Tentang Wiwin Hendriani

Lecturer and researcher in Faculty of Psychology, Airlangga University, Surabaya

Cerita dari Ruang Kuliah: 12 Riset Kualitatif untuk Memahami Perilaku di Media Sosial (Bagian 4)

Masih melanjutkan tulisan sebelumnya, berikut adalah pelengkap dari cerita kelas kualitatif S1 semester ini. 3 tulisan terdahulu sudah memaparkan bagaimana hasil latihan meneliti dari 12 kelompok yang ada di kelas yang saya pandu. Sekali lagi, saya mengapresiasi betul proses belajar mahasiswa Semester 5 ini. Semua menunjukkan progres pemahaman yang baik, meski sejauh mananya tentu tidak sama antara satu dengan yang lain. Ada yang berada di kisaran rata-rata sebagaimana kemampuan individu yang baru mulai belajar meriset, ada yang masih sedikit di bawah yang lain, namun ada pula yang menunjukkan potensi besar untuk kelak dapat menghasilkan riset-riset kualitatif yang luar biasa sesuai jenjangnya.

Selama mendampingi mereka belajar di kelas ini, ada beberapa hal yang berulang saya tekankan. Pertama, tentang keluasan penelitian kualitatif. Bagaimanapun, apa yang telah mereka pelajari hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak pendekatan dalam penelitian kualitatif. Melalui proses pembelajaran yang telah dilalui, mereka masih sebatas mengenal kualitatif versi generik. Versi sederhana, versi pemula. Pendekatan pun baru belajar sedikit tentang studi kasus dan fenomenologi. Artinya, untuk menjadi mahir dan memiliki penguasaan yang baik, mereka perlu mengembangkan pemahaman dengan belajar dan berlatih secara mandiri, menerapkan pendekatan kualitatif yang lain berikut sekian banyak variasi teknik di dalamnya. Sebab penguasaan terhadap sebuah ketrampilan tidak akan pernah tercapai hanya dengan sekali-dua kali mencoba melakukan.

Kedua, sebuah penelitian yang baik harus didasarkan pada research problem yang jelas, berbasis data yang kuat, dan memiliki manfaat. Jadi bukan sekedar memenuhi keingintahuan peneliti. Karena itu, dalam setiap kesempatan memberikan umpan balik, hal ini juga selalu menjadi perhatian saya dalam mengoreksi. Saya dorong mereka untuk membangun argumentasi yang kuat dalam menyatakan persoalan penelitian, berdasarkan kajian teoritik, hasil riset terdahulu, berbagai literatur dan sumber data fenomena yang akurat.

Ketiga, pentingnya menentukan perspektif teori yang tepat dalam mengkaji persoalan yang diangkat. Bagian ini cukup sulit. Setidaknya menuntut peneliti untuk melacak akar dari penjelasan teoritik atas konsep yang menjadi fokus kajian. Ada yang berhasil, banyak yang belum. Terlebih karena waktu belajar satu semester yang terbatas di tengah tuntutan memenuhi kelengkapan setiap bagian riset yang lain, juga diantara tumpukan tugas/project yang tak kalah aduhai dari mata kuliah yang berbeda. Tapi tidak apa, meski belum optimal, setidaknya dengan umpan balik yang terus diberikan, mereka dapat menindaklanjutinya dengan lebih baik nanti pada saat mengerjakan skripsi. Kalau yang skripsinya tidak menggunakan pendekatan kualitatif? Ya paling tidak mereka sudah pernah mendapatkan penjelasan dan feedback-nya. Semoga masih tersimpan di ingatan manakala suatu saat nanti diperlukan 😀 Baca lebih lanjut

Iklan

Cerita dari Ruang Kuliah: 12 Riset Kualitatif untuk Memahami Perilaku di Media Sosial (Bagian 3)

Setelah cerita 8 riset di tulisan bagian 1 dan bagian 2, saya akan melengkapinya dengan 4 lagi hasil kerja mahasiswa yang sedang berlatih meneliti dengan pendekatan kualitatif ini. Kita mulai dengan kelompok sembilan. Kelompok ini mengambil judul penelitian: Aktualisasi Diri Individu dengan Karakter Androgini di Media Sosial.

Kelompok ini tertarik dengan topik yang dipilih setelah mengamati bahwa unggahan yang menampilkan sosok individu berkarakter androgini sedang menjadi salah satu tren di instagram. Androgini merupakan istilah yang menunjukkan adanya karakter maskulin dan feminin yang setara dalam diri individu. Seorang androgini adalah individu yang tidak dapat sepenuhnya menampilkan diri sesuai dengan peran gender maskulin atau feminin yang tipikal di masyarakat, sebagaimana jenis kelaminnya. Mereka memilih melakukan pencampuran dari ciri-ciri maskulin dan feminin dalam penampilannya.

Kajian literatur yang dilakukan kelompok mencatat bahwa seorang dengan karakter androgini umumnya menyadari bahwa masyarakat secara jamak masih cenderung memandang mereka sebelah mata. Tidak jarang orang melabel mereka ‘banci’ atau menyamakannya dengan individu transgender. Namun dalam kondisi demikian, cukup banyak individu androgini yang tetap berani mengaktualisasikan diri sebagai sosok androgin melalui berbagai macam unggahan foto di media sosial. Kelompok peneliti berusaha menggali lebih lanjut mengenai fenomena ini.

Hasil analisis data menjelaskan bahwa aktualisasi diri individu androgini dalam penelitian ini terdorong oleh besarnya kebutuhan untuk mencapai kebahagiaan hidup, dengan menjadi diri sendiri dan bebas menggeluti passion yang dimiliki. Aktualisasi diri partisipan juga dikuatkan oleh kesadaran bahwa media sosial merupakan ruang yang potensial untuk dapat mempromosikan kemampuan dan mendapatkan keuntungan finansial dari orang yang menghargai kemampuannya. Individu menyadari berbagai risiko dari setiap unggahannya di media sosial, sehingga aktualisasi diri yang dilakukan juga disertai upaya mengembangkan koping yang efektif terhadap tekanan dari lingkungan yang setiap saat dapat ditemui. Baca lebih lanjut

Cerita dari Ruang Kuliah: 12 Riset Kualitatif untuk Memahami Perilaku di Media Sosial (Bagian 2)

Melanjutkan tulisan sebelumnya, kali ini cerita sampai pada presentasi kelompok kelima, tentang “Fenomena Catfish pada Remaja”Catfishing terjadi ketika individu membuat identitas palsu untuk menciptakan dan menjaga hubungan romantis. Profil yang ditampilkan oleh pelaku umumnya merupakan representasi dari diri yang ideal bagi mereka. Kelompok kelima ini mengawali kajiannya dari mencermati sekitar hingga lingkup yang lebih luas, lalu menemukan data meningkatnya catfishing di berbagai tempat. Sejumlah informasi dari media massa yang mereka kumpulkan bahkan mencatat bahwa perilaku ini dapat menimbulkan dampak yang begitu besar, baik secara psikologis maupun material.

Catfishing dapat dilakukan oleh individu dari berbagai kelompok usia. Dalam pelacakan literatur berikutnya, kelompok mengetahui bahwa pelaku catfish juga berasal dari kalangan remaja. Di tengah karakteristik masa perkembangannya yang berada dalam peralihan menuju dewasa, pelaku catfish yang berusia remaja diyakini oleh kelompok memiliki kekhasan yang berbeda dari usia yang lain. Mengkaji fenomena catfish pada remaja dipandang memiliki urgensi untuk dapat memahami pola perilaku generasi muda saat ini, khususnya dalam berinteraksi di media sosial.

Analisis data yang dilakukan memperoleh hasil bahwa catfishing pada remaja terjadi sebagai bagian dari proses pencarian jati diri, ketika individu merasa ideal self-nya tidak sejalan dengan real self. Catfish pada remaja terjadi karena adanya dorongan untuk mulai membangun hubungan dengan lawan jenis. Peneliti juga menemukan bahwa catfishing pada sejumlah remaja diikuti oleh perilaku roleplay, dimana individu bermain peran dengan identitas palsunya, berpura-pura bahwa dirinya adalah sosok sebagaimana digambarkan oleh identitas palsu tersebut. Nah, yang khas pada remaja sebagaimana tampak pada partisipan mereka, identitas palsu yang biasa digunakan adalah artis Korea! (*duhhh…, perasaan saya kan jadi campur aduk kalau begini. Secara diri sendiri juga penggemar beberapa artis Korea, hahahaha…). Baca lebih lanjut

Cerita dari Ruang Kuliah: 12 Riset Kualitatif untuk Memahami Perilaku di Media Sosial (Bagian 1)

Semester gasal selalu membawa energi tersendiri buat saya. Salah satu hal menyenangkan di dalamnya adalah memandu mahasiswa S1 kami untuk belajar tentang riset, melalui Matakuliah Metode dan Analisis Data Penelitian Kualitatif (MADPK). Meski sebenarnya saya juga mendampingi belajar kualitatif mahasiswa magister dan doktoral, namun proses yang terjadi di kelas mahasiswa junior ini menurut saya yang paling menarik untuk disampaikan, karena mereka pemula dalam mengenal kualitatif namun progres belajarnya luar biasa.

Berturut-turut dalam dua tahun terakhir saya sudah menceritakan bagaimana proses pembelajaran yang dilaksanakan dalam matakuliah ini. Jika ada yang ingin membacanya kembali, sila klik dua tulisan berikut: Rupa-rupa Proses Belajar Kualitatif (2015) dan Catatan Belajar Kualitatif (2016).

Berbeda dari dua tahun sebelumnya dimana mahasiswa secara berkelompok dibebaskan untuk memilih topik dan area riset yang akan dilakukan, tahun ini kelas yang saya pandu menyepakati untuk mengambil satu tema besar yang memayungi judul-judul penelitian yang mereka pilih. Tema besar yang dimaksud adalah: Memahami Perilaku di Media Sosial. Mengapa? Karena kami menyadari, social media is a social life. Orang-orang ‘zaman nowmenghabiskan begitu banyak waktu hidupnya di media sosial, sehingga memahami aneka ragam perilaku di dalamnya menjadi hal penting untuk juga dilakukan oleh mereka yang belajar psikologi.

Nah, kali ini saya lebih ingin menceritakan secara ringkas berbagai temuan yang diperoleh masing-masing kelompok dari hasil analisisnya. Total ada 12 kelompok. Karena cukup banyak, cerita hasil penelitian mereka akan saya bagi dalam 3 tulisan. Saya mulai dari 4 kelompok yang pertama dulu, sesuai urutan mereka melaksanakan seminar hasil penelitiannya.

Baca lebih lanjut

Menjaga Idealisme Pendidikan Doktor

Re-posting catatan reflektif saya dalam website Program Studi Doktor Psikologi UNAIR:

Amanat UU No. 12 Tahun 2012 telah menekankan tanggung jawab perguruan tinggi untuk serius menjalankan pendidikan doktor yang berbeda dari jenjang studi lain, baik dari sisi muatan dan kedalaman materi maupun proses pembelajarannya. Menurut Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) yang ditetapkan oleh Presiden Republik Indonesia pada Tahun 2012, pendidikan doktor diharuskan mampu menghasilkan lulusan setara jenjang 9 dengan kualifikasi: (1) Mampu mengembangkan pengetahuan, teknologi dan/atau seni baru, di dalam bidang keilmuannya atau praktek profesionalnya melalui riset hingga menghasilkan karya kreatif, original, dan teruji; (2) Mampu memecahkan permasalahan ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau seni di dalam bidang keilmuannya, melalui pendekatan inter, multi dan transdisipliner; serta (3) Mampu mengelola, memimpin dan mengembangkan riset, dan pengembangan yang bermanfaat bagi kemaslahatan umat manusia, serta mampu mendapat pengakuan nasional dan internasional.

Namun demikian idealisme pendidikan doktor seringkali menemui banyak tantangan, hingga berujung pada praktik pendidikan yang justru bertentangan dengan ketentuan seharusnya. Kasus plagiarisme disertasi dan pengkarbitan doktor yang marak diberitakan beberapa waktu terakhir merupakan buktinya. Baca lebih lanjut

Menumbuhkan Online Resilience pada Anak: Presentasi dalam TIN-IPPI X

Pesatnya pertumbuhan teknologi digital di masyarakat berbanding lurus dengan banyaknya risiko yang setiap saat akan ditemui oleh para pengguna aktifnya, termasuk anak-anak. Berangkat dari catatan saya dalam Buku Seri Ke-2 Sumbangan Pemikiran Psikologi untuk Bangsa: Psikologi dan Teknologi Informasi yang diterbitkan oleh HIMPSI (2016), momen presentasi dalam Temu Ilmiah Nasional Ikatan Psikologi Perkembangan Indonesia Ke-10 (TIN-IPPI X) di Semarang pada 23-24 Agustus 2017 lalu saya manfaatkan untuk memaparkan lebih lanjut langkah yang dapat ditempuh orangtua dalam menumbuhkan online resilience anak.

Berikut adalah ppt yang saya sampaikan, merespon permintaan beberapa rekan:

Baca lebih lanjut

Menyikapi Kegagalan

Lama tidak memperbarui isi blog. Sudah hampir dua bulan sejak tulisan yang terakhir. Kenapa? Biasalah… riweh dengan berbagai tanggungan di kampus. Dan karena sudah lama tidak bercerita di sini, agar mudah untuk mengawali lagi, saya akan mulai dari menuliskan percakapan ringan dengan Damai di sepanjang perjalanan pulang dari sekolahnya kemarin siang.

Hmmm…, percakapan lagi? Iyes, karena itu memang jurus andalan saya dalam mendampingi Damai bertumbuh dari waktu ke waktu. Saya meyakini bahwa berbagai percakapan positif setiap hari adalah jalan bagi orangtua untuk dapat menyampaikan pesan dan umpan balik dengan cara yang mudah diterima oleh anak. Sekian banyak value penting dalam hidup akan dapat dipahami dan dihayati dengan baik apabila disampaikan dengan komunikasi yang menyenangkan. Value-value tersebut akan menjadi bekal dan panduan berperilaku bagi anak dalam mengembangkan diri hingga kelak menjadi pribadi yang memiliki karakter positif.

Baca lebih lanjut