Lebaran 2018

Iklan

Ibu dan Peran Pencegahan Radikalisme (Opini Jawa Pos, 18 Mei 2018)

Memenuhi permintaan rekan yang terlewat belum membaca artikel opini saya tentang Ibu dan Peran Pencegahan Radikalisme di Jawa Pos (18 Mei 2018), berikut saya tuliskan kembali untuk blog ini:

Baca lebih lanjut

Amazing Turkey (6): Cerita yang Tersisa

Setelah jeda agak lama karena serbuan pekerjaan kampus, saya akan menuntaskan sisa catatan dari  perjalanan ke Turki bulan lalu. Ada beberapa hal yang ingin saya ceritakan, mulai dari objek yang kami kunjungi saat berada di Provinsi Denizli (kalau menurut urutan mestinya ini terceritakan setelah dari Ephesus di Izmir), lalu ke beberapa hal unik tentang Turki.

Hierapolis-Pamukkale di Denizli

Masih ingat catatan tentang Ephesus dan jejak peninggalan Yunani Kunonya kan? Nah, ada satu lagi jejak peninggalan jaman lampau yang juga menarik serupa Ephesus yaitu Hierapolis, sebuah kota tua peninggalan jaman Romawi. Hierapolis ini menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 1988.

Ada yang menyebutkan Hierapolis berasal dari sebuah Kuil Hieron yang dibangun sekitar awal Abad Ke-3 SM oleh orang-orang Phyrgia. Di Abad Ke-2 SM lokasi kuil tersebut yang berdekatan dengan sumber mata air panas kemudian dikembangkan menjadi tempat spa yang dipersembahkan kepada Raja Pergamon, Eumenes II, oleh Roma.

Namun sumber lain menuliskan bahwa dimungkinkan Hierapolis telah dibentuk oleh raja-raja Seleukus di sekitar abad ke-4 SM . Nama kota ini tampaknya berasal dari Hiera, istri Telephus (anak dari Hercules dan cucu Zeus), cikal bakal keturunan Pergamus. Hierapolis diserahkan ke Roma pada 133 SM bersama dengan sisa kerajaan Pergamene, dan menjadi bagian dari provinsi Romawi di Asia. Kota ini sempat hancur oleh gempa bumi di 60 AD, tetapi dibangun kembali, dan mencapai puncaknya pada abad ke-2 dan ke-3.

Baca lebih lanjut

Amazing Turkey (5): Cappadocia dan Kota Batu yang Menakjubkan

Adalah perjalanan darat terpanjang yang kami lalui bersama bis menuju wilayah ini dari destinasi sebelumnya. Cappadocia atau Kapadokya adalah wilayah di Provinsi Nevsehir yang memiliki ciri geologi, sejarah dan budaya unik dengan keajaiban alam berupa “cerobong peri” (fairy chimney) yang banyak tersebar di berbagai lembahnya. Pada waktu yang lampau, penduduk Cappadocia tinggal di bawah tanah atau di dalam rumah-rumah gua. Kabarnya di beberapa tempat, rumah-rumah hasil pahatan batu besar di area tersebut juga masih dihuni oleh sejumlah penduduk sampai sekarang.

Mengutip informasi dari sebuah situs berita, letusan tiga gunung berapi besar Turki di  Erciyes, Hasandag, dan Melendiz jutaan tahun lalu, serta empasan cuaca selama puluhan ribu tahun, membuat Cappadocia memiliki struktur tanah yang unik: Berbentuk pilar-pilar, gua-gua, bukit-bukit batu yang saling tumpuk, serta bukit berpuncak datar. Selama ribuan tahun, angin dan air hujan mengalir ke lembah, menyebabkan  erosi, kemudian membentuk struktur dan pahatan-pahatan yang dikenal dengan cerobong perinya. Ini adalah bongkahan batu tinggi dan bertopi yang bentuknya kerucut atau seperti jamur.

  Baca lebih lanjut

Amazing Turkey (4): Konya dan Makam Mevlana

“Aku ingin melihat wajah-Mu pada sebatang pohon, pada matahari pagi, dan pada langit yang tanpa warna”

Siapa yang tak kenal Jalaluddin Rumi? Minimal tentu pernah mendengar namanya disebut atau mungkin beberapa kutipan karyanya. Eh tapi ini bukan Jalaluddin Rumi nama anak salah satu artis itu ya, hahahaha… Konon kabarnya si artis juga pengagum Rumi yang saya maksud.

Saya bicara tentang Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri, seorang tokoh dan penyair Sufi. Nama Rumi dalam bahasa Turki adalah Mawlana Jalal ad-Din Muhammad Balkhi-Rumi, atau yang di sana sering disebut dengan singkat “Mevlana”. Sebenarnya ketika melacak beberapa situs, ada keragaman penjelasan tentang nama lengkap Rumi dari berbagai sumber. Jadi saya ambil salah satunya saja.

Berada di Provinsi Konya (sekitar 717 km dari Istanbul, 491 km dari Bursa, dan 571 km dari Izmir), makam dan museum Mevlana yang megah sekaligus indah ini tidak pernah sepi dari pengunjung. Mereka yang datang berziarah melampaui batasan usia, suku bangsa, pun latar belakang agama. Mayoritas adalah para pengagum Rumi dan ajaran spiritualnya yang membawa pesan damai, bertumpu pada universalitas dan humanitas.

Kompleks makam dan museum Mevlana ini terdiri dari beberapa bangunan. Bangunan utama berisi makam Mevlana, keturunan dan pengikutnya, juga berbagai benda bersejarah pada jamannya. Di sekitar bangunan utama terdapat deretan bangunan yang lebih kecil, berisi benda-benda peninggalan Mevlana yang lain yang dipergunakan dalam menyebarkan ajarannya, seperti pakaian, alat musik, dan sebagainya.

Selain ajaran Sufi yang tersampaikan dalam berbagai karya puisi penuh kedalaman makna, hal lain yang dikenal luas identik dengan Rumi adalah tarian para darwis atau whirling dervishes yang dipandang sebagai simbolisasi ajaran Sufisme Rumi. Tarian dilakukan dengan memutar badan sesuai ritme perputaran bumi. Tarian ini menjadi ritual khas Tarekat Mevlevi (sebutan bagi pengikut Mevlana) yang menggambarkan kesatuan kosmis secara artistik dan dramatik.

Satu hal saat mengunjungi tempat ini, entah kenapa saya merasa ada desakan emosi yang tak terjelaskan ketika berdiri menghadap nisan Mevlana. Desakan emosi yang begitu kuat hingga membuat air mata tiba-tiba menetes. Boleh jadi pengalaman spiritual ini juga dialami oleh peziarah lain, yang sempat saya lihat beberapa kali mengusap mata di sela doanya.

Lebih lanjut, bersama sejumlah gambar saya kutipkan beberapa karya Mevlana dalam tulisan ini.

  Baca lebih lanjut

Amazing Turkey (3): Ephesus dan Jejak Kejayaan Yunani Kuno

Dari Istanbul, ke Bursa, lalu berpindah lagi ke Provinsi Izmir. Benar-benar serupa trayek bis antar kota antar provinsi, hihihi… Ada Ephesus yang kami kunjungi di wilayah ini.

Berlokasi di Kota Selcuk, Ephesus pada awalnya adalah kota kuno Bangsa Yunani, namun kemudian direbut dan mengalami kejayaannya pada masa Kerajaan Romawi. Di jaman Romawi, Ephesus adalah kota terbesar kedua setelah Roma. Kota ini dalam sejarahnya pernah hilang akibat gempa bumi, namun kemudian ditemukan dan dibangun kembali dan menjadi salah satu objek yang rasanya tidak boleh dilewatkan jika berkunjung ke Turki.

Memasuki kompleksnya yang begitu luas dengan berbagai jejak bangunan yang megah, pikiran seakan terbawa untuk membayangkan bagaimana kehidupan pada jaman dimana kota ini masih berjaya ribuan tahun yang lalu. Terbayang adegan demi adegan film Gladiator! 😀

  Baca lebih lanjut

Amazing Turkey (2): Bursa dan Pengalaman Salju Pertama

Jika pada tulisan sebelumnya saya sudah menceritakan tentang beberapa objek yang kami kunjungi selama di Istanbul, maka sekarang saya beralih ke Bursa. Bursa adalah provinsi yang berbeda dari Istanbul. Keduanya berjarak sekitar 150 km, kami menempuhnya selama kurang lebih 2 jam menggunakan bis.

Apa yang istimewa selama kami di Bursa? Tak lain dan tak bukan adalah pengalaman pertama berjumpa dengan salju! Yeeeaaaaayyyyy! Berasa mimpi 😀

Bagaimana tidak, selama ini bisanya hanya lihat salju dari media. Sudah beberapa kali pula berpetualang ke negara orang saat musim dingin, ternyata juga belum pernah hoki menemukannya. Jadilah begitu kali ini kesampaian, whuaaaaaaa……. takjub tiada tara, sampai lupa usia! hahahaha… Maafkan jika efek euforianya masih terbawa di tulisan ini dan gambar-gambarnya yak. Maklum ketemunya aja susah, jadi harus dipuas-puaskan nyimpan fotonya, wkwkwkwk…

Permisi ini pose wajib tatkala melihat tanaman yang imut 😀

Baca lebih lanjut