Berburu Sekolah: Antara Ego dan Komitmen Mendidik Anak Menjadi Pribadi Tangguh

Menjadi diri yang konsisten memegang prinsip adalah sebuah tantangan yang senyatanya tak setiap orang berhasil memenuhi. Ego yang sedemikian tinggi atau kebutuhan sosial yang mendominasi tak jarang mementahkan sikap dan perilaku positif yang sebenarnya dipahami.

Pun demikian dengan orangtua dalam pengasuhan dan pendidikan yang dilakukan pada anak. Tak sedikit dari kita yang di satu saat bersama anak sangat antusias mengkritik orang-orang yang melakukan tindakan kurang terpuji, namun beberapa waktu kemudian sibuk membangun alasan untuk membenarkan perilaku serupa yang dilakukan sendiri.

Salah satu momen yang tidak luput dari inkonsistensi orangtua terhadap nilai yang diajarkan pada anak adalah pada masa-masa ‘perburuan’ sekolah lanjutan seperti saat ini. Tidak sedikit diantara orangtua yang sebelumnya kerap menasehati dan mengharapkan anak berperilaku jujur, berkompetisi dengan sportif, seakan lupa dengan apa yang diajarkannya. Beberapa berita dari berbagai media berikut menggambarkan fenomena yang dimaksud (sila klik jika ingin membacanya satu per satu):

Saya teringat suatu hari kemenakan juga pernah bercerita tentang temannya yang kala itu baru lulus sekolah dasar dengan santai mengatakan bahwa masuk ke sekolah favorit itu mudah, asal punya uang dan koneksi. Kalimat ini menurut saya cukup menyesakkan. Betapa seorang anak yang masih belia sudah memiliki pola pikir demikian. Dan tampaknya hal tersebut sudah menjadi fenomena jamak, melihat sekian banyak aksi suap, titip-menitip dalam proses memperoleh sekolah yang sudah jadi rahasia umum di berbagai tempat.

suap

Sama sekali tidak terpikir dalam benak untuk menyalahkan si anak, sebab saya yakin ia hanya menyerap informasi dan mengimitasi cara pikir yang dipelajarinya. Saya justru sangat prihatin, bagaimana orang-orang dewasa di sekitar tumbuh kembang anak tersebut memberikan contoh sikap dan perilaku tertentu, yang kemudian memunculkan pemahaman tidak tepat ini. Bisa dibayangkan akan seperti apa jadinya beberapa tahun kemudian saat si anak sudah mulai tumbuh dewasa, apabila lingkungan belajarnya dalam berperilaku tetap memberikan stimulasi yang keliru. Dan semakin mengkhawatirkan jika hal tersebut terjadi pada banyak anak. Betapa karakter generasi mendatang menjadi taruhannya. Baca lebih lanjut

Iklan