Insight dari Ruang Kuliah: Orangtua yang Tak Boleh Berhenti Mengelola Diri

Salah satu bagian menyenangkan dari sebuah proses belajar adalah ketika melihat mahasiswa menemukan insight dalam belajarnya. Sebuah pemahaman mendalam dari apa yang sedang dipelajari, yang membuatnya mampu melihat keterkaitan antar objek, peristiwa, atau perilaku, serta menjelaskan apa maknanya. Insight membantu individu untuk dapat menerapkan segala sesuatu yang telah dipelajarinya secara tepat. Nah, insight yang akan saya ceritakan ini muncul di kelas Positive Parenting, salah satu mata kuliah yang saya ampu di Magister Psikologi Profesi.

Hari itu saya memulai pertemuan dengan mengajak mahasiswa terlebih dahulu merenungkan bersama, bagaimana perkembangan anak-anak di tengah perubahan jaman yang begitu dinamis seperti saat ini. Adakah perubahan pola perilaku dibandingkan sekian waktu yang lalu? Tanpa berpikir lama, serempak seluruh mahasiswa mengatakan YA, lalu menyambungnya dengan serangkaian data yang mereka tangkap dari sekitar tentang perubahan yang dimaksud.

Sebagaimana pernah saya tuliskan, setiap jaman dengan segala kondisinya memang membawa berbagai konsekuensi bagi individu yang hidup di dalamnya. Baik konsekuensi positif dengan meningkatnya kemampuan-kemampuan tertentu, maupun negatif dengan munculnya berbagai permasalahan perilaku yang baru. Ketergantungan terhadap teknologi, adiksi terhadap gawai, pergaulan bebas, kecenderungan menurunnya ketrampilan sosial, serta problem kemandirian adalah beberapa diantara tantangan yang harus dihadapi oleh pada orangtua saat ini terkait perkembangan anak. Tantangan yang semakin menempatkan pengasuhan sebagai suatu proses yang tidak mudah untuk dilakukan.

Baca lebih lanjut

Iklan

Sekedar Percakapan Ringan (13)

Dalam tulisan terdahulu, beberapa kali saya membahas bahwa menumbuhkan berbagai karakter positif anak merupakan bagian dari tanggung jawab pengasuhan yang harus dilakukan oleh orangtua. Sebab kemampuan yang perlu ditumbuhkan dalam diri anak tidak hanya sebatas wilayah akademik saja, namun juga tentang bagaimana mereka mampu berpikir kritis, memiliki kepekaan emosi, keterampilan sosial, dan sebagainya. Terkait ini, sebagaimana pernah saya ceritakan, saya pun berusaha terus mengingatkan diri sendiri untuk tidak luput mengupayakannya pada Damai. Setiap saat, melalui berbagai obrolan kami sehari-hari.

Berikut adalah catatan dan obrolan ringan yang sempat saya tulis di akun media sosial saya beberapa hari terakhir, menyusul rangkaian cerita percakapan ringan sebelumnya. Saya bagikan juga di sini siapa tahu cerita di dalamnya akan bisa memberi manfaat untuk teman-teman yang lain.

Catatan 10 Mei 2017

Kapan hari membahas dengan Damai, hal-hal apa saja yang digemari anak-anak saat ini. Salah satunya ternyata adalah tren membuat video musik dari lagu-lagu yang sedang hits.
Bertanyalah saya: Gitu itu anak-anak pada tahu nggak, apa isi lagu yang sedang divideokan, sampai ada yang gaya lipsingnya ekstrim ‘songong’ ala-ala gaya artis R&B jaman sekarang?
Damai: Nggak selalu tahu sih kayaknya…
Saya: Nah, kalau kamu sendiri, dari yang kamu tahu gimana?
Damai: Hmm… nggak selalu bagus memang, Mam.
Saya: Nggak bagusnya gimana?
Damai: Yaaa… gitu deh.
Saya: Ada yang isinya sangat orang dewasa ya?
Damai: Hooh… dan lain-lain
Saya: Pernah nggak terpikir, ketika banyak anak-anak yang membuat videonya, lalu upload di instagram misalnya, apa yang akan terjadi pada anak lain yang melihat postingan itu?
Damai: Ya kemungkinan ada yang nirukan, dan semacam tertarik pengen lebih tahu gitu.
Saya: Lalu, apa yang akan mereka lakukan?
Damai: Mencari-cari lagu itu mungkin..
Saya: Dimana?
Damai: Ya yang paling gampang di internet.
Saya: Nah, waktu mereka mencari-cari itu mungkin nggak mereka trus entah sengaja atau enggak akhirnya menemukan video klip yang asli, yang adegannya sama sekali nggak sesuai untuk dilihat anak-anak?
Damai: Ya iya.
Saya: Dan permasalahannya bisa jadi nggak hanya sampai di situ. Kalau mereka lalu keterusan mengakses video-video yang tidak baik, atau bahkan menirukan perilaku yang tidak oke, masalah pun bertambah. Efeknya berantai.
Damai: Iya sih. Berarti kalau melakukan sesuatu itu memang sebaiknya dipikirkan dulu ya kemungkinan efeknya.
Saya: Betul. Mama aja juga sering mikir dulu kalau mau melakukan apapun, meski cuma sekedar share drama korea tertentu di medsos (duh…contohnya 😅), mau nulis sesuatu, atau yang lain-lain.
Damai: Termasuk kalau nulis status-status gitu ya?
Saya: Iya, apapun. Kamu suka ngamati gimana status-statusnya orang di line, twitter atau di mana gitu?
Damai: Iya, dan ada yang nggak banget Mam.
Saya: Yang kayak apa itu?
Damai: Yang ngamuk-ngamuklah, kata-katanya kasar, ngomel-ngomel, pokoknya posting yang nggak enak dibaca atau dilihat.
Saya: Baguslah kamu bisa menilai mana yang ok, mana yang nggak ok. Apapun yang kita lakukan, usahakan jangan sampai berefek tidak baik ke orang lain. Karena sekecil apapun perilaku akan bisa memberi dampak ke lingkungan sekitar.

Baca lebih lanjut

Damai, Ujian Royal, dan Sebuah Catatan Reflektif untuk Diri Sendiri

Jika ada pembaca yang berteman facebook dengan saya dan online beberapa hari terakhir, tentu pernah membaca percakapan antara saya dengan Damai berikut ini:

Saya: Kamu senang bermain piano ini?
Damai: Lebih dari senang.
Saya: Kalau ujiannya nanti?
Damai: Ya aku memang mau ikut ujian royal.
Saya: Untuk apa?
Damai: Buat pengalaman, apalagi yang nguji orang asing. Trus biar aku tahu juga dari evaluasinya, aku kurangnya dimana, sudah bagusnya dimana.
Saya: Trus buat apa kalau sudah tahu evaluasinya?
Damai: Ya biar aku bisa memperbaiki kalau masih ada yang kurang, jadinya permainanku bisa lebih bagus lagi. Kalau aku main pianonya bagus, orang yang dengar kan juga lebih bisa menikmati.
Saya: Okesip, sepakat. Yang penting belajarnya ya, karena ujian adalah bagian dari proses belajar itu sendiri. Dan tujuan belajar bukan untuk mencari nilai/hasil ujian, tetapi agar kita semakin mahir melakukan sesuatu yang kita pelajari.

Percakapan tersebut adalah salah satu bagian dari rangkaian pembicaraan yang sengaja saya lakukan sebagai upaya untuk mengembalikan semangat dan fokus Damai dalam belajar piano. Setelah beberapa waktu sempat pecah arah karena beberapa hal. Baca lebih lanjut

Appreciative Parenting: Menumbuhkan Ketangguhan Anak Melalui Percakapan yang Memberdayakan

Sabtu 25 Februari 2017, kembali menunaikan tugas IPPI untuk mengisi workshop, kali ini dalam Pertemuan Anggota HIMPSI Wilayah Jawa Timur. Serupa namun dengan fokus sedikit berbeda dari Workshop IPPI di 2015 lalu, saya menyampaikan materi Appreciative Parenting, tentang pengasuhan yang bertujuan untuk menumbuhkan ketangguhan anak melalui berbagai percakapan memberdayakan di setiap waktunya. Harapan saya, materi ini dapat menjadi stimulasi berpikir pagi para peserta (praktisi, akademisi, maupun peneliti di bidang ilmu psikologi) dalam mengembangkan cara untuk membantu para orangtua menerapkan pengasuhan yang efektif demi tercapainya tumbuh kembang anak yang optimal.

materi-workshop-appreciative-parenting-2017Uraian saya awali dengan mengajak peserta menyamakan pesepsi tentang apa esensi dari pengasuhan, serta bagaimana dinamika tantangannya seiring dengan kondisi masyarakat yang terus berubah. Sebagaimana diketahui, pada era dimana kemajuan teknologi membawa sekian banyak perubahan di masyarakat, efek yang kemudian timbul pun beragam. Ada positif, ada pula yang negatif dan setiap saat dapat ditemui anak dalam aktivitasnya sehari-hari.  Baca lebih lanjut

Berburu Sekolah: Antara Ego dan Komitmen Mendidik Anak Menjadi Pribadi Tangguh

Menjadi diri yang konsisten memegang prinsip adalah sebuah tantangan yang senyatanya tak setiap orang berhasil memenuhi. Ego yang sedemikian tinggi atau kebutuhan sosial yang mendominasi tak jarang mementahkan sikap dan perilaku positif yang sebenarnya dipahami.

Pun demikian dengan orangtua dalam pengasuhan dan pendidikan yang dilakukan pada anak. Tak sedikit dari kita yang di satu saat bersama anak sangat antusias mengkritik orang-orang yang melakukan tindakan kurang terpuji, namun beberapa waktu kemudian sibuk membangun alasan untuk membenarkan perilaku serupa yang dilakukan sendiri.

Salah satu momen yang tidak luput dari inkonsistensi orangtua terhadap nilai yang diajarkan pada anak adalah pada masa-masa ‘perburuan’ sekolah lanjutan seperti saat ini. Tidak sedikit diantara orangtua yang sebelumnya kerap menasehati dan mengharapkan anak berperilaku jujur, berkompetisi dengan sportif, seakan lupa dengan apa yang diajarkannya. Beberapa berita dari berbagai media berikut menggambarkan fenomena yang dimaksud (sila klik jika ingin membacanya satu per satu):

Saya teringat suatu hari kemenakan juga pernah bercerita tentang temannya yang kala itu baru lulus sekolah dasar dengan santai mengatakan bahwa masuk ke sekolah favorit itu mudah, asal punya uang dan koneksi. Kalimat ini menurut saya cukup menyesakkan. Betapa seorang anak yang masih belia sudah memiliki pola pikir demikian. Dan tampaknya hal tersebut sudah menjadi fenomena jamak, melihat sekian banyak aksi suap, titip-menitip dalam proses memperoleh sekolah yang sudah jadi rahasia umum di berbagai tempat.

suap

Sama sekali tidak terpikir dalam benak untuk menyalahkan si anak, sebab saya yakin ia hanya menyerap informasi dan mengimitasi cara pikir yang dipelajarinya. Saya justru sangat prihatin, bagaimana orang-orang dewasa di sekitar tumbuh kembang anak tersebut memberikan contoh sikap dan perilaku tertentu, yang kemudian memunculkan pemahaman tidak tepat ini. Bisa dibayangkan akan seperti apa jadinya beberapa tahun kemudian saat si anak sudah mulai tumbuh dewasa, apabila lingkungan belajarnya dalam berperilaku tetap memberikan stimulasi yang keliru. Dan semakin mengkhawatirkan jika hal tersebut terjadi pada banyak anak. Betapa karakter generasi mendatang menjadi taruhannya. Baca lebih lanjut

Mengasuh Anak dengan Segala Keunikannya

Berikut dibagikan tulisan singkat yang termuat dalam Buletin Anak Ceria Edisi Oktober 2015.

FullSizeRender (21)

Tuhan telah menciptakan segala sesuatu di dunia dengan penuh warna. Keragamannya membuat hidup menjadi lebih dinamis, menjadikan manusia belajar tentang bagaimana saling memahami dan menghargai setiap perbedaan yang ada. Begitu pula terhadap anak dan segala kondisinya.

Seorang anak lahir membawa berbagai macam potensi kemampuan, juga ciri dan sifat yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Karena itu, setiap anak dalam perkembangannya akan selalu memiliki kekuatan dan kelemahan yang tidak dapat disama-ratakan. Ada yang kuat di kemampuan akademik, namun lemah di ketrampilan fisik-motorik. Ada yang memiliki kelebihan dalam bidang seni, namun kurang begitu menonjol dalam kemampuan berbahasa. Ada yang di satu sisi sangat perasa, namun di sisi lain begitu cekatan dalam menyelesaikan setiap tugas yang diberikan kepadanya. Jadi, setiap anak memiliki keunikannya masing-masing. Baca lebih lanjut

4 Langkah Menumbuhkan Perilaku Positif Anak

Tulisan singkat yang saya bagikan kali ini dimuat di Majalah Muh1da, Edisi 12, Juni 2015.

Adalah tugas orangtua untuk selalu menumbuhkan berbagai hal baik dan perilaku yang positif dalam diri anak. Segala cara akan ditempuh untuk mencapai tujuan ini, meski tak jarang ada orangtua yang merasa kesulitan karena apa yang sudah dilakukan ternyata tidak menunjukkan hasil sesuai harapan. Sebagai contoh, orangtua mengeluh sulit mengajarkan anak rajin membaca; gagal mengendalikan kebiasaan anak menonton TV; tidak berhasil membuat anak sadar beribadah tepat waktu; merasa kewalahan menghadapi kebiasaan jajan mereka, dan lain sebagainya.

Seperti diketahui, belajar terjadi melalui sejumlah proses. Begitu pula dengan belajar berperilaku pada anak. Semakin utuh cara orangtua membimbing dan mengupayakan, hasilnya tentu akan semakin baik. Sebaliknya, mengasuh yang ala kadarnya, sekadar memberikan fasilitas, sekadar memberi instruksi atau memarahi anak saat melakukan kesalahan tentu tidak akan memberi hasil yang maksimal.

Setidaknya, ada 4 langkah yang dapat dilakukan oleh orangtua dalam menumbuhkan perilaku positif anak melalui pengasuhannya sehari-hari: Baca lebih lanjut