Resiliensi dan Kemampuan Bertahan

Pada banyak kesempatan saya sering bertemu dengan sejumlah orang yang menyamakan antara resilience dengan survive, yang kemudian di-Indonesia-kan dengan istilah bertahan atau mempertahankan hidup. Apakah memang benar begitu? Kata “bertahan” sendiri dalam hal ini masih perlu diklarifikasi lebih lanjut, karena dapat dipahami secara beragam. Bertahan yang bagaimana? Bertahan dengan cara apa?

Seseorang di tengah himpitan ekonomi dapat saja bertahan dengan jalan mencopet, atau melakukan berbagai upaya untuk mengatasi keadaan dengan merugikan orang lain. Seseorang di tengah rasa sakit yang diderita akan mungkin bertahan, menjalani pengobatan dengan terus mengeluh, bersedih dan meratapi takdir Tuhan. Seseorang yang kemudian menjadi penyandang disabilitas karena suatu sebab dapat saja bertahan hidup dengan meminta-minta, mengharap belas kasihan orang lain. Lalu apakah demikian dengan konsep resiliensi? Baca lebih lanjut

Iklan