Tentang Wiwin Hendriani

Lecturer and researcher in Faculty of Psychology, Airlangga University, Surabaya

Menumbuhkan Online Resilience pada Anak: Presentasi dalam TIN-IPPI X

Pesatnya pertumbuhan teknologi digital di masyarakat berbanding lurus dengan banyaknya risiko yang setiap saat akan ditemui oleh para pengguna aktifnya, termasuk anak-anak. Berangkat dari catatan saya dalam Buku Seri Ke-2 Sumbangan Pemikiran Psikologi untuk Bangsa: Psikologi dan Teknologi Informasi yang diterbitkan oleh HIMPSI (2016), momen presentasi dalam Temu Ilmiah Nasional Ikatan Psikologi Perkembangan Indonesia Ke-10 (TIN-IPPI X) di Semarang pada 23-24 Agustus 2017 lalu saya manfaatkan untuk memaparkan lebih lanjut langkah yang dapat ditempuh orangtua dalam menumbuhkan online resilience anak.

Berikut adalah ppt yang saya sampaikan, merespon permintaan beberapa rekan:

Baca lebih lanjut

Iklan

Menyikapi Kegagalan

Lama tidak memperbarui isi blog. Sudah hampir dua bulan sejak tulisan yang terakhir. Kenapa? Biasalah… riweh dengan berbagai tanggungan di kampus. Dan karena sudah lama tidak bercerita di sini, agar mudah untuk mengawali lagi, saya akan mulai dari menuliskan percakapan ringan dengan Damai di sepanjang perjalanan pulang dari sekolahnya kemarin siang.

Hmmm…, percakapan lagi? Iyes, karena itu memang jurus andalan saya dalam mendampingi Damai bertumbuh dari waktu ke waktu. Saya meyakini bahwa berbagai percakapan positif setiap hari adalah jalan bagi orangtua untuk dapat menyampaikan pesan dan umpan balik dengan cara yang mudah diterima oleh anak. Sekian banyak value penting dalam hidup akan dapat dipahami dan dihayati dengan baik apabila disampaikan dengan komunikasi yang menyenangkan. Value-value tersebut akan menjadi bekal dan panduan berperilaku bagi anak dalam mengembangkan diri hingga kelak menjadi pribadi yang memiliki karakter positif.

Baca lebih lanjut

Pilih 2 Berita

Cerita ini masih seputar obrolan bersama Damai. Lagi? Iya, karena mengobrol adalah aktivitas super penting yang menurut saya perlu untuk selalu diupayakan bersama anak setiap saat.

Pernah saya menuliskan dalam catatan tentang Appreciative Parenting bahwa komunikasi adalah kunci dalam keberhasilan interaksi sosial, termasuk di dalamnya interaksi antara orangtua dengan anak. Komunikasi melalui berbagai percakapan yang positif akan menjadi jalan bagi orangtua untuk dapat menyampaikan berbagai pesan dan umpan balik dengan cara-cara yang mudah diterima oleh anak.

Pesan baik dengan beragam value di dalamnya, ketika disampaikan dalam percakapan yang baik akan dipersepsikan secara baik pula oleh anak. Hasilnya, anak akan lebih mudah menerima, sehingga muncul kesadaran dalam diri untuk berperilaku dan mengembangkan kemampuan positif sebagaimana diharapkan kepadanya.

Nah, percakapan yang akan saya tuliskan ini misi khususnya adalah membantu Damai semakin peka dengan kejadian di sekitar dan lebih telaten untuk membaca koran. Karena sudah ada firasat akan panjang, maka dalam prosesnya saya sempat merekam obrolan kami ini di HP, sehingga tidak perlu bersusah payah mengingat ketika akan menuliskannya lagi 😀

Saya: Mem, yuk kita ngobrol-ngobrolkan berita yuk.. Koran 2 hari ini kayaknya belum kesentuh tuh. Kasihan dicuekin.

Damai: Iya, hehehe…

Saya: Gini, kamu pegang 1, mama 1. Kita baca dulu berita-beritanya, trus masing-masing dari kita pilih 2 berita: satu yang isinya positif, satu lagi yang membuat kita prihatin.

Damai: Oke…

Lalu untuk beberapa saat kami pun sibuk mencermati berita dari lembaran-lembaran kertas yang kami pegang.

Baca lebih lanjut

Sekedar Percakapan Ringan (15): Masyarakat dan Orientasinya Terhadap Penghargaan

Obrolan sambil nemani Damai sarapan beberapa hari yang lalu, tergelitik oleh berita arak-arakan penghargaan kebersihan yang sungguh menarik bagi kami.

“Do you think that this city deserve to get adipura?”, tanya saya.

“Emmm…, no. I don’t think so..” jawab si anak sambil mengunyah telur ceploknya.

“Why?”

“Duh Mam, di banyak tempat umum dan pinggir jalan itu lho sampahnya banyak. Termasuk di alun-alun tu, tiap kita kesana semua juga bisa lihat gimana kotornya”

“Yup. Warga juga belum semua sadar untuk njaga kebersihan. Sampai kahuripan yang sudah dibangun bagus pun taman-tamannya, giliran sudah kena anak-anak nongkrong, sampahnya langsung bertebaran dimana-mana. Eman. GOR, taman pinang juga, dan banyak tempat yang lain. Keluar pintu tol aja, tiap lirik taman kecil yang ada di tengah jalan itu, tumpukan kertas bukti bayar tol juga berserakan. Kok bisa dapat adipura itu asli mama nggak paham..”

“Aku juga. Mungkin yang menilai perlu diberi masukan, menilainya jangan di waktu tertentu yang jadwalnya diberitahukan.”

“Betul. Soalnya di hari itu pasti serba disiapkan, sementara hari-hari lainnya kembali ke kondisi semula yang bikin geleng-geleng kepala”.

Pembicaraan terhenti sampai di sini karena Damai harus segera mandi dan berangkat ke sekolah.

Baca lebih lanjut

Insight dari Ruang Kuliah: Orangtua yang Tak Boleh Berhenti Mengelola Diri

Salah satu bagian menyenangkan dari sebuah proses belajar adalah ketika melihat mahasiswa menemukan insight dalam belajarnya. Sebuah pemahaman mendalam dari apa yang sedang dipelajari, yang membuatnya mampu melihat keterkaitan antar objek, peristiwa, atau perilaku, serta menjelaskan apa maknanya. Insight membantu individu untuk dapat menerapkan segala sesuatu yang telah dipelajarinya secara tepat. Nah, insight yang akan saya ceritakan ini muncul di kelas Positive Parenting, salah satu mata kuliah yang saya ampu di Magister Psikologi Profesi.

Hari itu saya memulai pertemuan dengan mengajak mahasiswa terlebih dahulu merenungkan bersama, bagaimana perkembangan anak-anak di tengah perubahan jaman yang begitu dinamis seperti saat ini. Adakah perubahan pola perilaku dibandingkan sekian waktu yang lalu? Tanpa berpikir lama, serempak seluruh mahasiswa mengatakan YA, lalu menyambungnya dengan serangkaian data yang mereka tangkap dari sekitar tentang perubahan yang dimaksud.

Sebagaimana pernah saya tuliskan, setiap jaman dengan segala kondisinya memang membawa berbagai konsekuensi bagi individu yang hidup di dalamnya. Baik konsekuensi positif dengan meningkatnya kemampuan-kemampuan tertentu, maupun negatif dengan munculnya berbagai permasalahan perilaku yang baru. Ketergantungan terhadap teknologi, adiksi terhadap gawai, pergaulan bebas, kecenderungan menurunnya ketrampilan sosial, serta problem kemandirian adalah beberapa diantara tantangan yang harus dihadapi oleh pada orangtua saat ini terkait perkembangan anak. Tantangan yang semakin menempatkan pengasuhan sebagai suatu proses yang tidak mudah untuk dilakukan.

Baca lebih lanjut