Orangtua, Kata-kata, dan Kebencian yang Diturunkan

Apa yang paling saya khawatirkan setiap kali merasakan suhu politik yang memanas? Pola pikir anak-anak. Terlebih jika orangtua mereka begitu gencar (bahkan tidak sedikit yang emosional) kemudian memunculkan sikap dan perilaku konsisten hingga menarik perhatian anak untuk meniru.

Saya jadi ingat perkataan seorang anak 6 tahun di sekitar masa pilpres beberapa waktu lalu, saat bermain dengan temannya. “Jokowi itu kafir!”, diucapkannya dengan lantang. Temannya yang mendengar kata-kata itu langsung bertanya, “Kenapa? Siapa yang bilang?”. Dan anak itu pun menjawab, ” Bapakku yang bilang. Dia ngomong-ngomong itu sama temannya”. Tidak disangka, teman lain menyeletuk, “Nggak boleh ngomong gitu…”. Apa kemudian jawaban si anak? : “Dosa kamu kalau mbelani! Kafir!”

Anak kecil 6 tahun. Tidak mengenal siapa yang dibicarakan, belum memahami apa yang terjadi di sekelilingnya, belum mengerti carut-marut urusan politik, dengan perkembangan kognitif yang masih setara tahap pra-operasional menurut Piaget, namun sudah ikut belajar melabel seseorang dan mengatakannya berulang-ulang pada anak-anak yang lain. Belajar melabel negatif, mengembangkan prasangka, lalu menularkan kebencian tersebut pada teman sepermainannya.

Cukupkah sampai di sini efek yang terjadi? Tidak. Jika stimulus ini cukup kuat ditangkap, maka teman sepermainan akan menularkan juga pembicaraan ini pada anak-anak yang lain, demikian seterusnya. Efek domino. Dan semakin perkataan ini diulang-ulang, ditambah adanya penguatan positif yang ia rasakan dari sekitarnya, maka semakin tertanamlah di pikiran mereka bahwa label tersebut adalah benar. Bahwa melabel orang yang menurut mereka berbeda adalah hal yang sah-sah saja dilakukan. Baca lebih lanjut