“Ibu Ingin Pulih Kan?” (Catatan Mendampinginya Berjuang Menuju Sembuh)

Boleh dibilang tahun ini adalah tahun yang penuh warna buat saya. Tahun yang meriah dengan segala kesempatan untuk merasakan pengalaman-pengalaman baru yang menyenangkan (akan saya tulis bagian menyenangkan ini dalam catatan penutup tahun), sekaligus di sisi lain merasakan berbagai tantangan hidup yang dengan tegas saya katakan “tidak mudah”. Salah satunya yang akan saya ceritakan di sini, tentang bagaimana mendampingi Ibu yang atas kehendak Allah harus teruji dengan kanker.

Ya, Ibu saya di luar dugaan dinyatakan mengalami kanker payudara, yang membawanya harus menjalani serangkaian treatment medis yang berat di usia lanjutnya ini, mengingat Ibu sudah lebih dari 70 tahun. Diawali dengan operasi, lalu disambung kemoterapi sebanyak 6 kali, dengan serentetan tahap pemeriksaan berulang diantara waktu-waktu treatment tersebut yang membuatnya harus bolak-balik pergi ke lab dan rumah sakit. Melelahkan sudah tentu buat Ibu, baik fisik maupun psikis. Hingga hari ini, kemo Ibu sudah berjalan 4 kali. So, two more to go!

Baca lebih lanjut

Resiliensi dan Kesehatan

Apa keterkaitan antara resiliensi dengan kesehatan? Hasil sejumlah studi, baik secara langsung maupun tidak telah berusaha menjelaskannya. Seperti diketahui, Undang-Undang Kesehatan No. 23 Tahun 1992 telah memberikan batasan bahwa kesehatan adalah keadaan sejahtera badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Batasan ini didasarkan pada cakupan terbaru kesehatan yang ditetapkan oleh WHO, yang menegaskan bahwa kesehatan seseorang tidak hanya diukur dari aspek fisik saja, namun mencakup pula aspek mental, sosial, dan bahkan produktivitasnya. Dengan demikian, penjelasan tentang keterkaitan antara resiliensi dengan kesehatan juga diberikan dengan mengikuti batasan tersebut, dan bukan hanya sehat dalam pengertian fisik. Baca lebih lanjut