Amazing Turkey (6): Cerita yang Tersisa

Setelah jeda agak lama karena serbuan pekerjaan kampus, saya akan menuntaskan sisa catatan dari  perjalanan ke Turki bulan lalu. Ada beberapa hal yang ingin saya ceritakan, mulai dari objek yang kami kunjungi saat berada di Provinsi Denizli (kalau menurut urutan mestinya ini terceritakan setelah dari Ephesus di Izmir), lalu ke beberapa hal unik tentang Turki.

Hierapolis-Pamukkale di Denizli

Masih ingat catatan tentang Ephesus dan jejak peninggalan Yunani Kunonya kan? Nah, ada satu lagi jejak peninggalan jaman lampau yang juga menarik serupa Ephesus yaitu Hierapolis, sebuah kota tua peninggalan jaman Romawi. Hierapolis ini menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 1988.

Ada yang menyebutkan Hierapolis berasal dari sebuah Kuil Hieron yang dibangun sekitar awal Abad Ke-3 SM oleh orang-orang Phyrgia. Di Abad Ke-2 SM lokasi kuil tersebut yang berdekatan dengan sumber mata air panas kemudian dikembangkan menjadi tempat spa yang dipersembahkan kepada Raja Pergamon, Eumenes II, oleh Roma.

Namun sumber lain menuliskan bahwa dimungkinkan Hierapolis telah dibentuk oleh raja-raja Seleukus di sekitar abad ke-4 SM . Nama kota ini tampaknya berasal dari Hiera, istri Telephus (anak dari Hercules dan cucu Zeus), cikal bakal keturunan Pergamus. Hierapolis diserahkan ke Roma pada 133 SM bersama dengan sisa kerajaan Pergamene, dan menjadi bagian dari provinsi Romawi di Asia. Kota ini sempat hancur oleh gempa bumi di 60 AD, tetapi dibangun kembali, dan mencapai puncaknya pada abad ke-2 dan ke-3.

    

Berbeda dengan Ephesus yang jejak-jejak kemegahan bangunannya masih banyak tersisa dan beberapa sudah dibangun kembali, Hierapolis sisa bangunannya relatif sedikit. Berjalan kaki tidak jauh dari deretan reruntuhan, pengunjung akan bertemu dengan Pamukkale yang dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi ‘benteng kapas’.

Pamukkale adalah sebuah sumber air panas yang diyakini memiliki efek penyembuhan. Sumber air panas ini memiliki keunikan karena bentuknya yang seperti dinding-dinding kapas. Dinding-dinding ini berasal dari travertine, mineral karbonat yang ditinggalkan oleh air panas yang kehilangan karbon dioksida dan mengalir menuruni lereng, meninggalkan endapan batu gamping, membentuk lapisan kalsium karbonat berwarna putih.

Tidak hanya membentuk dinding, mineral karbonat tersebut juga membentuk ceruk-ceruk menyerupai kolam-kolam kecil yang bertingkat-tingkat. Karena kami berkunjung pada saat musim dingin, maka air panas yang biasanya biru kehijauan mengisi kolam-kolam tersebut kebanyakan membeku.

  Hal Lain yang Menarik

Menutup rangkaian cerita, saya akan menambahkan beberapa dokumentasi yang (menurut saya) akan semakin menunjukkan menariknya Turki untuk dikunjungi, selain yang sudah terceritakan pada tulisan-tulisan sebelumnya (baca juga: Amazing Turkey 1; AT 2; AT 3; AT 4; dan AT 5).

Pertama, Turki adalah negara yang boleh dikatakan sangat menyayangi Kucing. Bagi para pembaca yang juga penggemar kucing, Anda pasti akan bahagia sekali berkunjung ke negara ini karena begitu banyak kucing liar yang bagus, gemuk terawat berkeliaran di berbagai tempat. Tidak sedikit yang sangat imut menggemaskan, sampai-sampai ingin menculiknya satu untuk dibawa pulang 😀

  Kedua, soal makanan. Untuk makanan khas yang hampir selalu jadi oleh-oleh wajib dari Turki adalah Turkish Delight. Semacam dodol yang manisnya bergradasi dari yang masih level biasa sampai ke yang manis super banget, dengan sejumlah varian bahan. Pendek kata, ini aneka dodol. Ada juga jenis tertentu yang rasa dan teksturnya lebih mendekati moci.

Turkish delight ini merepresentasikan kesukaan orang Turki untuk memakan kudapan yang manis. Untuk makanan pokok, nasi tetap ada di mana-mana. Hanya saja nasi di sini di setiap kami makan selalu dicampur antara nasi putih dengan nasi merah. Mungkin memang begitu sehari-harinya.

Karena Turki ini negara 2 benua, Eropa dan Asia, maka pada makanan juga terasa pengaruh keduanya. Saya tidak bisa mengatakan soal enak atau tidaknya ya, karena itu kan soal selera. Saya pribadi sejujurnya masih jauh lebih menikmati makanan Korea daripada Turki. Tapi ini subjektif, tidak bisa digeneralisir. Berikut beberapa penampakan makanan kami kemarin yang sempat terpotret:

      Ketiga, karena (sekali lagi) kami mendatangi Turki saat musim dingin, maka tentu hal yang juga sangat berkesan adalah pemandangan di sepanjang jalan yang memutih karena salju. Indah tak terlupakan. Di bawah ini beberapa diantaranya yang sempat terambil dari dalam bis yang melaju dari satu kota ke kota yang lain.

     

 

Iklan

Beri Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s