Infografis Mengenal “Appreciative Parenting” dan Rangkaian Percakapan Positifnya yang Memberdayakan

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan untuk menuliskan gagasan sederhana yang dapat memperpanjang rantai bantuan pendampingan masyarakat di masa Pandemi Covid-19 ini, melalui jalur Edukasi Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI).

Menindaklanjuti permintaan infografis tentang Appreciative Parenting yang menjadi bagian tulisan tersebut, berikut saya buatkan catatan ringkasnya. Penjelasannya sendiri di dalam blog ini sudah ada pada tulisan Appreciative Parenting: Menumbuhkan Ketangguhan Anak Melalui Percakapan yang Memberdayakan” yang saya unggah tiga tahun yang lalu. Saya sendiri sekian banyak tahun telah belajar menerapkan percakapan-percakapan positif yang menjadi kunci di dalam pendekatan pengasuhan ini bersama Damai, sejak ia kecil. Sehingga jika saya ditanya apakah memang benar pola percakapan yang dimaksud bermanfaat, maka dengan yakin saya katakan: YA.

Berikut paparan infografis yang saya buat, semoga meski terbatas ruang penjelasan tetap bisa membantu pembaca untuk sedikit banyak memahaminya juga.

Baca lebih lanjut

Refleksi Ibu Belajar (3): Mengelola Kekhawatiran, Mengoptimalkan Percakapan

Sebelum menyimak catatan reflektif ini, saya menyarankan rekan-rekan meluangkan sedikit waktu untuk menengok apa yang sudah ditulis oleh Damai tentang buku yang belum lama selesai dibacanya. Tulisan berjudul “Book Review: Kafka on the Shore – Haruki Murakami” ini menggambarkan setidaknya tiga hal: (1) Salah satu jenis buku yang diakses oleh Damai; (2) Bagaimana ia mengambil pelajaran dari materi yang telah dibacanya; dan (3) Bagaimana ia mengolah informasi dan pemahaman untuk memberikan catatan preventif bagi orang lain yang akan mengikuti membaca buku tersebut, agar tidak terjebak pada pemaknaan yang berdampak kurang baik.

Saya kutipkan beberapa bagian tulisan Damai. Terkait poin pertama, gambaran jenis buku:

Through this book, Haruki Murakami explores the theme of consciousness and unconsciousness. It’s very interesting, since the book follows 2 storylines simultaneously.  For every odd numbered chapter, it is about a boy named Kafka Tamura, who lives with his dad; a famous sculptor, in Tokyo. On his 15th birthday, he makes up his mind to run away from home with hope to break the Oedipus curse that his father made about him.

Lalu tentang bagian dari pelajaran yang diambil:

This combination of bizarre plot, mysterious characters, and the use of figurative language are some of the aspects that distinguish Haruki Murakami works with other stories. Everything in ‘Kafka on the Shore’ feels so dream-like, yet so vivid. While reading, the narrative evokes our imagination to feel the surroundings. What does it look like, what kind of emotions that the character feels, what sounds we would hear, and more.

For me, the novel tells that it is nearly impossible for us to be able to understand our own fate. Even if fate itself might be something that affects our life the most. And through the writing style, the reader may learn how to capture the five senses using language. But at the end, I believe that everyone may learn a lot of different things from ‘Kafka on the Shore’.

Dan bagian ketiga tentang bagaimana Damai memberi catatan untuk calon pembaca buku tersebut:

However, for those who want to read this book, it’s better to know that violence is usually described explicitly in certain chapters. And it might be triggering for some people.

There are also some controversial thoughts and concepts that not everyone might agree on. Therefore it’s way better if you keep an open mind while reading the book. As it might stirred up your perspectives towards these certain concepts and leave you wondering about your understanding about your mind and the world around you.

Baca lebih lanjut

Refleksi Ibu Belajar (2): Membangun Dialog yang Konstruktif

Damai dan kemampuan belajarnya terus berkembang. Begitu banyak perubahan positif yang terasa dari saat terakhir saya menuliskan refleksi tentang bagaimana dinamika menyesuaikan diri dalam proses mendampinginya bertumbuh di masa remaja ini.

Oya, sekedar memberikan gambaran tentang perkembangan yang saya maksud, silakan (jika memiliki cukup waktu) untuk membaca pula beberapa diantara sekian banyak tulisan Damai dalam blog-nya berikut (klik saja tautannya):

Tentang refleksi terhadap situasi sekitar (misal di tulisan A Reflection of Bhinneka Tunggal Ika); Tentang refleksi belajar sekaligus capaiannya di materi akademik (misal dalam tulisan The World Scholars Cup Tournament of Champions); Tentang telaahnya terhadap buku yang ia baca (seperti dalam tulisan Book Review: The Alchemist – Paulo Coelho); juga Tentang karya musiknya yang sederhana namun bermakna (seperti dalam A Short Note About My New Song: Enigma).

Baca lebih lanjut

Refleksi Ibu Belajar (1): Menyimak, Mencermati, Menyesuaikan

Tulisan ini menyambung kembali cerita tentang warna-warni mendampingi proses belajar Damai yang sudah masuk di usia remaja. Ada begitu banyak penyesuaian dilakukan, mengingat tahapan perkembangannya yang sudah beralih dari masa anak. Dan dalam upaya sejauh ini, bersyukur sekali karena kami sangat terbantu oleh program-program sekolah yang turut mengedukasi dan memotivasi orangtua, agar seiring sejalan dalam menumbuhkan setiap potensi baik yang dimiliki anak.

Seperti pernah saya tuliskan di “Sekolah Baru, Value, dan Proses Belajar yang Seru” (sila klik jika ingin membacanya lebih dulu), Damai belajar di Sekolah Cikal Surabaya. Sebuah sekolah yang cukup jauh dari rumah, namun kami pilih dengan sepenuh kesadaran untuk semaksimal mungkin memfasilitasi perkembangan kemampuan Damai, kecintaannya dalam belajar, juga pertumbuhan pribadinya.

Sejak awal ia masuk menjadi siswa Year 7, saya mengikuti sekian banyak kegiatan dilakukan oleh sekolah untuk mengoptimalkan keterlibatan orangtua dalam pendidikan anak. Mulai dari pertemuan seluruh orangtua dan pihak sekolah di awal tahun ajaran; Workshop pengenalan kompetensi 5 bintang yang menjadi fokus pengembangan dan diharapkan dapat dikuasai siswa selama proses belajarnya; Workshop tentang model asesmen yang dilakukan oleh sekolah dalam mengevaluasi capaian belajar siswa; serta Berbagai kegiatan lain yang melibatkan orangtua sebagai bagian dari komunitas sekolah, yang nyaris tak terhitung jumlahnya. Pendek kata, di Sekolah Cikal ini yang berproses belajar bukan hanya anak, tapi juga orangtuanya. Dan saya adalah bagian dari orangtua itu.

Baca lebih lanjut

Lagi, Percakapan-percakapan Ringan Pulang Sekolah Bersama Damai

Suatu sore yang sudah agak lama..

👩🏻‍🌾: Kenapa, Mam? Agak gimana gitu.
🧕: Campur aduk.
👩🏻‍🌾: Kenapa?
🧕: Ok, mama yang duluan cerita aja ya, habis itu kamu. Jadi, hari ini rasanya nano-nano. Seneng banget dengan kegiatan inklusinya Unair yang mulai jalan dan mahasiswa antusias. Senang lihat banyak orang makin respek dan peduli dengan difabel. Tapi habis itu balik ke fakultas harus ambil keputusan dilematis yang lumayan bikin sesak di ujian akhir salah satu mahasiswa.
👩🏻‍🌾: Nggak lulus?
🧕: Iya. Dan itu bimbingan mama. Sedihnya bukan karena menyesali atau nggak terima dia nggak lulus. Tapi menyesalkan kenapa dia nggak komit dengan belajarnya, menggampangkan dan potong kompas sana-sini. Tapi ya sudahlah, itu pilihannya. Mungkin dengan gagal studi begini dia akan belajar untuk lebih baik ke depannya.
👩🏻‍🌾: Nggak dilolosin aja Mam?
🧕: Kenapa?
👩🏻‍🌾: Kasihan
🧕: Semata-mata itu?
👩🏻‍🌾: Iya
🧕: Apa menurutmu itu mendidik? Apalagi sudah diingatkan berulang tetap saja tidak berubah sikap.
👩🏻‍🌾: Ya nggak sih. Tapi umumnya kan orang lebih mempertimbangkan kasihannya..
🧕: Kira-kira apa mama model begitu?
👩🏻‍🌾: Nggak sih..
🧕: Mama lebih suka ngajak orang bertanggung-jawab atas pilihan-pilihan sikap dan perilakunya, meski konsekuensinya ternyata tidak menyenangkan.
👩🏻‍🌾: Hehehe.. I know you, Mam.
🧕: Dah, sekarang gantian. Gimana belajarmu hari ini? Apa yang menarik?
👩🏻‍🌾: Well.. banyak yang menarik. Tapi aku mau mulai cerita dari English, yang belajarnya dibarengkan dengan Visual Arts. Jadi untuk projeknya kami diminta membuat Haiku dulu. Trus kalau sudah jadi, bikin art work untuk memvisualisasikan haiku-nya.
🧕: Ok, jadi 2 mapel nyambung ya?
👩🏻‍🌾: Iya. Nah, untuk mengerjakan project ini kami diberi kesempatan 2 kali konsultasi dengan kedua guru mapel untuk bisa dapat feedback, entah di haikunya atau di artworknya. Ini tadi aku baru bikin appointment untuk konsultasi yang kedua.
🧕: Pekerjaanmu sudah sampai mana?
👩🏻‍🌾: Haiku sudah selesai, art worknya tinggal sedikit lagi. Moga-moga nanti pas konsul kedua nggak banyak dapat koreksi, jadi final product-ku bisa kukumpulkan sesuai deadline yang kubuat.
🧕: Kok deadline-nya kamu yang buat?
👩🏻‍🌾: Lhoiya, memang gitu. Jadi guru kan memberi waktu, project harus sudah selesai sebelum term ini berakhir. Selambatnya sekitar Desember-lah. Nah tapi tiap anak itu boleh membuat target waktunya sendiri-sendiri. Kayak aku, kutarget final product-ku ini bisa selesai 14 November.
🧕: Wah… ini keren lagi. Murid bisa membuat karya yang difasilitasi konsultasi. Seperti belajarnya mahasiswa kalau lagi ngerjakan project tertentu. Trus target waktu untuk penyelesaian tugas akhir bisa ditetapkan sendiri itu seru 😍

… dst disambung cerita proses belajar yang berkesan dari mapel lain …

*****

Baca lebih lanjut

Percakapan Ringan dengan Anak Kelas 1 SMP

Lama tidak menuliskan percakapan ringan dengan Damai. Berikut saya catatkan juga di sini, dua yang sudah tertuliskan di dinding facebook saya, pembicaraan antara emak bersama anak perempuannya yang sekarang sudah SMP.

Yang Tak Biasa di Pelajaran Agama

Suatu sore sepulang sekolah..
👩🏻‍🌾: Today I have a new experience yang rasanya nggak di semua sekolah anak-anak bisa merasakannya, Mam.
🧕: What’s that?
👩🏻‍🌾: Di pelajaran agama. Jadi kan kalau di kelasku itu murid-muridnya dari 4 agama. Islam, Kristen, Katolik, sama Budha. Biasanya kalau jam agama, kami kan misah. Nah, hari ini tadi kami jadi satu!
🧕: Wah, menarik nih..
👩🏻‍🌾: Banget! We learned something together..
🧕: What did teachers ask students to do?
👩🏻‍🌾: We were asked to make several groups. Each group must be consisted of 3 or 4 students from different religion. And then teacher gave us a news about specific case. Do you still remember about Ibu Meiliana case?
🧕: Masih dong..
👩🏻‍🌾: Nah, beritanya tentang itu. Masing-masing kelompok diminta untuk mendiskusikannya, base on different perspectives from each religion.
🧕: That’s cool!
👩🏻‍🌾: Iya, aku juga ngerasa begitu. Kami diminta membahas, menganalisis kenapa kasus itu sampai terjadi, gimana pendapat kami, how to prevent agar tidak sampai terjadi, bagaimana seharusnya hidup di tengah masyarakat yang berbeda-beda,… Gitu, Mam.
🧕: Keren. So, what did you learn from this activity?
👩🏻‍🌾: Well, actually it hasn’t finished. Masih akan dilanjutkan soalnya kami akan mempresentasikannya minggu depan. Tapi dari yang tadi itu kerasa lebih ngerti perspektif yang beragam tentang satu hal, tapi sekaligus tahu bahwa ada similarities in some values from different religions.
🧕: Senang dengarnya, Mai. Jadi bisa lebih menghargai satu sama lain. I think it is good for students to participate in this kind of activity..
Baca lebih lanjut

Menyikapi Kegagalan

Lama tidak memperbarui isi blog. Sudah hampir dua bulan sejak tulisan yang terakhir. Kenapa? Biasalah… riweh dengan berbagai tanggungan di kampus. Dan karena sudah lama tidak bercerita di sini, agar mudah untuk mengawali lagi, saya akan mulai dari menuliskan percakapan ringan dengan Damai di sepanjang perjalanan pulang dari sekolahnya kemarin siang.

Hmmm…, percakapan lagi? Iyes, karena itu memang jurus andalan saya dalam mendampingi Damai bertumbuh dari waktu ke waktu. Saya meyakini bahwa berbagai percakapan positif setiap hari adalah jalan bagi orangtua untuk dapat menyampaikan pesan dan umpan balik dengan cara yang mudah diterima oleh anak. Sekian banyak value penting dalam hidup akan dapat dipahami dan dihayati dengan baik apabila disampaikan dengan komunikasi yang menyenangkan. Value-value tersebut akan menjadi bekal dan panduan berperilaku bagi anak dalam mengembangkan diri hingga kelak menjadi pribadi yang memiliki karakter positif.

Baca lebih lanjut