Buku “Resiliensi Psikologis: Sebuah Pengantar”

Syukur Alhamdulillah, setelah sekian waktu mengupayakannya di sela tumpukan tugas rumah dan kampus, buku ini akhirnya terbit juga. Sebagaimana tertulis pada bagian Kata Pengantar, buku ini disusun sebagai sebuah penanda perjalanan belajar saya dalam memahami tentang resiliensi. Tentang bagaimana seseorang mampu pulih dan bangkit dari keterpurukan, menjadi sosok resilien di tengah berbagai kesulitan hidup yang sedemikian berat.

Bukan hal yang tiba-tiba bagi saya untuk kemudian memutuskan menekuni topik kajian ini, dalam profesi sebagai pendidik maupun peneliti. Ada proses yang didasari oleh beberapa alasan. Baca lebih lanjut

Iklan

Menyikapi Karnaval Kontroversial Murid TK Probolinggo

Selama beberapa hari di sela maraknya berita seputar Asian Games dan Lombok yang beruntun diguncang gempa, warganet diriuhkan oleh video tentang karnaval TK di Probolinggo, dimana murid-murid salah satu TK berpawai dengan mengenakan kostum hitam bercadar dan membawa replika senjata. Kostum yang sontak mengingatkan pada atribut kelompok teroris, dan pakaian sebagian dari mereka yang terlibat peperangan di Timur Tengah.

Berikut saya tautkan tiga dari sekian banyak sumber berita yang memuat informasinya:

Hingga berita yang terakhir, pihak sekolah sudah meminta maaf dan memberikan penjelasannya kepada media, bahwa penggunaan atribut kontroversial tersebut karena semata-mata bermaksud merefleksikan perjuangan Rasulullah dan tidak ada maksud yang mengarah kepada simbol-simbol radikalisme atau teroris, kecuali hanya menanamkan keimanan kepada anak didik. Disampaikan bahwa sekolah yang bersangkutan mengusung tema “Bersama Perjuangan Rosululloh Kita Tingkatkan Keimanan dan Ketaqwaan kepada Allah”.

Turut menyikapi, meski sudah tidak lagi dilanjutkan penyelidikannya, saya melihat bahwa kejadian ini patut menjadi refleksi bersama, baik bagi para pendidik, orangtua, maupun pihak lain yang turut berperan dalam proses tumbuh kembang anak. Ada beberapa hal yang menarik untuk diulas. Baca lebih lanjut

Piano Damai: Dance the Night Away & What is Love (Cover Songs)

Dari lagu-lagu BTS, sempat juga membuat cover lagu Ed Sheeran, Shawn Mendez, dan Justin Bieber, sekarang bergeser ke lagu-lagu Twice. Poin pentingnya, dia konsisten belajar untuk mengasah skill dan terus produktif menghasilkan karya, meski masih sederhana.

Cerita Damai: Sekolah Baru, Value, dan Proses Belajar yang Seru

Perjalanan belajar Damai sekarang sudah masuk di tahap SMP. Tahap di masa remaja awal yang lebih berwarna karena karakter psikologis individu seusianya yang juga berbeda. Apa yang membedakannya dari masa anak? Lebih kritis karena kemampuan berpikirnya berkembang; lebih sensitif secara emosi; menginginkan ruang lebih untuk mengambil berbagai keputusan sendiri; dan sebagainya.

Sebagaimana sudah saya sebut di tulisan terdahulu, Damai sekarang belajar di Sekolah Cikal Surabaya. Sekolah yang dari sisi jarak pergi-pulang ke rumah sebenarnya jauh dari kata ideal: 28 km, sama seperti jarak rumah-kampus, namun di wilayah yang berbeda. Sekolah Damai di Surabaya Barat, sementara Kampus Unair di Surabaya Timur. Jadi bayangkan saja sebuah segitiga, jika ingin tahu bagaimana posisi antara rumah, Cikal, dan kampus 😀

Dan dengan segitiga penuh cinta ini saya mengantar jemput sendiri Damai setiap harinya. Berangkat pagi-pagi menuju Cikal, menurunkan Damai dulu, baru lanjut ke kampus. Begitu sebaliknya ketika pulang. Seru, dan sejauh ini rute sudah berjalan kurang lebih 1 bulan.

Tidak capek? Ah… ini pertanyaan retoris. Ya jelas capek, apalagi dengan bertumpuk pekerjaan kampus yang terus sambung-menyambung plus segala urusan domestik yang harus dilakukan mandiri tanpa asisten. Tapi capek itu rasanya terbayar dengan ceria-cerita belajar yang disampaikan Damai dengan begitu antusias setiap harinya. Antusiasme yang menyalurkan energi positif juga pada saya.

Ingat cerita Totto Chan yang begitu bahagia saat akhirnya menemukan sekolah yang diinginkan? Ya, kurang lebih begitu gambarannya. Sekolah yang mampu merawat semangat untuk belajar di setiap waktunya, yang terus memupuk rasa ingin tahu akan beragam ilmu sekaligus berani menyuarakan isi pikiran, melalui rangkaian aktivitas pembelajaran yang menyenangkan.

Baca lebih lanjut

Dia Sudah SMP Sekarang…

Rasanya belum terlalu lama saya mulai merangkai cerita demi cerita selama mendampinginya bertumbuh, menjalani hari demi hari masa belajarnya di TK, lalu berlanjut ke SD. Dan sekarang, Damai sudah masuk usia ‘ABG’, beralih menjadi anak SMP. Tentu, peralihan ini memerlukan penyesuaian juga pada sisi orangtua.

Atas dasar diskusi bersama, Damai melanjutkan sekolahnya di Cikal. Kami meyakini melalui kurikulum serta proses pembelajaran yang diterapkan, sekolah ini dapat memfasilitasi Damai mengembangkan diri dan berbagai kemampuannya dengan optimal. Baik kemampuan akademik maupun non-akademik, termasuk di dalamnya ketrampilan psikologis dan sosial. Baca lebih lanjut

Demam Bangtan Sonyeondan dan Produktivitas Bermusik Damai

Saya penggemar drama Korea. Itu sudah jelas, semua teman juga sudah paham dan memaklumi, hehehe… Tapi, tidak semua produk Korea atau sesuatu yang berasal dari Korea kemudian saya suka. Yang tidak OK tetap saja tidak suka. Salah satunya adalah sekian banyak boyband K-Pop yang……. ah, pokoknya lihat dandanannya saja saya “enggak banget”. Sekumpulan cowok beranting, rambut diwarna-warni, kadang disisir dengan model yang menurut saya ajaib, baju penuh pernak-pernik asesoris, lalu bernyanyi dan menari dengan ekspresi songong. Asli, “enggak banget”. BIG NO lah pokoknya.

Makanya, tahu ada begitu banyak remaja yang berbondong menggandrungi mereka, sampai berteriak-teriak histeris hanya karena melihat posternya dari kejauhan, doa saya cuma satu, semoga Damai tidak ikut begitu.

Nah, selama beberapa waktu saya merasa cukup aman. Dia tidak tampak menyukai K-Pop. Terlihat dari jejak lagu yang sering diputar, baik lewat iTunes maupun youtube. Hanya sesekali dia cerita betapa banyak teman sekolahnya yang jadi penggemar boyband K-Pop.

Tapi kemudian hari berganti, masa pun berlalu. Berjarak beberapa waktu, saya mulai menangkap adanya pergeseran minat Damai. Mulai dari mencoba memainkan beberapa melodi dari lagu boyband tertentu, adanya unduhan lagu K-Pop di iTunes yang bukan OST drama kesukaan saya (kalau yang ini sudah jelas saya pelakunya :D), sampai data akses video mereka dari youtube. “Oh, No! Gawat ini…”, pikir saya. Baca lebih lanjut