Mendidik di Tengah Pandemi: Upaya Membantu Anak Menumbuhkan Berbagai Karakter Positif

“SELAMAT HARI PENDIDIKAN NASIONAL 2020”

Dalam peringatan Hardiknas yang tidak biasa karena anak-anak penuh belajar dari rumah ini, bersama dengan Ikatan Psikologi Perkembangan Indonesia (IPPI) kembali ingin memberikan dukungan bagi semua orangtua di manapun berada, untuk terus berusaha, tidak patah semangat mengupayakan yang terbaik dalam mendampingi tumbuh kembang generasi penerus kita mendatang.

Catatan-catatan ringkas dalam infografis berikut semoga dapat memberikan informasi yang bermanfaat, tentang bagaimana langkah-langkah yang dapat ditempuh oleh orangtua sebagai pendidik utama anak dalam hidup, untuk menumbuhkan berbagai karakter positif mereka dalam aktivitas belajar sehari-hari.

Baca lebih lanjut

Mengolah Lebih Baik daripada Mengeluh: Lagi, Catatan Kecil untuk Ayah & Bunda

Ini adalah catatan lanjutan dalam bentuk infografis dari yang sudah saya tuliskan dalam unggahan sebelumnya. Masih tetap pula menjadi bagian dari rangkaian edukasi dan dampingan untuk para orangtua selama masa terjadinya wabah corona, dari Ikatan Psikologi Perkembangan Indonesia (IPPI) yang saat ini saya kelola bersama dengan para pengurus lainnya.

Berawal dari mencermati berita di minggu ke-2 masa-masa total beraktivitas di rumah, tercetus menguraikan dengan ringkas bagaimana mengolah kekhawatiran yang meningkat karena kondisi sekitar yang tampak menyangat, menjadi langkah-langkah konkrit yang bermanfaat.

Daripada cemas yang terasa hanya berhenti menjadi keluhan tanpa solusi, lebih baik menggunakan energinya, menyalurkan rasa khawatir itu untuk melakukan sesuatu yang berarti, sehingga lambat laun cemasnya pun akan tereduksi. Silakan baca lebih lanjut uraiannya di bawah ini:

Baca lebih lanjut

Mengolah Situasi Krisis Menjadi Ruang Belajar Anak untuk Mengelola Diri dan Berperilaku Positif

Pada tulisan sebelum ini saya telah menjelaskan bahwa anak belajar sesuatu dari berbagai situasi, baik yang normal kondusif maupun dari situasi krisis. Setiap kondisi lingkungan berpeluang meningkatkan kemampuan psikologis anak, untuk dapat menumbuhkan berbagai ketrampilan kognitif, emosi, maupun sosial, yang kelak akan berguna untuk membantunya menjadi pribadi yang sehat secara mental, memiliki koping dan adaptasi yang positif terhadap berbagai situasi di sekitar.

Namun tentu saja hal ini akan bergantung pada bagaimana orangtua atau pengasuh yang lain mendampingi anak selama proses belajar tersebut. Apabila orangtua tepat dalam mendampingi, maka penguatan ketrampilan positif lah yang akan terjadi. Sebaliknya, jika orangtua keliru mengambil langkah dan tanpa disadari justru banyak memperlihatkan contoh respon-respon negatif, maka pola ini pula yang akan diperhatikan dan diserap oleh anak, lalu direproduksi pada waktu-waktu berikutnya.

Tentu sebagai orangtua kita tidak ingin salah memberi dampingan bukan?
Maka memperjelas paparan tersebut, dalam catatan ringkas yang dikemas dalam format infografis dan telah dibagikan pula melalui media komunikasi Ikatan Psikologi Perkembangan Indonesia (IPPI) ini saya menuangkan apa saja yang sebaiknya dilakukan (Do’s) dan apa yang sebaiknya tidak dilakukan (Dont’s) oleh orangtua, khususnya dalam situasi krisis sekarang selama masa pandemi covid-19, agar anak memiliki kesempatan belajar mengelola diri dan berperilaku secara positif.

Meski ringkas, semoga memberi bermanfaat ­ččî┐

Baca lebih lanjut

Menghadapi Wabah Covid-19: Respon Orangtua dan Ruang Belajar Berperilaku untuk Anak

Kondisi pandemi covid-19 atau wabah corona yang melanda dunia saat ini telah memberi begitu banyak konsekuensi di segala sisi kehidupan. Pun demikian dalam lingkup keluarga. Pola aktivitas sehari-hari yang harus disesuaikan dengan membatasi interaksi sosial demi membantu mengendalikan penyebaran penyakit membawa pekerjaan rumah yang tidak sedikit,

Diperlukan upaya signifikan untuk dapat menjalaninya dengan baik. Tentang bagaimana menyesuaikan ritme tubuh agar tetap terjaga dengan kesibukan yang berubah; Bagaimana membuat pengalihan sekian banyak tugas pekerjaan dari yang sebelumnya biasa diselesaikan dengan interaksi langsung menjadi melalui media daring yang pada kenyataannya tidak selalu mudah diikuti oleh semua orang; Termasuk tentang bagaimana mendampingi anak-anak yang dalam fase perkembangannya perlu banyak eksplorasi di lingkungan luar, juga anak-anak usia sekolah yang biasanya sibuk belajar di ruang-ruang kelas sekarang mendadak harus bertahan sepanjang hari tinggal dan bersekolah dari rumah. Berbagai perubahan situasi yang terjadi simultan ini menuntut orangtua sigap menyikapi dengan langkah-langkah yang tepat.

Membantu mengantisipasi persoalan dalam pendampingan belajar anak, saya dalam kapasitas sebagai Ketua Ikatan Psikologi Perkembangan Indonesia (IPPI) telah menyampaikan beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh para orangtua, sebagaimana tercatat secara ringkas berikut ini:

Baca lebih lanjut

Refleksi Ibu Belajar (2): Membangun Dialog yang Konstruktif

Damai dan kemampuan belajarnya terus berkembang. Begitu banyak perubahan positif yang terasa dari saat terakhir saya menuliskan refleksi tentang bagaimana dinamika menyesuaikan diri dalam proses mendampinginya bertumbuh di masa remaja ini.

Oya, sekedar memberikan gambaran tentang perkembangan yang saya maksud, silakan (jika memiliki cukup waktu) untuk membaca pula beberapa diantara sekian banyak tulisan Damai dalam blog-nya berikut (klik saja tautannya):

Tentang refleksi terhadap situasi sekitar (misal di tulisan A Reflection of Bhinneka Tunggal Ika); Tentang refleksi belajar sekaligus capaiannya di materi akademik (misal dalam tulisan The World Scholars Cup Tournament of Champions); Tentang telaahnya terhadap buku yang ia baca (seperti dalam tulisan Book Review: The Alchemist – Paulo Coelho); juga Tentang karya musiknya yang sederhana namun bermakna (seperti dalam A Short Note About My New Song: Enigma).

Baca lebih lanjut

Tentang Ikhtiar dan Tawakal

Satu pengalaman baru yang sangat berkesan belum lama terlewati. Pengalaman pertama kalinya Damai mengikuti World Scholar’s Cup (WSC) untuk Surabaya Regional Round.

WSC adalah sebuah ajang kompetisi akademik tingkat internasional yang diselenggarakan oleh DemiDec, berpusat di Los Angeles Amerika Serikat. Sebuah proses belajar melalui rangkaian aktivitas debat, tes dan kuis, unjuk bakat, berbagai permainan, serta kompetisi menulis individual maupun kolaboratif bersama tim, yang terdiri dari siswa-siswi sekolah menengah pertama dan atas. Melalui berbagai aktivitas tersebut WSC berfokus untuk membawa para pelajar dari berbagai budaya yang berbeda untuk bersama-sama mendiskusikan isu-isu dan ide-ide yang relevan untuk kondisi masyarakat saat ini.

Para peserta WSC saling berinteraksi dengan ribuan pelajar yang lain, dari beragam budaya dan latar belakang. Pada dasarnya rangkaian kegiatan dalam WSC tidak hanya menekankan pada aspek akademis, melainkan juga pada aktivitas-aktivitas lain yang menyenangkan dan memperkaya pengalaman. Apabila peserta dinyatakan lolos kualifikasi di tahap regional round, maka mereka dapat melanjutkan ke global round. Dan apabila kembali lolos di global round tersebut, maka peserta akan masuk ke Tournament of Champions yang dilaksanakan di Yale University.

Di pengalaman pertamanya ikut World Scholar’s Cup ini, capaian belajar Damai cukup baik. Di luar dugaan, dia mampu memperoleh 4 silver medals untuk team writing, champion scholar, individual speaker in debate champion, dan champion team; serta 3 gold medals untuk team bowl, challenge subjects award in science, and individual writing champion. Dengan hasil tersebut, Damai lolos kualifikasi untuk masuk ke global round.

Bersyukur sudah tentu. Apalagi ketika mengingat Damai belum genap satu tahun belajar di sekolah yang pengantarnya menggunakan Bahasa Inggris. Hanya dalam waktu yang relatif singkat ia mampu beradaptasi dengan bahasa tanpa bantuan les (kalau pernah membaca tulisan-tulisan saya terdahulu tentu masih ingat bahwa saya bukan penggemar les-lesan akademik). Melihatnya lancar berdebat, memberikan berbagai penjelasan dengan menggunakan Bahasa Inggris secara aktif pada WSC kemarin hingga akhirnya memperoleh tujuh medali bagi saya adalah perkembangan yang luar biasa (proud of you, Damai..).

Baca lebih lanjut

Refleksi Ibu Belajar (1): Menyimak, Mencermati, Menyesuaikan

Tulisan ini menyambung kembali cerita tentang warna-warni mendampingi proses belajar Damai yang sudah masuk di usia remaja. Ada begitu banyak penyesuaian dilakukan, mengingat tahapan perkembangannya yang sudah beralih dari masa anak. Dan dalam upaya sejauh ini, bersyukur sekali karena kami sangat terbantu oleh program-program sekolah yang turut mengedukasi dan memotivasi orangtua, agar seiring sejalan dalam menumbuhkan setiap potensi baik yang dimiliki anak.

Seperti pernah saya tuliskan di “Sekolah Baru, Value, dan Proses Belajar yang Seru” (sila klik jika ingin membacanya lebih dulu), Damai belajar di Sekolah Cikal Surabaya. Sebuah sekolah yang cukup jauh dari rumah, namun kami pilih dengan sepenuh kesadaran untuk semaksimal mungkin memfasilitasi perkembangan kemampuan Damai, kecintaannya dalam belajar, juga pertumbuhan pribadinya.

Sejak awal ia masuk menjadi siswa Year 7, saya mengikuti sekian banyak kegiatan dilakukan oleh sekolah untuk mengoptimalkan keterlibatan orangtua dalam pendidikan anak. Mulai dari pertemuan seluruh orangtua dan pihak sekolah di awal tahun ajaran; Workshop pengenalan kompetensi 5 bintang yang menjadi fokus pengembangan dan diharapkan dapat dikuasai siswa selama proses belajarnya; Workshop tentang model asesmen yang dilakukan oleh sekolah dalam mengevaluasi capaian belajar siswa; serta Berbagai kegiatan lain yang melibatkan orangtua sebagai bagian dari komunitas sekolah, yang nyaris tak terhitung jumlahnya. Pendek kata, di Sekolah Cikal ini yang berproses belajar bukan hanya anak, tapi juga orangtuanya. Dan saya adalah bagian dari orangtua itu.

Baca lebih lanjut

Membantu Anak Percaya Diri, Tangguh dan Mandiri (Materi “Parent Support” untuk Orangtua Anak dengan Gangguan Pendengaran)

Minggu, 9 Desember 2018, mendapat kepercayaan untuk memberi penguatan pada para orangtua hebat dari anak-anak yang mengalami gangguan pendengaran. Kegiatan ini adalah kerjasama antara Kasoem Hearing Center dengan Jala Puspa RSAL Dr. Ramelan Surabaya.

Bertempat di Gedung STIKES Hang Tuah, parent support dihadiri oleh begitu banyak orangtua. Ada yang datang sendiri, berpasangan, ada pula yang membawa serta putra/putrinya.

Baca lebih lanjut

Pengasuhan Positif: Mengasuh dengan Kesadaran (Materi Seminar Nasional IPSY FAIR 2018)

Sabtu, 29 September 2018. Memenuhi permintaan mahasiswa dari SKI Fakultas Psikologi yang menyelenggarakan Islamic Psychology Festival Airlangga 2018, pagi ini saya turut memberikan materi bersama satu pembicara yang lain, seorang Ustadz alumni Fakultas Psikologi UGM yang aktif menulis buku-buku parenting.

Materi saya menekankan pentingnya setiap orangtua untuk senantiasa menjaga kesadaran dalam praktik parenting yang dilakukan. Jadi bukan memposisikan pengasuhan sebagai rutinitas yang sambil lalu dijalani, sehingga pada akhirnya kerap terheran dengan berbagai pola perilaku anak kemudian.

Kesadaran yang dimaksud dalam paparan yang saya susun terbagi dalam tiga kelompok saling berkait: (1) Menyadari fenomena perubahan pola perilaku individu antar kurun waktu; (2) Menyadari prinsip perkembangan manusia dan tantangan dalam pengasuhannya; (3) Kesadaran untuk memperbaiki pengasuhan dan mengoptimalkan perkembangan anak dengan langkah-langkah yang tepat.

Dalam tulisan ini, seperti biasa saya akan membagikan pokok-pokok materi tersebut, untuk memperluas kemanfaatan dengan lebih banyak rekan yang dapat mengaksesnya. Baca lebih lanjut

Insight dari Ruang Kuliah: Orangtua yang Tak Boleh Berhenti Mengelola Diri

Salah satu bagian menyenangkan dari sebuah proses belajar adalah ketika melihat mahasiswa menemukan insight dalam belajarnya. Sebuah pemahaman mendalam dari apa yang sedang dipelajari, yang membuatnya mampu melihat keterkaitan antar objek, peristiwa, atau perilaku, serta menjelaskan apa maknanya. Insight membantu individu untuk dapat menerapkan segala sesuatu yang telah dipelajarinya secara tepat. Nah, insight yang akan saya ceritakan ini muncul di kelas Positive Parenting, salah satu mata kuliah yang saya ampu di Magister Psikologi Profesi.

Hari itu saya memulai pertemuan dengan mengajak mahasiswa terlebih dahulu merenungkan bersama, bagaimana perkembangan anak-anak di tengah perubahan jaman yang begitu dinamis seperti saat ini. Adakah perubahan pola perilaku dibandingkan sekian waktu yang lalu? Tanpa berpikir lama, serempak seluruh mahasiswa mengatakan YA, lalu menyambungnya dengan serangkaian data yang mereka tangkap dari sekitar tentang perubahan yang dimaksud.

Sebagaimana pernah saya tuliskan, setiap jaman dengan segala kondisinya memang membawa berbagai konsekuensi bagi individu yang hidup di dalamnya. Baik konsekuensi positif dengan meningkatnya kemampuan-kemampuan tertentu, maupun negatif dengan munculnya berbagai permasalahan perilaku yang baru. Ketergantungan terhadap teknologi, adiksi terhadap gawai, pergaulan bebas, kecenderungan menurunnya ketrampilan sosial, serta problem kemandirian adalah beberapa diantara tantangan yang harus dihadapi oleh pada orangtua saat ini terkait perkembangan anak. Tantangan yang semakin menempatkan pengasuhan sebagai suatu proses yang tidak mudah untuk dilakukan.

Baca lebih lanjut