Catatan dari Korea (2): Pulau Jeju yang Menawan

Seperti saya sebutkan di tulisan terdahulu, Pulau Jeju seperti Bali-nya Korea Selatan. Banyak pemandangan alam yang cantik di pulau ini. Mulai dari pantai dan tebing-tebingnya yang unik, ladang bunga, hingga bukit dan gunungnya yang menjadi andalan. Ada 2 kota utama di sana, Jeju City di Utara dan Seogwipo City di Selatan. Mengingat tempat konferensi ada di Selatan, maka rombongan kami juga memilih tinggal di Seogwipo, mendekati venue acara. Tentang orang-orangnya, dibandingkan dengan mereka yang tinggal di kota besar seperti Seoul, karakter penduduk Jeju lebih ramah, meskipun amat sangat sedikit yang bisa berbahasa Inggris. Dalam kondisi ini, beberapa kosakata Bahasa Korea saya yang sebenarnya terbatas pun menjadi begitu berharga.

FullSizeRender 13

FullSizeRender peta

FullSizeRender 77
FullSizeRender 88

Selama tiga hari di Pulau Jeju, di sela waktu konferensi kami menyempatkan diri mengunjungi beberapa objek wisata yang lokasinya terjangkau. Beruntung karena pulau kecil, jarak antara satu tempat dengan tempat yang lain juga relatif dekat. Berikut gambaran singkat 10 destinasi wisata yang sempat kami kunjungi: Baca lebih lanjut

Iklan

Catatan dari Korea (1): ICEPAS 2016

Tuhan Maha Baik. Ketika kita bersungguh memohon dan percaya bahwa Dia akan memberi jalan, maka tak ada yang tak mungkin akan terjadi. Saya yang berasal dari keluarga sederhana, dulu rasanya jauh dari angan untuk bisa pergi mengunjungi tempat-tempat menarik di negara lain. Namun ternyata kuasa-Nya berkata lain.

Tahun 2007, keikutsertaan di International Conference on Education membawa saya untuk pertama kalinya mengunjungi Brunei Darussalam. Dua tahun kemudian, 2009, fakultas yang mengadakan gathering staf pengajar memberi kesempatan saya untuk ikut mengunjungi Beijing dan Shanghai di China. Lanjut di Tahun 2011, pengalaman bertambah ketika saya lolos seleksi untuk mengikuti program short course tentang pendidikan inklusif selama 6 minggu di Flinders University Adelaide, South Australia. Ini adalah pengalaman pertama dalam waktu yang cukup lama meninggalkan keluarga dan khususnya Damai yang saat itu masih berumur 5 tahun.

Tahun 2013, kesempatan lain datang untuk kembali mengikuti konferensi internasional psikologi di Osaka. Saya telah menuliskan secara khusus pengalaman di Jepang ini karena benar-benar terkesan dengan negaranya yang cantik. Lalu di 2014, seusai mengikuti Kolokium Psikologi Indonesia yang kala itu diselenggarakan di Pekanbaru, rombongan dimana saya bergabung ternyata memutuskan untuk singgah sebentar di Penang Malaysia, sebelum pulang. Dan masih di tahun yang sama, saya kemudian turut berangkat ke Queensland University of Technology, Brisbane Australia, terkait pengurusan kerjasama antar institusi.

Tahun 2015 saya kembali ke China untuk mengikuti konferensi psikologi di Hangzhou, sekaligus mengunjungi pula Senzhen, HongKong dan Macau. Dan setelah 7 perjalanan jauh tersebut, baru tahun inilah tiba saatnya saya pergi ke negeri impian, Korea Selatan. Kenapa Korea? Ah, sudahlah, tidak perlu dijawab. Semua rasanya sudah paham bahwa saya adalah salah satu penggemar drama Korea. Dari kegemaran tersebut, saya mulai membaca sejarah Korea, mencari berbagai informasi terkait beragam tradisinya, bahkan pernah mengambil kursus singkat tentang bahasanya, meskipun hanya 3 bulan karena kesulitan mencari waktu luang untuk melanjutkan.

Perjalanan saya ke Korea ini kembali melalui jalur konferensi, seperti saat ke Brunei, Jepang, dan China kali kedua. Saya mengikuti International Conference on Education, Psychology and Society (ICEPAS), yang diadakan di Jeju Island, semacam Bali-nya Korea. Dari fakultas, saya berangkat bersama 3 rekan dosen yang lain.

FullSizeRender 107

Mengingat banyaknya hal berkesan dalam pengalaman ke Korea ini, maka saya akan menceritakannya dalam beberapa tulisan yang berbeda. Untuk tulisan pertama, singkat akan saya uraikan lebih dulu tentang konferensi yang saya ikuti. Baca lebih lanjut

2015 in review

Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2015 untuk blog ini.

Berikut ini kutipannya:

Aula konser di Sydney Opera House menampung 2.700 orang. Blog ini telah dilihat sekitar 22.000 kali di 2015. Jika itu adalah konser di Sydney Opera House, dibutuhkan sekitar 8 penampilan terlaris bagi orang sebanyak itu untuk menontonnya.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.