Menumbuhkan Resiliensi Remaja di Era Digital: Peran Praktisi Bimbingan dan Konseling (Materi Seminar Nasional Bimbingan dan Konseling UPGRIS 2019)

Sabtu, 28 September 2019. Kembali memenuhi permintaan untuk berbagi pemahaman tentang resiliensi, pada forum ilmiah di luar bidang ilmu psikologi. Kali ini pada Seminar Nasional Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), bertema: “Resiliensi Remaja di Era Milenial dan Pendekatan Solution Focus Brief Counseling“. Seminar dihadiri oleh staf pengajar dan mahasiswa S1, S2, dan S3 Bimbingan dan Konseling serta Ilmu Pendidikan, para guru dan praktisi BK, juga sejumlah elemen masyarakat umum.

Dengan koordinasi yang baik dari penyelenggara, materi yang saya sampaikan lebih berfokus untuk mengupas resiliensi remaja. Sementara itu pendekatan solution focus brief counseling dikupas oleh ahlinya, kakak senior sekohort (biar sekohort tapi tetap lebih senior 😀 ), Mulawarman, S.Pd., M.Pd., Ph.D. dari Universitas Negeri Semarang. Menyimak materi dan penjelasan beliau yang sangat komunikatif, bersyukur sekali saya pun ikut bertambah ilmu. Ini bagian yang selalu menyenangkan dari mengisi sebuah forum ilmiah bersama dengan kolega lintas kepakaran. Tidak hanya berbagi, tetapi diri sendiri juga mendapatkan ruang untuk belajar lebih banyak. Anyway, terima kasih banyak untuk UPGRIS yang telah menyelenggarakan seminar nasional ini, dan memberikan kepercayaan kepada kami. Baca lebih lanjut

Amazing Russia (1): The XVI European Congress of Psychology

Satu lagi pengalaman berharga menginjakkan kaki di belahan bumi Allah yang lain, belum lama terlewati dengan penuh syukur. Dan kali ini adalah Russia. Negara yang di luar angan-angan saya untuk bisa mengunjungi.

Dimulai dari adanya informasi tentang kongres psikologi Eropa yang terakses saat mengikuti salah satu konferensi internasional psikologi di Bali tahun lalu, saya dan sejumlah rekan pun mencoba menyusun abstrak paper dari hasil penelitian kami dan coba dimasukkan. Ternyata lolos seleksi untuk presentasi di sana. Maka kemudian, berangkat lah kami berpetualang ke negeri Masha and the Bear ini.

Karena ada cukup banyak catatan menarik, maka saya akan bagi dalam 3 tulisan. Saya ceritakan lebih dulu tentang keperluan utama pergi ke sana di tulisan pertama ini, sesudahnya akan saya sambung dengan tulisan tentang Moscow, dan terakhir tentang Saint Petersburg yang juga sempat kami kunjungi.

Baca lebih lanjut

Memfasilitasi Penyegaran Kembali Pemahaman Tentang Riset Kualitatif

Mengajar dan berdiskusi tentang riset-riset kualitatif, juga melakukannya adalah kesukaan lain di luar menggeluti tentang resiliensi, psikologi perkembangan, serta pengasuhan anak. Meski kerap mengganjal jika ada yang mengatakan bahwa saya ini adalah pakar di dalamnya. Mengganjal dan merasa belum pantas karena sampai saat menulis catatan ini belum ada artikel kualitatif saya yang berhasil menembus jurnal scopus. Yang mampu menembusnya justru artikel dari riset-riset kuantitatif bersama kolega. Sementara hasil-hasil kajian kualitatif sejauh ini masih sampai pada beberapa jurnal terakreditasi Sinta 2 saja. Sedih ya 😀 Mungkin kalau saya dilahirkan dan hidup sekian tahun lebih awal, isu per-scopus-an tidak jadi pikiran. Apa daya zaman sudah berubah, dengan hantu-hantu scopus bergentayangan di mana-mana 😀 😀 😀

Tapi tidak apa. Katanya kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda (*eeaaa…). Jadi tetap optimis dan berusaha. Sebab senyatanya antara meneliti dan mempublikasikan hasil penelitian adalah dua hal dengan tantangan yang berbeda. Dan meski demikian, saya tidak patah arang untuk terus mengupayakan. Juga tidak pupus semangat dan antusias untuk tetap membantu rekan dan mahasiswa yang ingin memahami pendekatan kualitatif ini, di tengah sekian banyak keragaman tipe dan desainnya.

Di kampus sendiri, saya mengampu mata kuliah Penelitian Kualitatif baik untuk mahasiswa S1, S2, maupun S3. Sesekali diminta pula untuk memberikan pengayaan wawasan materi yang sama di fakultas lain sesama warga Unair, maupun di ‘rumah-rumah tetangga’, tetangga universitas.

Lebih lanjut, catatan ini akan membagikan beberapa hal yang saya sampaikan saat memfasilitasi rekan-rekan dosen di Fakultas Psikologi Unair, UTM, UHT, Mahasiswa S3 Ubaya, dan USM, dalam menyegarkan ingatan kembali tentang metode penelitian kualitatif. Saya pribadi sungguh mengapresiasi pimpinan instansi masing-masing yang menyadari perlunya langkah ini di tengah perkembangan minat mahasiswa dalam menggunakan pendekatan kualitatif, untuk menyelesaikan tugas akhir mereka. Sebab di sisi lain, familiaritas dan dominasi pendekatan kuantitatif yang begitu kuat terkadang membatasi para dosen untuk dapat melakukan telaah naskah secara tepat, ketika berperan sebagai pembimbing maupun penguji.

Apabila ketidaktepatan telaah yang justru sering terjadi, maka bisa dibayangkan, bukan saja mahasiswa tidak memperoleh umpan balik yang dibutuhkan, mereka juga dapat terjebak dalam kesalahpahaman akan metodologi yang digunakan. Salah memahami akan membawa pada kesalahan dalam mengeksekusi, sehingga hasil penelitian yang diperoleh pun menjadi dipertanyakan kredibilitasnya.

Baca lebih lanjut

RESILIENSI: Teori dan Penerapannya dalam Pendampingan Psikologis (Materi National Conference UMG 2018)

Sabtu, 6 Oktober 2018. Kembali berbagi pemahaman tentang resiliensi, kali ini dalam National Conference “Resilience in The World of Competitive, Islamic Perspective” yang diselenggarakan oleh Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Gresik bekerjasama dengan International Institute of Islamic Thought. Selain saya, dua pembicara yang lain adalah Assoc. Prof. Dr. Shukran Abd. Rahman dan Assoc. Prof. Dr. Mastura Badzis, keduanya dari International Islamic University Malaysia.

Konferensi nasional ini di luar dugaan ternyata tidak hanya diikuti oleh para akademisi dan mahasiswa dari berbagai jenjang, tetapi juga praktisi psikologi dan konseling, guru-guru, orangtua, bahkan pelajar SMK yang antusias menguatkan kompetensinya menghadapi tantangan di masyarakat yang semakin beragam. Suasana “gethok tular” ilmu pun terasa menjangkau banyak lapisan. Sangat mensyukurinya.

Sesuai permintaan panitia, saya membawakan materi tentang konsep dasar resiliensi dan perkembangan teorinya, serta gambaran penerapannya dalam pendampingan psikologis. Beberapa bagian dari materi ini pernah saya sampaikan pada saat mengisi Seminar Nasional Pascasarjana di UGM Bulan Maret lalu.

Dengan terus diniatkan untuk memperluas kemanfaatannya, karena menyadari bahwa ilmu adalah milik Allah, berikut saya bagikan pokok-pokok materi yang diringkas dalam beberapa slide presentasi. Semoga memenuhi juga keingintahuan rekan-rekan yang pada hari kegiatan berhalangan untuk turut hadir.

Baca lebih lanjut

Menumbuhkan Resiliensi Generasi Z (Materi Seminar Nasional Pascasarjana 2018)

Jumat, 23 Maret 2018, kali kedua dipercaya untuk kembali menjadi salah satu pemateri dalam Seminar Nasional Pascasarjana yang diselenggarakan oleh Program Doktor Ilmu Psikologi UGM. Bahagia dan bersyukur sudah tentu. Bisa kembali pulang ke ‘rumah’ yang memberi saya pondasi ilmu psikologi, berbagi sekaligus mengulang momen belajar bersama para guru yang sungguh saya teladani.

Baca lebih lanjut

A Road To Be Successful Doctoral Students: Positive Adaptations Towards Various Challenges (Presentasi pada The 6th ARUPS Congress 2018)

Berbagi kembali materi presentasi temu ilmiah, kali ini pada konggres ke-6 ASEAN Regional Union of Psychological Societies (ARUPS) yang diselenggarakan di Bali, Tanggal 20-22 Februari 2018 lalu. Presentasi ini berisi hasil penelitian saya tentang resiliensi akademik mahasiswa doktoral, yang diawali dari kepedulian terhadap banyaknya mahasiswa jenjang pendidikan tertinggi ini yang menemui kesulitan signifikan dalam perjalanan belajarnya.

Berdasar pengalaman partisipan penelitian yang telah berhasil menyelesaikan studi, temuan penelitian ini menguraikan tantangan apa saja yang umumnya dihadapi oleh mahasiswa doktoral dan kemudian memunculkan beragam persoalan; serta bagaimana kemudian mereka mampu mengatasinya.

Baca lebih lanjut

Cerita dari Ruang Kuliah: 12 Riset Kualitatif untuk Memahami Perilaku di Media Sosial (Bagian 4)

Masih melanjutkan tulisan sebelumnya, berikut adalah pelengkap dari cerita kelas kualitatif S1 semester ini. 3 tulisan terdahulu sudah memaparkan bagaimana hasil latihan meneliti dari 12 kelompok yang ada di kelas yang saya pandu. Sekali lagi, saya mengapresiasi betul proses belajar mahasiswa Semester 5 ini. Semua menunjukkan progres pemahaman yang baik, meski sejauh mananya tentu tidak sama antara satu dengan yang lain. Ada yang berada di kisaran rata-rata sebagaimana kemampuan individu yang baru mulai belajar meriset, ada yang masih sedikit di bawah yang lain, namun ada pula yang menunjukkan potensi besar untuk kelak dapat menghasilkan riset-riset kualitatif yang luar biasa sesuai jenjangnya.

Selama mendampingi mereka belajar di kelas ini, ada beberapa hal yang berulang saya tekankan. Pertama, tentang keluasan penelitian kualitatif. Bagaimanapun, apa yang telah mereka pelajari hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak pendekatan dalam penelitian kualitatif. Melalui proses pembelajaran yang telah dilalui, mereka masih sebatas mengenal kualitatif versi generik. Versi sederhana, versi pemula. Pendekatan pun baru belajar sedikit tentang studi kasus dan fenomenologi. Artinya, untuk menjadi mahir dan memiliki penguasaan yang baik, mereka perlu mengembangkan pemahaman dengan belajar dan berlatih secara mandiri, menerapkan pendekatan kualitatif yang lain berikut sekian banyak variasi teknik di dalamnya. Sebab penguasaan terhadap sebuah ketrampilan tidak akan pernah tercapai hanya dengan sekali-dua kali mencoba melakukan.

Kedua, sebuah penelitian yang baik harus didasarkan pada research problem yang jelas, berbasis data yang kuat, dan memiliki manfaat. Jadi bukan sekedar memenuhi keingintahuan peneliti. Karena itu, dalam setiap kesempatan memberikan umpan balik, hal ini juga selalu menjadi perhatian saya dalam mengoreksi. Saya dorong mereka untuk membangun argumentasi yang kuat dalam menyatakan persoalan penelitian, berdasarkan kajian teoritik, hasil riset terdahulu, berbagai literatur dan sumber data fenomena yang akurat.

Ketiga, pentingnya menentukan perspektif teori yang tepat dalam mengkaji persoalan yang diangkat. Bagian ini cukup sulit. Setidaknya menuntut peneliti untuk melacak akar dari penjelasan teoritik atas konsep yang menjadi fokus kajian. Ada yang berhasil, banyak yang belum. Terlebih karena waktu belajar satu semester yang terbatas di tengah tuntutan memenuhi kelengkapan setiap bagian riset yang lain, juga diantara tumpukan tugas/project yang tak kalah aduhai dari mata kuliah yang berbeda. Tapi tidak apa, meski belum optimal, setidaknya dengan umpan balik yang terus diberikan, mereka dapat menindaklanjutinya dengan lebih baik nanti pada saat mengerjakan skripsi. Kalau yang skripsinya tidak menggunakan pendekatan kualitatif? Ya paling tidak mereka sudah pernah mendapatkan penjelasan dan feedback-nya. Semoga masih tersimpan di ingatan manakala suatu saat nanti diperlukan 😀 Baca lebih lanjut