Menumbuhkan Resiliensi Remaja di Era Digital: Peran Praktisi Bimbingan dan Konseling (Materi Seminar Nasional Bimbingan dan Konseling UPGRIS 2019)

Sabtu, 28 September 2019. Kembali memenuhi permintaan untuk berbagi pemahaman tentang resiliensi, pada forum ilmiah di luar bidang ilmu psikologi. Kali ini pada Seminar Nasional Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), bertema: “Resiliensi Remaja di Era Milenial dan Pendekatan Solution Focus Brief Counseling“. Seminar dihadiri oleh staf pengajar dan mahasiswa S1, S2, dan S3 Bimbingan dan Konseling serta Ilmu Pendidikan, para guru dan praktisi BK, juga sejumlah elemen masyarakat umum.

Dengan koordinasi yang baik dari penyelenggara, materi yang saya sampaikan lebih berfokus untuk mengupas resiliensi remaja. Sementara itu pendekatan solution focus brief counseling dikupas oleh ahlinya, kakak senior sekohort (biar sekohort tapi tetap lebih senior 😀 ), Mulawarman, S.Pd., M.Pd., Ph.D. dari Universitas Negeri Semarang. Menyimak materi dan penjelasan beliau yang sangat komunikatif, bersyukur sekali saya pun ikut bertambah ilmu. Ini bagian yang selalu menyenangkan dari mengisi sebuah forum ilmiah bersama dengan kolega lintas kepakaran. Tidak hanya berbagi, tetapi diri sendiri juga mendapatkan ruang untuk belajar lebih banyak. Anyway, terima kasih banyak untuk UPGRIS yang telah menyelenggarakan seminar nasional ini, dan memberikan kepercayaan kepada kami. Baca lebih lanjut

Amazing Russia (3): Saint Petersburg, Kota Klasik yang Cantik

Beda Moscow, beda St. Petersburg. Sama-sama penuh bangunan megah bersejarah, namun nuansa klasik, estetik nan cantik lebih terasa di kota ini, dibandingkan dengan Moscow yang terkesan lebih kaku.

Dari Moscow, rombongan kami menuju St. Petersburg dengan menggunakan kereta cepat, bernama Sapsan Train. Konon kabarnya Sapsan ini kereta tercepat kedua di dunia setelah Shinkansen di Jepang. Jarak antara Moscow dan St. Petersburg sepanjang 712,5 km yang normalnya ditempuh dengan mobil sekitar 9 jam, bisa dipersingkat menjadi 4 jam dengan menaiki Sapsan. Sepanjang perjalanan kita bisa menikmati pemandangan hijau dan pemukiman penduduk dengan bentuk-bentuk rumahnya yang khas. Baca lebih lanjut

Amazing Russia (2): Moscow dan Arsitekturnya yang Penuh Sejarah

Ini adalah bagian kedua dari catatan ringkas perjalanan ke Russia Juli lalu. Saya akan menceritakan sedikit tentang Kota Moscow yang penuh dengan deretan bangunan bersejarah.

Kalau bicara tentang Moscow, ada 2 gambaran bangunan khas yang terbayang di kepala: Gereja-gereja Kristen Ortodok yang kubah-kubahnya berwarna-warni bak permen lolipop, dan deretan gedung besar pemukiman maupun perkantoran yang bentuknya mayoritas berkubus-kubus, besar dan tampak sangat kokoh. Tidak sedikit diantaranya yang sudah berusia ratusan tahun, dan tetap berdiri tegak, berfungsi hingga sekarang.

Saya akan menuliskan beberapa objek menarik yang sempat kami datangi, di antara waktu-waktu mengikuti ECP. Karena di Russia pada saat itu matahari baru terbenam sekitar pukul 12 malam, maka usai kongres yang selesai sekitar pukul 5 sore, kami biasanya tidak langsung kembali ke penginapan. Kami menyempatkan untuk berjalan-jalan dulu sekuat kaki, karena sayang saja jika sudah jauh-jauh pergi tidak dimaksimalkan berkelilingnya. Baca lebih lanjut

Amazing Russia (1): The XVI European Congress of Psychology

Satu lagi pengalaman berharga menginjakkan kaki di belahan bumi Allah yang lain, belum lama terlewati dengan penuh syukur. Dan kali ini adalah Russia. Negara yang di luar angan-angan saya untuk bisa mengunjungi.

Dimulai dari adanya informasi tentang kongres psikologi Eropa yang terakses saat mengikuti salah satu konferensi internasional psikologi di Bali tahun lalu, saya dan sejumlah rekan pun mencoba menyusun abstrak paper dari hasil penelitian kami dan coba dimasukkan. Ternyata lolos seleksi untuk presentasi di sana. Maka kemudian, berangkat lah kami berpetualang ke negeri Masha and the Bear ini.

Karena ada cukup banyak catatan menarik, maka saya akan bagi dalam 3 tulisan. Saya ceritakan lebih dulu tentang keperluan utama pergi ke sana di tulisan pertama ini, sesudahnya akan saya sambung dengan tulisan tentang Moscow, dan terakhir tentang Saint Petersburg yang juga sempat kami kunjungi.

Baca lebih lanjut

Tentang Ikhtiar dan Tawakal

Satu pengalaman baru yang sangat berkesan belum lama terlewati. Pengalaman pertama kalinya Damai mengikuti World Scholar’s Cup (WSC) untuk Surabaya Regional Round.

WSC adalah sebuah ajang kompetisi akademik tingkat internasional yang diselenggarakan oleh DemiDec, berpusat di Los Angeles Amerika Serikat. Sebuah proses belajar melalui rangkaian aktivitas debat, tes dan kuis, unjuk bakat, berbagai permainan, serta kompetisi menulis individual maupun kolaboratif bersama tim, yang terdiri dari siswa-siswi sekolah menengah pertama dan atas. Melalui berbagai aktivitas tersebut WSC berfokus untuk membawa para pelajar dari berbagai budaya yang berbeda untuk bersama-sama mendiskusikan isu-isu dan ide-ide yang relevan untuk kondisi masyarakat saat ini.

Para peserta WSC saling berinteraksi dengan ribuan pelajar yang lain, dari beragam budaya dan latar belakang. Pada dasarnya rangkaian kegiatan dalam WSC tidak hanya menekankan pada aspek akademis, melainkan juga pada aktivitas-aktivitas lain yang menyenangkan dan memperkaya pengalaman. Apabila peserta dinyatakan lolos kualifikasi di tahap regional round, maka mereka dapat melanjutkan ke global round. Dan apabila kembali lolos di global round tersebut, maka peserta akan masuk ke Tournament of Champions yang dilaksanakan di Yale University.

Di pengalaman pertamanya ikut World Scholar’s Cup ini, capaian belajar Damai cukup baik. Di luar dugaan, dia mampu memperoleh 4 silver medals untuk team writing, champion scholar, individual speaker in debate champion, dan champion team; serta 3 gold medals untuk team bowl, challenge subjects award in science, and individual writing champion. Dengan hasil tersebut, Damai lolos kualifikasi untuk masuk ke global round.

Bersyukur sudah tentu. Apalagi ketika mengingat Damai belum genap satu tahun belajar di sekolah yang pengantarnya menggunakan Bahasa Inggris. Hanya dalam waktu yang relatif singkat ia mampu beradaptasi dengan bahasa tanpa bantuan les (kalau pernah membaca tulisan-tulisan saya terdahulu tentu masih ingat bahwa saya bukan penggemar les-lesan akademik). Melihatnya lancar berdebat, memberikan berbagai penjelasan dengan menggunakan Bahasa Inggris secara aktif pada WSC kemarin hingga akhirnya memperoleh tujuh medali bagi saya adalah perkembangan yang luar biasa (proud of you, Damai..).

Baca lebih lanjut