Piano Damai: Billie’s Song – Valerie Capers

Selingan musik dari lagu yang dimainkan Damai saat mengikuti event YMC 2018, dan mendapatkan 1st Winner untuk kategori Grade 4.

Berikut tautan tulisan Damai di blog-nya tentang ini, sila klik bagi yang ingin membaca: Youth Music Competition 2018.

Iklan

Percakapan Ringan dengan Anak Kelas 1 SMP

Lama tidak menuliskan percakapan ringan dengan Damai. Berikut saya catatkan juga di sini, dua yang sudah tertuliskan di dinding facebook saya, pembicaraan antara emak bersama anak perempuannya yang sekarang sudah SMP.

Yang Tak Biasa di Pelajaran Agama

Suatu sore sepulang sekolah..
👩🏻‍🌾: Today I have a new experience yang rasanya nggak di semua sekolah anak-anak bisa merasakannya, Mam.
🧕: What’s that?
👩🏻‍🌾: Di pelajaran agama. Jadi kan kalau di kelasku itu murid-muridnya dari 4 agama. Islam, Kristen, Katolik, sama Budha. Biasanya kalau jam agama, kami kan misah. Nah, hari ini tadi kami jadi satu!
🧕: Wah, menarik nih..
👩🏻‍🌾: Banget! We learned something together..
🧕: What did teachers ask students to do?
👩🏻‍🌾: We were asked to make several groups. Each group must be consisted of 3 or 4 students from different religion. And then teacher gave us a news about specific case. Do you still remember about Ibu Meiliana case?
🧕: Masih dong..
👩🏻‍🌾: Nah, beritanya tentang itu. Masing-masing kelompok diminta untuk mendiskusikannya, base on different perspectives from each religion.
🧕: That’s cool!
👩🏻‍🌾: Iya, aku juga ngerasa begitu. Kami diminta membahas, menganalisis kenapa kasus itu sampai terjadi, gimana pendapat kami, how to prevent agar tidak sampai terjadi, bagaimana seharusnya hidup di tengah masyarakat yang berbeda-beda,… Gitu, Mam.
🧕: Keren. So, what did you learn from this activity?
👩🏻‍🌾: Well, actually it hasn’t finished. Masih akan dilanjutkan soalnya kami akan mempresentasikannya minggu depan. Tapi dari yang tadi itu kerasa lebih ngerti perspektif yang beragam tentang satu hal, tapi sekaligus tahu bahwa ada similarities in some values from different religions.
🧕: Senang dengarnya, Mai. Jadi bisa lebih menghargai satu sama lain. I think it is good for students to participate in this kind of activity..
Baca lebih lanjut

RESILIENSI: Teori dan Penerapannya dalam Pendampingan Psikologis (Materi National Conference UMG 2018)

Sabtu, 6 Oktober 2018. Kembali berbagi pemahaman tentang resiliensi, kali ini dalam National Conference “Resilience in The World of Competitive, Islamic Perspective” yang diselenggarakan oleh Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Gresik bekerjasama dengan International Institute of Islamic Thought. Selain saya, dua pembicara yang lain adalah Assoc. Prof. Dr. Shukran Abd. Rahman dan Assoc. Prof. Dr. Mastura Badzis, keduanya dari International Islamic University Malaysia.

Konferensi nasional ini di luar dugaan ternyata tidak hanya diikuti oleh para akademisi dan mahasiswa dari berbagai jenjang, tetapi juga praktisi psikologi dan konseling, guru-guru, orangtua, bahkan pelajar SMK yang antusias menguatkan kompetensinya menghadapi tantangan di masyarakat yang semakin beragam. Suasana “gethok tular” ilmu pun terasa menjangkau banyak lapisan. Sangat mensyukurinya.

Sesuai permintaan panitia, saya membawakan materi tentang konsep dasar resiliensi dan perkembangan teorinya, serta gambaran penerapannya dalam pendampingan psikologis. Beberapa bagian dari materi ini pernah saya sampaikan pada saat mengisi Seminar Nasional Pascasarjana di UGM Bulan Maret lalu.

Dengan terus diniatkan untuk memperluas kemanfaatannya, karena menyadari bahwa ilmu adalah milik Allah, berikut saya bagikan pokok-pokok materi yang diringkas dalam beberapa slide presentasi. Semoga memenuhi juga keingintahuan rekan-rekan yang pada hari kegiatan berhalangan untuk turut hadir.

Baca lebih lanjut

Pengasuhan Positif: Mengasuh dengan Kesadaran (Materi Seminar Nasional IPSY FAIR 2018)

Sabtu, 29 September 2018. Memenuhi permintaan mahasiswa dari SKI Fakultas Psikologi yang menyelenggarakan Islamic Psychology Festival Airlangga 2018, pagi ini saya turut memberikan materi bersama satu pembicara yang lain, seorang Ustadz alumni Fakultas Psikologi UGM yang aktif menulis buku-buku parenting.

Materi saya menekankan pentingnya setiap orangtua untuk senantiasa menjaga kesadaran dalam praktik parenting yang dilakukan. Jadi bukan memposisikan pengasuhan sebagai rutinitas yang sambil lalu dijalani, sehingga pada akhirnya kerap terheran dengan berbagai pola perilaku anak kemudian.

Kesadaran yang dimaksud dalam paparan yang saya susun terbagi dalam tiga kelompok saling berkait: (1) Menyadari fenomena perubahan pola perilaku individu antar kurun waktu; (2) Menyadari prinsip perkembangan manusia dan tantangan dalam pengasuhannya; (3) Kesadaran untuk memperbaiki pengasuhan dan mengoptimalkan perkembangan anak dengan langkah-langkah yang tepat.

Dalam tulisan ini, seperti biasa saya akan membagikan pokok-pokok materi tersebut, untuk memperluas kemanfaatan dengan lebih banyak rekan yang dapat mengaksesnya. Baca lebih lanjut

Buku “Resiliensi Psikologis: Sebuah Pengantar”

Syukur Alhamdulillah, setelah sekian waktu mengupayakannya di sela tumpukan tugas rumah dan kampus, buku ini akhirnya terbit juga. Sebagaimana tertulis pada bagian Kata Pengantar, buku ini disusun sebagai sebuah penanda perjalanan belajar saya dalam memahami tentang resiliensi. Tentang bagaimana seseorang mampu pulih dan bangkit dari keterpurukan, menjadi sosok resilien di tengah berbagai kesulitan hidup yang sedemikian berat.

Bukan hal yang tiba-tiba bagi saya untuk kemudian memutuskan menekuni topik kajian ini, dalam profesi sebagai pendidik maupun peneliti. Ada proses yang didasari oleh beberapa alasan. Baca lebih lanjut

Menyikapi Karnaval Kontroversial Murid TK Probolinggo

Selama beberapa hari di sela maraknya berita seputar Asian Games dan Lombok yang beruntun diguncang gempa, warganet diriuhkan oleh video tentang karnaval TK di Probolinggo, dimana murid-murid salah satu TK berpawai dengan mengenakan kostum hitam bercadar dan membawa replika senjata. Kostum yang sontak mengingatkan pada atribut kelompok teroris, dan pakaian sebagian dari mereka yang terlibat peperangan di Timur Tengah.

Berikut saya tautkan tiga dari sekian banyak sumber berita yang memuat informasinya:

Hingga berita yang terakhir, pihak sekolah sudah meminta maaf dan memberikan penjelasannya kepada media, bahwa penggunaan atribut kontroversial tersebut karena semata-mata bermaksud merefleksikan perjuangan Rasulullah dan tidak ada maksud yang mengarah kepada simbol-simbol radikalisme atau teroris, kecuali hanya menanamkan keimanan kepada anak didik. Disampaikan bahwa sekolah yang bersangkutan mengusung tema “Bersama Perjuangan Rosululloh Kita Tingkatkan Keimanan dan Ketaqwaan kepada Allah”.

Turut menyikapi, meski sudah tidak lagi dilanjutkan penyelidikannya, saya melihat bahwa kejadian ini patut menjadi refleksi bersama, baik bagi para pendidik, orangtua, maupun pihak lain yang turut berperan dalam proses tumbuh kembang anak. Ada beberapa hal yang menarik untuk diulas. Baca lebih lanjut