Amazing Turkey (5): Cappadocia dan Kota Batu yang Menakjubkan

Adalah perjalanan darat terpanjang yang kami lalui bersama bis menuju wilayah ini dari destinasi sebelumnya. Cappadocia atau Kapadokya adalah wilayah di Provinsi Nevsehir yang memiliki ciri geologi, sejarah dan budaya unik dengan keajaiban alam berupa “cerobong peri” (fairy chimney) yang banyak tersebar di berbagai lembahnya. Pada waktu yang lampau, penduduk Cappadocia tinggal di bawah tanah atau di dalam rumah-rumah gua. Kabarnya di beberapa tempat, rumah-rumah hasil pahatan batu besar di area tersebut juga masih dihuni oleh sejumlah penduduk sampai sekarang.

Mengutip informasi dari sebuah situs berita, letusan tiga gunung berapi besar Turki di  Erciyes, Hasandag, dan Melendiz jutaan tahun lalu, serta empasan cuaca selama puluhan ribu tahun, membuat Cappadocia memiliki struktur tanah yang unik: Berbentuk pilar-pilar, gua-gua, bukit-bukit batu yang saling tumpuk, serta bukit berpuncak datar. Selama ribuan tahun, angin dan air hujan mengalir ke lembah, menyebabkan  erosi, kemudian membentuk struktur dan pahatan-pahatan yang dikenal dengan cerobong perinya. Ini adalah bongkahan batu tinggi dan bertopi yang bentuknya kerucut atau seperti jamur.

  Baca lebih lanjut

Iklan

Amazing Turkey (4): Konya dan Makam Mevlana

“Aku ingin melihat wajah-Mu pada sebatang pohon, pada matahari pagi, dan pada langit yang tanpa warna”

Siapa yang tak kenal Jalaluddin Rumi? Minimal tentu pernah mendengar namanya disebut atau mungkin beberapa kutipan karyanya. Eh tapi ini bukan Jalaluddin Rumi nama anak salah satu artis itu ya, hahahaha… Konon kabarnya si artis juga pengagum Rumi yang saya maksud.

Saya bicara tentang Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri, seorang tokoh dan penyair Sufi. Nama Rumi dalam bahasa Turki adalah Mawlana Jalal ad-Din Muhammad Balkhi-Rumi, atau yang di sana sering disebut dengan singkat “Mevlana”. Sebenarnya ketika melacak beberapa situs, ada keragaman penjelasan tentang nama lengkap Rumi dari berbagai sumber. Jadi saya ambil salah satunya saja.

Berada di Provinsi Konya (sekitar 717 km dari Istanbul, 491 km dari Bursa, dan 571 km dari Izmir), makam dan museum Mevlana yang megah sekaligus indah ini tidak pernah sepi dari pengunjung. Mereka yang datang berziarah melampaui batasan usia, suku bangsa, pun latar belakang agama. Mayoritas adalah para pengagum Rumi dan ajaran spiritualnya yang membawa pesan damai, bertumpu pada universalitas dan humanitas.

Kompleks makam dan museum Mevlana ini terdiri dari beberapa bangunan. Bangunan utama berisi makam Mevlana, keturunan dan pengikutnya, juga berbagai benda bersejarah pada jamannya. Di sekitar bangunan utama terdapat deretan bangunan yang lebih kecil, berisi benda-benda peninggalan Mevlana yang lain yang dipergunakan dalam menyebarkan ajarannya, seperti pakaian, alat musik, dan sebagainya.

Selain ajaran Sufi yang tersampaikan dalam berbagai karya puisi penuh kedalaman makna, hal lain yang dikenal luas identik dengan Rumi adalah tarian para darwis atau whirling dervishes yang dipandang sebagai simbolisasi ajaran Sufisme Rumi. Tarian dilakukan dengan memutar badan sesuai ritme perputaran bumi. Tarian ini menjadi ritual khas Tarekat Mevlevi (sebutan bagi pengikut Mevlana) yang menggambarkan kesatuan kosmis secara artistik dan dramatik.

Satu hal saat mengunjungi tempat ini, entah kenapa saya merasa ada desakan emosi yang tak terjelaskan ketika berdiri menghadap nisan Mevlana. Desakan emosi yang begitu kuat hingga membuat air mata tiba-tiba menetes. Boleh jadi pengalaman spiritual ini juga dialami oleh peziarah lain, yang sempat saya lihat beberapa kali mengusap mata di sela doanya.

Lebih lanjut, bersama sejumlah gambar saya kutipkan beberapa karya Mevlana dalam tulisan ini.

  Baca lebih lanjut

Amazing Turkey (3): Ephesus dan Jejak Kejayaan Yunani Kuno

Dari Istanbul, ke Bursa, lalu berpindah lagi ke Provinsi Izmir. Benar-benar serupa trayek bis antar kota antar provinsi, hihihi… Ada Ephesus yang kami kunjungi di wilayah ini.

Berlokasi di Kota Selcuk, Ephesus pada awalnya adalah kota kuno Bangsa Yunani, namun kemudian direbut dan mengalami kejayaannya pada masa Kerajaan Romawi. Di jaman Romawi, Ephesus adalah kota terbesar kedua setelah Roma. Kota ini dalam sejarahnya pernah hilang akibat gempa bumi, namun kemudian ditemukan dan dibangun kembali dan menjadi salah satu objek yang rasanya tidak boleh dilewatkan jika berkunjung ke Turki.

Memasuki kompleksnya yang begitu luas dengan berbagai jejak bangunan yang megah, pikiran seakan terbawa untuk membayangkan bagaimana kehidupan pada jaman dimana kota ini masih berjaya ribuan tahun yang lalu. Terbayang adegan demi adegan film Gladiator! 😀

  Baca lebih lanjut

Amazing Turkey (2): Bursa dan Pengalaman Salju Pertama

Jika pada tulisan sebelumnya saya sudah menceritakan tentang beberapa objek yang kami kunjungi selama di Istanbul, maka sekarang saya beralih ke Bursa. Bursa adalah provinsi yang berbeda dari Istanbul. Keduanya berjarak sekitar 150 km, kami menempuhnya selama kurang lebih 2 jam menggunakan bis.

Apa yang istimewa selama kami di Bursa? Tak lain dan tak bukan adalah pengalaman pertama berjumpa dengan salju! Yeeeaaaaayyyyy! Berasa mimpi 😀

Bagaimana tidak, selama ini bisanya hanya lihat salju dari media. Sudah beberapa kali pula berpetualang ke negara orang saat musim dingin, ternyata juga belum pernah hoki menemukannya. Jadilah begitu kali ini kesampaian, whuaaaaaaa……. takjub tiada tara, sampai lupa usia! hahahaha… Maafkan jika efek euforianya masih terbawa di tulisan ini dan gambar-gambarnya yak. Maklum ketemunya aja susah, jadi harus dipuas-puaskan nyimpan fotonya, wkwkwkwk…

Permisi ini pose wajib tatkala melihat tanaman yang imut 😀

Baca lebih lanjut

Amazing Turkey (1): Istanbul dan Berbagai Peninggalan Kesultanan Turki Utsmani

Tulisan perdana di 2018 ini akan saya isi dengan cerita perjalanan saya ke Turki bersama sejumlah rekan dosen minggu lalu. Perjalanan ini adalah kunjungan ke luar Indonesia saya yang ke-11, dan negara (termasuk di dalamnya daerah administratif khusus) ke-9 yang pernah saya datangi setelah Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, China, Macau, Hong Kong, Jepang, dan Korea. Dalam rangka apa? Dalam rangka menjaga kesehatan mental diantara tumpukan pekerjaan yang tiada habisnya, dengan cara yang dibuat sedikit spesial dari biasanya, plus dengan membuka tabungan hasil jerih payah sekian waktu bersama-sama 😀

Jujur pada awalnya saya tidak memiliki cukup referensi tentang negara ini. Benar-benar di luar bayangan karena nyaris tidak pernah secara khusus membaca berita atau mendengar ceritanya. Kecuali tentang Pak Erdogan yang beberapa waktu terakhir sempat mewarnai pemberitaan karena namanya berulang disebut oleh pihak-pihak tertentu berkenaan dengan isu politik tanah air.

Berbeda dengan negara-negara lain dalam kepergian sebelumnya, seperti Brunei, Malaysia, Jepang, dan China yang banyak orang mungkin sudah familiar sejak kecil melalui berbagai tayangan televisi dan pelajaran di sekolah; atau Australia yang film-filmnya cukup banyak diputar dari jaman kejayaan TVRI; lebih-lebih Korea yang drama dan musiknya bagi saya sudah seperti makanan sehari-hari, maka ketika tiba kesempatan untuk mengunjunginya, berbagai gambaran di kepala dan sejumlah referensi pun sudah siap membantu untuk beradaptasi. 

Namun tidak demikian dengan Turki. Itulah kenapa ketika semakin dekat dengan waktu keberangkatan, perasaan saya boleh dibilang cenderung datar. Antusias sedikit, sekedar karena mendengar bahwa di sana sedang musim dingin sehingga jika beruntung mungkin rombongan akan bisa bertemu dengan salju. Ditambah karena menyadari bahwa sudah cukup lama kami serekan kerja ini tidak pergi melepas penat bersama-sama. Selebihnya flat.

Taapiiiiii….. berganti hari, seiring waktu dan pengalaman mencermati kehidupan dan budaya di sana, rasa datar itu pun perlahan berganti dengan antusiasme yang sebenarnya. Saya akan tuliskan secara ringkas untuk menggambarkan bagaimana perjalanan yang bagi saya kaya akan pengetahuan baru ini terlalui.   

Baca lebih lanjut

Cerita dari Ruang Kuliah: 12 Riset Kualitatif untuk Memahami Perilaku di Media Sosial (Bagian 4)

Masih melanjutkan tulisan sebelumnya, berikut adalah pelengkap dari cerita kelas kualitatif S1 semester ini. 3 tulisan terdahulu sudah memaparkan bagaimana hasil latihan meneliti dari 12 kelompok yang ada di kelas yang saya pandu. Sekali lagi, saya mengapresiasi betul proses belajar mahasiswa Semester 5 ini. Semua menunjukkan progres pemahaman yang baik, meski sejauh mananya tentu tidak sama antara satu dengan yang lain. Ada yang berada di kisaran rata-rata sebagaimana kemampuan individu yang baru mulai belajar meriset, ada yang masih sedikit di bawah yang lain, namun ada pula yang menunjukkan potensi besar untuk kelak dapat menghasilkan riset-riset kualitatif yang luar biasa sesuai jenjangnya.

Selama mendampingi mereka belajar di kelas ini, ada beberapa hal yang berulang saya tekankan. Pertama, tentang keluasan penelitian kualitatif. Bagaimanapun, apa yang telah mereka pelajari hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak pendekatan dalam penelitian kualitatif. Melalui proses pembelajaran yang telah dilalui, mereka masih sebatas mengenal kualitatif versi generik. Versi sederhana, versi pemula. Pendekatan pun baru belajar sedikit tentang studi kasus dan fenomenologi. Artinya, untuk menjadi mahir dan memiliki penguasaan yang baik, mereka perlu mengembangkan pemahaman dengan belajar dan berlatih secara mandiri, menerapkan pendekatan kualitatif yang lain berikut sekian banyak variasi teknik di dalamnya. Sebab penguasaan terhadap sebuah ketrampilan tidak akan pernah tercapai hanya dengan sekali-dua kali mencoba melakukan.

Kedua, sebuah penelitian yang baik harus didasarkan pada research problem yang jelas, berbasis data yang kuat, dan memiliki manfaat. Jadi bukan sekedar memenuhi keingintahuan peneliti. Karena itu, dalam setiap kesempatan memberikan umpan balik, hal ini juga selalu menjadi perhatian saya dalam mengoreksi. Saya dorong mereka untuk membangun argumentasi yang kuat dalam menyatakan persoalan penelitian, berdasarkan kajian teoritik, hasil riset terdahulu, berbagai literatur dan sumber data fenomena yang akurat.

Ketiga, pentingnya menentukan perspektif teori yang tepat dalam mengkaji persoalan yang diangkat. Bagian ini cukup sulit. Setidaknya menuntut peneliti untuk melacak akar dari penjelasan teoritik atas konsep yang menjadi fokus kajian. Ada yang berhasil, banyak yang belum. Terlebih karena waktu belajar satu semester yang terbatas di tengah tuntutan memenuhi kelengkapan setiap bagian riset yang lain, juga diantara tumpukan tugas/project yang tak kalah aduhai dari mata kuliah yang berbeda. Tapi tidak apa, meski belum optimal, setidaknya dengan umpan balik yang terus diberikan, mereka dapat menindaklanjutinya dengan lebih baik nanti pada saat mengerjakan skripsi. Kalau yang skripsinya tidak menggunakan pendekatan kualitatif? Ya paling tidak mereka sudah pernah mendapatkan penjelasan dan feedback-nya. Semoga masih tersimpan di ingatan manakala suatu saat nanti diperlukan 😀 Baca lebih lanjut

Cerita dari Ruang Kuliah: 12 Riset Kualitatif untuk Memahami Perilaku di Media Sosial (Bagian 3)

Setelah cerita 8 riset di tulisan bagian 1 dan bagian 2, saya akan melengkapinya dengan 4 lagi hasil kerja mahasiswa yang sedang berlatih meneliti dengan pendekatan kualitatif ini. Kita mulai dengan kelompok sembilan. Kelompok ini mengambil judul penelitian: Aktualisasi Diri Individu dengan Karakter Androgini di Media Sosial.

Kelompok ini tertarik dengan topik yang dipilih setelah mengamati bahwa unggahan yang menampilkan sosok individu berkarakter androgini sedang menjadi salah satu tren di instagram. Androgini merupakan istilah yang menunjukkan adanya karakter maskulin dan feminin yang setara dalam diri individu. Seorang androgini adalah individu yang tidak dapat sepenuhnya menampilkan diri sesuai dengan peran gender maskulin atau feminin yang tipikal di masyarakat, sebagaimana jenis kelaminnya. Mereka memilih melakukan pencampuran dari ciri-ciri maskulin dan feminin dalam penampilannya.

Kajian literatur yang dilakukan kelompok mencatat bahwa seorang dengan karakter androgini umumnya menyadari bahwa masyarakat secara jamak masih cenderung memandang mereka sebelah mata. Tidak jarang orang melabel mereka ‘banci’ atau menyamakannya dengan individu transgender. Namun dalam kondisi demikian, cukup banyak individu androgini yang tetap berani mengaktualisasikan diri sebagai sosok androgin melalui berbagai macam unggahan foto di media sosial. Kelompok peneliti berusaha menggali lebih lanjut mengenai fenomena ini.

Hasil analisis data menjelaskan bahwa aktualisasi diri individu androgini dalam penelitian ini terdorong oleh besarnya kebutuhan untuk mencapai kebahagiaan hidup, dengan menjadi diri sendiri dan bebas menggeluti passion yang dimiliki. Aktualisasi diri partisipan juga dikuatkan oleh kesadaran bahwa media sosial merupakan ruang yang potensial untuk dapat mempromosikan kemampuan dan mendapatkan keuntungan finansial dari orang yang menghargai kemampuannya. Individu menyadari berbagai risiko dari setiap unggahannya di media sosial, sehingga aktualisasi diri yang dilakukan juga disertai upaya mengembangkan koping yang efektif terhadap tekanan dari lingkungan yang setiap saat dapat ditemui. Baca lebih lanjut