Menumbuhkan Resiliensi Remaja di Era Digital: Peran Praktisi Bimbingan dan Konseling (Materi Seminar Nasional Bimbingan dan Konseling UPGRIS 2019)

Sabtu, 28 September 2019. Kembali memenuhi permintaan untuk berbagi pemahaman tentang resiliensi, pada forum ilmiah di luar bidang ilmu psikologi. Kali ini pada Seminar Nasional Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), bertema: “Resiliensi Remaja di Era Milenial dan Pendekatan Solution Focus Brief Counseling“. Seminar dihadiri oleh staf pengajar dan mahasiswa S1, S2, dan S3 Bimbingan dan Konseling serta Ilmu Pendidikan, para guru dan praktisi BK, juga sejumlah elemen masyarakat umum.

Dengan koordinasi yang baik dari penyelenggara, materi yang saya sampaikan lebih berfokus untuk mengupas resiliensi remaja. Sementara itu pendekatan solution focus brief counseling dikupas oleh ahlinya, kakak senior sekohort (biar sekohort tapi tetap lebih senior ūüėÄ ), Mulawarman, S.Pd., M.Pd., Ph.D. dari Universitas Negeri Semarang. Menyimak materi dan penjelasan beliau yang sangat komunikatif, bersyukur sekali saya pun ikut bertambah ilmu. Ini bagian yang selalu menyenangkan dari mengisi sebuah forum ilmiah bersama dengan kolega lintas kepakaran. Tidak hanya berbagi, tetapi diri sendiri juga mendapatkan ruang untuk belajar lebih banyak. Anyway, terima kasih banyak untuk UPGRIS yang telah menyelenggarakan seminar nasional ini, dan memberikan kepercayaan kepada kami. Baca lebih lanjut

RESILIENSI: Teori dan Penerapannya dalam Pendampingan Psikologis (Materi National Conference UMG 2018)

Sabtu, 6 Oktober 2018. Kembali berbagi pemahaman tentang resiliensi, kali ini dalam National Conference “Resilience in The World of Competitive,¬†Islamic Perspective” yang diselenggarakan oleh Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Gresik bekerjasama dengan International Institute of Islamic Thought. Selain saya, dua pembicara yang lain adalah Assoc. Prof. Dr. Shukran Abd. Rahman dan Assoc. Prof. Dr. Mastura Badzis, keduanya dari International Islamic University Malaysia.

Konferensi nasional ini di luar dugaan¬†ternyata tidak hanya diikuti oleh para akademisi dan mahasiswa dari berbagai jenjang, tetapi juga praktisi psikologi dan konseling, guru-guru, orangtua, bahkan pelajar SMK yang antusias menguatkan kompetensinya menghadapi tantangan di masyarakat yang semakin beragam. Suasana ‚Äúgethok tular‚ÄĚ ilmu pun terasa menjangkau banyak lapisan. Sangat mensyukurinya.

Sesuai permintaan panitia, saya membawakan materi tentang konsep dasar resiliensi dan perkembangan teorinya, serta gambaran penerapannya dalam pendampingan psikologis. Beberapa bagian dari materi ini pernah saya sampaikan pada saat mengisi Seminar Nasional Pascasarjana di UGM Bulan Maret lalu.

Dengan terus diniatkan untuk memperluas kemanfaatannya, karena menyadari bahwa ilmu adalah milik Allah, berikut saya bagikan pokok-pokok materi yang diringkas dalam beberapa slide presentasi. Semoga memenuhi juga keingintahuan rekan-rekan yang pada hari kegiatan berhalangan untuk turut hadir.

Baca lebih lanjut

Buku “Resiliensi Psikologis: Sebuah Pengantar”

Syukur Alhamdulillah, setelah sekian waktu mengupayakannya di sela tumpukan tugas rumah dan kampus, buku ini akhirnya terbit juga. Sebagaimana tertulis pada bagian Kata Pengantar, buku ini disusun sebagai sebuah penanda perjalanan belajar saya dalam memahami tentang resiliensi. Tentang bagaimana seseorang mampu pulih dan bangkit dari keterpurukan, menjadi sosok resilien di tengah berbagai kesulitan hidup yang sedemikian berat.

Bukan hal yang tiba-tiba bagi saya untuk kemudian memutuskan menekuni topik kajian ini, dalam profesi sebagai pendidik maupun peneliti. Ada proses yang didasari oleh beberapa alasan. Baca lebih lanjut

Menumbuhkan Resiliensi Generasi Z (Materi Seminar Nasional Pascasarjana 2018)

Jumat, 23 Maret 2018, kali kedua dipercaya untuk kembali menjadi salah satu pemateri dalam Seminar Nasional Pascasarjana yang diselenggarakan oleh Program Doktor Ilmu Psikologi UGM. Bahagia dan bersyukur sudah tentu. Bisa kembali pulang ke ‘rumah’ yang memberi saya pondasi ilmu psikologi, berbagi sekaligus mengulang momen belajar bersama para guru yang sungguh saya teladani.

Baca lebih lanjut

Menumbuhkan Online Resilience pada Anak: Presentasi dalam TIN-IPPI X

Pesatnya pertumbuhan teknologi digital di masyarakat berbanding lurus dengan banyaknya risiko yang setiap saat akan ditemui oleh para pengguna aktifnya, termasuk anak-anak. Berangkat dari catatan saya dalam Buku Seri Ke-2 Sumbangan Pemikiran Psikologi untuk Bangsa: Psikologi dan Teknologi Informasi yang diterbitkan oleh HIMPSI (2016), momen presentasi dalam Temu Ilmiah Nasional Ikatan Psikologi Perkembangan Indonesia Ke-10 (TIN-IPPI X) di Semarang pada 23-24 Agustus 2017 lalu saya manfaatkan untuk memaparkan lebih lanjut langkah yang dapat ditempuh orangtua dalam menumbuhkan online resilience anak.

Berikut adalah ppt yang saya sampaikan, merespon permintaan beberapa rekan:

Baca lebih lanjut

Empat Catatan dalam Meneliti Resiliensi

Melanjutkan tulisan pertama tentang materi yang saya sampaikan dalam Seminar Nasional Pascasarjana beberapa waktu lalu, tulisan ini membahas lebih lanjut empat catatan yang perlu diperhatikan oleh peneliti sebelum melakukan kajian tentang resiliensi di berbagai konteks persoalan.

semnas-ugm

Bersama sebagian peserta yang masih bertahan hingga sesi penutupan seminar jam 5 sore

Pertama, saya memberi catatan tentang pentingnya memastikan 2 prasyarat dalam meneliti resiliensi. Hal ini saya sampaikan karena melihat tidak sedikit dari laporan penelitian mahasiswa yang ternyata belum menempatkan studi resiliensi pada konteks yang tepat. Akibatnya, selain tidak sesuai dengan pemahaman konseptual resiliensi itu sendiri, kajian yang salah tempat ini semakin memancing kebingungan pembaca atau calon peneliti berikutnya tentang apa bedanya resiliensi dengan konsep-konsep lain yang tampak serupa. Baca lebih lanjut

Tanya-Jawab Singkat Seputar Resiliensi

Selama beberapa waktu baik melalui blog ini maupun email, saya menerima cukup banyak pertanyaan dari rekan mahasiswa S1-S3 yang bermaksud memperjelas pemahaman tentang seluk-beluk resiliensi. Melihat adanya sejumlah pertanyaan yang berulang antar waktu, maka saya terpikir untuk merangkum beberapa rekaman tanya-jawab tersebut untuk membantu rekan-rekan lain yang mungkin masih membutuhkan informasinya.

Tanya: Bisakah kita meneliti resiliensi pada persoalan X / Y / Z?
Jawab: Mengacu penjelasan dari Cicchetti & Rogosh (1997), setidaknya ada dua komponen yang harus ada untuk memastikan bahwa kita bisa meneliti tentang resiliensi di dalamnya, yaitu: (1) Adanya stresor/adversity yang signifikan (hal-hal/kondisi yang mendatangkan kesulitan dan tekanan yang cukup berat), dan (2) Adanya adaptasi positif yang mampu dimunculkan individu terhadap stresor/adversity tersebut. Melengkapi pernyataan Cicchetti & Rogosch, beberapa ahli lain (Werner, 1995; Luthar, 2000; Rutter, 2005, dsb) telah memperjelas pula bahwa stres atau adversity yang ditimbulkan oleh berbagai situasi tidak menyenangkan harus dalam taraf yang berat, mencerminkan kesulitan yang substansial dan berisiko tinggi, atau berpotensi memunculkan krisis yang berkepanjangan. Jadi bukan persoalan-persoalan kecil/sehari-hari yang memang mengganggu tapi relatif mudah untuk diselesaikan.
Nah, alangkah baiknya sebelum memutuskan untuk mengidentifikasi lebih dahulu, apakah pada topik X/Y/Z yang akan diteliti kedua komponen yang disebutkan oleh Cicchetti & Rogosh memang ada di dalamnya?
Pastikan terlebih dahulu apakah sebenarnya yang menjadi stresor/adversity signifikan dalam persoalan tersebut, dan bahwa kesulitan yang ada di dalamnya memang kesulitan-kesulitan yang substansial, sangat berat, dan tidak mudah diatasi oleh individu.

Tanya: Apa beda mendasar antara resiliensi keluarga dengan resiliensi individu?
Jawab: Tentang resiliensi keluarga, sepanjang pemahaman saya letak beda mendasarnya dengan resiliensi individu adalah karena di dalam keluarga terdapat sejumlah individu yang saling berinteraksi antara satu dengan yang lain. Mereka adalah orang-orang dengan karakter beragam, dan tidak selalu seluruhnya tangguh menghadapi beban persoalan yang signifikan. Resiliensi keluarga ditentukan oleh interaksi antar individu tersebut. Bagaimana antar mereka yang berbeda karakter dapat menemukan satu koping dan adaptasi yang saling menguatkan. Karena itulah modelnya menjadi lebih rumit, tidak seperti resiliensi individu. Baca lebih lanjut