Menumbuhkan Resiliensi Remaja di Era Digital: Peran Praktisi Bimbingan dan Konseling (Materi Seminar Nasional Bimbingan dan Konseling UPGRIS 2019)

Sabtu, 28 September 2019. Kembali memenuhi permintaan untuk berbagi pemahaman tentang resiliensi, pada forum ilmiah di luar bidang ilmu psikologi. Kali ini pada Seminar Nasional Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), bertema: “Resiliensi Remaja di Era Milenial dan Pendekatan Solution Focus Brief Counseling“. Seminar dihadiri oleh staf pengajar dan mahasiswa S1, S2, dan S3 Bimbingan dan Konseling serta Ilmu Pendidikan, para guru dan praktisi BK, juga sejumlah elemen masyarakat umum.

Dengan koordinasi yang baik dari penyelenggara, materi yang saya sampaikan lebih berfokus untuk mengupas resiliensi remaja. Sementara itu pendekatan solution focus brief counseling dikupas oleh ahlinya, kakak senior sekohort (biar sekohort tapi tetap lebih senior 😀 ), Mulawarman, S.Pd., M.Pd., Ph.D. dari Universitas Negeri Semarang. Menyimak materi dan penjelasan beliau yang sangat komunikatif, bersyukur sekali saya pun ikut bertambah ilmu. Ini bagian yang selalu menyenangkan dari mengisi sebuah forum ilmiah bersama dengan kolega lintas kepakaran. Tidak hanya berbagi, tetapi diri sendiri juga mendapatkan ruang untuk belajar lebih banyak. Anyway, terima kasih banyak untuk UPGRIS yang telah menyelenggarakan seminar nasional ini, dan memberikan kepercayaan kepada kami.

Memenuhi keingintahuan rekan-rekan yang pada hari pelaksanaan seminar tersebut berhalangan hadir, berikut saya tuliskan kembali pokok-pokok penjelasan materi saya secara ringkas. 

Sebagaimana saat memberikan materi tentang resiliensi pada seminar-seminar nasional sebelumnya, saya selalu mengawali uraian dengan mengajak para peserta untuk memahami kembali dan menyamakan persepsi tentang apa itu resiliensi. Hal ini dikarenakan ketepatan pemahaman akan menentukan tepat tidaknya aplikasi dari sebuah konsep atau teori. Terlebih jika mengingat bahwa ada begitu banyak konsep tentang atribut-atribut psikologis individu yang kadang mirip satu dengan yang lain, sehingga menuntut kepekaan terhadap batasan dan titik tekannya ketika akan menggunakan konsep tersebut untuk berbagai keperluan, baik asesmen maupun intervensi.

Ketika membahas resiliensi, kita perlu paham semisal tentang apa bedanya resiliensi dengan hardiness, apalagi keduanya sering diterjemahkan dengan istilah yang sama dalam Bahasa Indonesia, yakni “ketangguhan”. Menggali, mengukur, dan mengintervensi resiliensi tentu berbeda dengan bagaimana menggali, mengukur, dan mengintervensi hardiness, meski keduanya tampak mirip, serupa namun tak sama. Contoh lain, apa beda resiliensi dengan konsep survive atau bertahan dalam situasi sulit; Beda titik tekan antara resiliensi dengan thriving dan post traumatic growth; Beda konsep antara resiliensi dengan grit; dan sebagainya. Jangan sampai jika tidak jeli, kita bermaksud mengukur dan mengintervensi A, tetapi yang dilakukan justru terpeleset ke identifikasi dan intervensi atribut B yang berdekatan dengan A.

Bagian pertama dari materi ini berakhir dengan banyaknya ekspresi peserta yang menampakkan insight, bahwa ternyata sebagai ilmuwan, peneliti maupun praktisi memang harus jeli dalam memahami dan membedakan konsep/teori. Dan resiliensi ternyata bukan bertitik tekan pada daya tahan terhadap stres sebagaimana yang sering dipersepsikan selama ini, namun lebih pada daya lenting, kemampuan untuk membal, bangkit dan pulih kembali secara psikologis setelah mengalami tekanan yang signifikan dalam hidup karena adversity tertentu.

Dari penyamaan persepsi tersebut, saya bergerak menjelaskan tentang mengapa resiliensi, atau kapasitas untuk menjadi resilien semakin dibutuhkan oleh remaja di era teknologi yang serba maju ini. Saya memaparkan tentang bagaimana lingkungan tumbuh kembang saat ini menjadi semakin kompleks, karena model pengelolaan psikologis dan sumber-sumber stimulasi perilaku menjadi sedemikian luas, dari berbagai arah. Bukan hanya dari lingkungan sosial tempat individu berinteraksi secara langsung sehari-hari, namun juga dari berbagai media digital yang begitu mudah terakses setiap saat, nyaris tanpa penyaring.

Memang, tidak semua yang tertayang di media digital akan berpengaruh buruk. Ada banyak hal baik, beragam informasi yang bermanfaat, serta fasilitas-fasilitas yang membantu individu untuk belajar, menyelesaikan pekerjaan, atau memenuhi kebutuhan tertentu dengan cara-cara yang tepat. Namun demikian, dengan gaya hidup masyarakat saat ini yang semakin lekat dengan perangkat teknologi, frekuensi dan durasi waktu akses terhadap smartphone yang sedemikian tinggi, sementara keterbukaan informasi di dalamnya juga sedemikian luas sehingga kadang yang negatif pun tanpa sengaja ikut terakses, maka media digital juga memiliki sisi lain yang memuat berbagai macam risiko, dari yang ringan hingga sangat berat. Dan risiko-risiko ini tentu perlu diantisipasi sebelum benar-benar menimbulkan persoalan, baik pada level individu maupun komunitas. Membantu remaja menumbuhkan resiliensinya di era digital ini adalah langkah antisipatif penting yang perlu diupayakan bersama oleh berbagai pihak di lingkungan perkembangannya.

Lalu, bagaimana kemudian langkah yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan resiliensi tersebut? Bagaimana peran praktisi bimbingan dan konseling agar optimal mengambil bagian di dalamnya? Saya memaparkan ini pada bagian ketiga dari materi.

Untuk menumbuhkan resiliensi pada remaja, ada beberapa pokok penjelasan teoritik yang perlu untuk diperhatikan. Pertama, bahwa individu yang resilien akan mampu mengelola berbagai risiko dan pengalaman tidak menyenangkan / menekan manakala mereka dapat menerapkan koping yang efektif dan adaptasi yang positif secara tepat. Kedua, koping dan adaptasi tersebut akan semakin baik dengan adanya peran faktor protektif, yang bersumber dari eksternal maupun internal individu. Ketiga, bahwa lingkungan tumbuh kembang yang positif diperlukan dalam proses belajar individu untuk terus berdaya, mampu mengelola diri sendiri dan sekitar yang penuh dengan keragaman pengaruh. Di dalam lingkungan tumbuh kembang ini, keluarga sebagai mikrosistem utama memiliki kontribusi besar terhadap pencapaian resiliensi. Pengasuhan yang tepat di dalam keluarga merupakan jembatan krusial dalam menumbuhkan resiliensi anak dan remaja.

Oleh karena itu, berdasarkan pokok-pokok penjelasan teoritik yang telah disebutkan, maka peran praktisi bimbingan dan konseling sebagai bagian dari lingkungan perkembangan remaja di sekolah menjadi sangat penting. Bahkan tidak hanya untuk remaja, praktisi BK adalah juga support system bagi orangtua sebagai penanggungjawab utama perkembangan remaja.

Dengan kemampuan profesionalnya, para praktisi BK dapat membantu memberikan edukasi pada orangua untuk menyediakan lingkungan tumbuh kembang yang sehat dan positif di dalam keluarga. Dengan pendekatan tertentu, konselor dapat membantu remaja untuk mampu menguatkan berbagai faktor protektif, pelindung dari berbagai tekanan psikologis yang berlarut-larut saat berhadapan dengan risiko. Para praktisi BK juga dapat membantu melatih agar remaja semakin mampu menyadari dan mengelola risiko-risiko online secara mandiri, termasuk juga melatih kemampuan koping dan adaptasi yang positif, melalui berbagai kegiatan pendampingan yang dapat didesain sedemikian rupa. Dengan keterlibatan aktif para praktisi bimbingan dan konseling ini, upaya bersama menumbuhkan resiliensi remaja di era digital diyakini akan mampu mencapai hasil yang jauh lebih optimal.

UPGRIS

Iklan

Beri Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s