Upaya Menjadi Sosok Ibu yang Tangguh

Melanjutkan tulisan terdahulu tentang Materi Seminar Nasional Perempuan Pilar Peradaban Bangsa, kali ini saya akan ringkas menguraikan upaya yang dapat dilakukan Ibu untuk menjadi pribadi tangguh, sehingga nantinya mampu membesarkan anak-anak unggul yang juga berkarakter tangguh.

slide11

Sebagaimana telah ditulis sebelumnya, tantangan pengasuhan yang harus dihadapi ibu pada dasarnya tidak hanya berasal dari lingkungan tumbuh kembang anak saja, melainkan juga dari lingkungan personal ibu sendiri. Seorang ibu yang tangguh akan terus berusaha untuk mampu meregulasi diri agar sepadat apapun beban di tempat kerja (jika ibu bekerja), serumit apapun persoalan yang sedang dihadapi, ketidaknyamanan yang mungkin sedang dirasakan, dan sebagainya tidak menjadi halangan untuk tetap dapat mengasuh dan mendidik anak dengan baik.

Terkait hal tersebut, upaya pertama yang perlu dilakukan adalah: Self Improvementmemperbaiki diri dan melakukan penguatan psikologis secara terus-menerus. Mengapa demikian? Sebab bagaimana mungkin seorang pengasuh dapat mengasuh dengan baik jika psikologisnya tidak dijaga dalam kondisi baik? Bagaimana mungkin pendidik dapat optimal mendidik jika pikiran dan perasaannya carut-marut dan selalu tersita oleh urusan yang lain? Ini serupa juga dengan analogi tentang pentingnya seorang dokter dan psikolog harus sehat fisik dan mental terlebih dahulu sebelum kemudian bergerak membantu orang lain yang membutuhkan kemampuannya.

Lalu bagaimana cara melakukan self improvement tersebut? Baca lebih lanjut

Iklan

Berbagi Materi dari Seminar Nasional “Perempuan Pilar Peradaban Bangsa”

Minggu, 30 Oktober 2016, mendapat kepercayaan untuk menjadi salah satu pembicara dalam Seminar Nasional Forum Perempuan yang diselenggarakan oleh BEM Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Dalam seminar tersebut, materi yang saya sampaikan secara khusus mengulas tentang perempuan dari sisi perannya sebagai Ibu, sosok yang signifikan dalam menumbuhkan berbagai karakter positif generasi masa depan.

1476356434452Saya mengambil judul:

GENERASI TANGGUH DENGAN ASUHAN IBU YANG TANGGUH

Dengan judul ini, hal yang ingin saya tekankan adalah bahwa untuk mampu menumbuhkan anak-anak tangguh, yang tidak hanya terampil dan berwawasan luas namun juga memiliki pribadi yang baik, maka Ibu sebagai pendamping tumbuh kembang anak harus lebih dahulu menunjukkan kualitasnya sebagai individu yang tangguh. Sebab pengasuhan anak bukan hanya sekedar teknik, bukan sekedar rentetan tugas rutin yang asal bisa dikerjakan sambil lalu. Mengasuh anak memerlukan penghayatan akan peran, kesadaran terhadap setiap hal kecil dari diri pengasuh yang dapat menjadi sumber belajar, contoh bagi bagi anak-anak dalam bersikap dan berperilaku setiap harinya.

slide2Agar pesan dapat tersampaikan secara jelas dan runtut, materi saya susun dalam tiga bagian. Berikut ini ringkasan isinya: Baca lebih lanjut

Mengasuh Anak dengan Segala Keunikannya

Berikut dibagikan tulisan singkat yang termuat dalam Buletin Anak Ceria Edisi Oktober 2015.

FullSizeRender (21)

Tuhan telah menciptakan segala sesuatu di dunia dengan penuh warna. Keragamannya membuat hidup menjadi lebih dinamis, menjadikan manusia belajar tentang bagaimana saling memahami dan menghargai setiap perbedaan yang ada. Begitu pula terhadap anak dan segala kondisinya.

Seorang anak lahir membawa berbagai macam potensi kemampuan, juga ciri dan sifat yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Karena itu, setiap anak dalam perkembangannya akan selalu memiliki kekuatan dan kelemahan yang tidak dapat disama-ratakan. Ada yang kuat di kemampuan akademik, namun lemah di ketrampilan fisik-motorik. Ada yang memiliki kelebihan dalam bidang seni, namun kurang begitu menonjol dalam kemampuan berbahasa. Ada yang di satu sisi sangat perasa, namun di sisi lain begitu cekatan dalam menyelesaikan setiap tugas yang diberikan kepadanya. Jadi, setiap anak memiliki keunikannya masing-masing. Baca lebih lanjut

Appreciative Inquiry: Percakapan yang Memberdayakan dalam Pengasuhan Anak (Materi Workshop IPPI 2015)

Berikut dibagikan materi workshop Appreciative Inquiry: Percakapan yang Memberdayakan dalam Pengasuhan Anak, yang telah dilaksanakan sebagai salah satu rangkaian acara Temu Ilmiah Nasional Ikatan Psikologi Perkembangan Indonesia (IPPI), Agustus 2015 yang lalu.

Slide1

Saya mengawali pemaparan materi dengan memberikan ilustrasi tentang orangtua yang fokus untuk segera membetulkan segala sesuatu yang tampak salah pada anak. Ini adalah sebuah perilaku jamak yang banyak orang memiliki kecenderungan untuk melakukannya. Bukan hal yang salah sebenarnya, karena diniatkan untuk mengatasi sebuah persoalan. Namun, seringkali pendekatan yang reaktif semacam ini justru mendatangkan ‘pekerjaan rumah’ yang semakin besar. Sebab anak juga akan bereaksi tidak menyenangkan, bahkan tidak sedikit yang dipersepsikan sebagai melawan atau memberontak, ketika mereka merasa terus-menerus dikoreksi. Terlebih jika di sisi lain mereka mendapati bahwa terhadap perilakunya yang sudah baik orangtua tidak kunjung mengapresiasi.

Slide2 Slide3 Baca lebih lanjut

4 Langkah Menumbuhkan Perilaku Positif Anak

Tulisan singkat yang saya bagikan kali ini dimuat di Majalah Muh1da, Edisi 12, Juni 2015.

Adalah tugas orangtua untuk selalu menumbuhkan berbagai hal baik dan perilaku yang positif dalam diri anak. Segala cara akan ditempuh untuk mencapai tujuan ini, meski tak jarang ada orangtua yang merasa kesulitan karena apa yang sudah dilakukan ternyata tidak menunjukkan hasil sesuai harapan. Sebagai contoh, orangtua mengeluh sulit mengajarkan anak rajin membaca; gagal mengendalikan kebiasaan anak menonton TV; tidak berhasil membuat anak sadar beribadah tepat waktu; merasa kewalahan menghadapi kebiasaan jajan mereka, dan lain sebagainya.

Seperti diketahui, belajar terjadi melalui sejumlah proses. Begitu pula dengan belajar berperilaku pada anak. Semakin utuh cara orangtua membimbing dan mengupayakan, hasilnya tentu akan semakin baik. Sebaliknya, mengasuh yang ala kadarnya, sekadar memberikan fasilitas, sekadar memberi instruksi atau memarahi anak saat melakukan kesalahan tentu tidak akan memberi hasil yang maksimal.

Setidaknya, ada 4 langkah yang dapat dilakukan oleh orangtua dalam menumbuhkan perilaku positif anak melalui pengasuhannya sehari-hari: Baca lebih lanjut

Mengoptimalkan Pengasuhan, Meningkatkan Kesejahteraan Keluarga

29 Juni 1970, bersamaan dengan dibentuknya Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), pemerintah secara resmi menetapkan Program Keluarga Berencana (KB) sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat Indonesia. Penetapan program KB dinilai penting dilakukan terkait semakin meningkatnya jumlah penduduk, tingginya angka kematian ibu, serta besarnya kebutuhan akan kesehatan reproduksi (Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI, 2014). Melalui pengendalian jumlah kehamilan, program ini diharapkan dapat menekan laju pertambahan penduduk, meningkatkan kesehatan ibu dan anak, memperkecil beban tanggungan keluarga sehingga pemenuhan kebutuhan tiap-tiap anggotanya menjadi semakin baik. Dengan demikian, kesejahteraan keluarga diharapkan dapat terus meningkat dan menjadi pondasi bagi pencapaian kualitas bangsa yang semakin unggul.

Kini setelah lebih dari 30 tahun dilaksanakan, setelah 29 Juni ditetapkan sebagai Hari Keluarga Nasional, persoalan jumlah penduduk rupanya masih tetap menjadi pekerjaan rumah yang tak kunjung selesai. Program KB memang diakui mampu menurunkan angka fertilitas dan menekan angka kelahiran dari tahun ke tahun. Namun Word Population Data Sheet Tahun 2013 masih mencatat bahwa Indonesia merupakan negara ke-5 di dunia yang memiliki estimasi jumlah penduduk terbanyak. Di lingkup ASEAN, jumlah penduduk Indonesia menduduki peringkat pertama, jauh di atas jumlah penduduk negara-negara anggota yang lain. Sementara itu, jaman yang semakin berubah seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi juga memunculkan beragam tantangan baru bagi kehidupan keluarga di era modern. Gaya hidup materialistik, banyaknya pola perilaku yang menyimpang dari norma sosial maupun agama, serta meningkatnya kriminalitas telah menghadapkan masyarakat pada sebuah kondisi yang perlu disikapi dengan seksama. Efektivitas program pemerintah yang selama ini ditujukan untuk mencapai kesejahteraan keluarga tampaknya perlu ditinjau kembali. Apakah benar bahwa langkah pengendalian angka kelahiran saja cukup untuk mewujudkan sebuah keluarga kecil yang bahagia sejahtera sebagaimana selalu didengungkan oleh BKKBN? Rasanya belum tentu. Baca lebih lanjut

Beberapa Pertanyaan Menarik dari Seminar Appreciative dan Innovative Parenting

FullSizeRender (34)

Menepati janji cerita dari posting sebelumnya, berikut beberapa pertanyaan menarik dari sekian banyak yang diajukan oleh peserta Seminar Appreciative dan Innovative Parenting yang lalu. Saya pilih 4 pertanyaan yang sesuai topik pengembangan bakat, sebagai bahan belajar kita bersama. Untuk pertanyaan lain yang lebih umum tentang parenting, saya usahakan untuk menuliskannya di lain waktu.

1. Bagaimana cara yang dapat ditempuh oleh orangtua dalam mendeteksi bakat anak sejak dini? Baca lebih lanjut