Appreciative Parenting: Menumbuhkan Ketangguhan Anak Melalui Percakapan yang Memberdayakan

Sabtu 25 Februari 2017, kembali menunaikan tugas IPPI untuk mengisi workshop, kali ini dalam Pertemuan Anggota HIMPSI Wilayah Jawa Timur. Serupa namun dengan fokus sedikit berbeda dari Workshop IPPI di 2015 lalu, saya menyampaikan materi Appreciative Parenting, tentang pengasuhan yang bertujuan untuk menumbuhkan ketangguhan anak melalui berbagai percakapan memberdayakan di setiap waktunya. Harapan saya, materi ini dapat menjadi stimulasi berpikir pagi para peserta (praktisi, akademisi, maupun peneliti di bidang ilmu psikologi) dalam mengembangkan cara untuk membantu para orangtua menerapkan pengasuhan yang efektif demi tercapainya tumbuh kembang anak yang optimal.

materi-workshop-appreciative-parenting-2017Uraian saya awali dengan mengajak peserta menyamakan pesepsi tentang apa esensi dari pengasuhan, serta bagaimana dinamika tantangannya seiring dengan kondisi masyarakat yang terus berubah. Sebagaimana diketahui, pada era dimana kemajuan teknologi membawa sekian banyak perubahan di masyarakat, efek yang kemudian timbul pun beragam. Ada positif, ada pula yang negatif dan setiap saat dapat ditemui anak dalam aktivitasnya sehari-hari.  Baca lebih lanjut

Berburu Sekolah: Antara Ego dan Komitmen Mendidik Anak Menjadi Pribadi Tangguh

Menjadi diri yang konsisten memegang prinsip adalah sebuah tantangan yang senyatanya tak setiap orang berhasil memenuhi. Ego yang sedemikian tinggi atau kebutuhan sosial yang mendominasi tak jarang mementahkan sikap dan perilaku positif yang sebenarnya dipahami.

Pun demikian dengan orangtua dalam pengasuhan dan pendidikan yang dilakukan pada anak. Tak sedikit dari kita yang di satu saat bersama anak sangat antusias mengkritik orang-orang yang melakukan tindakan kurang terpuji, namun beberapa waktu kemudian sibuk membangun alasan untuk membenarkan perilaku serupa yang dilakukan sendiri.

Salah satu momen yang tidak luput dari inkonsistensi orangtua terhadap nilai yang diajarkan pada anak adalah pada masa-masa ‘perburuan’ sekolah lanjutan seperti saat ini. Tidak sedikit diantara orangtua yang sebelumnya kerap menasehati dan mengharapkan anak berperilaku jujur, berkompetisi dengan sportif, seakan lupa dengan apa yang diajarkannya. Beberapa berita dari berbagai media berikut menggambarkan fenomena yang dimaksud (sila klik jika ingin membacanya satu per satu):

Saya teringat suatu hari kemenakan juga pernah bercerita tentang temannya yang kala itu baru lulus sekolah dasar dengan santai mengatakan bahwa masuk ke sekolah favorit itu mudah, asal punya uang dan koneksi. Kalimat ini menurut saya cukup menyesakkan. Betapa seorang anak yang masih belia sudah memiliki pola pikir demikian. Dan tampaknya hal tersebut sudah menjadi fenomena jamak, melihat sekian banyak aksi suap, titip-menitip dalam proses memperoleh sekolah yang sudah jadi rahasia umum di berbagai tempat.

suap

Sama sekali tidak terpikir dalam benak untuk menyalahkan si anak, sebab saya yakin ia hanya menyerap informasi dan mengimitasi cara pikir yang dipelajarinya. Saya justru sangat prihatin, bagaimana orang-orang dewasa di sekitar tumbuh kembang anak tersebut memberikan contoh sikap dan perilaku tertentu, yang kemudian memunculkan pemahaman tidak tepat ini. Bisa dibayangkan akan seperti apa jadinya beberapa tahun kemudian saat si anak sudah mulai tumbuh dewasa, apabila lingkungan belajarnya dalam berperilaku tetap memberikan stimulasi yang keliru. Dan semakin mengkhawatirkan jika hal tersebut terjadi pada banyak anak. Betapa karakter generasi mendatang menjadi taruhannya. Baca lebih lanjut

Mengasuh Anak dengan Segala Keunikannya

Berikut dibagikan tulisan singkat yang termuat dalam Buletin Anak Ceria Edisi Oktober 2015.

FullSizeRender (21)

Tuhan telah menciptakan segala sesuatu di dunia dengan penuh warna. Keragamannya membuat hidup menjadi lebih dinamis, menjadikan manusia belajar tentang bagaimana saling memahami dan menghargai setiap perbedaan yang ada. Begitu pula terhadap anak dan segala kondisinya.

Seorang anak lahir membawa berbagai macam potensi kemampuan, juga ciri dan sifat yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Karena itu, setiap anak dalam perkembangannya akan selalu memiliki kekuatan dan kelemahan yang tidak dapat disama-ratakan. Ada yang kuat di kemampuan akademik, namun lemah di ketrampilan fisik-motorik. Ada yang memiliki kelebihan dalam bidang seni, namun kurang begitu menonjol dalam kemampuan berbahasa. Ada yang di satu sisi sangat perasa, namun di sisi lain begitu cekatan dalam menyelesaikan setiap tugas yang diberikan kepadanya. Jadi, setiap anak memiliki keunikannya masing-masing. Baca lebih lanjut

4 Langkah Menumbuhkan Perilaku Positif Anak

Tulisan singkat yang saya bagikan kali ini dimuat di Majalah Muh1da, Edisi 12, Juni 2015.

Adalah tugas orangtua untuk selalu menumbuhkan berbagai hal baik dan perilaku yang positif dalam diri anak. Segala cara akan ditempuh untuk mencapai tujuan ini, meski tak jarang ada orangtua yang merasa kesulitan karena apa yang sudah dilakukan ternyata tidak menunjukkan hasil sesuai harapan. Sebagai contoh, orangtua mengeluh sulit mengajarkan anak rajin membaca; gagal mengendalikan kebiasaan anak menonton TV; tidak berhasil membuat anak sadar beribadah tepat waktu; merasa kewalahan menghadapi kebiasaan jajan mereka, dan lain sebagainya.

Seperti diketahui, belajar terjadi melalui sejumlah proses. Begitu pula dengan belajar berperilaku pada anak. Semakin utuh cara orangtua membimbing dan mengupayakan, hasilnya tentu akan semakin baik. Sebaliknya, mengasuh yang ala kadarnya, sekadar memberikan fasilitas, sekadar memberi instruksi atau memarahi anak saat melakukan kesalahan tentu tidak akan memberi hasil yang maksimal.

Setidaknya, ada 4 langkah yang dapat dilakukan oleh orangtua dalam menumbuhkan perilaku positif anak melalui pengasuhannya sehari-hari: Baca lebih lanjut

Beberapa Pertanyaan Menarik dari Seminar Appreciative dan Innovative Parenting

FullSizeRender (34)

Menepati janji cerita dari posting sebelumnya, berikut beberapa pertanyaan menarik dari sekian banyak yang diajukan oleh peserta Seminar Appreciative dan Innovative Parenting yang lalu. Saya pilih 4 pertanyaan yang sesuai topik pengembangan bakat, sebagai bahan belajar kita bersama. Untuk pertanyaan lain yang lebih umum tentang parenting, saya usahakan untuk menuliskannya di lain waktu.

1. Bagaimana cara yang dapat ditempuh oleh orangtua dalam mendeteksi bakat anak sejak dini? Baca lebih lanjut

Cerita dari Seminar Appreciative dan Innovative Parenting

Sabtu, 30 Mei 2015. Sesuai jadwal yang telah disusun sejak sebulan sebelumnya, bersama dengan Ibu Abyz Wigati saya membantu Pusat Terapan Psikologi Pendidikan (PTPP) Fakultas Psikologi Universitas Airlangga untuk menjadi pembicara dalam Seminar Appreciative dan Innovative Parenting. Seminar yang bertempat di Aula Excellent with Morality Fakultas Psikologi UNAIR ini dihadiri oleh kurang lebih 60 orang peserta, terdiri dari para orangtua, guru, aktivis LSM yang bergerak di bidang pendidikan anak, juga sejumlah mahasiswa dan alumni.

IMG_5818 Baca lebih lanjut

Dari Obrolan Bersama Teman Seputar Sibling Rivalry…

Seorang teman (D) berbagi cerita dalam sebuah jejaring sosial: “…anak ku cewek-cowok, beda setahun. Kakak 8 tahun, adik 7 tahun. Lha si kakak kerap kali iri sama mainan adiknya yang cowok, seperti layangan, gasing,… kadang sampe ngambeg kalau ga punya. Dikasih pengertian ndak mempan…” Baca lebih lanjut