Mengasuh Anak dengan Segala Keunikannya

Berikut dibagikan tulisan singkat yang termuat dalam Buletin Anak Ceria Edisi Oktober 2015.

FullSizeRender (21)

Tuhan telah menciptakan segala sesuatu di dunia dengan penuh warna. Keragamannya membuat hidup menjadi lebih dinamis, menjadikan manusia belajar tentang bagaimana saling memahami dan menghargai setiap perbedaan yang ada. Begitu pula terhadap anak dan segala kondisinya.

Seorang anak lahir membawa berbagai macam potensi kemampuan, juga ciri dan sifat yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Karena itu, setiap anak dalam perkembangannya akan selalu memiliki kekuatan dan kelemahan yang tidak dapat disama-ratakan. Ada yang kuat di kemampuan akademik, namun lemah di ketrampilan fisik-motorik. Ada yang memiliki kelebihan dalam bidang seni, namun kurang begitu menonjol dalam kemampuan berbahasa. Ada yang di satu sisi sangat perasa, namun di sisi lain begitu cekatan dalam menyelesaikan setiap tugas yang diberikan kepadanya. Jadi, setiap anak memiliki keunikannya masing-masing. Baca lebih lanjut

Iklan

4 Langkah Menumbuhkan Perilaku Positif Anak

Tulisan singkat yang saya bagikan kali ini dimuat di Majalah Muh1da, Edisi 12, Juni 2015.

Adalah tugas orangtua untuk selalu menumbuhkan berbagai hal baik dan perilaku yang positif dalam diri anak. Segala cara akan ditempuh untuk mencapai tujuan ini, meski tak jarang ada orangtua yang merasa kesulitan karena apa yang sudah dilakukan ternyata tidak menunjukkan hasil sesuai harapan. Sebagai contoh, orangtua mengeluh sulit mengajarkan anak rajin membaca; gagal mengendalikan kebiasaan anak menonton TV; tidak berhasil membuat anak sadar beribadah tepat waktu; merasa kewalahan menghadapi kebiasaan jajan mereka, dan lain sebagainya.

Seperti diketahui, belajar terjadi melalui sejumlah proses. Begitu pula dengan belajar berperilaku pada anak. Semakin utuh cara orangtua membimbing dan mengupayakan, hasilnya tentu akan semakin baik. Sebaliknya, mengasuh yang ala kadarnya, sekadar memberikan fasilitas, sekadar memberi instruksi atau memarahi anak saat melakukan kesalahan tentu tidak akan memberi hasil yang maksimal.

Setidaknya, ada 4 langkah yang dapat dilakukan oleh orangtua dalam menumbuhkan perilaku positif anak melalui pengasuhannya sehari-hari: Baca lebih lanjut

Beberapa Pertanyaan Menarik dari Seminar Appreciative dan Innovative Parenting

FullSizeRender (34)

Menepati janji cerita dari posting sebelumnya, berikut beberapa pertanyaan menarik dari sekian banyak yang diajukan oleh peserta Seminar Appreciative dan Innovative Parenting yang lalu. Saya pilih 4 pertanyaan yang sesuai topik pengembangan bakat, sebagai bahan belajar kita bersama. Untuk pertanyaan lain yang lebih umum tentang parenting, saya usahakan untuk menuliskannya di lain waktu.

1. Bagaimana cara yang dapat ditempuh oleh orangtua dalam mendeteksi bakat anak sejak dini? Baca lebih lanjut

Cerita dari Seminar Appreciative dan Innovative Parenting

Sabtu, 30 Mei 2015. Sesuai jadwal yang telah disusun sejak sebulan sebelumnya, bersama dengan Ibu Abyz Wigati saya membantu Pusat Terapan Psikologi Pendidikan (PTPP) Fakultas Psikologi Universitas Airlangga untuk menjadi pembicara dalam Seminar Appreciative dan Innovative Parenting. Seminar yang bertempat di Aula Excellent with Morality Fakultas Psikologi UNAIR ini dihadiri oleh kurang lebih 60 orang peserta, terdiri dari para orangtua, guru, aktivis LSM yang bergerak di bidang pendidikan anak, juga sejumlah mahasiswa dan alumni.

IMG_5818 Baca lebih lanjut

Dari Obrolan Bersama Teman Seputar Sibling Rivalry…

Seorang teman (D) berbagi cerita dalam sebuah jejaring sosial: “…anak ku cewek-cowok, beda setahun. Kakak 8 tahun, adik 7 tahun. Lha si kakak kerap kali iri sama mainan adiknya yang cowok, seperti layangan, gasing,… kadang sampe ngambeg kalau ga punya. Dikasih pengertian ndak mempan…” Baca lebih lanjut

Siapa Saya dan Apa Peran Saya ?

Suatu siang ketika makan bersama suami dan Damai di sebuah pusat perbelanjaan, kami duduk bersebelahan meja dengan sebuah keluarga lain yang juga tengah makan bersama dengan anak mereka yang usianya masih lebih muda dari Damai. Kedua orangtua itu begitu asik menikmati makanan yang dipesannya dan hanya sesekali menengok anak mereka yang merengek minta ini-itu pada baby sitter-nya. Di sela-sela makan si ibu justru sibuk dengan telepon genggamnya daripada meluangkan waktu untuk mengurus anak, kecuali hanya memberikan instruksi-instruksi tertentu pada baby sitter, bahkan tanpa sekalipun mengajak bicara anaknya! Lalu bagaimana dengan sikap suami? Ternyata tidak jauh beda dengan istrinya, sibuk dengan ‘BB’.  Baca lebih lanjut