Pemaknaan dan Penerimaan Terhadap Perubahan Identitas pada Individu Penyandang Disabilitas

Berikut adalah slide-slide hasil penelitian yang saya presentasikan pada Temu Ilmiah Nasional Psychofest, Sabtu 22 November 2014 kemarin di Fakultas Psikologi UNAIR. Saya unggah di sini untuk menindaklanjuti permintaan beberapa peserta sesi yang belum sempat meng-copy file-nya.

Ringkas, penelitian ini menunjukkan bahwa bagaimana seseorang memaknai kejadian tertentu yang dialami dalam hidup akan menentukan bagaimana perilaku penerimaannya kemudian terhadap pengalaman baru. Pada mereka yang sama-sama telah menerima perubahan fisik menjadi penyandang disabilitas pun, spesifik perilakunya dapat berbeda satu sama lain mengikuti pemaknaannya terhadap perubahan identitas tersebut.

Hasil penelitian ini memberi banyak peluang bagi penelitian lanjutan untuk secara konseptual memperjelas korelasi antara pemaknaan dengan penerimaan diri, maupun terhadap kajian-kajian yang bertujuan merumuskan rancangan intervensi dalam membantu individu pada situasi serupa untuk mencapai penerimaan diri.

Slide1 Baca lebih lanjut

Seputar Penyusunan Tugas Akhir

Ada sejumlah temuan menarik saat beruntun di beberapa waktu terakhir saya diminta memberikan masukan pada sejumlah proposal tesis dan disertasi, baik di bidang ilmu psikologi maupun ilmu kesehatan. Hal mendasar yang menurut saya perlu diperhatikan, namun kerap luput dari pemikiran. Dan semakin terasa menarik karena terjadinya tidak hanya pada satu / dua naskah saja:

Judul yang Sangat Panjang, Kompleks, Tampak WOW, Tapi Sulit Dipahami Maksudnya

Di beberapa tempat fenomena ini cukup menjadi tren. Saya sempat merenungkan dan berusaha untuk berempati terhadap kemungkinan penyebabnya. Mungkin mahasiswa yang membuat khawatir jika tesis atau disertasinya tampak sederhana, sehingga orang akan cenderung membandingkan dengan skripsi. Tetapi menurut saya membuat judul yang panjang dan ruwet juga bukan solusi yang tepat. Bolehlah merancang sebuah penelitian yang menantang sesuai level studi, misal dengan menggunakan jumlah sampel yang besar, atau mengangkat fenomena yang sangat spesifik dari kelompok masyarakat yang tidak mudah diakses, atau melibatkan cukup banyak variabel. Namun demikian formulasi judul tetap harus jelas, tidak membingungkan pembaca. Apalagi jika si pembuat usulan penelitian sendiri juga tampak tidak paham setelah dikonfirmasi. Bagaimanapun untuk judul, the simpler the better. Sederhana dan jelas, meski bukan berarti yang sederhana itu mudah untuk dilakukan. Baca lebih lanjut

Abstrak Disertasi

Beberapa teman menanyakan tentang disertasi yang telah saya selesaikan beberapa waktu lalu. Terkait dengan hal tersebut, berikut adalah gambaran singkatnya:

PROSES RESILIENSI INDIVIDU TERHADAP PERUBAHAN KONDISI FISIK MENJADI PENYANDANG DISABILITAS (GROUNDED THEORY PADA PENYANDANG TUNADAKSA)

Abstrak

Penelitian yang dilatarbelakangi oleh semakin tingginya angka kejadian disabilitas di Indonesia serta adanya kebutuhan teoritik yang dapat menjelaskan tentang bagaimana individu mampu bangkit dari trauma dan mencapai resiliensi sebagai penyandang disabilitas ini bertujuan untuk membangun teori substantif tentang proses resiliensi individu terhadap perubahan kondisi fisik menjadi penyandang disabilitas. Pendekatan kualitatif dengan strategi grounded theory dari Strauss dan Corbin (1998) digunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Baca lebih lanjut

Dua Langkah Analisis Tematik (Boyatzis, 1998)

Analisis tematik adalah cara mengidentifikasi tema-tema yang terpola dalam suatu fenomena. Tema-tema ini dapat diidentifikasi, dikodekan secara induktif (data driven) dari data kualitatif mentah (transkrip wawancara, biografi, rekaman video, dan sebagainya) maupun secara deduktif (theory driven) berdasarkan teori maupun hasil penelitian terdahulu (Boyatzis, 1998). Penggunaan masing-masing teknik secara khusus akan berbeda, tergantung dari tujuan penelitian. Namun demikian penelitian ini mencoba menerapkan kedua langkah analisis tematik tersebut dalam mengkaji 1 kasus tentang resiliensi pada individu tunarungu. Tujuannya secara metodologis tidak lain untuk memberikan gambaran khususnya pada mahasiswa tentang perbedaan proses/langkah-langkah dari setiap teknik analisis yang dimaksud.

Mengenai topik yang akan diteliti, resiliensi adalah sebuah konsep yang mencerminkan bagaimana kekuatan dan ketangguhan yang ada dalam diri seseorang ketika menghadapi kesulitan atau kondisi yang menekan. Resiliensi psikologis ditandai dengan kemampuan untuk bangkit dari pengalaman emosional yang negatif. Dengan kemampuan yang dimiliki, seorang yang resilien akan berusaha untuk menghadapi dan kemudian bangkit dari berbagai kondisi stres (Block and Kremen, 1996, dalam Tugade and Fredricson, 2004).

Partisipan adalah individu yang mengalami ketunarunguan pada usia remaja, memiliki karakteristik sebagai seorang penyandang disabilitas yang resilien menurut Tugade dan Fredrickson (2004), dan saat ini telah memiliki perkerjaan tetap dengan penghasilan yang memadai untuk biaya hidup bersama keluarga. Penggalian data dilakukan dengan wawancara dan penggunaan dokumen terkait perjalanan hidup partisipan. Dalam proses analisisnya, karena ada dua teknik analisis yang akan digunakan sekaligus, maka prosedur analisis tematik induktif dilakukan terlebih dahulu agar peneliti tidak terdistorsi oleh pengkodean berbasis teori yang menjadi tahap awal pada analisis tematik deduktif. Setelah hasil dari analisis dengan langkah-langkah induktif diperoleh, peneliti baru menerapkan analisis tematik versi deduktif. Baca lebih lanjut

What Can Parent Do to Increase The Resilience of Student with Special Needs?

Tulisan dalam format ppt di bawah ini adalah tindak lanjut dari hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya tentang eksplorasi faktor protektif resiliensi pada keluarga khusus. Ide tentang 5 langkah yang dapat ditempuh orangtua dalam meningkatkan resiliensi anak/siswa berkebutuhan khusus, yang mengacu pada faktor-faktor protektif resiliensi keluarga tersebut sangat terbuka untuk dikaji lebih lanjut melalui penelitian maupun aktivitas ilmiah yang lain.

Baca lebih lanjut

Basic Training On Inclusive Education Practice: Different Stories from Different Schools

Abstract

According to the fundamental belief that education must be available, accessible, affordable, acceptable and adaptable for all people (Human Right and Equal Opportunity, 2000), inclusive education is developed in many countries. Inclusive education means that schools should accommodate all children regardless of their physical, intellectual, social, emotional, linguistic or other conditions (UNESCO, 1994).

In Indonesia, the concept of inclusive education is relatively new. The pilot project for inclusive school implementation was started in 1986, and up to now the development of this inclusive practice is still challenging. Some reasons emerge such as: (1) the benefits of inclusion have not been clearly communicated to all school components and stakeholders; (2) schools’ lacking of resources and supports as well as inappropriate allocation for available supports; (3) less commitment staff with little understanding and knowledge regarding to inclusive practices; (4) ineffective and unsupportive leadership. Baca lebih lanjut

Penerimaan Keluarga Terhadap Individu yang Mengalami Keterbelakangan Mental

PENGANTAR

Tidak semua individu dilahirkan dalam kondisi yang “normal”. Beberapa di antaranya memiliki keterbatasan baik secara fisik maupun psikis, yang telah dialami sejak awal masa perkembangan. Keterbelakangan mental adalah salah satu bentuk gangguan yang dapat ditemui di berbagai tempat, dengan karakteristik penderitanya yang memiliki tingkat kecerdasan di bawah rata-rata (IQ di bawah 75), dan mengalami kesulitan dalam beradaptasi maupun melakukan berbagai aktivitas sosial di lingkungan. Individu dengan keterbelakangan mental memiliki fungsi intelektual umum yang secara signifikan berada di bawah rata-rata, dan lebih lanjut kondisi tersebut akan berkaitan serta memberikan pengaruh terhadap terjadinya gangguan perilaku selama periode perkembangan (Hallahan & Kauffman, 1988). Prevalensi penderita keterbelakangan mental di Indonesia saat ini diperkirakan telah mencapai satu sampai dengan tiga persen dari jumlah penduduk seluruhnya, dan jumlah tersebut dimungkinkan akan terus bertambah dari tahun ke tahun. Baca lebih lanjut