Insight dari Ruang Kuliah: Orangtua yang Tak Boleh Berhenti Mengelola Diri

Salah satu bagian menyenangkan dari sebuah proses belajar adalah ketika melihat mahasiswa menemukan insight dalam belajarnya. Sebuah pemahaman mendalam dari apa yang sedang dipelajari, yang membuatnya mampu melihat keterkaitan antar objek, peristiwa, atau perilaku, serta menjelaskan apa maknanya. Insight membantu individu untuk dapat menerapkan segala sesuatu yang telah dipelajarinya secara tepat. Nah, insight yang akan saya ceritakan ini muncul di kelas Positive Parenting, salah satu mata kuliah yang saya ampu di Magister Psikologi Profesi.

Hari itu saya memulai pertemuan dengan mengajak mahasiswa terlebih dahulu merenungkan bersama, bagaimana perkembangan anak-anak di tengah perubahan jaman yang begitu dinamis seperti saat ini. Adakah perubahan pola perilaku dibandingkan sekian waktu yang lalu? Tanpa berpikir lama, serempak seluruh mahasiswa mengatakan YA, lalu menyambungnya dengan serangkaian data yang mereka tangkap dari sekitar tentang perubahan yang dimaksud.

Sebagaimana pernah saya tuliskan, setiap jaman dengan segala kondisinya memang membawa berbagai konsekuensi bagi individu yang hidup di dalamnya. Baik konsekuensi positif dengan meningkatnya kemampuan-kemampuan tertentu, maupun negatif dengan munculnya berbagai permasalahan perilaku yang baru. Ketergantungan terhadap teknologi, adiksi terhadap gawai, pergaulan bebas, kecenderungan menurunnya ketrampilan sosial, serta problem kemandirian adalah beberapa diantara tantangan yang harus dihadapi oleh pada orangtua saat ini terkait perkembangan anak. Tantangan yang semakin menempatkan pengasuhan sebagai suatu proses yang tidak mudah untuk dilakukan.

Baca lebih lanjut

Sekedar Percakapan Ringan (14)

Obrolan di suatu petang sambil makan samyang sepiring berdua.

Saya: Apa yang kadang membuatmu sebel sama Mama?

Damai: Hehehe… apa ya… (lama mikir)… Satu, Mamski suka lama kalau dandan. Tapi kebanyakan ibu-ibu memang gitu sih, dan kayaknya ada banyak yang lebih parah dari Mamski. Aku suka krik-krik kalau harus nungguin Mamski ribet.

Saya: 😁…ma’aaap… Trus apa lagi?

Damai: Kedua, Mamski kadang terlalu serius. Nggak selalu sih, cuma kalau lagi kambuh, aku sering mikir “please deh Mam, ini kan cuma bercanda”…

Saya: 😅 hihihi… maafkan ya… itu pasti pas mama lagi kurang aqua 🙈. Trus-trus?

Damai: Ketiga, kalau lagi ngobrol gitu, Mamski suka nglempar pertanyaan-pertanyaan susah yang bikin aku harus berpikir keras menjawabnya.

Saya: Waduh 🙊✌️

Damai: Tapi tenang Mam, nggak papa sih, that’s ok kok. Aku tahu maksudnya Mamski, biar aku lebih paham banyak hal. Dan sebenarnya pertanyaan-pertanyaan Mamski masih lebih mudah daripada kalau papski yang nanya-nanya. Kalau papski sudah nanya-nanya, aku suka pusing-pusing gimanaaa gitu.

Saya: 😄 Syukurlah… urusan sama papski diselesaikan sendiri ya 😅. Masih ada lagi yang nyebelin?

Damai: (jeda mikir…), kayaknya itu sih…

Saya: Nah, kalau yang bikin kamu suka apa?

Damai: Satu, Mamski nggak suka sinetron. Itu aku syukuri banget. Ya meskipun Mamski suka nonton drama Korea, tapi menurutku itu asli nggak apa-apa dibandingkan sinetron yang wis pokoknya nggak banget deh Mam.

Saya: Asiiik…😍 makasih ya Mem…, kamu memang pengertian… (modus) 😁

Damai: 😝 Kedua, kalau kita lagi jalan di mall atau kemana gitu, Mamski berhasil membuatku berpikir dua kali untuk minta beli-beli. Jadinya bisa lebih hemat, and that’s good! Tabunganku jadi lumayan. Ya kecuali kalau untuk beli buku. Trus ketiga, ini yang menurutku paling penting, Mamski mau mendengar dan menghargai pilihan-pilihanku. Itu kayaknya nggak semua ibu-ibu mau. Makasih banget ya Mam…

Saya: ☺️☺️☺️

Damai: Kalau aku, apa yang nyebelin menurut Mamski?

Saya: Nggak ada. Kamu selalu bikin mama bersyukur…

UN, Diantara Dukungan dan Kecemasan

Saya tergelitik menulis ini setelah mendapatkan pertanyaan menarik dari Mbak Su, asisten rumah kami setelah melihat berbagai berita tentang usaha-usaha yang dilakukan sekolah menjelang siswa-siswanya mengikuti UN. Mulai dari mengadakan doa bersama yang diiringi isak tangis penuh dengan sesaknya hati dan pikiran, menyarankan siswa berkeliling sekolah untuk meminta maaf atas semua kesalahan, melakukan ritual mencuci kaki guru dan orangtua sedemikian rupa, sampai ada yang meminta siswa untuk minum air tertentu yang sudah diberi doa-doa.

Kok kula mboten sreg nggih, Bu… (kok saya ndak sreg ya, Bu)…?”, katanya.

Saya tanya apa yang membuatnya tidak sreg. Mbak Su bilang, ia merasa justru dengan itu semakin membuat UN menjadi momok untuk siswa, sehingga siswa pun menghadapinya dengan penuh kecemasan, kekhawatiran yang berlebih.

Yak, saya sepakat dengan Mbak Su. Saya pun merasakan hal yang sama sejak beberapa waktu terakhir sering mendengar ritual-ritual yang menurut saya justru menambah beban psikologis anak setiap kali masa UN datang.

Dipersepsikan dengan sederhana, UN sebenarnya hanyalah satu proses evaluasi dari seluruh kegiatan belajar siswa yang dijalani sejak awal masa studinya. Hasil UN sewajarnya akan mencerminkan apakah siswa optimal atau tidak dalam belajar. Jika sekolah sudah melaksanakan proses pendidikan dengan baik, mengikuti kurikulum dan segala ketentuannya, maka siswa akan dapat belajar dengan benar sesuai target capaian pembelajaran. Dengan demikian, tidak perlu ada kekhawatiran berlebih dalam menghadapi evaluasi yang bernama UN ini.

Kalaupun sekolah akan berusaha keras mendorong seluruh siswa agar dapat melalui UN dengan baik, maka langkah paling tepat menurut saya adalah dengan mengupayakan terlaksananya proses pembelajaran yang sebaik mungkin. Jadi bukan dengan melakukan langkah-langkah yang dinyatakan sebagai bentuk dukungan, namun sejatinya justru menularkan virus kepanikan. Penularan panik dan cemas yang bahkan berantai, dari pihak sekolah ke siswa, juga orangtua. Baca lebih lanjut

Sekedar Percakapan Ringan (13)

Dalam tulisan terdahulu, beberapa kali saya membahas bahwa menumbuhkan berbagai karakter positif anak merupakan bagian dari tanggung jawab pengasuhan yang harus dilakukan oleh orangtua. Sebab kemampuan yang perlu ditumbuhkan dalam diri anak tidak hanya sebatas wilayah akademik saja, namun juga tentang bagaimana mereka mampu berpikir kritis, memiliki kepekaan emosi, keterampilan sosial, dan sebagainya. Terkait ini, sebagaimana pernah saya ceritakan, saya pun berusaha terus mengingatkan diri sendiri untuk tidak luput mengupayakannya pada Damai. Setiap saat, melalui berbagai obrolan kami sehari-hari.

Berikut adalah catatan dan obrolan ringan yang sempat saya tulis di akun media sosial saya beberapa hari terakhir, menyusul rangkaian cerita percakapan ringan sebelumnya. Saya bagikan juga di sini siapa tahu cerita di dalamnya akan bisa memberi manfaat untuk teman-teman yang lain.

Catatan 10 Mei 2017

Kapan hari membahas dengan Damai, hal-hal apa saja yang digemari anak-anak saat ini. Salah satunya ternyata adalah tren membuat video musik dari lagu-lagu yang sedang hits.
Bertanyalah saya: Gitu itu anak-anak pada tahu nggak, apa isi lagu yang sedang divideokan, sampai ada yang gaya lipsingnya ekstrim ‘songong’ ala-ala gaya artis R&B jaman sekarang?
Damai: Nggak selalu tahu sih kayaknya…
Saya: Nah, kalau kamu sendiri, dari yang kamu tahu gimana?
Damai: Hmm… nggak selalu bagus memang, Mam.
Saya: Nggak bagusnya gimana?
Damai: Yaaa… gitu deh.
Saya: Ada yang isinya sangat orang dewasa ya?
Damai: Hooh… dan lain-lain
Saya: Pernah nggak terpikir, ketika banyak anak-anak yang membuat videonya, lalu upload di instagram misalnya, apa yang akan terjadi pada anak lain yang melihat postingan itu?
Damai: Ya kemungkinan ada yang nirukan, dan semacam tertarik pengen lebih tahu gitu.
Saya: Lalu, apa yang akan mereka lakukan?
Damai: Mencari-cari lagu itu mungkin..
Saya: Dimana?
Damai: Ya yang paling gampang di internet.
Saya: Nah, waktu mereka mencari-cari itu mungkin nggak mereka trus entah sengaja atau enggak akhirnya menemukan video klip yang asli, yang adegannya sama sekali nggak sesuai untuk dilihat anak-anak?
Damai: Ya iya.
Saya: Dan permasalahannya bisa jadi nggak hanya sampai di situ. Kalau mereka lalu keterusan mengakses video-video yang tidak baik, atau bahkan menirukan perilaku yang tidak oke, masalah pun bertambah. Efeknya berantai.
Damai: Iya sih. Berarti kalau melakukan sesuatu itu memang sebaiknya dipikirkan dulu ya kemungkinan efeknya.
Saya: Betul. Mama aja juga sering mikir dulu kalau mau melakukan apapun, meski cuma sekedar share drama korea tertentu di medsos (duh…contohnya 😅), mau nulis sesuatu, atau yang lain-lain.
Damai: Termasuk kalau nulis status-status gitu ya?
Saya: Iya, apapun. Kamu suka ngamati gimana status-statusnya orang di line, twitter atau di mana gitu?
Damai: Iya, dan ada yang nggak banget Mam.
Saya: Yang kayak apa itu?
Damai: Yang ngamuk-ngamuklah, kata-katanya kasar, ngomel-ngomel, pokoknya posting yang nggak enak dibaca atau dilihat.
Saya: Baguslah kamu bisa menilai mana yang ok, mana yang nggak ok. Apapun yang kita lakukan, usahakan jangan sampai berefek tidak baik ke orang lain. Karena sekecil apapun perilaku akan bisa memberi dampak ke lingkungan sekitar.

Baca lebih lanjut

Tulisan Damai di Hari Kartini

Kemarin saya mendapatkan kiriman tak terduga dari Ibu Wali Kelas Damai, sebuah tulisan singkat yang dibuat Damai di sekolah tentang Kartini Masa Kini. Meleleh membacanya, penuh syukur yang tak terkatakan. Terima kasih, Memskipiii

Berbagi bahagia tersebut, berikut adalah isi tulisan Damai yang buat saya begitu indah. Oya, meski terlambat, Selamat Menjadi Kartini Masa Kini juga untuk semua Ibu Hebat di manapun berada…

Ibuku, Kartiniku

Ibuku adalah seorang dosen. Tiap hari beliau mengajar di kampusnya. Tak jarang, beliau pulang malam. Namun seperti tak kenal lelah, selalu bersemangat untuk menjalani  kembali hari esok.

Di luar kesibukan itu, beliau adalah ibu yang tangguh. Seorang Ibu yang selalu bersedia menjagaku, kapanpun, di manapun. Walau beliau tak jarang memarahiku, aku tahu semua dilakukannya karena beliau menyayangiku.

Ibuku memang bukanlah pahlawan seperti di buku cerita. Namun beliau adalah kartiniku masa kini. Seorang yang mengabdi untuk mencerdaskan anak-anak bangsa ini.

memski

Damai, Ujian Royal, dan Sebuah Catatan Reflektif untuk Diri Sendiri

Jika ada pembaca yang berteman facebook dengan saya dan online beberapa hari terakhir, tentu pernah membaca percakapan antara saya dengan Damai berikut ini:

Saya: Kamu senang bermain piano ini?
Damai: Lebih dari senang.
Saya: Kalau ujiannya nanti?
Damai: Ya aku memang mau ikut ujian royal.
Saya: Untuk apa?
Damai: Buat pengalaman, apalagi yang nguji orang asing. Trus biar aku tahu juga dari evaluasinya, aku kurangnya dimana, sudah bagusnya dimana.
Saya: Trus buat apa kalau sudah tahu evaluasinya?
Damai: Ya biar aku bisa memperbaiki kalau masih ada yang kurang, jadinya permainanku bisa lebih bagus lagi. Kalau aku main pianonya bagus, orang yang dengar kan juga lebih bisa menikmati.
Saya: Okesip, sepakat. Yang penting belajarnya ya, karena ujian adalah bagian dari proses belajar itu sendiri. Dan tujuan belajar bukan untuk mencari nilai/hasil ujian, tetapi agar kita semakin mahir melakukan sesuatu yang kita pelajari.

Percakapan tersebut adalah salah satu bagian dari rangkaian pembicaraan yang sengaja saya lakukan sebagai upaya untuk mengembalikan semangat dan fokus Damai dalam belajar piano. Setelah beberapa waktu sempat pecah arah karena beberapa hal. Baca lebih lanjut