Tentang Variasi Proses Belajar

Menulis lagi tentang proses Damai dalam mengembangkan kemampuan bermusik, dan momentumnya adalah keberhasilan yang tak terduga diraihnya dalam Quatro Music Competition 2016.

Sejujurnya, keluarga kecil kami bukan pecandu event perlombaan. Saya sudah puas menjalaninya dulu ketika kecil, atas penunjukan atau tugas dari sekolah. Paham betul plus-minusnya, terhadap Damai saya lebih mementingkan bagaimana proses belajarnya mengasah bakat dapat berlangsung dengan optimal, dengan beragam aktivitas dan suasana yang menyenangkan. Jadi bukan dengan mengejar prestasi yang berasosiasi dengan kejuaraan tertentu. Kesukaan dan kenyamanan belajar saya yakini akan lebih menumbuhkan motivasi dari dalam diri Damai sendiri untuk terus berlatih, meski tanpa pengingat maupun kendali dari orang lain. Kalaupun suatu saat ia memperoleh hasil yang lebih dengan penghargaan tertentu yang diperoleh, itu adalah bonus bagi kami.

Lalu mengapa Damai tetap mengikuti kompetisi tertentu? Sederhana saja, karena kompetisi di sini dipersepsikan sebagai bagian dari proses belajar, media untuk tampil dalam suasana dan tantangan psikologis tertentu. Kompetisi, sebagaimana konser, ujian, dan latihan reguler adalah momen belajar yang masing-masing memberikan pengalaman berbeda pada Damai. Di dalamnya ia akan meningkatkan begitu banyak kemampuan, tidak hanya skill utamanya dalam memainkan instrumen musik.

QMC 1Latihan reguler bersama guru menyajikan pengalaman belajar rutin, sedangkan konser memberi tantangan pada anak untuk berani menampilkan kemampuan di depan orang lain, meski tanpa melibatkan unsur penilaian. Di dalam konser, anak akan berlatih mengembangkan percaya diri, mengelola emosi, berlatih tetap fokus untuk memainkan lagu dengan penuh penghayatan meskipun mungkin di tengah penonton yang karakternya tidak selalu sama. Ada yang mengapresiasi, ada pula yang mungkin tidak peduli. Baca lebih lanjut

Latihan Piano Damai (13)

1. Sonatina in G Major

2. Love Yourself – Piano Cover (sila klik untuk membaca cerita Damai dalam membuatnya)

Mundur Selangkah untuk Proses Belajar yang Lebih Baik

Cerita bermula dari kejadian di suatu siang, saat saya mengajak Damai untuk ikut ke kampus sepulang ia sekolah. Bahwa Damai ikut les piano, sejumlah teman dosen telah mengetahuinya, termasuk Pak Ucok yang saat itu masih bersebelahan ruang dengan saya. Melihat ada Damai, ia menunjukkan satu partitur lagu yang kalau saya bandingkan dengan buku latihan Damai, notasinya tidak lebih sulit, alias cukup sederhana. Pak Ucok meminta Damai untuk membacanya, dan bertanya, “Bisa baca not-not ini nggak?”. Di luar dugaan saya, Damai menjawab “Enggak Om…”. Dienggg!!! Jawaban yang aneh… Penasaran saya lihat lagi partitur itu. Benar, sebuah lagu sesederhana notasi di buku latihannya. Harusnya Damai bisa, batin saya. Baca lebih lanjut