Refleksi Ibu Belajar (1): Menyimak, Mencermati, Menyesuaikan

Tulisan ini menyambung kembali cerita tentang warna-warni mendampingi proses belajar Damai yang sudah masuk di usia remaja. Ada begitu banyak penyesuaian dilakukan, mengingat tahapan perkembangannya yang sudah beralih dari masa anak. Dan dalam upaya sejauh ini, bersyukur sekali karena kami sangat terbantu oleh program-program sekolah yang turut mengedukasi dan memotivasi orangtua, agar seiring sejalan dalam menumbuhkan setiap potensi baik yang dimiliki anak.

Seperti pernah saya tuliskan di “Sekolah Baru, Value, dan Proses Belajar yang Seru” (sila klik jika ingin membacanya lebih dulu), Damai belajar di Sekolah Cikal Surabaya. Sebuah sekolah yang cukup jauh dari rumah, namun kami pilih dengan sepenuh kesadaran untuk semaksimal mungkin memfasilitasi perkembangan kemampuan Damai, kecintaannya dalam belajar, juga pertumbuhan pribadinya.

Sejak awal ia masuk menjadi siswa Year 7, saya mengikuti sekian banyak kegiatan dilakukan oleh sekolah untuk mengoptimalkan keterlibatan orangtua dalam pendidikan anak. Mulai dari pertemuan seluruh orangtua dan pihak sekolah di awal tahun ajaran; Workshop pengenalan kompetensi 5 bintang yang menjadi fokus pengembangan dan diharapkan dapat dikuasai siswa selama proses belajarnya; Workshop tentang model asesmen yang dilakukan oleh sekolah dalam mengevaluasi capaian belajar siswa; serta Berbagai kegiatan lain yang melibatkan orangtua sebagai bagian dari komunitas sekolah, yang nyaris tak terhitung jumlahnya. Pendek kata, di Sekolah Cikal ini yang berproses belajar bukan hanya anak, tapi juga orangtuanya. Dan saya adalah bagian dari orangtua itu.

Baca lebih lanjut

Iklan

Cerita Damai: Sekolah Baru, Value, dan Proses Belajar yang Seru

Perjalanan belajar Damai sekarang sudah masuk di tahap SMP. Tahap di masa remaja awal yang lebih berwarna karena karakter psikologis individu seusianya yang juga berbeda. Apa yang membedakannya dari masa anak? Lebih kritis karena kemampuan berpikirnya berkembang; lebih sensitif secara emosi; menginginkan ruang lebih untuk mengambil berbagai keputusan sendiri; dan sebagainya.

Sebagaimana sudah saya sebut di tulisan terdahulu, Damai sekarang belajar di Sekolah Cikal Surabaya. Sekolah yang dari sisi jarak pergi-pulang ke rumah sebenarnya jauh dari kata ideal: 28 km, sama seperti jarak rumah-kampus, namun di wilayah yang berbeda. Sekolah Damai di Surabaya Barat, sementara Kampus Unair di Surabaya Timur. Jadi bayangkan saja sebuah segitiga, jika ingin tahu bagaimana posisi antara rumah, Cikal, dan kampus 😀

Dan dengan segitiga penuh cinta ini saya mengantar jemput sendiri Damai setiap harinya. Berangkat pagi-pagi menuju Cikal, menurunkan Damai dulu, baru lanjut ke kampus. Begitu sebaliknya ketika pulang. Seru, dan sejauh ini rute sudah berjalan kurang lebih 1 bulan.

Tidak capek? Ah… ini pertanyaan retoris. Ya jelas capek, apalagi dengan bertumpuk pekerjaan kampus yang terus sambung-menyambung plus segala urusan domestik yang harus dilakukan mandiri tanpa asisten. Tapi capek itu rasanya terbayar dengan ceria-cerita belajar yang disampaikan Damai dengan begitu antusias setiap harinya. Antusiasme yang menyalurkan energi positif juga pada saya.

Ingat cerita Totto Chan yang begitu bahagia saat akhirnya menemukan sekolah yang diinginkan? Ya, kurang lebih begitu gambarannya. Sekolah yang mampu merawat semangat untuk belajar di setiap waktunya, yang terus memupuk rasa ingin tahu akan beragam ilmu sekaligus berani menyuarakan isi pikiran, melalui rangkaian aktivitas pembelajaran yang menyenangkan.

Baca lebih lanjut