Memfasilitasi Penyegaran Kembali Pemahaman Tentang Riset Kualitatif

Mengajar dan berdiskusi tentang riset-riset kualitatif, juga melakukannya adalah kesukaan lain di luar menggeluti tentang resiliensi, psikologi perkembangan, serta pengasuhan anak. Meski kerap mengganjal jika ada yang mengatakan bahwa saya ini adalah pakar di dalamnya. Mengganjal dan merasa belum pantas karena sampai saat menulis catatan ini belum ada artikel kualitatif saya yang berhasil menembus jurnal scopus. Yang mampu menembusnya justru artikel dari riset-riset kuantitatif bersama kolega. Sementara hasil-hasil kajian kualitatif sejauh ini masih sampai pada beberapa jurnal terakreditasi Sinta 2 saja. Sedih ya 😀 Mungkin kalau saya dilahirkan dan hidup sekian tahun lebih awal, isu per-scopus-an tidak jadi pikiran. Apa daya zaman sudah berubah, dengan hantu-hantu scopus bergentayangan di mana-mana 😀 😀 😀

Tapi tidak apa. Katanya kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda (*eeaaa…). Jadi tetap optimis dan berusaha. Sebab senyatanya antara meneliti dan mempublikasikan hasil penelitian adalah dua hal dengan tantangan yang berbeda. Dan meski demikian, saya tidak patah arang untuk terus mengupayakan. Juga tidak pupus semangat dan antusias untuk tetap membantu rekan dan mahasiswa yang ingin memahami pendekatan kualitatif ini, di tengah sekian banyak keragaman tipe dan desainnya.

Di kampus sendiri, saya mengampu mata kuliah Penelitian Kualitatif baik untuk mahasiswa S1, S2, maupun S3. Sesekali diminta pula untuk memberikan pengayaan wawasan materi yang sama di fakultas lain sesama warga Unair, maupun di ‘rumah-rumah tetangga’, tetangga universitas.

Lebih lanjut, catatan ini akan membagikan beberapa hal yang saya sampaikan saat memfasilitasi rekan-rekan dosen di Fakultas Psikologi Unair, UTM, UHT, Mahasiswa S3 Ubaya, dan USM, dalam menyegarkan ingatan kembali tentang metode penelitian kualitatif. Saya pribadi sungguh mengapresiasi pimpinan instansi masing-masing yang menyadari perlunya langkah ini di tengah perkembangan minat mahasiswa dalam menggunakan pendekatan kualitatif, untuk menyelesaikan tugas akhir mereka. Sebab di sisi lain, familiaritas dan dominasi pendekatan kuantitatif yang begitu kuat terkadang membatasi para dosen untuk dapat melakukan telaah naskah secara tepat, ketika berperan sebagai pembimbing maupun penguji.

Apabila ketidaktepatan telaah yang justru sering terjadi, maka bisa dibayangkan, bukan saja mahasiswa tidak memperoleh umpan balik yang dibutuhkan, mereka juga dapat terjebak dalam kesalahpahaman akan metodologi yang digunakan. Salah memahami akan membawa pada kesalahan dalam mengeksekusi, sehingga hasil penelitian yang diperoleh pun menjadi dipertanyakan kredibilitasnya.

Baca lebih lanjut