Dia Sudah SMP Sekarang…

Rasanya belum terlalu lama saya mulai merangkai cerita demi cerita selama mendampinginya bertumbuh, menjalani hari demi hari masa belajarnya di TK, lalu berlanjut ke SD. Dan sekarang, Damai sudah masuk usia ‘ABG’, beralih menjadi anak SMP. Tentu, peralihan ini memerlukan penyesuaian juga pada sisi orangtua.

Atas dasar diskusi bersama, Damai melanjutkan sekolahnya di Cikal. Kami meyakini melalui kurikulum serta proses pembelajaran yang diterapkan, sekolah ini dapat memfasilitasi Damai mengembangkan diri dan berbagai kemampuannya dengan optimal. Baik kemampuan akademik maupun non-akademik, termasuk di dalamnya ketrampilan psikologis dan sosial. Baca lebih lanjut

Tulisan Damai di Hari Kartini

Kemarin saya mendapatkan kiriman tak terduga dari Ibu Wali Kelas Damai, sebuah tulisan singkat yang dibuat Damai di sekolah tentang Kartini Masa Kini. Meleleh membacanya, penuh syukur yang tak terkatakan. Terima kasih, Memskipiii

Berbagi bahagia tersebut, berikut adalah isi tulisan Damai yang buat saya begitu indah. Oya, meski terlambat, Selamat Menjadi Kartini Masa Kini juga untuk semua Ibu Hebat di manapun berada…

Ibuku, Kartiniku

Ibuku adalah seorang dosen. Tiap hari beliau mengajar di kampusnya. Tak jarang, beliau pulang malam. Namun seperti tak kenal lelah, selalu bersemangat untuk menjalani  kembali hari esok.

Di luar kesibukan itu, beliau adalah ibu yang tangguh. Seorang Ibu yang selalu bersedia menjagaku, kapanpun, di manapun. Walau beliau tak jarang memarahiku, aku tahu semua dilakukannya karena beliau menyayangiku.

Ibuku memang bukanlah pahlawan seperti di buku cerita. Namun beliau adalah kartiniku masa kini. Seorang yang mengabdi untuk mencerdaskan anak-anak bangsa ini.

memski

Damai, Ujian Royal, dan Sebuah Catatan Reflektif untuk Diri Sendiri

Jika ada pembaca yang berteman facebook dengan saya dan online beberapa hari terakhir, tentu pernah membaca percakapan antara saya dengan Damai berikut ini:

Saya: Kamu senang bermain piano ini?
Damai: Lebih dari senang.
Saya: Kalau ujiannya nanti?
Damai: Ya aku memang mau ikut ujian royal.
Saya: Untuk apa?
Damai: Buat pengalaman, apalagi yang nguji orang asing. Trus biar aku tahu juga dari evaluasinya, aku kurangnya dimana, sudah bagusnya dimana.
Saya: Trus buat apa kalau sudah tahu evaluasinya?
Damai: Ya biar aku bisa memperbaiki kalau masih ada yang kurang, jadinya permainanku bisa lebih bagus lagi. Kalau aku main pianonya bagus, orang yang dengar kan juga lebih bisa menikmati.
Saya: Okesip, sepakat. Yang penting belajarnya ya, karena ujian adalah bagian dari proses belajar itu sendiri. Dan tujuan belajar bukan untuk mencari nilai/hasil ujian, tetapi agar kita semakin mahir melakukan sesuatu yang kita pelajari.

Percakapan tersebut adalah salah satu bagian dari rangkaian pembicaraan yang sengaja saya lakukan sebagai upaya untuk mengembalikan semangat dan fokus Damai dalam belajar piano. Setelah beberapa waktu sempat pecah arah karena beberapa hal. Baca lebih lanjut

Sekedar Percakapan yang Sangat-Sangat Ringan (7)

UTS

Damai: Teman-temanku lagi pusing, Mam.
Saya: Kenapa?
Damai: Pusing sama UTS ini.
Saya: Lha, kenapa UTS harus pusing?
Damai: Ya takut ndak bisa ngerjakan soal, takut nilainya jelek.
Saya: ooooo…. lha kamu nggak pusing?
Damai: Enggak.
Saya: Kenapa?
Damai: Ya menurutku UTS itu semacam sambilan.
Saya: Maksudnya gimana?
Damai: Sama aja dengan latihan-latihan soal gitu, jadi ndak usah dipusingkan. Kalau salah ya dibetulkan.
Saya: Sepakat, ujian itu nggak perlu dibuat stres. Kalau soalnya sulit ya dijawab sebisanya, yang penting jujur.
Damai: Iya Mam yang penting jujur. Soalnya kalau sudah banyak takut, kebanyakan jadi nyontek soalnya nggak mau nilainya jelek.
Saya: Nah itu jadinya, jadi nggak betul kan…
Damai: Iya. Makanya aku santai aja. Dapat nilai berapa juga nggak masalah. Mam, main UNO yuk! Habis itu aku mau main piano.. ^.^

***** Baca lebih lanjut