Literature Review: Langkah Penting dalam Menyiapkan Usulan Penelitian

Ketika mengevaluasi proposal atau laporan penelitian, tidak jarang kita menemukan berbagai macam penelitian yang landasan ilmiahnya lemah, urgensi dan kemanfaatannya dipertanyakan. Peneliti dalam paparannya tidak berhasil menjelaskan secara argumentatif mengapa penelitian tersebut dilakukan, apa pentingnya, mengapa menempatkan variabel-variabel yang dipilih sedemikian rupa, apa alasan melakukan penelitian pada kelompok individu yang menjadi subjeknya, mengapa memilih menggunakan pendekatan tertentu dalam mengkaji fenomena yang menjadi fokus, dsb, sehingga muncul keraguan terhadap ketepatan pelaksanaan berikut hasilnya.

Mengantisipasi hal tersebut, literature review penting dilakukan dengan sebaik mungkin. Langkah untuk menelaah berbagai penelitian terdahulu mutlak dibutuhkan, untuk membantu peneliti merumuskan rencana penelitian secara tepat, baik secara konseptual teoritis maupun metodologis.

The process of conducting and reporting your literature review can help you clarify your own thoughts about your study.

Istilah literature review sendiri tentu sudah tidak asing di kalangan mereka yang menempuh studi di perguruan tinggi, baik pada jenjang S1, S2, maupun S3. Hanya saja ketika diminta untuk melakukan, tidak semua mahasiswa memiliki pemahaman yang sama tentang cakupan isinya. Cukup banyak diantara mahasiswa ini yang menyamakan literature review dengan sekedar resume atau ringkasan jurnal, padahal semestinya lebih dari itu. Baca lebih lanjut

Mengeluh atau Berbaik Sangka, Semua Adalah Pilihan

Di ruang yang terpisah, ada dua cerita berbeda:

A: “Tulisanku dicoret-coret lagi. Nyebelin. Padahal sudah setengah mati ini bikinnya. Kalau gini terus kapan aku selesainya??? Lama-lama males kan…” –>😦

B: “Masih diberi catatan lagi. Sempat mikir, ‘yah… belum beres juga ternyata’. Tapi ya memang bener sih, kubaca-baca lagi tulisanku memang nggak runtut. Datanya memang minim. Jadi nggak apa-apalah, mending kerja keras sekarang daripada nanti di belakang kena masalah waktu ujian” –> (Setuju!)

Lalu, di dua tempat berikutnya:

A: “Anda enak kerja di tempat yang fleksibel. Bisa mudah ngatur waktu buat ngikuti jadwal sekolah. Beda dengan saya yang tidak ada toleransi dari kantor. Jadinya apa-apa susah, mana kerjaan juga nggak ada habisnya…” –>😦

B: “Saya sadar betul sekolah ini keputusan saya sendiri. Jadi ketika kantor tidak memberi kelonggaran waktu, itu konsekuensi yang harus bisa saya carikan solusinya. Entah bagaimana caranya kedua tanggung jawab ini harus sama-sama jalan.” –> (Salut!)

Masih serupa, dua perbedaan yang lain:

A: “Dapat supervisor macam dia itu bikin nggak termotivasi buat ngerjakan. Sudah orangnya nggak kompeten, mbulet, ampun pokoknya. Nggak tau deh mau apa. Dasar nasip lagi apes…” –>😦

B: “Sempet kecewa memang, karena nggak sesuai harapan. Tapi kupikir lagi, aku juga bukan orang yang tergantung. InsyaAllah bisa tetap kubereskan, nanti tinggal melapor-laporkan progresnya. Kalau ada yang nggak cocok ya kujelaskan. Itung-itung latihan softskill.” –> (Keren!)

Dan satu lagi ilustrasi:

A: “Orangnya uuuangel-angel. Mosok sudah dua minggu keliling cuma dapat acc 3 dari 7 penguji. Belum lagi yang njanjiin dimana, sudah didatangi ternyata nyuruh pindah ke tempat yang lain atau mbatalkan. Capek! Kayak kita nggak ada kerjaan yang lain aja!” –>😦

B: “Saya telateni. Biar motivasi ndak turun, sekecil apapun progresnya selalu saya syukuri. Alhamdulillah sudah dapat 3, daripada belum sama sekali. Yang penting saya usahakan terus. Asal nggak berhenti pasti nanti akan selesai semuanya. Iman saya, Allah akan membantu.” –> (Luar biasa!)

Baca lebih lanjut

Beda Masa, Beda Cerita

Seperti pernah saya tuliskan dulu, di luar tugas pokok sebagai dosen, ada satu tanggung jawab lagi yang mewarnai hari-hari saya dengan segala tantangannya: Mengelola sebuah program studi.

IMG_0987Jika selama dua tahun sebelumnya (2014-2015) saya diminta untuk mengelola Prodi Magister Psikologi, maka sejak awal tahun ini cerita pun berbeda. Berdasar SK Rektor, saya harus berpindah ruang, menjadi Kaprodi Doktor Psikologi. Dan yes, hidup pun semakin berasa seperti permen nano-nano. Ada manis, ada asem, ada asinnya juga😀

Beberapa bagian cerita sewaktu menjadi Kaprodi Magister Psikologi pernah saya tuliskan dalam salah satu posting tahun lalu (baca: Sedikit Cerita dari Kolokium Psikologi Indonesia 2015). Tantangan utama yang saya hadapi waktu itu adalah bagaimana membuat prodi mampu memfasilitasi proses belajar mahasiswa yang berasal dari berbagai macam disiplin ilmu dengan semaksimal mungkin, hingga mereka dapat menyelesaikan studinya tepat waktu, dengan penguasaan keilmuan yang baik. Jadilah kemudian saya berpikir keras, mencari langkah-langkah yang belum pernah atau belum optimal dilakukan sebelumnya untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar yang dilaksanakan oleh prodi MaPsi.

Materi Call for Presentation - WIWIN - Magister Psikologi UNAIR Baca lebih lanjut

Resiliensi Anak Berkebutuhan Khusus

Membaca judul ini mungkin agak terasa aneh. Sebagaimana pernah saya kutipkan dalam posting terdahulu, resiliensi adalah koping efektif dan adaptasi positif terhadap kesulitan dan tekanan (Lazarus, 1993). Individu yang resilien akan menunjukkan kemampuan dalam menghadapi kesulitan, ketangguhan dalam menghadapi stres ataupun bangkit dari trauma yang dialami (Masten dan Coatsworth, 1998). Lalu bisakah seorang anak berkebutuhan khusus yang memiliki hambatan dalam perkembangannya dibantu untuk mampu menumbuhkan resiliensi? Apakah mungkin itu dilakukan? Jawab saya, mengapa tidak? Sebelum membahasnya lebih lanjut, mari simak video berikut ini terlebih dahulu:

Sakti adalah salah satu dari sekian banyak anak berkebutuhan khusus yang menarik. Tak hanya terkait kemampuan seni dan ketrampilannya dalam berkomunikasi dengan orang lain, pemahaman dan penerimaannya terhadap ketunanetraan yang tersirat dari beberapa bagian penuturan adalah hal luar biasa yang mampu dimiliki oleh ABK seusianya. Ia mampu merespon dengan lugas bahwa ia memang tidak bisa melihat, dan menggambarkan bagaimana kondisi penglihatannya yang hanya bisa menangkap cahaya.

Penuturannya disampaikan dengan ceria, tanpa ekspresi yang menampakkan kesedihan maupun rendah diri. Apa yang tampak dalam diri Sakti merupakan contoh dari kapasitas anak berkebutuhan khusus untuk mampu merespon secara positif berbagai kondisi yang menimbulkan tekanan, baik yang terkait langsung dengan kekhususan yang dialami maupun hambatan sosial lain yang menyertai. Sakti menjadi bukti bahwa resiliensi dapat ditumbuhkan dalam diri anak-anak yang istimewa ini. Gambaran lain dari anak berkebutuhan khusus yang resilien juga dapat dibaca dalam tulisan 15 Stories of Resilience from Children with Disabilities. Baca lebih lanjut

Disability and Resilience: Four Phases to Overcome Significant Adversity in The Life Changes

Late Post. Sebagaimana biasanya saya selalu membagikan dalam blog ini, materi yang saya presentasikan di forum-forum ilmiah yang telah saya ikuti. Kali ini adalah materi presentasi dalam ICEPAS 2016 yang lalu. Sebagaimana sudah saya singgung saat bercerita tentang perjalanan ke Korea Selatan tersebut, materi yang berjudul Disability and Resilience: Four Phases to Overcome Significant Adversity in The Life Changes ini adalah bagian dari riset disertasi yang saya selesaikan. Saya memaparkan tentang temuan empat fase yang dilalui oleh individu dalam perubahan kondisinya menjadi seorang penyandang disabilitas, hingga pada akhirnya mampu mencapai resiliensi. Dengan kata lain, keempat fase tersebut merupakan fase-fase dalam proses resiliensi.

Berikut adalah beberapa kutipan ppt yang saya bawakan. Versi lengkap dari artikel dimuat dalam Conference Proceeding.

Processed with MOLDIV

ISBN: 978-986-89536-4-2

Baca lebih lanjut