Disability and Resilience: Four Phases to Overcome Significant Adversity in The Life Changes

Late Post. Sebagaimana biasanya saya selalu membagikan dalam blog ini, materi yang saya presentasikan di forum-forum ilmiah yang telah saya ikuti. Kali ini adalah materi presentasi dalam ICEPAS 2016 yang lalu. Sebagaimana sudah saya singgung saat bercerita tentang perjalanan ke Korea Selatan tersebut, materi yang berjudul Disability and Resilience: Four Phases to Overcome Significant Adversity in The Life Changes ini adalah bagian dari riset disertasi yang saya selesaikan. Saya memaparkan tentang temuan empat fase yang dilalui oleh individu dalam perubahan kondisinya menjadi seorang penyandang disabilitas, hingga pada akhirnya mampu mencapai resiliensi. Dengan kata lain, keempat fase tersebut merupakan fase-fase dalam proses resiliensi.

Berikut adalah beberapa kutipan ppt yang saya bawakan. Versi lengkap dari artikel dimuat dalam Conference Proceeding.

Processed with MOLDIV

ISBN: 978-986-89536-4-2

Baca lebih lanjut

Iklan

Cerita dari Ruang Kuliah: Rupa-rupa Proses Belajar Riset Kualitatif

Ini sedikit cerita dari satu mata kuliah yang saya suka sekali mengampunya: Metode dan Analisis Data Kualitatif (MADK) untuk mahasiswa S1. Saya pribadi semakin menikmati proses pembelajarannya karena di kurikulum baru yang sekarang digunakan di fakultas kami, mata kuliah MADK berubah menjadi 4 SKS dari yang semula 3. Tambahan 1 SKS tentu memberi ruang lebih luas yang memungkinkan mahasiswa belajar lebih banyak. Hal ini sedikit mengurangi ketimpangan dengan besarnya total SKS yang dialokasikan untuk belajar metode penelitian kuantitatif, sehingga di waktu yang lalu cukup berdampak pada kecenderungan timpangnya pengetahuan mahasiswa terhadap kedua metode penelitian yang semestinya dapat dipahami dengan sama baik.

Semester pertama pelaksanaan kuliah MADK dalam format 4 SKS ini diikuti oleh sejumlah banyak mahasiswa yang terbagi dalam 4 kelas paralel. Tim pengajar ada 4 orang: Saya, Pak Ilham, Pak Rudi dan Bu Rini. Masing-masing dari kami memegang penuh 1 kelas agar dapat fokus memantau progres belajar mahasiswa secara kontinu. Dengan beban 4 SKS, kami merancang kegiatan pembelajaran yang tidak hanya memfasilitasi mahasiswa untuk memperoleh pengetahuan terkait cakupan materi, namun juga bagaimana mengalami, melakukan penelitian secara berkelompok, meski dalam topik yang sederhana. Mereka juga diminta mempublikasikan hasil penelitiannya dalam seminar kecil, dan diakhiri dengan menyusun laporan penelitian secara lengkap.

Diharapkan melalui proses yang demikian, mereka sedikit banyak mendapatkan bekal sekaligus gambaran konkrit yang akan bermanfaat ketika tiba saatnya nanti mengerjakan skripsi, atau memenuhi penugasan lain yang membutuhkan ketrampilan meneliti secara kualitatif. Bagaimanapun, mempelajari sebuah metode dan suatu ketrampilan akan lebih optimal jika dapat dilakukan dengan praktek langsung, bukan sekedar tahu secara konseptual. Titik berat pembelajaran metode riset adalah pada aplikasinya, pada bagaimana penggunaan metode tersebut dalam aktivitas penelitian yang riil. Praktek akan memberikan penguatan terhadap pemahaman sekaligus koreksi apabila ada materi yang dipersepsikan secara berbeda jika hanya dipelajari melalui tatap muka ceramah.

Berdasarkan pengamatan selama satu semester pelaksanaan perkuliahan, ada sejumlah capaian proses belajar yang menurut saya menarik untuk dituliskan. Meski mungkin tidak secara lengkap menguraikan apa yang terjadi pada keempat kelas, namun setidaknya data yang terpantau dari kelas saya cukup untuk merepresentasikan kondisi yang terjadi secara umum.

Processed with MOLDIV Baca lebih lanjut

Early Identification of Values in Parenting: A Content Analysis

Melanjutkan cerita tentang perjalanan ke China kemarin,  berikut dibagikan materi presentasi yang saya sampaikan dalam forum  ICP-HESOS di Zhejiang University. Ini adalah hasil riset awal yang akan saya lanjutkan dengan tahapan identifikasi berikutnya untuk memperoleh temuan yang lebih utuh dan kredibel.

Slide1Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perhatian terhadap pola-pola perilaku anak dan remaja dalam masyarakat yang terus berubah sejalan dengan perubahan jaman. Hasil-hasil riset terdahulu menunjukkan bahwa perubahan yang ada membawa beragam tantangan sekaligus potensi persoalan yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Pudarnya perilaku berbasis norma dan etika, kasus-kasus kenakalan remaja yang semakin meningkat, banyaknya keluhan tentang tindak bermasalah anak dan remaja di berbagai setting sosial menjadi dasar pemikiran untuk melakukan studi ini.

Sebagaimana dijelaskan dalam perspektif psikologi perkembangan, perilaku manusia terbentuk melalui proses belajar dalam waktu yang tidak singkat, sejak awal dilahirkan. Pengasuhan orangtua dalam hal ini mengambil peran utama dalam pembentukan perilaku individu. Value yang diyakini dan ditanamkan oleh orangtua dalam pengasuhannya kepada anak merupakan aspek yang menentukan terhadap kecenderungan berperilaku yang berbeda antar generasi.

Terkait hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk melakukan identifikasi awal terhadap berbagai value dalam pengasuhan berdasarkan persepsi anak yang lahir pada 2 kurun waktu yang berbeda, yaitu: Tahun 1970an dan 1980an. Data dikumpulkan dengan memberikan pertanyaan terbuka untuk direspon secara tertulis oleh partisipan penelitian. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis isi. Baca lebih lanjut

Penggalian Data Kualitatif

Selama kurang lebih dua minggu, saya meminta mahasiswa peserta mata kuliah Penelitian Kualitatif di S1 untuk belajar tentang teknik penggalian data kualitatif dengan melakukannya secara langsung. Mereka saya minta melakukan wawancara pada 1 partisipan saja, dan saat pertemuan di kelas Selasa kemarin kami mendiskusikan pengalaman apa saja yang sudah mereka peroleh.

Nano-nano, seru, tapi semua kompak menyatakan bahwa melakukan wawancara untuk menggali data secara mendalam itu sungguh tidak mudah. Itu memang benar, dan saya senang mereka menyimpulkannya dari pengalaman sendiri. Meski tak semua berhasil maksimal dalam mewawancara, tapi saya yakin mereka telah belajar sesuatu dengan melakukannya.

Ada yang partisipannya sangat irit bicara, ada yang selalu menghindari kontak mata dan tidak mau melepas kacamata hitam selama sesi wawancara, ada yang banyak bicara tapi ngelantur kemana-mana, ada yang awalnya menyatakan bersedia diwawancara tapi pada akhirnya selalu tampak menghindar untuk ditemui, dan sebagainya, dan sebagainya. Saya mencoba menyimak pengalaman mereka satu per satu, lalu memberikan umpan balik terhadap kekurang-berhasilan proses yang telah dilakukan.

Evaluasi Penggalian Data Baca lebih lanjut

Ngobrol Skripsi Kualitatif

Metode penelitian kualitatif adalah salah satu mata kuliah yang saya ampu, baik untuk mahasiswa S1, S2 maupun S3. Kalau diingat kembali, saya mulai tertarik lalu menggeluti dunia kualitatif ini sejak masuk menjadi dosen di Fak.Psi.UNAIR, kurang lebih 10 tahun yang lalu. Sebelumnya, selama kuliah S1 dan S2 saya masih ‘setia’ dengan kuantitatif. Pernah memang mendapatkan materinya semasa kuliah S2. Tapi itu masih sebatas perkenalan.

Nah, dari 10 tahun masa ‘learning by doing’ di kampus, dibilang ahli ya jelas tidaklah… Saya hanya suka saja melakukannya, mempelajarinya lebih jauh, menyibak misteri demi misteri dalam keanekaragaman pendekatan yang ada di dalamnya. Meski di kampus saya salah satu yang konsisten menggunakan  metode ini, tapi masih ada beberapa dosen senior yang lebih mumpuni pemahamannya. Hanya saja, kebetulan dua minggu yang lalu adalah giliran saya untuk mengisi pendampingan mahasiswa S1 yang sedang mengerjakan skripsi kualitatif. Nah, saya ingin berbagi tentang materi yang saya sampaikan dalam forum “Ngobrol Skripsi” tersebut.

IMG_3494 Baca lebih lanjut

Pemaknaan dan Penerimaan Terhadap Perubahan Identitas pada Individu Penyandang Disabilitas

Berikut adalah slide-slide hasil penelitian yang saya presentasikan pada Temu Ilmiah Nasional Psychofest, Sabtu 22 November 2014 kemarin di Fakultas Psikologi UNAIR. Saya unggah di sini untuk menindaklanjuti permintaan beberapa peserta sesi yang belum sempat meng-copy file-nya.

Ringkas, penelitian ini menunjukkan bahwa bagaimana seseorang memaknai kejadian tertentu yang dialami dalam hidup akan menentukan bagaimana perilaku penerimaannya kemudian terhadap pengalaman baru. Pada mereka yang sama-sama telah menerima perubahan fisik menjadi penyandang disabilitas pun, spesifik perilakunya dapat berbeda satu sama lain mengikuti pemaknaannya terhadap perubahan identitas tersebut.

Hasil penelitian ini memberi banyak peluang bagi penelitian lanjutan untuk secara konseptual memperjelas korelasi antara pemaknaan dengan penerimaan diri, maupun terhadap kajian-kajian yang bertujuan merumuskan rancangan intervensi dalam membantu individu pada situasi serupa untuk mencapai penerimaan diri.

Slide1 Baca lebih lanjut

Seputar Penyusunan Tugas Akhir

Ada sejumlah temuan menarik saat beruntun di beberapa waktu terakhir saya diminta memberikan masukan pada sejumlah proposal tesis dan disertasi, baik di bidang ilmu psikologi maupun ilmu kesehatan. Hal mendasar yang menurut saya perlu diperhatikan, namun kerap luput dari pemikiran. Dan semakin terasa menarik karena terjadinya tidak hanya pada satu / dua naskah saja:

Judul yang Sangat Panjang, Kompleks, Tampak WOW, Tapi Sulit Dipahami Maksudnya

Di beberapa tempat fenomena ini cukup menjadi tren. Saya sempat merenungkan dan berusaha untuk berempati terhadap kemungkinan penyebabnya. Mungkin mahasiswa yang membuat khawatir jika tesis atau disertasinya tampak sederhana, sehingga orang akan cenderung membandingkan dengan skripsi. Tetapi menurut saya membuat judul yang panjang dan ruwet juga bukan solusi yang tepat. Bolehlah merancang sebuah penelitian yang menantang sesuai level studi, misal dengan menggunakan jumlah sampel yang besar, atau mengangkat fenomena yang sangat spesifik dari kelompok masyarakat yang tidak mudah diakses, atau melibatkan cukup banyak variabel. Namun demikian formulasi judul tetap harus jelas, tidak membingungkan pembaca. Apalagi jika si pembuat usulan penelitian sendiri juga tampak tidak paham setelah dikonfirmasi. Bagaimanapun untuk judul, the simpler the better. Sederhana dan jelas, meski bukan berarti yang sederhana itu mudah untuk dilakukan. Baca lebih lanjut