Beberapa Kekeliruan yang Kerap Terjadi dalam Berkomunikasi dengan Anak

Komunikasi adalah jembatan utama dalam rangkaian aktivitas pengasuhan. Komunikasi berjalan baik, pengasuhan akan dapat dioptimalkan. Sebaliknya, jika komunikasi antara orangtua dengan anak bermasalah, maka jangan terlalu berharap pengasuhan yang dilakukan akan berjalan dengan efektif.

Nah, tidak jarang terkait ini saya menerima pertanyaan dari orangtua yang merasa sudah mengupayakan untuk berkomunikasi semaksimal mungkin dengan anak, namun hasilnya tidak tampak seperti yang diharapkan. Mengapa demikian?

Banyak dari kita menyangka bahwa berkomunikasi dalam proses pengasuhan hanya tentang bagaimana berbicara sesering mungkin dengan anak, padahal sebenarnya tidak. Jarang atau sering bukan ukuran yang utama. Yang jauh lebih menentukan daripada itu adalah bagaimana proses komunikasi tersebut dilakukan.

Baca lebih lanjut

Refleksi Ibu Belajar (2): Membangun Dialog yang Konstruktif

Damai dan kemampuan belajarnya terus berkembang. Begitu banyak perubahan positif yang terasa dari saat terakhir saya menuliskan refleksi tentang bagaimana dinamika menyesuaikan diri dalam proses mendampinginya bertumbuh di masa remaja ini.

Oya, sekedar memberikan gambaran tentang perkembangan yang saya maksud, silakan (jika memiliki cukup waktu) untuk membaca pula beberapa diantara sekian banyak tulisan Damai dalam blog-nya berikut (klik saja tautannya):

Tentang refleksi terhadap situasi sekitar (misal di tulisan A Reflection of Bhinneka Tunggal Ika); Tentang refleksi belajar sekaligus capaiannya di materi akademik (misal dalam tulisan The World Scholars Cup Tournament of Champions); Tentang telaahnya terhadap buku yang ia baca (seperti dalam tulisan Book Review: The Alchemist – Paulo Coelho); juga Tentang karya musiknya yang sederhana namun bermakna (seperti dalam A Short Note About My New Song: Enigma).

Baca lebih lanjut

Refleksi Ibu Belajar (1): Menyimak, Mencermati, Menyesuaikan

Tulisan ini menyambung kembali cerita tentang warna-warni mendampingi proses belajar Damai yang sudah masuk di usia remaja. Ada begitu banyak penyesuaian dilakukan, mengingat tahapan perkembangannya yang sudah beralih dari masa anak. Dan dalam upaya sejauh ini, bersyukur sekali karena kami sangat terbantu oleh program-program sekolah yang turut mengedukasi dan memotivasi orangtua, agar seiring sejalan dalam menumbuhkan setiap potensi baik yang dimiliki anak.

Seperti pernah saya tuliskan di “Sekolah Baru, Value, dan Proses Belajar yang Seru” (sila klik jika ingin membacanya lebih dulu), Damai belajar di Sekolah Cikal Surabaya. Sebuah sekolah yang cukup jauh dari rumah, namun kami pilih dengan sepenuh kesadaran untuk semaksimal mungkin memfasilitasi perkembangan kemampuan Damai, kecintaannya dalam belajar, juga pertumbuhan pribadinya.

Sejak awal ia masuk menjadi siswa Year 7, saya mengikuti sekian banyak kegiatan dilakukan oleh sekolah untuk mengoptimalkan keterlibatan orangtua dalam pendidikan anak. Mulai dari pertemuan seluruh orangtua dan pihak sekolah di awal tahun ajaran; Workshop pengenalan kompetensi 5 bintang yang menjadi fokus pengembangan dan diharapkan dapat dikuasai siswa selama proses belajarnya; Workshop tentang model asesmen yang dilakukan oleh sekolah dalam mengevaluasi capaian belajar siswa; serta Berbagai kegiatan lain yang melibatkan orangtua sebagai bagian dari komunitas sekolah, yang nyaris tak terhitung jumlahnya. Pendek kata, di Sekolah Cikal iniΒ yang berproses belajar bukan hanya anak, tapi juga orangtuanya. Dan saya adalah bagian dari orangtua itu.

Baca lebih lanjut

Lagi, Percakapan-percakapan Ringan Pulang Sekolah Bersama Damai

Suatu sore yang sudah agak lama..

πŸ‘©πŸ»β€πŸŒΎ: Kenapa, Mam? Agak gimana gitu.
πŸ§•: Campur aduk.
πŸ‘©πŸ»β€πŸŒΎ: Kenapa?
πŸ§•: Ok, mama yang duluan cerita aja ya, habis itu kamu. Jadi, hari ini rasanya nano-nano. Seneng banget dengan kegiatan inklusinya Unair yang mulai jalan dan mahasiswa antusias. Senang lihat banyak orang makin respek dan peduli dengan difabel. Tapi habis itu balik ke fakultas harus ambil keputusan dilematis yang lumayan bikin sesak di ujian akhir salah satu mahasiswa.
πŸ‘©πŸ»β€πŸŒΎ: Nggak lulus?
πŸ§•: Iya. Dan itu bimbingan mama. Sedihnya bukan karena menyesali atau nggak terima dia nggak lulus. Tapi menyesalkan kenapa dia nggak komit dengan belajarnya, menggampangkan dan potong kompas sana-sini. Tapi ya sudahlah, itu pilihannya. Mungkin dengan gagal studi begini dia akan belajar untuk lebih baik ke depannya.
πŸ‘©πŸ»β€πŸŒΎ: Nggak dilolosin aja Mam?
πŸ§•: Kenapa?
πŸ‘©πŸ»β€πŸŒΎ: Kasihan
πŸ§•: Semata-mata itu?
πŸ‘©πŸ»β€πŸŒΎ: Iya
πŸ§•: Apa menurutmu itu mendidik? Apalagi sudah diingatkan berulang tetap saja tidak berubah sikap.
πŸ‘©πŸ»β€πŸŒΎ: Ya nggak sih. Tapi umumnya kan orang lebih mempertimbangkan kasihannya..
πŸ§•: Kira-kira apa mama model begitu?
πŸ‘©πŸ»β€πŸŒΎ: Nggak sih..
πŸ§•: Mama lebih suka ngajak orang bertanggung-jawab atas pilihan-pilihan sikap dan perilakunya, meski konsekuensinya ternyata tidak menyenangkan.
πŸ‘©πŸ»β€πŸŒΎ: Hehehe.. I know you, Mam.
πŸ§•: Dah, sekarang gantian. Gimana belajarmu hari ini? Apa yang menarik?
πŸ‘©πŸ»β€πŸŒΎ: Well.. banyak yang menarik. Tapi aku mau mulai cerita dari English, yang belajarnya dibarengkan dengan Visual Arts. Jadi untuk projeknya kami diminta membuat Haiku dulu. Trus kalau sudah jadi, bikin art work untuk memvisualisasikan haiku-nya.
πŸ§•: Ok, jadi 2 mapel nyambung ya?
πŸ‘©πŸ»β€πŸŒΎ: Iya. Nah, untuk mengerjakan project ini kami diberi kesempatan 2 kali konsultasi dengan kedua guru mapel untuk bisa dapat feedback, entah di haikunya atau di artworknya. Ini tadi aku baru bikin appointment untuk konsultasi yang kedua.
πŸ§•: Pekerjaanmu sudah sampai mana?
πŸ‘©πŸ»β€πŸŒΎ: Haiku sudah selesai, art worknya tinggal sedikit lagi. Moga-moga nanti pas konsul kedua nggak banyak dapat koreksi, jadi final product-ku bisa kukumpulkan sesuai deadline yang kubuat.
πŸ§•: Kok deadline-nya kamu yang buat?
πŸ‘©πŸ»β€πŸŒΎ: Lhoiya, memang gitu. Jadi guru kan memberi waktu, project harus sudah selesai sebelum term ini berakhir. Selambatnya sekitar Desember-lah. Nah tapi tiap anak itu boleh membuat target waktunya sendiri-sendiri. Kayak aku, kutarget final product-ku ini bisa selesai 14 November.
πŸ§•: Wah… ini keren lagi. Murid bisa membuat karya yang difasilitasi konsultasi. Seperti belajarnya mahasiswa kalau lagi ngerjakan project tertentu. Trus target waktu untuk penyelesaian tugas akhir bisa ditetapkan sendiri itu seru 😍

… dst disambung cerita proses belajar yang berkesan dari mapel lain …

*****

Baca lebih lanjut

Percakapan Ringan dengan Anak Kelas 1 SMP

Lama tidak menuliskan percakapan ringan dengan Damai. Berikut saya catatkan juga di sini, dua yang sudah tertuliskan di dinding facebook saya, pembicaraan antara emak bersama anak perempuannya yang sekarang sudah SMP.

Yang Tak Biasa di Pelajaran Agama

Suatu sore sepulang sekolah..
πŸ‘©πŸ»β€πŸŒΎ: Today I have a new experience yang rasanya nggak di semua sekolah anak-anak bisa merasakannya, Mam.
πŸ§•: What’s that?
πŸ‘©πŸ»β€πŸŒΎ: Di pelajaran agama. Jadi kan kalau di kelasku itu murid-muridnya dari 4 agama. Islam, Kristen, Katolik, sama Budha. Biasanya kalau jam agama, kami kan misah. Nah, hari ini tadi kami jadi satu!
πŸ§•: Wah, menarik nih..
πŸ‘©πŸ»β€πŸŒΎ: Banget! We learned something together..
πŸ§•: What did teachers ask students to do?
πŸ‘©πŸ»β€πŸŒΎ: We were asked to make several groups. Each group must be consisted of 3 or 4 students from different religion. And then teacher gave us a news about specific case. Do you still remember about Ibu Meiliana case?
πŸ§•: Masih dong..
πŸ‘©πŸ»β€πŸŒΎ: Nah, beritanya tentang itu. Masing-masing kelompok diminta untuk mendiskusikannya, base on different perspectives from each religion.
πŸ§•: That’s cool!
πŸ‘©πŸ»β€πŸŒΎ: Iya, aku juga ngerasa begitu. Kami diminta membahas, menganalisis kenapa kasus itu sampai terjadi, gimana pendapat kami, how to prevent agar tidak sampai terjadi, bagaimana seharusnya hidup di tengah masyarakat yang berbeda-beda,… Gitu, Mam.
πŸ§•: Keren. So, what did you learn from this activity?
πŸ‘©πŸ»β€πŸŒΎ: Well, actually it hasn’t finished. Masih akan dilanjutkan soalnya kami akan mempresentasikannya minggu depan. Tapi dari yang tadi itu kerasa lebih ngerti perspektif yang beragam tentang satu hal, tapi sekaligus tahu bahwa ada similarities in some values from different religions.
πŸ§•: Senang dengarnya, Mai. Jadi bisa lebih menghargai satu sama lain. I think it is good for students to participate in this kind of activity..
Baca lebih lanjut

Menyikapi Kegagalan

Lama tidak memperbarui isi blog. Sudah hampir dua bulan sejak tulisan yang terakhir. Kenapa? Biasalah… riweh dengan berbagai tanggungan di kampus. Dan karena sudah lama tidak bercerita di sini, agar mudah untuk mengawali lagi, saya akan mulai dari menuliskan percakapan ringan dengan Damai di sepanjang perjalanan pulang dari sekolahnya kemarin siang.

Hmmm…, percakapan lagi? Iyes, karena itu memang jurus andalan saya dalam mendampingi Damai bertumbuh dari waktu ke waktu. Saya meyakini bahwa berbagai percakapan positif setiap hari adalah jalan bagi orangtua untuk dapat menyampaikan pesan dan umpan balik dengan cara yang mudah diterima oleh anak. Sekian banyak value penting dalam hidup akan dapat dipahami dan dihayatiΒ dengan baikΒ apabila disampaikan dengan komunikasi yang menyenangkan. Value-value tersebut akanΒ menjadi bekal dan panduan berperilakuΒ bagi anak dalam mengembangkan diri hingga kelak menjadi pribadi yang memiliki karakter positif.

Baca lebih lanjut

Pilih 2 Berita

Cerita ini masih seputar obrolan bersama Damai. Lagi? Iya, karena mengobrol adalah aktivitas super penting yang menurut saya perlu untuk selalu diupayakan bersama anak setiap saat.

Pernah saya menuliskan dalam catatan tentang Appreciative Parenting bahwa komunikasi adalah kunci dalam keberhasilan interaksi sosial, termasuk di dalamnya interaksi antara orangtua dengan anak. Komunikasi melalui berbagai percakapan yang positif akan menjadi jalan bagi orangtuaΒ untuk dapat menyampaikan berbagai pesan dan umpan balik dengan cara-cara yang mudah diterima oleh anak.

Pesan baik dengan beragam value di dalamnya, ketika disampaikan dalam percakapan yang baik akan dipersepsikan secara baik pula oleh anak. Hasilnya, anak akan lebih mudah menerima, sehingga muncul kesadaran dalam diri untuk berperilaku dan mengembangkan kemampuan positif sebagaimana diharapkan kepadanya.

Nah, percakapan yang akan saya tuliskan ini misi khususnya adalah membantu Damai semakin peka dengan kejadian di sekitar dan lebih telaten untuk membaca koran. Karena sudah ada firasat akan panjang, maka dalam prosesnya saya sempat merekam obrolan kami ini di HP, sehingga tidak perlu bersusah payah mengingat ketika akan menuliskannya lagi πŸ˜€

Saya: Mem, yuk kita ngobrol-ngobrolkan berita yuk.. Koran 2 hari ini kayaknya belum kesentuh tuh. Kasihan dicuekin.

Damai: Iya, hehehe…

Saya: Gini, kamu pegang 1, mama 1. Kita baca dulu berita-beritanya, trus masing-masing dari kita pilih 2 berita: satu yang isinya positif, satu lagi yang membuat kita prihatin.

Damai: Oke…

Lalu untuk beberapa saat kami pun sibuk mencermati berita dari lembaran-lembaran kertas yang kami pegang.

Baca lebih lanjut