui UN dengan baik, maka langkah paling tepat menurut saya adalah dengan mengupayakan terlaksananya proses pembelajaran yang sebaik mungkin. Jadi bukan dengan melakukan langkah-langkah yang dinyatakan sebagai bentuk dukungan, namun sejatinya justru menularkan virus kepanikan. Penularan panik dan cemas yang bahkan berantai, dari pihak sekolah ke siswa, juga orangtua. Baca lebih lanjut

Sekedar Percakapan Ringan (12): Gambaran Dialog Apresiatif

Menyambung tulisan sebelumnya tentang pentingnya membangun percakapan yang memberdayakan dalam interaksi sehari-hari bersama anak, berikut adalah gambaran percakapan ringan yang saya lakukan bersama Damai. Percakapan semacam ini terjadi setiap saat: Kadang sambil makan, sambil Damai menunggu jemputan sekolah, sepulang saya kerja, menjelang tidur, dsb. Sebab sesempit apapun waktu harus bisa dimanfaatkan dengan baik untuk membiasakan komunikasi yang sehat antara orangtua dengan anak.

Obrolan Pagi Sambil Menunggu Jemputan Datang

D: Mam, di internet itu beneran ada banyak web buat bantu belajar. Aku kemarin pas nggak paham sesuatu di Matematika aku coba cari cara pengerjaannya di web. Dan ketemu. Sekarang aku sudah bisa, sudah kucoba di soal yang lain.
M: Bagus itu! Bisa memanfaatkan internet dengan baik, dan sikap yang bagus juga karena punya inisiatif untuk mencari informasi yang membantu belajarmu. (I: Appreciating)
D: Yang aku akses kemarin itu ada semacam forum diskusinya juga. Jadi misal ada yang tanya sesuatu, bukan adminnya aja yang jawab, tapi ada orang-orang lain juga yang ikut membantu. Ada yang nunjukkan cara, ada yang nunjukkan soal-soal model lain yang serupa. Macem-macem gitu.
M: Sehingga kamu bisa belajar banyak ya. Makanya mama selalu bilang, kalau kita aktif belajar mandiri dengan sarana yang ada, nggak perlu les pelajaran ini-itu. Internet itu gudang informasi. Sifatnya sama saja dengan hal-hal lain di sekitar kita. Bisa berdampak baik maupun buruk. Tergantung kita menggunakannya untuk apa. Kalau banyak kita gunakan sebagai sarana belajar, ya manfaatnya bagus. Tapi kalau digunakan untuk hal-hal yang aneh-aneh, ya jelek dampaknya (II: Imagining). Sama aja dengan teman juga. Ada yang memberi pengaruh baik, ada yang memberi pengaruh kurang baik. Pinter-pinternya kita buat nyaring, mana yang mau diikuti. Buku bacaan juga gitu kan. Ada yang bagus, ada yang jelek. Balik ke kita lagi, mau pilih yang mana.
D: Iya memang. Trus, di web belajar itu macem-macem yang diinfokan, Mam. Orang-orang kulihat yang ditanyakan juga macem-macem. Ada yang langsung tanya jawaban soal apa gitu, ada yang nanya caranya.
M: Menurutmu lebih baik yang mana? (III: Acting)
D: Yang nanya prosesnya.
M: Kenapa?
D: Soalnya, misal kalau di matematika, kalau kita ngerti caranya, kita bisa gunakan untuk mengerjakan soal-soal yang lain.
M: Betul (I: Appreciating). Sekedar mencari jawaban itu bukan belajar. Itu kebiasaan buruk orang-orang yang suka mendapatkan hasil dengan cara-cara instan. Dan itu nggak bikin pinter. Karena itu, menggunakan internet untuk membantu belajar pun, akan benar-benar berdampak positif atau tidak juga masih tergantung cara kita menggunakannya. Jadi gunakan untuk tujuan yang benar, dengan cara yang tepat. Kita akan dapatkan manfaatnya dengan maksimal.

Lalu jemputan datang, anaknya berangkat sekolah…

Baca lebih lanjut

Appreciative Parenting: Menumbuhkan Ketangguhan Anak Melalui Percakapan yang Memberdayakan

Sabtu 25 Februari 2017, kembali menunaikan tugas IPPI untuk mengisi workshop, kali ini dalam Pertemuan Anggota HIMPSI Wilayah Jawa Timur. Serupa namun dengan fokus sedikit berbeda dari Workshop IPPI di 2015 lalu, saya menyampaikan materi Appreciative Parenting, tentang pengasuhan yang bertujuan untuk menumbuhkan ketangguhan anak melalui berbagai percakapan memberdayakan di setiap waktunya. Harapan saya, materi ini dapat menjadi stimulasi berpikir pagi para peserta (praktisi, akademisi, maupun peneliti di bidang ilmu psikologi) dalam mengembangkan cara untuk membantu para orangtua menerapkan pengasuhan yang efektif demi tercapainya tumbuh kembang anak yang optimal.

materi-workshop-appreciative-parenting-2017Uraian saya awali dengan mengajak peserta menyamakan pesepsi tentang apa esensi dari pengasuhan, serta bagaimana dinamika tantangannya seiring dengan kondisi masyarakat yang terus berubah. Sebagaimana diketahui, pada era dimana kemajuan teknologi membawa sekian banyak perubahan di masyarakat, efek yang kemudian timbul pun beragam. Ada positif, ada pula yang negatif dan setiap saat dapat ditemui anak dalam aktivitasnya sehari-hari.  Baca lebih lanjut

Resiliensi, Perspektif Life Span, dan Peluang dalam Penelitian (Materi dalam Seminar Nasional Pascasarjana)

Sabtu, 26 November 2016. Satu lagi proses belajar telah dilalui, kali ini sebagai narasumber dalam Seminar Nasional Pascasarjana yang diselenggarakan oleh Program Doktor Ilmu Psikologi Universitas Gadjah Mada. Ini pengalaman yang sangat berkesan bagi saya karena bisa ‘pulang’ ke rumah, melakukan sesuatu untuk fakultas yang sekian tahun lamanya menjadi tempat saya menimba ilmu semasa S1-S2 dulu.

img_7964 Baca lebih lanjut

Orangtua, Kata-kata, dan Kebencian yang Diturunkan

Apa yang paling saya khawatirkan setiap kali merasakan suhu politik yang memanas? Pola pikir anak-anak. Terlebih jika orangtua mereka begitu gencar (bahkan tidak sedikit yang emosional) kemudian memunculkan sikap dan perilaku konsisten hingga menarik perhatian anak untuk meniru.

Saya jadi ingat perkataan seorang anak 6 tahun di sekitar masa pilpres beberapa waktu lalu, saat bermain dengan temannya. “Jokowi itu kafir!”, diucapkannya dengan lantang. Temannya yang mendengar kata-kata itu langsung bertanya, “Kenapa? Siapa yang bilang?”. Dan anak itu pun menjawab, ” Bapakku yang bilang. Dia ngomong-ngomong itu sama temannya”. Tidak disangka, teman lain menyeletuk, “Nggak boleh ngomong gitu…”. Apa kemudian jawaban si anak? : “Dosa kamu kalau mbelani! Kafir!”

Anak kecil 6 tahun. Tidak mengenal siapa yang dibicarakan, belum memahami apa yang terjadi di sekelilingnya, belum mengerti carut-marut urusan politik, dengan perkembangan kognitif yang masih setara tahap pra-operasional menurut Piaget, namun sudah ikut belajar melabel seseorang dan mengatakannya berulang-ulang pada anak-anak yang lain. Belajar melabel negatif, mengembangkan prasangka, lalu menularkan kebencian tersebut pada teman sepermainannya.

Cukupkah sampai di sini efek yang terjadi? Tidak. Jika stimulus ini cukup kuat ditangkap, maka teman sepermainan akan menularkan juga pembicaraan ini pada anak-anak yang lain, demikian seterusnya. Efek domino. Dan semakin perkataan ini diulang-ulang, ditambah adanya penguatan positif yang ia rasakan dari sekitarnya, maka semakin tertanamlah di pikiran mereka bahwa label tersebut adalah benar. Bahwa melabel orang yang menurut mereka berbeda adalah hal yang sah-sah saja dilakukan. Baca lebih lanjut

Upaya Menjadi Sosok Ibu yang Tangguh

Melanjutkan tulisan terdahulu tentang Materi Seminar Nasional Perempuan Pilar Peradaban Bangsa, kali ini saya akan ringkas menguraikan upaya yang dapat dilakukan Ibu untuk menjadi pribadi tangguh, sehingga nantinya mampu membesarkan anak-anak unggul yang juga berkarakter tangguh.

slide11

Sebagaimana telah ditulis sebelumnya, tantangan pengasuhan yang harus dihadapi ibu pada dasarnya tidak hanya berasal dari lingkungan tumbuh kembang anak saja, melainkan juga dari lingkungan personal ibu sendiri. Seorang ibu yang tangguh akan terus berusaha untuk mampu meregulasi diri agar sepadat apapun beban di tempat kerja (jika ibu bekerja), serumit apapun persoalan yang sedang dihadapi, ketidaknyamanan yang mungkin sedang dirasakan, dan sebagainya tidak menjadi halangan untuk tetap dapat mengasuh dan mendidik anak dengan baik.

Terkait hal tersebut, upaya pertama yang perlu dilakukan adalah: Self Improvementmemperbaiki diri dan melakukan penguatan psikologis secara terus-menerus. Mengapa demikian? Sebab bagaimana mungkin seorang pengasuh dapat mengasuh dengan baik jika psikologisnya tidak dijaga dalam kondisi baik? Bagaimana mungkin pendidik dapat optimal mendidik jika pikiran dan perasaannya carut-marut dan selalu tersita oleh urusan yang lain? Ini serupa juga dengan analogi tentang pentingnya seorang dokter dan psikolog harus sehat fisik dan mental terlebih dahulu sebelum kemudian bergerak membantu orang lain yang membutuhkan kemampuannya.

Lalu bagaimana cara melakukan self improvement tersebut? Baca lebih lanjut