Refleksi Ibu Belajar (1): Menyimak, Mencermati, Menyesuaikan

Tulisan ini menyambung kembali cerita tentang warna-warni mendampingi proses belajar Damai yang sudah masuk di usia remaja. Ada begitu banyak penyesuaian dilakukan, mengingat tahapan perkembangannya yang sudah beralih dari masa anak. Dan dalam upaya sejauh ini, bersyukur sekali karena kami sangat terbantu oleh program-program sekolah yang turut mengedukasi dan memotivasi orangtua, agar seiring sejalan dalam menumbuhkan setiap potensi baik yang dimiliki anak.

Seperti pernah saya tuliskan di “Sekolah Baru, Value, dan Proses Belajar yang Seru” (sila klik jika ingin membacanya lebih dulu), Damai belajar di Sekolah Cikal Surabaya. Sebuah sekolah yang cukup jauh dari rumah, namun kami pilih dengan sepenuh kesadaran untuk semaksimal mungkin memfasilitasi perkembangan kemampuan Damai, kecintaannya dalam belajar, juga pertumbuhan pribadinya.

Sejak awal ia masuk menjadi siswa Year 7, saya mengikuti sekian banyak kegiatan dilakukan oleh sekolah untuk mengoptimalkan keterlibatan orangtua dalam pendidikan anak. Mulai dari pertemuan seluruh orangtua dan pihak sekolah di awal tahun ajaran; Workshop pengenalan kompetensi 5 bintang yang menjadi fokus pengembangan dan diharapkan dapat dikuasai siswa selama proses belajarnya; Workshop tentang model asesmen yang dilakukan oleh sekolah dalam mengevaluasi capaian belajar siswa; serta Berbagai kegiatan lain yang melibatkan orangtua sebagai bagian dari komunitas sekolah, yang nyaris tak terhitung jumlahnya. Pendek kata, di Sekolah Cikal iniΒ yang berproses belajar bukan hanya anak, tapi juga orangtuanya. Dan saya adalah bagian dari orangtua itu.

Baca lebih lanjut

Iklan

Lagi, Percakapan-percakapan Ringan Pulang Sekolah Bersama Damai

Suatu sore yang sudah agak lama..

πŸ‘©πŸ»β€πŸŒΎ: Kenapa, Mam? Agak gimana gitu.
πŸ§•: Campur aduk.
πŸ‘©πŸ»β€πŸŒΎ: Kenapa?
πŸ§•: Ok, mama yang duluan cerita aja ya, habis itu kamu. Jadi, hari ini rasanya nano-nano. Seneng banget dengan kegiatan inklusinya Unair yang mulai jalan dan mahasiswa antusias. Senang lihat banyak orang makin respek dan peduli dengan difabel. Tapi habis itu balik ke fakultas harus ambil keputusan dilematis yang lumayan bikin sesak di ujian akhir salah satu mahasiswa.
πŸ‘©πŸ»β€πŸŒΎ: Nggak lulus?
πŸ§•: Iya. Dan itu bimbingan mama. Sedihnya bukan karena menyesali atau nggak terima dia nggak lulus. Tapi menyesalkan kenapa dia nggak komit dengan belajarnya, menggampangkan dan potong kompas sana-sini. Tapi ya sudahlah, itu pilihannya. Mungkin dengan gagal studi begini dia akan belajar untuk lebih baik ke depannya.
πŸ‘©πŸ»β€πŸŒΎ: Nggak dilolosin aja Mam?
πŸ§•: Kenapa?
πŸ‘©πŸ»β€πŸŒΎ: Kasihan
πŸ§•: Semata-mata itu?
πŸ‘©πŸ»β€πŸŒΎ: Iya
πŸ§•: Apa menurutmu itu mendidik? Apalagi sudah diingatkan berulang tetap saja tidak berubah sikap.
πŸ‘©πŸ»β€πŸŒΎ: Ya nggak sih. Tapi umumnya kan orang lebih mempertimbangkan kasihannya..
πŸ§•: Kira-kira apa mama model begitu?
πŸ‘©πŸ»β€πŸŒΎ: Nggak sih..
πŸ§•: Mama lebih suka ngajak orang bertanggung-jawab atas pilihan-pilihan sikap dan perilakunya, meski konsekuensinya ternyata tidak menyenangkan.
πŸ‘©πŸ»β€πŸŒΎ: Hehehe.. I know you, Mam.
πŸ§•: Dah, sekarang gantian. Gimana belajarmu hari ini? Apa yang menarik?
πŸ‘©πŸ»β€πŸŒΎ: Well.. banyak yang menarik. Tapi aku mau mulai cerita dari English, yang belajarnya dibarengkan dengan Visual Arts. Jadi untuk projeknya kami diminta membuat Haiku dulu. Trus kalau sudah jadi, bikin art work untuk memvisualisasikan haiku-nya.
πŸ§•: Ok, jadi 2 mapel nyambung ya?
πŸ‘©πŸ»β€πŸŒΎ: Iya. Nah, untuk mengerjakan project ini kami diberi kesempatan 2 kali konsultasi dengan kedua guru mapel untuk bisa dapat feedback, entah di haikunya atau di artworknya. Ini tadi aku baru bikin appointment untuk konsultasi yang kedua.
πŸ§•: Pekerjaanmu sudah sampai mana?
πŸ‘©πŸ»β€πŸŒΎ: Haiku sudah selesai, art worknya tinggal sedikit lagi. Moga-moga nanti pas konsul kedua nggak banyak dapat koreksi, jadi final product-ku bisa kukumpulkan sesuai deadline yang kubuat.
πŸ§•: Kok deadline-nya kamu yang buat?
πŸ‘©πŸ»β€πŸŒΎ: Lhoiya, memang gitu. Jadi guru kan memberi waktu, project harus sudah selesai sebelum term ini berakhir. Selambatnya sekitar Desember-lah. Nah tapi tiap anak itu boleh membuat target waktunya sendiri-sendiri. Kayak aku, kutarget final product-ku ini bisa selesai 14 November.
πŸ§•: Wah… ini keren lagi. Murid bisa membuat karya yang difasilitasi konsultasi. Seperti belajarnya mahasiswa kalau lagi ngerjakan project tertentu. Trus target waktu untuk penyelesaian tugas akhir bisa ditetapkan sendiri itu seru 😍

… dst disambung cerita proses belajar yang berkesan dari mapel lain …

*****

Baca lebih lanjut

Percakapan Ringan dengan Anak Kelas 1 SMP

Lama tidak menuliskan percakapan ringan dengan Damai. Berikut saya catatkan juga di sini, dua yang sudah tertuliskan di dinding facebook saya, pembicaraan antara emak bersama anak perempuannya yang sekarang sudah SMP.

Yang Tak Biasa di Pelajaran Agama

Suatu sore sepulang sekolah..
πŸ‘©πŸ»β€πŸŒΎ: Today I have a new experience yang rasanya nggak di semua sekolah anak-anak bisa merasakannya, Mam.
πŸ§•: What’s that?
πŸ‘©πŸ»β€πŸŒΎ: Di pelajaran agama. Jadi kan kalau di kelasku itu murid-muridnya dari 4 agama. Islam, Kristen, Katolik, sama Budha. Biasanya kalau jam agama, kami kan misah. Nah, hari ini tadi kami jadi satu!
πŸ§•: Wah, menarik nih..
πŸ‘©πŸ»β€πŸŒΎ: Banget! We learned something together..
πŸ§•: What did teachers ask students to do?
πŸ‘©πŸ»β€πŸŒΎ: We were asked to make several groups. Each group must be consisted of 3 or 4 students from different religion. And then teacher gave us a news about specific case. Do you still remember about Ibu Meiliana case?
πŸ§•: Masih dong..
πŸ‘©πŸ»β€πŸŒΎ: Nah, beritanya tentang itu. Masing-masing kelompok diminta untuk mendiskusikannya, base on different perspectives from each religion.
πŸ§•: That’s cool!
πŸ‘©πŸ»β€πŸŒΎ: Iya, aku juga ngerasa begitu. Kami diminta membahas, menganalisis kenapa kasus itu sampai terjadi, gimana pendapat kami, how to prevent agar tidak sampai terjadi, bagaimana seharusnya hidup di tengah masyarakat yang berbeda-beda,… Gitu, Mam.
πŸ§•: Keren. So, what did you learn from this activity?
πŸ‘©πŸ»β€πŸŒΎ: Well, actually it hasn’t finished. Masih akan dilanjutkan soalnya kami akan mempresentasikannya minggu depan. Tapi dari yang tadi itu kerasa lebih ngerti perspektif yang beragam tentang satu hal, tapi sekaligus tahu bahwa ada similarities in some values from different religions.
πŸ§•: Senang dengarnya, Mai. Jadi bisa lebih menghargai satu sama lain. I think it is good for students to participate in this kind of activity..
Baca lebih lanjut

Menyikapi Kegagalan

Lama tidak memperbarui isi blog. Sudah hampir dua bulan sejak tulisan yang terakhir. Kenapa? Biasalah… riweh dengan berbagai tanggungan di kampus. Dan karena sudah lama tidak bercerita di sini, agar mudah untuk mengawali lagi, saya akan mulai dari menuliskan percakapan ringan dengan Damai di sepanjang perjalanan pulang dari sekolahnya kemarin siang.

Hmmm…, percakapan lagi? Iyes, karena itu memang jurus andalan saya dalam mendampingi Damai bertumbuh dari waktu ke waktu. Saya meyakini bahwa berbagai percakapan positif setiap hari adalah jalan bagi orangtua untuk dapat menyampaikan pesan dan umpan balik dengan cara yang mudah diterima oleh anak. Sekian banyak value penting dalam hidup akan dapat dipahami dan dihayatiΒ dengan baikΒ apabila disampaikan dengan komunikasi yang menyenangkan. Value-value tersebut akanΒ menjadi bekal dan panduan berperilakuΒ bagi anak dalam mengembangkan diri hingga kelak menjadi pribadi yang memiliki karakter positif.

Baca lebih lanjut

Sekedar Percakapan Ringan (14)

Obrolan di suatu petang sambil makan samyang sepiring berdua.

Saya: Apa yang kadang membuatmu sebel sama Mama?

Damai: Hehehe… apa ya… (lama mikir)… Satu, Mamski suka lama kalau dandan. Tapi kebanyakan ibu-ibu memang gitu sih, dan kayaknya ada banyak yang lebih parah dari Mamski. Aku suka krik-krik kalau harus nungguin Mamski ribet.

Saya: 😁…ma’aaap… Trus apa lagi?

Damai: Kedua, Mamski kadang terlalu serius. Nggak selalu sih, cuma kalau lagi kambuh, aku sering mikir “please deh Mam, ini kan cuma bercanda”…

Saya: πŸ˜… hihihi… maafkan ya… itu pasti pas mama lagi kurang aqua πŸ™ˆ. Trus-trus?

Damai: Ketiga, kalau lagi ngobrol gitu, Mamski suka nglempar pertanyaan-pertanyaan susah yang bikin aku harus berpikir keras menjawabnya.

Saya: Waduh πŸ™ŠβœŒοΈοΈ

Damai: Tapi tenang Mam, nggak papa sih, that’s ok kok. Aku tahu maksudnya Mamski, biar aku lebih paham banyak hal. Dan sebenarnya pertanyaan-pertanyaan Mamski masih lebih mudah daripada kalau papski yang nanya-nanya. Kalau papski sudah nanya-nanya, aku suka pusing-pusing gimanaaa gitu.

Saya: πŸ˜„ Syukurlah… urusan sama papski diselesaikan sendiri ya πŸ˜…. Masih ada lagi yang nyebelin?

Damai: (jeda mikir…), kayaknya itu sih…

Saya: Nah, kalau yang bikin kamu suka apa?

Damai: Satu, Mamski nggak suka sinetron. Itu aku syukuri banget. Ya meskipun Mamski suka nonton drama Korea, tapi menurutku itu asli nggak apa-apa dibandingkan sinetron yang wis pokoknya nggak banget deh Mam.

Saya: Asiiik…😍 makasih ya Mem…, kamu memang pengertian… (modus) 😁

Damai: 😝 Kedua, kalau kita lagi jalan di mall atau kemana gitu, Mamski berhasil membuatku berpikir dua kali untuk minta beli-beli. Jadinya bisa lebih hemat, and that’s good! Tabunganku jadi lumayan. Ya kecuali kalau untuk beli buku. Trus ketiga, ini yang menurutku paling penting, Mamski mau mendengar dan menghargai pilihan-pilihanku. Itu kayaknya nggak semua ibu-ibu mau. Makasih banget ya Mam…

Saya: ☺️☺️☺️

Damai: Kalau aku, apa yang nyebelin menurut Mamski?

Saya: Nggak ada. Kamu selalu bikin mama bersyukur…

Sekedar Percakapan Ringan (13)

Dalam tulisan terdahulu, beberapa kali saya membahas bahwa menumbuhkan berbagai karakter positif anak merupakan bagian dari tanggung jawab pengasuhan yang harus dilakukan oleh orangtua. Sebab kemampuan yang perlu ditumbuhkan dalam diri anak tidak hanya sebatas wilayah akademik saja, namun juga tentang bagaimana mereka mampu berpikir kritis, memiliki kepekaan emosi, keterampilan sosial, dan sebagainya. Terkait ini, sebagaimana pernah saya ceritakan, saya pun berusaha terus mengingatkan diri sendiri untuk tidak luput mengupayakannya pada Damai. Setiap saat, melalui berbagai obrolan kami sehari-hari.

Berikut adalah catatan dan obrolan ringan yang sempat saya tulis di akun media sosial saya beberapa hari terakhir, menyusul rangkaian cerita percakapan ringan sebelumnya. Saya bagikan jugaΒ di sini siapa tahu cerita di dalamnya akan bisa memberi manfaat untuk teman-teman yang lain.

Catatan 10 Mei 2017

Kapan hari membahas dengan Damai, hal-hal apa saja yang digemari anak-anak saat ini. Salah satunya ternyata adalah tren membuat video musik dari lagu-lagu yang sedang hits.
Bertanyalah saya: Gitu itu anak-anak pada tahu nggak, apa isi lagu yang sedang divideokan, sampai ada yang gaya lipsingnya ekstrim ‘songong’ ala-ala gaya artis R&B jaman sekarang?
Damai: Nggak selalu tahu sih kayaknya…
Saya: Nah, kalau kamu sendiri, dari yang kamu tahu gimana?
Damai: Hmm… nggak selalu bagus memang, Mam.
Saya: Nggak bagusnya gimana?
Damai: Yaaa… gitu deh.
Saya: Ada yang isinya sangat orang dewasa ya?
Damai: Hooh… dan lain-lain
Saya: Pernah nggak terpikir, ketika banyak anak-anak yang membuat videonya, lalu upload di instagram misalnya, apa yang akan terjadi pada anak lain yang melihat postingan itu?
Damai: Ya kemungkinan ada yang nirukan, dan semacam tertarik pengen lebih tahu gitu.
Saya: Lalu, apa yang akan mereka lakukan?
Damai: Mencari-cari lagu itu mungkin..
Saya: Dimana?
Damai: Ya yang paling gampang di internet.
Saya: Nah, waktu mereka mencari-cari itu mungkin nggak mereka trus entah sengaja atau enggak akhirnya menemukan video klip yang asli, yang adegannya sama sekali nggak sesuai untuk dilihat anak-anak?
Damai: Ya iya.
Saya: Dan permasalahannya bisa jadi nggak hanya sampai di situ. Kalau mereka lalu keterusan mengakses video-video yang tidak baik, atau bahkan menirukan perilaku yang tidak oke, masalah pun bertambah. Efeknya berantai.
Damai: Iya sih. Berarti kalau melakukan sesuatu itu memang sebaiknya dipikirkan dulu ya kemungkinan efeknya.
Saya: Betul. Mama aja juga sering mikir dulu kalau mau melakukan apapun, meski cuma sekedar share drama korea tertentu di medsos (duh…contohnya πŸ˜…), mau nulis sesuatu, atau yang lain-lain.
Damai: Termasuk kalau nulis status-status gitu ya?
Saya: Iya, apapun. Kamu suka ngamati gimana status-statusnya orang di line, twitter atau di mana gitu?
Damai: Iya, dan ada yang nggak banget Mam.
Saya: Yang kayak apa itu?
Damai: Yang ngamuk-ngamuklah, kata-katanya kasar, ngomel-ngomel, pokoknya posting yang nggak enak dibaca atau dilihat.
Saya: Baguslah kamu bisa menilai mana yang ok, mana yang nggak ok. Apapun yang kita lakukan, usahakan jangan sampai berefek tidak baik ke orang lain. Karena sekecil apapun perilaku akan bisa memberi dampak ke lingkungan sekitar.

Baca lebih lanjut

Sekedar Percakapan Ringan (12): Gambaran Dialog Apresiatif

Menyambung tulisan sebelumnya tentang pentingnya membangun percakapan yang memberdayakan dalam interaksi sehari-hari bersama anak, berikut adalah gambaran percakapan ringan yang saya lakukan bersama Damai. Percakapan semacam ini terjadi setiap saat: Kadang sambil makan, sambil Damai menunggu jemputan sekolah, sepulang saya kerja, menjelang tidur, dsb. Sebab sesempit apapun waktu harus bisa dimanfaatkan dengan baik untuk membiasakan komunikasi yang sehat antara orangtua dengan anak.

Obrolan Pagi Sambil Menunggu Jemputan Datang

D: Mam, di internet itu beneran ada banyak web buat bantu belajar. Aku kemarin pas nggak paham sesuatu di Matematika aku coba cari cara pengerjaannya di web. Dan ketemu. Sekarang aku sudah bisa, sudah kucoba di soal yang lain.
M: Bagus itu! Bisa memanfaatkan internet dengan baik, dan sikap yang bagus juga karena punya inisiatif untuk mencari informasi yang membantu belajarmu. (I: Appreciating)
D: Yang aku akses kemarin itu ada semacam forum diskusinya juga. Jadi misal ada yang tanya sesuatu, bukan adminnya aja yang jawab, tapi ada orang-orang lain juga yang ikut membantu. Ada yang nunjukkan cara, ada yang nunjukkan soal-soal model lain yang serupa. Macem-macem gitu.
M: Sehingga kamu bisa belajar banyak ya. Makanya mama selalu bilang, kalau kita aktif belajar mandiri dengan sarana yang ada, nggak perlu les pelajaran ini-itu. Internet itu gudang informasi. Sifatnya sama saja dengan hal-hal lain di sekitar kita. Bisa berdampak baik maupun buruk. Tergantung kita menggunakannya untuk apa. Kalau banyak kita gunakan sebagai sarana belajar, ya manfaatnya bagus. Tapi kalau digunakan untuk hal-hal yang aneh-aneh, ya jelek dampaknya (II:Β Imagining). Sama aja dengan teman juga. Ada yang memberi pengaruh baik, ada yang memberi pengaruh kurang baik. Pinter-pinternya kita buat nyaring, mana yang mau diikuti. Buku bacaan juga gitu kan. Ada yang bagus, ada yang jelek. Balik ke kita lagi, mau pilih yang mana.
D: Iya memang. Trus, di web belajar itu macem-macem yang diinfokan, Mam. Orang-orang kulihat yang ditanyakan juga macem-macem. Ada yang langsung tanya jawaban soal apa gitu, ada yang nanya caranya.
M: Menurutmu lebih baik yang mana? (III:Β Acting)
D: Yang nanya prosesnya.
M: Kenapa?
D: Soalnya, misal kalau di matematika, kalau kita ngerti caranya, kita bisa gunakan untuk mengerjakan soal-soal yang lain.
M: Betul (I: Appreciating). Sekedar mencari jawaban itu bukan belajar. Itu kebiasaan buruk orang-orang yang suka mendapatkan hasil dengan cara-cara instan. Dan itu nggak bikin pinter. Karena itu, menggunakan internet untuk membantu belajar pun, akan benar-benar berdampak positif atau tidak juga masih tergantung cara kita menggunakannya. Jadi gunakan untuk tujuan yang benar, dengan cara yang tepat. Kita akan dapatkan manfaatnya dengan maksimal.

Lalu jemputan datang, anaknya berangkat sekolah…

Baca lebih lanjut