Menumbuhkan Resiliensi Generasi Z (Materi Seminar Nasional Pascasarjana 2018)

Jumat, 23 Maret 2018, kali kedua dipercaya untuk kembali menjadi salah satu pemateri dalam Seminar Nasional Pascasarjana yang diselenggarakan oleh Program Doktor Ilmu Psikologi UGM. Bahagia dan bersyukur sudah tentu. Bisa kembali pulang ke ‘rumah’ yang memberi saya pondasi ilmu psikologi, berbagi sekaligus mengulang momen belajar bersama para guru yang sungguh saya teladani.

Baca lebih lanjut

Iklan

Tanya-Jawab Singkat Seputar Resiliensi

Selama beberapa waktu baik melalui blog ini maupun email, saya menerima cukup banyak pertanyaan dari rekan mahasiswa S1-S3 yang bermaksud memperjelas pemahaman tentang seluk-beluk resiliensi. Melihat adanya sejumlah pertanyaan yang berulang antar waktu, maka saya terpikir untuk merangkum beberapa rekaman tanya-jawab tersebut untuk membantu rekan-rekan lain yang mungkin masih membutuhkan informasinya.

Tanya: Bisakah kita meneliti resiliensi pada persoalan X / Y / Z?
Jawab: Mengacu penjelasan dari Cicchetti & Rogosh (1997), setidaknya ada dua komponen yang harus ada untuk memastikan bahwa kita bisa meneliti tentang resiliensi di dalamnya, yaitu: (1) Adanya stresor/adversity yang signifikan (hal-hal/kondisi yang mendatangkan kesulitan dan tekanan yang cukup berat), dan (2) Adanya adaptasi positif yang mampu dimunculkan individu terhadap stresor/adversity tersebut. Melengkapi pernyataan Cicchetti & Rogosch, beberapa ahli lain (Werner, 1995; Luthar, 2000; Rutter, 2005, dsb) telah memperjelas pula bahwa stres atau adversity yang ditimbulkan oleh berbagai situasi tidak menyenangkan harus dalam taraf yang berat, mencerminkan kesulitan yang substansial dan berisiko tinggi, atau berpotensi memunculkan krisis yang berkepanjangan. Jadi bukan persoalan-persoalan kecil/sehari-hari yang memang mengganggu tapi relatif mudah untuk diselesaikan.
Nah, alangkah baiknya sebelum memutuskan untuk mengidentifikasi lebih dahulu, apakah pada topik X/Y/Z yang akan diteliti kedua komponen yang disebutkan oleh Cicchetti & Rogosh memang ada di dalamnya?
Pastikan terlebih dahulu apakah sebenarnya yang menjadi stresor/adversity signifikan dalam persoalan tersebut, dan bahwa kesulitan yang ada di dalamnya memang kesulitan-kesulitan yang substansial, sangat berat, dan tidak mudah diatasi oleh individu.

Tanya: Apa beda mendasar antara resiliensi keluarga dengan resiliensi individu?
Jawab: Tentang resiliensi keluarga, sepanjang pemahaman saya letak beda mendasarnya dengan resiliensi individu adalah karena di dalam keluarga terdapat sejumlah individu yang saling berinteraksi antara satu dengan yang lain. Mereka adalah orang-orang dengan karakter beragam, dan tidak selalu seluruhnya tangguh menghadapi beban persoalan yang signifikan. Resiliensi keluarga ditentukan oleh interaksi antar individu tersebut. Bagaimana antar mereka yang berbeda karakter dapat menemukan satu koping dan adaptasi yang saling menguatkan. Karena itulah modelnya menjadi lebih rumit, tidak seperti resiliensi individu. Baca lebih lanjut

Resiliensi, Perspektif Life Span, dan Peluang dalam Penelitian (Materi dalam Seminar Nasional Pascasarjana)

Sabtu, 26 November 2016. Satu lagi proses belajar telah dilalui, kali ini sebagai narasumber dalam Seminar Nasional Pascasarjana yang diselenggarakan oleh Program Doktor Ilmu Psikologi Universitas Gadjah Mada. Ini pengalaman yang sangat berkesan bagi saya karena bisa ‘pulang’ ke rumah, melakukan sesuatu untuk fakultas yang sekian tahun lamanya menjadi tempat saya menimba ilmu semasa S1-S2 dulu.

img_7964 Baca lebih lanjut

Resiliensi Anak Berkebutuhan Khusus

Membaca judul ini mungkin agak terasa aneh. Sebagaimana pernah saya kutipkan dalam posting terdahulu, resiliensi adalah koping efektif dan adaptasi positif terhadap kesulitan dan tekanan (Lazarus, 1993). Individu yang resilien akan menunjukkan kemampuan dalam menghadapi kesulitan, ketangguhan dalam menghadapi stres ataupun bangkit dari trauma yang dialami (Masten dan Coatsworth, 1998). Lalu bisakah seorang anak berkebutuhan khusus yang memiliki hambatan dalam perkembangannya dibantu untuk mampu menumbuhkan resiliensi? Apakah mungkin itu dilakukan? Jawab saya, mengapa tidak? Sebelum membahasnya lebih lanjut, mari simak video berikut ini terlebih dahulu:

Sakti adalah salah satu dari sekian banyak anak berkebutuhan khusus yang menarik. Tak hanya terkait kemampuan seni dan ketrampilannya dalam berkomunikasi dengan orang lain, pemahaman dan penerimaannya terhadap ketunanetraan yang tersirat dari beberapa bagian penuturan adalah hal luar biasa yang mampu dimiliki oleh ABK seusianya. Ia mampu merespon dengan lugas bahwa ia memang tidak bisa melihat, dan menggambarkan bagaimana kondisi penglihatannya yang hanya bisa menangkap cahaya.

Penuturannya disampaikan dengan ceria, tanpa ekspresi yang menampakkan kesedihan maupun rendah diri. Apa yang tampak dalam diri Sakti merupakan contoh dari kapasitas anak berkebutuhan khusus untuk mampu merespon secara positif berbagai kondisi yang menimbulkan tekanan, baik yang terkait langsung dengan kekhususan yang dialami maupun hambatan sosial lain yang menyertai. Sakti menjadi bukti bahwa resiliensi dapat ditumbuhkan dalam diri anak-anak yang istimewa ini. Gambaran lain dari anak berkebutuhan khusus yang resilien juga dapat dibaca dalam tulisan 15 Stories of Resilience from Children with Disabilities. Baca lebih lanjut

Resiliency dan Resilience

Dalam sejumlah literatur, terdapat perbedaan titik penekanan dari beberapa ilmuwan dalam memandang resiliensi. Sejumlah peneliti mengasosiasikan resiliensi dengan faktor-faktor internal individu yang bersifat bawaan. Beberapa peneliti yang lain lebih memandang resiliensi sebagai suatu proses yang dapat dilalui oleh siapapun, yang tidak semata-mata ditentukan oleh faktor-faktor bawaan, melainkan juga berbagai faktor lain yang bersifat eksternal. Baca lebih lanjut