Sekedar Percakapan Ringan (11): Nano-nano

Wawancara Tugas Sekolah

Damai: Siapa motivator Mamski untuk terus berusaha jadi dosen yang baik?
Saya: Hmmm…… pertama, Damai.
Damai: Hehehehe…… kenapa aku?
Saya: Mama selalu ingin memberi contoh yang baik ke kamu. Contoh tentang bagaimana bertanggung jawab terhadap tugas, menjadi pendidik yang baik, agar kelak kamu ndak perlu merasa malu dengan hal-hal yang mama lakukan. Salah satu tanggung jawab orangtua adalah juga memberi contoh berperilaku yang baik ke anak-anaknya. Dan itu jadi motivasi tersendiri.
Damai: Terus siapa lagi?
Saya: Kakung sama nenek. Mereka berdua sudah berusaha saaaaangat keras untuk mama bisa sekolah tinggi, lalu berhasil seperti sekarang. Padahal kakung hanya pensiunan pegawai kecil. Untuk membalasnya, mama ingin selalu membuat kakung sama nenek bangga, lega sebagai orangtua.
Damai: Terus, masih ada lagi?
Saya: Papski. Papski memberi banyak sekali contoh bahwa seorang guru yang baik itu tidak boleh berhenti belajar. Ia harus terus belajar agar semakin banyak ilmu yang bisa dibagikan ke mahasiswa, ke para muridnya. Papski juga selalu mengingatkan untuk berbagi dengan menulis. Agar semakin banyak orang yang bisa belajar dari pengalaman yang kita miliki, dari membaca tulisan-tulisan yang kita buat.
Damai: Menurut Mamski, Mamski sudah jadi dosen yang baik belum?
Saya: Hmmm…… masih terus berusaha ^.^

*terima kasih untuk sekolah yang memberikan penugasan ini…*

***** Baca lebih lanjut

Iklan

Sekedar Percakapan Ringan (10): Refleksi Tentang Proses Belajar

Selamat hari menerima rapor! 😀

Saya juga baru saja kembali dari mengambil rapor Damai. Dia ikut ke sekolah, karena tidak mau sendirian saja di rumah menunggu Mbak Su datang. Nah, di perjalanan pulang, kami mengobrolkan tentang bagaimana proses dan hasil belajarnya selama satu semester ini.

FullSizeRender (89)“Yuk, sambil jalan kita bahas isinya…”, celetuk saya melihat Damai mengamati isi rapornya. Baca lebih lanjut

Sekedar Percakapan Ringan (9): Belajar Inklusif

Suatu siang di Sforzando, beberapa anak sedang mempersiapkan diri untuk pentas esok harinya. Damai salah satu orang yang ikut dalam tim. Mayoritas anggota tim adalah siswa berkebutuhan khusus, karena sekolah musik ini memang menyediakan layanan pendidikan inklusif untuk para siswanya (baca juga: We’re Proud to Be Part of This Music School).

Siang itu kebetulan ada kejadian yang belum pernah kami temui sebelumnya. Ada salah satu siswa dengan spektrum autisme yang marah hingga meluap-luap, berulang kali berteriak keras sambil meronta cukup hebat dari dalam mobilnya. Situasinya cukup menarik perhatian orang-orang di sekitar, sampai akhirnya beberapa staf sekolah ikut membantu sang ibu yang kewalahan untuk menenangkan putranya tersebut.

Selama perjalanan pulang, kami pun membahasnya berdua.

Saya: Mama tadi melihat  Kak A sejak turun dari lantai atas (letak ruang latihan bersama) sudah tampak marah.

Damai: Iya mulai dari dalam kelas memang Mam. Kayaknya gara-gara marah sama Kak J. Padahal Kak J nggak ngapa-ngapain setahuku. Cuma diam aja waktu ditanya ini-itu sama Kak A. Kan Mamski tahu Kak A suka nanya macam-macam ke semua anak. Ke aku juga.

Saya: Kamu gimana waktu ditanya-tanya Kak A?

Damai: Ya biasa aja, yang ditanyakan aku jawab. Tapi memang Kak A ini nggak bisa diam, Mam. Bicaraaa…terus. Dan tiap kali pertanyaannya ke anak lain sudah mulai mengganggu, Kak G (siswa lain yang memiliki spektrum autism) yang selalu mengingatkan.

Saya: Ooh, Kak G ikut membantu? Baca lebih lanjut

Sekedar Percakapan yang Sangat-Sangat Ringan (8)

Damai: Mam, aku boleh keluar dari Olim? (Olim itu sebutan Damai untuk kelompok pembinaan hasil olimpiade internal untuk Mata Pelajaran Bahasa Indonesia yang diikutinya, di luar kegiatan rutin belajar di kelas).

Saya: Kenapakah? (Agak heran karena pertanyaan semacam ini baru pertama kalinya muncul)

Damai: Tugasnya banyak…

Saya: Sik, seperti apa saja tugasnya?

Damai: Ya bikin resensi, bikin cerita, bikin puisi, gitu-gitu…

Saya: Banyak sekali?

Damai: Lumayan Mam, padahal PR lain yang pelajaran sekolah kan juga lumayan banyaknya. Sebenarnya materi olim itu menurutku gampang, nggak sulitlah, tapi aku bosan…

Saya: Oalah… (Mulai menangkap situasinya. Saya bisa membayangkan, setiap hari dia sekolah sudah dari pagi sampai sore, masih ada PR di beberapa mata pelajaran, ditambah tugas-tugas olim yang harus dikerjakan juga dengan aktivitas berlatih yang mungkin monoton, mengingat ada kata kunci ‘bosan’). Tapi bukannya kamu bilang suka Bahasa Indonesia, trus suka kegiatan menulis? (Saya mencoba mengklarifikasi…) Baca lebih lanjut

Sekedar Percakapan yang Sangat-Sangat Ringan (3)

“Cantik”

Damai: Mama cantik kalau senyum gitu!

Saya: Hmm… mulaiiiii…

Damai: Tapi kalau nggak lagi cemberut lho yaaa… Kalau pas marah-marah gitu mama nggak cantik!

Saya: Sama tu kayak kamu. Kalau lagi senyum, nggak ngomel-ngomel ya keliatan cantik Mai. Tapi kalau sudah mulai “wek-wek-wek” gitu…, huuuu…

Damai: Hehehehe… 😀

*** Baca lebih lanjut

Sekedar Percakapan yang Sangat-Sangat Ringan (2)

* Pelajaran Waktu Kecil *

Damai: Mam, pelangi itu asalnya dari apa ya?

Saya: Dari…………. Emm…………. (mikir, yang bener itu kata-katanya dari ‘uap air’ atau ‘butir-butir air’ yang terkena matahari?)

Damai: Dari apa Mam?

Saya: Dari itu………..

Damai: Mam, Mama ini sudah besar. Yang kutanya kan pelajaran jaman dulu…. Jadi jangan dilupain pelajaran-pelajaran pas Mama kecil itu…..

Saya (gengsi, nggak mau kalah): Yeeee…… kamu juga, sama pelajaran sendiri lupa. Padahal kan masih anak-anak. Harusnya masih ingat…..

Damai: Lho, aku ini memang belum diajari Mam! Makanya tugasku nanya ke orang yang lebih besar…. Nah, Mama yang kutanyai jangan lupa sama yang diajari gurunya dulu…..

Iiiiiiihhh…… 😀 Baca lebih lanjut

Sekedar Percakapan yang Sangat-Sangat Ringan (1)

* Waktu Main Masak-Masakan *

Damai: Ini Mam, masakannya sudah jadi.

Saya: Waaah, masakan apa ini?

Damai: Ini mi goreng yang agak pedas, sama es samudra biru.

Saya: Wihihihi….ada es samudra biru! Bahannya apa ya esnya?

Damai: Air es, dikasih garam sedikit, dikasih pewarna minuman yang biru, jadi rasanya kayak air laut begitu…

Saya: Oh…ok, dicoba ya….

Damai: Iya, silakan…

Saya: Sudah selesai. Lumayan enak… Jadi berapa harga semuanya?

Damai: Boleh minta dibayar dengan pelukan?

Saya: Boleh… Mau berapa kali?

Damai: Satu aja dulu, soalnya ini baru masakan pertama…

Dan…. berpelukaaan…. 😀 Baca lebih lanjut