Tentang Wiwin Hendriani

Lecturer and researcher in Faculty of Psychology, Airlangga University, Surabaya

Sepenggal Musik dari Kami..

Ini hanyalah salah satu cara kecil kami untuk melepas penat bersama, usai mengerjakan sekian banyak aktivitas masing-masing setiap harinya.

BUNDA…

 

A WHOLE NEW WORLD…

 

I SEE THE LIGHT…

Refleksi Ibu Belajar (2): Membangun Dialog yang Konstruktif

Damai dan kemampuan belajarnya terus berkembang. Begitu banyak perubahan positif yang terasa dari saat terakhir saya menuliskan refleksi tentang bagaimana dinamika menyesuaikan diri dalam proses mendampinginya bertumbuh di masa remaja ini.

Oya, sekedar memberikan gambaran tentang perkembangan yang saya maksud, silakan (jika memiliki cukup waktu) untuk membaca pula beberapa diantara sekian banyak tulisan Damai dalam blog-nya berikut (klik saja tautannya):

Tentang refleksi terhadap situasi sekitar (misal di tulisan A Reflection of Bhinneka Tunggal Ika); Tentang refleksi belajar sekaligus capaiannya di materi akademik (misal dalam tulisan The World Scholars Cup Tournament of Champions); Tentang telaahnya terhadap buku yang ia baca (seperti dalam tulisan Book Review: The Alchemist – Paulo Coelho); juga Tentang karya musiknya yang sederhana namun bermakna (seperti dalam A Short Note About My New Song: Enigma).

Baca lebih lanjut

Sedikit Cerita Baik (yang lain) di 2019

Hari kedua 2020. Sedikit terlambat, namun tetap ingin mencatatkan dengan singkat di ruang ini tentang apa saja yang sudah dilakukan, diupayakan, dan dicapai dalam setahun lalu. Tahun penuh warna, dengan manis-pahit, bahagia pun nestapa, juga beragam tantangan beriring kepercayaan yang datang kerap tanpa diduga.

Pertama, dalam kapasitas saya sebagai Kaprodi S3, menjalankan amanah mengkoordinasi pengelolaan prodi sudah menjadi bagian dari hidup yang saya hayati. Hal-hal baik yang tercapai di 2019, buah kerja keras seluruh mahasiswa, dosen, dan staf pendukung yang lain begitu saya syukuri. Meski dalam proses menggerakkan langkah satu dengan yang lain agar seirama dalam mencapai tujuan kerapkali bertemu dengan tantangan dan hambatan yang tidak bisa dibilang mudah. Sering menyedot waktu, energi, juga menaik-turunkan emosi.

Tapi segala lelah pun terbayar pada waktunya. Tak ada ikhtiar yang sia-sia, manakala mencermati beberapa capaian prodi kami di 2019 lalu. Diantaranya:
1. Jumlah lulusan yang terus bertambah, setiap tahunnya.
2. Publikasi karya mahasiswa di berbagai jurnal internasional bereputasi yang juga terus meningkat.
3. Terselesaikannya kurikulum doctor by research yang sudah mendapatkan SK Rektor, dan disusul dengan suksesnya pelaksanaan Open House bulan lalu, yang begitu ramai peserta dan umpan balik positif.
4. Skor audit mutu prodi di 2019 yang konsisten berada pada kategori baik, dengan beberapa kekuatan seperti: (1) Keterlibatan aktif prodi sebagai bagian dari tim perumus kurikulum inti S3 Psikologi Indonesia di bawah koordinasi Asosiasi Penyelenggara Pendidikan Tinggi Psikologi Indonesia / AP2TPI; (2) Adanya inovasi belajar dan peningkatan suasana akademik melalui aktivitas shared learning di luar jadwal perkuliahan; (3) Banyaknya program pengayaan kompetensi mahasiswa yang diselenggarakan sebagai bagian dari fasilitas belajar; (4) Pelibatan mahasiswa S3 dalam pengajaran/pengembangan wawasan dan kompetensi mahasiswa jenjang di bawahnya; (5) Fasilitasi belajar mahasiswa S3 kami melalui pelibatan dalam program exchange fakultas ke beberapa perguruan tinggi mitra di luar negeri; dan beberapa kekuatan yang lain.
Baca lebih lanjut

“Ibu Ingin Pulih Kan?” (Catatan Mendampinginya Berjuang Menuju Sembuh)

Boleh dibilang tahun ini adalah tahun yang penuh warna buat saya. Tahun yang meriah dengan segala kesempatan untuk merasakan pengalaman-pengalaman baru yang menyenangkan (akan saya tulis bagian menyenangkan ini dalam catatan penutup tahun), sekaligus di sisi lain merasakan berbagai tantangan hidup yang dengan tegas saya katakan “tidak mudah”. Salah satunya yang akan saya ceritakan di sini, tentang bagaimana mendampingi Ibu yang atas kehendak Allah harus teruji dengan kanker.

Ya, Ibu saya di luar dugaan dinyatakan mengalami kanker payudara, yang membawanya harus menjalani serangkaian treatment medis yang berat di usia lanjutnya ini, mengingat Ibu sudah lebih dari 70 tahun. Diawali dengan operasi, lalu disambung kemoterapi sebanyak 6 kali, dengan serentetan tahap pemeriksaan berulang diantara waktu-waktu treatment tersebut yang membuatnya harus bolak-balik pergi ke lab dan rumah sakit. Melelahkan sudah tentu buat Ibu, baik fisik maupun psikis. Hingga hari ini, kemo Ibu sudah berjalan 4 kali. So, two more to go!

Baca lebih lanjut

Berbagi Materi Resiliensi di Zhejiang University

Ini sekaligus adalah catatan kunjungan saya ke-3 kalinya ke China, setelah yang pertama di 2009 lalu saat mengikuti gathering fakultas, dan kedua di 2015 ketika mengikuti konferensi psikologi di Zhejiang University. Seperti 2015, kali ini saya kembali ke Zhejiang University, namun untuk aktivitas yang berbeda. Bersama Wakil Dekan 3, seorang mahasiswa S3 dan seorang mahasiswa S1, kami mengikuti Cross-cultural Research Collaboration and Exchange Program (CRCEP) yang diselenggarakan atas kerjasama 6 perguruan tinggi: Universitas Airlangga, Universitas Surabaya, Universitas Islam Indonesia, Universitas Ciputra, Zhejiang University, dan Zhejiang Sci-Tech University. Setiap perguruan tinggi melibatkan baik dosen maupun perwakilan mahasiswa.

Ada serangkaian kegiatan yang dilaksanakan dalam CRCEP, diantaranya: Seminar/kuliah umum, presentasi riset, diskusi riset kolaboratif antar institusi lintas negara, kunjungan laboratorium dan fasilitas penunjang belajar yang lain, kunjungan ke perusahaan/instansi rekanan untuk melihat penerapan hasil-hasil riset psikologi, serta observasi perilaku berbasis budaya pada masyarakat di negara yang sedang menjadi tempat penyelenggara.

Jadi terasa sekali, padat kegiatan, padat belajar. Sampai-sampai 10 hari di China pun minim jeda waktu luang untuk sekedar berjalan-jalan seperti yang umumnya dibayangkan banyak orang ketika mendengar ada kolega yang akan dinas ke luar negeri. Itulah kenapa buat teman-teman media sosial saya yang saat itu sempat keheranan karena tumben saya minim update foto, ya karana yang ada di sini memang didominasi oleh aktivitas ruang kelas, ruang kelas, dan ruang kelas yang lainnya, hehehe…

Baca lebih lanjut

Menumbuhkan Resiliensi Remaja di Era Digital: Peran Praktisi Bimbingan dan Konseling (Materi Seminar Nasional Bimbingan dan Konseling UPGRIS 2019)

Sabtu, 28 September 2019. Kembali memenuhi permintaan untuk berbagi pemahaman tentang resiliensi, pada forum ilmiah di luar bidang ilmu psikologi. Kali ini pada Seminar Nasional Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), bertema: “Resiliensi Remaja di Era Milenial dan Pendekatan Solution Focus Brief Counseling“. Seminar dihadiri oleh staf pengajar dan mahasiswa S1, S2, dan S3 Bimbingan dan Konseling serta Ilmu Pendidikan, para guru dan praktisi BK, juga sejumlah elemen masyarakat umum.

Dengan koordinasi yang baik dari penyelenggara, materi yang saya sampaikan lebih berfokus untuk mengupas resiliensi remaja. Sementara itu pendekatan solution focus brief counseling dikupas oleh ahlinya, kakak senior sekohort (biar sekohort tapi tetap lebih senior 😀 ), Mulawarman, S.Pd., M.Pd., Ph.D. dari Universitas Negeri Semarang. Menyimak materi dan penjelasan beliau yang sangat komunikatif, bersyukur sekali saya pun ikut bertambah ilmu. Ini bagian yang selalu menyenangkan dari mengisi sebuah forum ilmiah bersama dengan kolega lintas kepakaran. Tidak hanya berbagi, tetapi diri sendiri juga mendapatkan ruang untuk belajar lebih banyak. Anyway, terima kasih banyak untuk UPGRIS yang telah menyelenggarakan seminar nasional ini, dan memberikan kepercayaan kepada kami. Baca lebih lanjut

Amazing Russia (3): Saint Petersburg, Kota Klasik yang Cantik

Beda Moscow, beda St. Petersburg. Sama-sama penuh bangunan megah bersejarah, namun nuansa klasik, estetik nan cantik lebih terasa di kota ini, dibandingkan dengan Moscow yang terkesan lebih kaku.

Dari Moscow, rombongan kami menuju St. Petersburg dengan menggunakan kereta cepat, bernama Sapsan Train. Konon kabarnya Sapsan ini kereta tercepat kedua di dunia setelah Shinkansen di Jepang. Jarak antara Moscow dan St. Petersburg sepanjang 712,5 km yang normalnya ditempuh dengan mobil sekitar 9 jam, bisa dipersingkat menjadi 4 jam dengan menaiki Sapsan. Sepanjang perjalanan kita bisa menikmati pemandangan hijau dan pemukiman penduduk dengan bentuk-bentuk rumahnya yang khas. Baca lebih lanjut