Resiliensi, Perspektif Life Span, dan Peluang dalam Penelitian (Materi dalam Seminar Nasional Pascasarjana)

Sabtu, 26 November 2016. Satu lagi proses belajar telah dilalui, kali ini sebagai narasumber dalam Seminar Nasional Pascasarjana yang diselenggarakan oleh Program Doktor Ilmu Psikologi Universitas Gadjah Mada. Ini pengalaman yang sangat berkesan bagi saya karena bisa ‘pulang’ ke rumah, melakukan sesuatu untuk fakultas yang sekian tahun lamanya menjadi tempat saya menimba ilmu semasa S1-S2 dulu.

img_7964 Baca lebih lanjut

Iklan

Orangtua, Kata-kata, dan Kebencian yang Diturunkan

Apa yang paling saya khawatirkan setiap kali merasakan suhu politik yang memanas? Pola pikir anak-anak. Terlebih jika orangtua mereka begitu gencar (bahkan tidak sedikit yang emosional) kemudian memunculkan sikap dan perilaku konsisten hingga menarik perhatian anak untuk meniru.

Saya jadi ingat perkataan seorang anak 6 tahun di sekitar masa pilpres beberapa waktu lalu, saat bermain dengan temannya. “Jokowi itu kafir!”, diucapkannya dengan lantang. Temannya yang mendengar kata-kata itu langsung bertanya, “Kenapa? Siapa yang bilang?”. Dan anak itu pun menjawab, ” Bapakku yang bilang. Dia ngomong-ngomong itu sama temannya”. Tidak disangka, teman lain menyeletuk, “Nggak boleh ngomong gitu…”. Apa kemudian jawaban si anak? : “Dosa kamu kalau mbelani! Kafir!”

Anak kecil 6 tahun. Tidak mengenal siapa yang dibicarakan, belum memahami apa yang terjadi di sekelilingnya, belum mengerti carut-marut urusan politik, dengan perkembangan kognitif yang masih setara tahap pra-operasional menurut Piaget, namun sudah ikut belajar melabel seseorang dan mengatakannya berulang-ulang pada anak-anak yang lain. Belajar melabel negatif, mengembangkan prasangka, lalu menularkan kebencian tersebut pada teman sepermainannya.

Cukupkah sampai di sini efek yang terjadi? Tidak. Jika stimulus ini cukup kuat ditangkap, maka teman sepermainan akan menularkan juga pembicaraan ini pada anak-anak yang lain, demikian seterusnya. Efek domino. Dan semakin perkataan ini diulang-ulang, ditambah adanya penguatan positif yang ia rasakan dari sekitarnya, maka semakin tertanamlah di pikiran mereka bahwa label tersebut adalah benar. Bahwa melabel orang yang menurut mereka berbeda adalah hal yang sah-sah saja dilakukan. Baca lebih lanjut

Upaya Menjadi Sosok Ibu yang Tangguh

Melanjutkan tulisan terdahulu tentang Materi Seminar Nasional Perempuan Pilar Peradaban Bangsa, kali ini saya akan ringkas menguraikan upaya yang dapat dilakukan Ibu untuk menjadi pribadi tangguh, sehingga nantinya mampu membesarkan anak-anak unggul yang juga berkarakter tangguh.

slide11

Sebagaimana telah ditulis sebelumnya, tantangan pengasuhan yang harus dihadapi ibu pada dasarnya tidak hanya berasal dari lingkungan tumbuh kembang anak saja, melainkan juga dari lingkungan personal ibu sendiri. Seorang ibu yang tangguh akan terus berusaha untuk mampu meregulasi diri agar sepadat apapun beban di tempat kerja (jika ibu bekerja), serumit apapun persoalan yang sedang dihadapi, ketidaknyamanan yang mungkin sedang dirasakan, dan sebagainya tidak menjadi halangan untuk tetap dapat mengasuh dan mendidik anak dengan baik.

Terkait hal tersebut, upaya pertama yang perlu dilakukan adalah: Self Improvementmemperbaiki diri dan melakukan penguatan psikologis secara terus-menerus. Mengapa demikian? Sebab bagaimana mungkin seorang pengasuh dapat mengasuh dengan baik jika psikologisnya tidak dijaga dalam kondisi baik? Bagaimana mungkin pendidik dapat optimal mendidik jika pikiran dan perasaannya carut-marut dan selalu tersita oleh urusan yang lain? Ini serupa juga dengan analogi tentang pentingnya seorang dokter dan psikolog harus sehat fisik dan mental terlebih dahulu sebelum kemudian bergerak membantu orang lain yang membutuhkan kemampuannya.

Lalu bagaimana cara melakukan self improvement tersebut? Baca lebih lanjut

Berbagi Materi dari Seminar Nasional “Perempuan Pilar Peradaban Bangsa”

Minggu, 30 Oktober 2016, mendapat kepercayaan untuk menjadi salah satu pembicara dalam Seminar Nasional Forum Perempuan yang diselenggarakan oleh BEM Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Dalam seminar tersebut, materi yang saya sampaikan secara khusus mengulas tentang perempuan dari sisi perannya sebagai Ibu, sosok yang signifikan dalam menumbuhkan berbagai karakter positif generasi masa depan.

1476356434452Saya mengambil judul:

GENERASI TANGGUH DENGAN ASUHAN IBU YANG TANGGUH

Dengan judul ini, hal yang ingin saya tekankan adalah bahwa untuk mampu menumbuhkan anak-anak tangguh, yang tidak hanya terampil dan berwawasan luas namun juga memiliki pribadi yang baik, maka Ibu sebagai pendamping tumbuh kembang anak harus lebih dahulu menunjukkan kualitasnya sebagai individu yang tangguh. Sebab pengasuhan anak bukan hanya sekedar teknik, bukan sekedar rentetan tugas rutin yang asal bisa dikerjakan sambil lalu. Mengasuh anak memerlukan penghayatan akan peran, kesadaran terhadap setiap hal kecil dari diri pengasuh yang dapat menjadi sumber belajar, contoh bagi bagi anak-anak dalam bersikap dan berperilaku setiap harinya.

slide2Agar pesan dapat tersampaikan secara jelas dan runtut, materi saya susun dalam tiga bagian. Berikut ini ringkasan isinya: Baca lebih lanjut

Tentang Variasi Proses Belajar

Menulis lagi tentang proses Damai dalam mengembangkan kemampuan bermusik, dan momentumnya adalah keberhasilan yang tak terduga diraihnya dalam Quatro Music Competition 2016.

Sejujurnya, keluarga kecil kami bukan pecandu event perlombaan. Saya sudah puas menjalaninya dulu ketika kecil, atas penunjukan atau tugas dari sekolah. Paham betul plus-minusnya, terhadap Damai saya lebih mementingkan bagaimana proses belajarnya mengasah bakat dapat berlangsung dengan optimal, dengan beragam aktivitas dan suasana yang menyenangkan. Jadi bukan dengan mengejar prestasi yang berasosiasi dengan kejuaraan tertentu. Kesukaan dan kenyamanan belajar saya yakini akan lebih menumbuhkan motivasi dari dalam diri Damai sendiri untuk terus berlatih, meski tanpa pengingat maupun kendali dari orang lain. Kalaupun suatu saat ia memperoleh hasil yang lebih dengan penghargaan tertentu yang diperoleh, itu adalah bonus bagi kami.

Lalu mengapa Damai tetap mengikuti kompetisi tertentu? Sederhana saja, karena kompetisi di sini dipersepsikan sebagai bagian dari proses belajar, media untuk tampil dalam suasana dan tantangan psikologis tertentu. Kompetisi, sebagaimana konser, ujian, dan latihan reguler adalah momen belajar yang masing-masing memberikan pengalaman berbeda pada Damai. Di dalamnya ia akan meningkatkan begitu banyak kemampuan, tidak hanya skill utamanya dalam memainkan instrumen musik.

QMC 1Latihan reguler bersama guru menyajikan pengalaman belajar rutin, sedangkan konser memberi tantangan pada anak untuk berani menampilkan kemampuan di depan orang lain, meski tanpa melibatkan unsur penilaian. Di dalam konser, anak akan berlatih mengembangkan percaya diri, mengelola emosi, berlatih tetap fokus untuk memainkan lagu dengan penuh penghayatan meskipun mungkin di tengah penonton yang karakternya tidak selalu sama. Ada yang mengapresiasi, ada pula yang mungkin tidak peduli. Baca lebih lanjut

Resiliensi Anak Berkebutuhan Khusus

Membaca judul ini mungkin agak terasa aneh. Sebagaimana pernah saya kutipkan dalam posting terdahulu, resiliensi adalah koping efektif dan adaptasi positif terhadap kesulitan dan tekanan (Lazarus, 1993). Individu yang resilien akan menunjukkan kemampuan dalam menghadapi kesulitan, ketangguhan dalam menghadapi stres ataupun bangkit dari trauma yang dialami (Masten dan Coatsworth, 1998). Lalu bisakah seorang anak berkebutuhan khusus yang memiliki hambatan dalam perkembangannya dibantu untuk mampu menumbuhkan resiliensi? Apakah mungkin itu dilakukan? Jawab saya, mengapa tidak? Sebelum membahasnya lebih lanjut, mari simak video berikut ini terlebih dahulu:

Sakti adalah salah satu dari sekian banyak anak berkebutuhan khusus yang menarik. Tak hanya terkait kemampuan seni dan ketrampilannya dalam berkomunikasi dengan orang lain, pemahaman dan penerimaannya terhadap ketunanetraan yang tersirat dari beberapa bagian penuturan adalah hal luar biasa yang mampu dimiliki oleh ABK seusianya. Ia mampu merespon dengan lugas bahwa ia memang tidak bisa melihat, dan menggambarkan bagaimana kondisi penglihatannya yang hanya bisa menangkap cahaya.

Penuturannya disampaikan dengan ceria, tanpa ekspresi yang menampakkan kesedihan maupun rendah diri. Apa yang tampak dalam diri Sakti merupakan contoh dari kapasitas anak berkebutuhan khusus untuk mampu merespon secara positif berbagai kondisi yang menimbulkan tekanan, baik yang terkait langsung dengan kekhususan yang dialami maupun hambatan sosial lain yang menyertai. Sakti menjadi bukti bahwa resiliensi dapat ditumbuhkan dalam diri anak-anak yang istimewa ini. Gambaran lain dari anak berkebutuhan khusus yang resilien juga dapat dibaca dalam tulisan 15 Stories of Resilience from Children with Disabilities. Baca lebih lanjut

Berburu Sekolah: Antara Ego dan Komitmen Mendidik Anak Menjadi Pribadi Tangguh

Menjadi diri yang konsisten memegang prinsip adalah sebuah tantangan yang senyatanya tak setiap orang berhasil memenuhi. Ego yang sedemikian tinggi atau kebutuhan sosial yang mendominasi tak jarang mementahkan sikap dan perilaku positif yang sebenarnya dipahami.

Pun demikian dengan orangtua dalam pengasuhan dan pendidikan yang dilakukan pada anak. Tak sedikit dari kita yang di satu saat bersama anak sangat antusias mengkritik orang-orang yang melakukan tindakan kurang terpuji, namun beberapa waktu kemudian sibuk membangun alasan untuk membenarkan perilaku serupa yang dilakukan sendiri.

Salah satu momen yang tidak luput dari inkonsistensi orangtua terhadap nilai yang diajarkan pada anak adalah pada masa-masa ‘perburuan’ sekolah lanjutan seperti saat ini. Tidak sedikit diantara orangtua yang sebelumnya kerap menasehati dan mengharapkan anak berperilaku jujur, berkompetisi dengan sportif, seakan lupa dengan apa yang diajarkannya. Beberapa berita dari berbagai media berikut menggambarkan fenomena yang dimaksud (sila klik jika ingin membacanya satu per satu):

Saya teringat suatu hari kemenakan juga pernah bercerita tentang temannya yang kala itu baru lulus sekolah dasar dengan santai mengatakan bahwa masuk ke sekolah favorit itu mudah, asal punya uang dan koneksi. Kalimat ini menurut saya cukup menyesakkan. Betapa seorang anak yang masih belia sudah memiliki pola pikir demikian. Dan tampaknya hal tersebut sudah menjadi fenomena jamak, melihat sekian banyak aksi suap, titip-menitip dalam proses memperoleh sekolah yang sudah jadi rahasia umum di berbagai tempat.

suap

Sama sekali tidak terpikir dalam benak untuk menyalahkan si anak, sebab saya yakin ia hanya menyerap informasi dan mengimitasi cara pikir yang dipelajarinya. Saya justru sangat prihatin, bagaimana orang-orang dewasa di sekitar tumbuh kembang anak tersebut memberikan contoh sikap dan perilaku tertentu, yang kemudian memunculkan pemahaman tidak tepat ini. Bisa dibayangkan akan seperti apa jadinya beberapa tahun kemudian saat si anak sudah mulai tumbuh dewasa, apabila lingkungan belajarnya dalam berperilaku tetap memberikan stimulasi yang keliru. Dan semakin mengkhawatirkan jika hal tersebut terjadi pada banyak anak. Betapa karakter generasi mendatang menjadi taruhannya. Baca lebih lanjut