Buku “Resiliensi Psikologis: Sebuah Pengantar”

Syukur Alhamdulillah, setelah sekian waktu mengupayakannya di sela tumpukan tugas rumah dan kampus, buku ini akhirnya terbit juga. Sebagaimana tertulis pada bagian Kata Pengantar, buku ini disusun sebagai sebuah penanda perjalanan belajar saya dalam memahami tentang resiliensi. Tentang bagaimana seseorang mampu pulih dan bangkit dari keterpurukan, menjadi sosok resilien di tengah berbagai kesulitan hidup yang sedemikian berat.

Bukan hal yang tiba-tiba bagi saya untuk kemudian memutuskan menekuni topik kajian ini, dalam profesi sebagai pendidik maupun peneliti. Ada proses yang didasari oleh beberapa alasan. Baca lebih lanjut

Iklan

Disability and Resilience: Four Phases to Overcome Significant Adversity in The Life Changes

Late Post. Sebagaimana biasanya saya selalu membagikan dalam blog ini, materi yang saya presentasikan di forum-forum ilmiah yang telah saya ikuti. Kali ini adalah materi presentasi dalam ICEPAS 2016 yang lalu. Sebagaimana sudah saya singgung saat bercerita tentang perjalanan ke Korea Selatan tersebut, materi yang berjudul Disability and Resilience: Four Phases to Overcome Significant Adversity in The Life Changes ini adalah bagian dari riset disertasi yang saya selesaikan. Saya memaparkan tentang temuan empat fase yang dilalui oleh individu dalam perubahan kondisinya menjadi seorang penyandang disabilitas, hingga pada akhirnya mampu mencapai resiliensi. Dengan kata lain, keempat fase tersebut merupakan fase-fase dalam proses resiliensi.

Berikut adalah beberapa kutipan ppt yang saya bawakan. Versi lengkap dari artikel dimuat dalam Conference Proceeding.

Processed with MOLDIV

ISBN: 978-986-89536-4-2

Baca lebih lanjut

Beberapa Penelitian Terdahulu Tentang Model Resiliensi

Tulisan ini melanjutkan penjelasan tentang resiliensi yang telah diuraikan pada beberapa posting sebelumnya.

Model adalah suatu representasi realita, yang melukiskan aspek tertentu dari dunia nyata yang relevan dengan masalah yang diteliti (Kuntoro, 2009). Model  membuat eksplisit hubungan bermakna di antara aspek, dan model memungkinkan perumusan proposisi yang dapat diuji secara empiris berkenaan dengan asal dari hubungan tersebut. Pengujian dimaksudkan agar pemahaman yang lebih baik atas bagian tertentu dari dunia nyata dapat dicapai. Model juga digunakan untuk mengatasi masuknya intuisi ke dalam fenomena yang tidak dapat diamati secara langsung.

George  (1980, dalam Cleveland, 2003) mendefinisikan model sebagai seperangkat konsep yang saling berhubungan, yang dirumuskan untuk mampu memberikan penjelasan terhadap area tertentu dari perilaku manusia. Seperti diketahui, sebuah perilaku akan terbentuk dengan dipengaruhi oleh berbagai macam faktor baik dari sisi internal maupun eksternal individu. Oleh karena itu, sebuah model akan menunjukkan keterkaitan antar konsep yang dapat membantu memahami bagaimana sebuah perilaku dapat terbentuk. Menurut Masten (dalam Reich, 2009), sebuah model resiliensi harus sedapat mungkin mencakup tiga hal, yaitu prediktor-prediktor positif, proses, dan outcome yang dimunculkan.

Dalam lingkup kajian resiliensi, beberapa model telah dirumuskan oleh peneliti terdahulu, baik dalam konteks individual maupun keluarga. Berikut ini adalah beberapa diantaranya: Baca lebih lanjut