Cerita Damai: Sekolah Baru, Value, dan Proses Belajar yang Seru

Perjalanan belajar Damai sekarang sudah masuk di tahap SMP. Tahap di masa remaja awal yang lebih berwarna karena karakter psikologis individu seusianya yang juga berbeda. Apa yang membedakannya dari masa anak? Lebih kritis karena kemampuan berpikirnya berkembang; lebih sensitif secara emosi; menginginkan ruang lebih untuk mengambil berbagai keputusan sendiri; dan sebagainya.

Sebagaimana sudah saya sebut di tulisan terdahulu, Damai sekarang belajar di Sekolah Cikal Surabaya. Sekolah yang dari sisi jarak pergi-pulang ke rumah sebenarnya jauh dari kata ideal: 28 km, sama seperti jarak rumah-kampus, namun di wilayah yang berbeda. Sekolah Damai di Surabaya Barat, sementara Kampus Unair di Surabaya Timur. Jadi bayangkan saja sebuah segitiga, jika ingin tahu bagaimana posisi antara rumah, Cikal, dan kampus 😀

Dan dengan segitiga penuh cinta ini saya mengantar jemput sendiri Damai setiap harinya. Berangkat pagi-pagi menuju Cikal, menurunkan Damai dulu, baru lanjut ke kampus. Begitu sebaliknya ketika pulang. Seru, dan sejauh ini rute sudah berjalan kurang lebih 1 bulan.

Tidak capek? Ah… ini pertanyaan retoris. Ya jelas capek, apalagi dengan bertumpuk pekerjaan kampus yang terus sambung-menyambung plus segala urusan domestik yang harus dilakukan mandiri tanpa asisten. Tapi capek itu rasanya terbayar dengan ceria-cerita belajar yang disampaikan Damai dengan begitu antusias setiap harinya. Antusiasme yang menyalurkan energi positif juga pada saya.

Ingat cerita Totto Chan yang begitu bahagia saat akhirnya menemukan sekolah yang diinginkan? Ya, kurang lebih begitu gambarannya. Sekolah yang mampu merawat semangat untuk belajar di setiap waktunya, yang terus memupuk rasa ingin tahu akan beragam ilmu sekaligus berani menyuarakan isi pikiran, melalui rangkaian aktivitas pembelajaran yang menyenangkan.

Baca lebih lanjut

Iklan