Amazing Turkey (4): Konya dan Makam Mevlana

“Aku ingin melihat wajah-Mu pada sebatang pohon, pada matahari pagi, dan pada langit yang tanpa warna”

Siapa yang tak kenal Jalaluddin Rumi? Minimal tentu pernah mendengar namanya disebut atau mungkin beberapa kutipan karyanya. Eh tapi ini bukan Jalaluddin Rumi nama anak salah satu artis itu ya, hahahaha… Konon kabarnya si artis juga pengagum Rumi yang saya maksud.

Saya bicara tentang Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri, seorang tokoh dan penyair Sufi. Nama Rumi dalam bahasa Turki adalah Mawlana Jalal ad-Din Muhammad Balkhi-Rumi, atau yang di sana sering disebut dengan singkat “Mevlana”. Sebenarnya ketika melacak beberapa situs, ada keragaman penjelasan tentang nama lengkap Rumi dari berbagai sumber. Jadi saya ambil salah satunya saja.

Berada di Provinsi Konya (sekitar 717 km dari Istanbul, 491 km dari Bursa, dan 571 km dari Izmir), makam dan museum Mevlana yang megah sekaligus indah ini tidak pernah sepi dari pengunjung. Mereka yang datang berziarah melampaui batasan usia, suku bangsa, pun latar belakang agama. Mayoritas adalah para pengagum Rumi dan ajaran spiritualnya yang membawa pesan damai, bertumpu pada universalitas dan humanitas.

Kompleks makam dan museum Mevlana ini terdiri dari beberapa bangunan. Bangunan utama berisi makam Mevlana, keturunan dan pengikutnya, juga berbagai benda bersejarah pada jamannya. Di sekitar bangunan utama terdapat deretan bangunan yang lebih kecil, berisi benda-benda peninggalan Mevlana yang lain yang dipergunakan dalam menyebarkan ajarannya, seperti pakaian, alat musik, dan sebagainya.

Selain ajaran Sufi yang tersampaikan dalam berbagai karya puisi penuh kedalaman makna, hal lain yang dikenal luas identik dengan Rumi adalah tarian para darwis atau whirling dervishes yang dipandang sebagai simbolisasi ajaran Sufisme Rumi. Tarian dilakukan dengan memutar badan sesuai ritme perputaran bumi. Tarian ini menjadi ritual khas Tarekat Mevlevi (sebutan bagi pengikut Mevlana) yang menggambarkan kesatuan kosmis secara artistik dan dramatik.

Satu hal saat mengunjungi tempat ini, entah kenapa saya merasa ada desakan emosi yang tak terjelaskan ketika berdiri menghadap nisan Mevlana. Desakan emosi yang begitu kuat hingga membuat air mata tiba-tiba menetes. Boleh jadi pengalaman spiritual ini juga dialami oleh peziarah lain, yang sempat saya lihat beberapa kali mengusap mata di sela doanya.

Lebih lanjut, bersama sejumlah gambar saya kutipkan beberapa karya Mevlana dalam tulisan ini.

  Baca lebih lanjut

Iklan

Amazing Turkey (3): Ephesus dan Jejak Kejayaan Yunani Kuno

Dari Istanbul, ke Bursa, lalu berpindah lagi ke Provinsi Izmir. Benar-benar serupa trayek bis antar kota antar provinsi, hihihi… Ada Ephesus yang kami kunjungi di wilayah ini.

Berlokasi di Kota Selcuk, Ephesus pada awalnya adalah kota kuno Bangsa Yunani, namun kemudian direbut dan mengalami kejayaannya pada masa Kerajaan Romawi. Di jaman Romawi, Ephesus adalah kota terbesar kedua setelah Roma. Kota ini dalam sejarahnya pernah hilang akibat gempa bumi, namun kemudian ditemukan dan dibangun kembali dan menjadi salah satu objek yang rasanya tidak boleh dilewatkan jika berkunjung ke Turki.

Memasuki kompleksnya yang begitu luas dengan berbagai jejak bangunan yang megah, pikiran seakan terbawa untuk membayangkan bagaimana kehidupan pada jaman dimana kota ini masih berjaya ribuan tahun yang lalu. Terbayang adegan demi adegan film Gladiator! 😀

  Baca lebih lanjut

Amazing Turkey (2): Bursa dan Pengalaman Salju Pertama

Jika pada tulisan sebelumnya saya sudah menceritakan tentang beberapa objek yang kami kunjungi selama di Istanbul, maka sekarang saya beralih ke Bursa. Bursa adalah provinsi yang berbeda dari Istanbul. Keduanya berjarak sekitar 150 km, kami menempuhnya selama kurang lebih 2 jam menggunakan bis.

Apa yang istimewa selama kami di Bursa? Tak lain dan tak bukan adalah pengalaman pertama berjumpa dengan salju! Yeeeaaaaayyyyy! Berasa mimpi 😀

Bagaimana tidak, selama ini bisanya hanya lihat salju dari media. Sudah beberapa kali pula berpetualang ke negara orang saat musim dingin, ternyata juga belum pernah hoki menemukannya. Jadilah begitu kali ini kesampaian, whuaaaaaaa……. takjub tiada tara, sampai lupa usia! hahahaha… Maafkan jika efek euforianya masih terbawa di tulisan ini dan gambar-gambarnya yak. Maklum ketemunya aja susah, jadi harus dipuas-puaskan nyimpan fotonya, wkwkwkwk…

Permisi ini pose wajib tatkala melihat tanaman yang imut 😀

Baca lebih lanjut

Amazing Turkey (1): Istanbul dan Berbagai Peninggalan Kesultanan Turki Utsmani

Tulisan perdana di 2018 ini akan saya isi dengan cerita perjalanan saya ke Turki bersama sejumlah rekan dosen minggu lalu. Perjalanan ini adalah kunjungan ke luar Indonesia saya yang ke-11, dan negara (termasuk di dalamnya daerah administratif khusus) ke-9 yang pernah saya datangi setelah Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, China, Macau, Hong Kong, Jepang, dan Korea. Dalam rangka apa? Dalam rangka menjaga kesehatan mental diantara tumpukan pekerjaan yang tiada habisnya, dengan cara yang dibuat sedikit spesial dari biasanya, plus dengan membuka tabungan hasil jerih payah sekian waktu bersama-sama 😀

Jujur pada awalnya saya tidak memiliki cukup referensi tentang negara ini. Benar-benar di luar bayangan karena nyaris tidak pernah secara khusus membaca berita atau mendengar ceritanya. Kecuali tentang Pak Erdogan yang beberapa waktu terakhir sempat mewarnai pemberitaan karena namanya berulang disebut oleh pihak-pihak tertentu berkenaan dengan isu politik tanah air.

Berbeda dengan negara-negara lain dalam kepergian sebelumnya, seperti Brunei, Malaysia, Jepang, dan China yang banyak orang mungkin sudah familiar sejak kecil melalui berbagai tayangan televisi dan pelajaran di sekolah; atau Australia yang film-filmnya cukup banyak diputar dari jaman kejayaan TVRI; lebih-lebih Korea yang drama dan musiknya bagi saya sudah seperti makanan sehari-hari, maka ketika tiba kesempatan untuk mengunjunginya, berbagai gambaran di kepala dan sejumlah referensi pun sudah siap membantu untuk beradaptasi. 

Namun tidak demikian dengan Turki. Itulah kenapa ketika semakin dekat dengan waktu keberangkatan, perasaan saya boleh dibilang cenderung datar. Antusias sedikit, sekedar karena mendengar bahwa di sana sedang musim dingin sehingga jika beruntung mungkin rombongan akan bisa bertemu dengan salju. Ditambah karena menyadari bahwa sudah cukup lama kami serekan kerja ini tidak pergi melepas penat bersama-sama. Selebihnya flat.

Taapiiiiii….. berganti hari, seiring waktu dan pengalaman mencermati kehidupan dan budaya di sana, rasa datar itu pun perlahan berganti dengan antusiasme yang sebenarnya. Saya akan tuliskan secara ringkas untuk menggambarkan bagaimana perjalanan yang bagi saya kaya akan pengetahuan baru ini terlalui.   

Baca lebih lanjut

Menjaga Idealisme Pendidikan Doktor

Re-posting catatan reflektif saya dalam website Program Studi Doktor Psikologi UNAIR:

Amanat UU No. 12 Tahun 2012 telah menekankan tanggung jawab perguruan tinggi untuk serius menjalankan pendidikan doktor yang berbeda dari jenjang studi lain, baik dari sisi muatan dan kedalaman materi maupun proses pembelajarannya. Menurut Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) yang ditetapkan oleh Presiden Republik Indonesia pada Tahun 2012, pendidikan doktor diharuskan mampu menghasilkan lulusan setara jenjang 9 dengan kualifikasi: (1) Mampu mengembangkan pengetahuan, teknologi dan/atau seni baru, di dalam bidang keilmuannya atau praktek profesionalnya melalui riset hingga menghasilkan karya kreatif, original, dan teruji; (2) Mampu memecahkan permasalahan ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau seni di dalam bidang keilmuannya, melalui pendekatan inter, multi dan transdisipliner; serta (3) Mampu mengelola, memimpin dan mengembangkan riset, dan pengembangan yang bermanfaat bagi kemaslahatan umat manusia, serta mampu mendapat pengakuan nasional dan internasional.

Namun demikian idealisme pendidikan doktor seringkali menemui banyak tantangan, hingga berujung pada praktik pendidikan yang justru bertentangan dengan ketentuan seharusnya. Kasus plagiarisme disertasi dan pengkarbitan doktor yang marak diberitakan beberapa waktu terakhir merupakan buktinya. Baca lebih lanjut