Damai, Ujian Royal, dan Sebuah Catatan Reflektif untuk Diri Sendiri

Jika ada pembaca yang berteman facebook dengan saya dan online beberapa hari terakhir, tentu pernah membaca percakapan antara saya dengan Damai berikut ini:

Saya: Kamu senang bermain piano ini?
Damai: Lebih dari senang.
Saya: Kalau ujiannya nanti?
Damai: Ya aku memang mau ikut ujian royal.
Saya: Untuk apa?
Damai: Buat pengalaman, apalagi yang nguji orang asing. Trus biar aku tahu juga dari evaluasinya, aku kurangnya dimana, sudah bagusnya dimana.
Saya: Trus buat apa kalau sudah tahu evaluasinya?
Damai: Ya biar aku bisa memperbaiki kalau masih ada yang kurang, jadinya permainanku bisa lebih bagus lagi. Kalau aku main pianonya bagus, orang yang dengar kan juga lebih bisa menikmati.
Saya: Okesip, sepakat. Yang penting belajarnya ya, karena ujian adalah bagian dari proses belajar itu sendiri. Dan tujuan belajar bukan untuk mencari nilai/hasil ujian, tetapi agar kita semakin mahir melakukan sesuatu yang kita pelajari.

Percakapan tersebut adalah salah satu bagian dari rangkaian pembicaraan yang sengaja saya lakukan sebagai upaya untuk mengembalikan semangat dan fokus Damai dalam belajar piano. Setelah beberapa waktu sempat pecah arah karena beberapa hal. Baca lebih lanjut

Sekedar Percakapan Ringan (12): Gambaran Dialog Apresiatif

Menyambung tulisan sebelumnya tentang pentingnya membangun percakapan yang memberdayakan dalam interaksi sehari-hari bersama anak, berikut adalah gambaran percakapan ringan yang saya lakukan bersama Damai. Percakapan semacam ini terjadi setiap saat: Kadang sambil makan, sambil Damai menunggu jemputan sekolah, sepulang saya kerja, menjelang tidur, dsb. Sebab sesempit apapun waktu harus bisa dimanfaatkan dengan baik untuk membiasakan komunikasi yang sehat antara orangtua dengan anak.

Obrolan Pagi Sambil Menunggu Jemputan Datang

D: Mam, di internet itu beneran ada banyak web buat bantu belajar. Aku kemarin pas nggak paham sesuatu di Matematika aku coba cari cara pengerjaannya di web. Dan ketemu. Sekarang aku sudah bisa, sudah kucoba di soal yang lain.
M: Bagus itu! Bisa memanfaatkan internet dengan baik, dan sikap yang bagus juga karena punya inisiatif untuk mencari informasi yang membantu belajarmu. (I: Appreciating)
D: Yang aku akses kemarin itu ada semacam forum diskusinya juga. Jadi misal ada yang tanya sesuatu, bukan adminnya aja yang jawab, tapi ada orang-orang lain juga yang ikut membantu. Ada yang nunjukkan cara, ada yang nunjukkan soal-soal model lain yang serupa. Macem-macem gitu.
M: Sehingga kamu bisa belajar banyak ya. Makanya mama selalu bilang, kalau kita aktif belajar mandiri dengan sarana yang ada, nggak perlu les pelajaran ini-itu. Internet itu gudang informasi. Sifatnya sama saja dengan hal-hal lain di sekitar kita. Bisa berdampak baik maupun buruk. Tergantung kita menggunakannya untuk apa. Kalau banyak kita gunakan sebagai sarana belajar, ya manfaatnya bagus. Tapi kalau digunakan untuk hal-hal yang aneh-aneh, ya jelek dampaknya (II: Imagining). Sama aja dengan teman juga. Ada yang memberi pengaruh baik, ada yang memberi pengaruh kurang baik. Pinter-pinternya kita buat nyaring, mana yang mau diikuti. Buku bacaan juga gitu kan. Ada yang bagus, ada yang jelek. Balik ke kita lagi, mau pilih yang mana.
D: Iya memang. Trus, di web belajar itu macem-macem yang diinfokan, Mam. Orang-orang kulihat yang ditanyakan juga macem-macem. Ada yang langsung tanya jawaban soal apa gitu, ada yang nanya caranya.
M: Menurutmu lebih baik yang mana? (III: Acting)
D: Yang nanya prosesnya.
M: Kenapa?
D: Soalnya, misal kalau di matematika, kalau kita ngerti caranya, kita bisa gunakan untuk mengerjakan soal-soal yang lain.
M: Betul (I: Appreciating). Sekedar mencari jawaban itu bukan belajar. Itu kebiasaan buruk orang-orang yang suka mendapatkan hasil dengan cara-cara instan. Dan itu nggak bikin pinter. Karena itu, menggunakan internet untuk membantu belajar pun, akan benar-benar berdampak positif atau tidak juga masih tergantung cara kita menggunakannya. Jadi gunakan untuk tujuan yang benar, dengan cara yang tepat. Kita akan dapatkan manfaatnya dengan maksimal.

Lalu jemputan datang, anaknya berangkat sekolah…

Baca lebih lanjut

Latihan Piano Damai (14): Enam Komposisi Catherine Rollin dalam Buku “Lyric Moments”

Dalam perjalanan belajar piano Damai, karya-karya Catherine Rollin telah menjadi bagian yang memberi warna dan menguatkan kepekaan bermusiknya. Berikut adalah rekaman latihannya dari waktu (dan usia) yang berbeda, saat membawakan enam karya CR dalam Buku Lyric Moments.

1. A Special Place in My Heart (Book 1)

2. A Song for You (Book 1)

Baca lebih lanjut

Sekedar Percakapan Ringan (11): Nano-nano

Wawancara Tugas Sekolah

Damai: Siapa motivator Mamski untuk terus berusaha jadi dosen yang baik?
Saya: Hmmm…… pertama, Damai.
Damai: Hehehehe…… kenapa aku?
Saya: Mama selalu ingin memberi contoh yang baik ke kamu. Contoh tentang bagaimana bertanggung jawab terhadap tugas, menjadi pendidik yang baik, agar kelak kamu ndak perlu merasa malu dengan hal-hal yang mama lakukan. Salah satu tanggung jawab orangtua adalah juga memberi contoh berperilaku yang baik ke anak-anaknya. Dan itu jadi motivasi tersendiri.
Damai: Terus siapa lagi?
Saya: Kakung sama nenek. Mereka berdua sudah berusaha saaaaangat keras untuk mama bisa sekolah tinggi, lalu berhasil seperti sekarang. Padahal kakung hanya pensiunan pegawai kecil. Untuk membalasnya, mama ingin selalu membuat kakung sama nenek bangga, lega sebagai orangtua.
Damai: Terus, masih ada lagi?
Saya: Papski. Papski memberi banyak sekali contoh bahwa seorang guru yang baik itu tidak boleh berhenti belajar. Ia harus terus belajar agar semakin banyak ilmu yang bisa dibagikan ke mahasiswa, ke para muridnya. Papski juga selalu mengingatkan untuk berbagi dengan menulis. Agar semakin banyak orang yang bisa belajar dari pengalaman yang kita miliki, dari membaca tulisan-tulisan yang kita buat.
Damai: Menurut Mamski, Mamski sudah jadi dosen yang baik belum?
Saya: Hmmm…… masih terus berusaha ^.^

*terima kasih untuk sekolah yang memberikan penugasan ini…*

***** Baca lebih lanjut

Tentang Variasi Proses Belajar

Menulis lagi tentang proses Damai dalam mengembangkan kemampuan bermusik, dan momentumnya adalah keberhasilan yang tak terduga diraihnya dalam Quatro Music Competition 2016.

Sejujurnya, keluarga kecil kami bukan pecandu event perlombaan. Saya sudah puas menjalaninya dulu ketika kecil, atas penunjukan atau tugas dari sekolah. Paham betul plus-minusnya, terhadap Damai saya lebih mementingkan bagaimana proses belajarnya mengasah bakat dapat berlangsung dengan optimal, dengan beragam aktivitas dan suasana yang menyenangkan. Jadi bukan dengan mengejar prestasi yang berasosiasi dengan kejuaraan tertentu. Kesukaan dan kenyamanan belajar saya yakini akan lebih menumbuhkan motivasi dari dalam diri Damai sendiri untuk terus berlatih, meski tanpa pengingat maupun kendali dari orang lain. Kalaupun suatu saat ia memperoleh hasil yang lebih dengan penghargaan tertentu yang diperoleh, itu adalah bonus bagi kami.

Lalu mengapa Damai tetap mengikuti kompetisi tertentu? Sederhana saja, karena kompetisi di sini dipersepsikan sebagai bagian dari proses belajar, media untuk tampil dalam suasana dan tantangan psikologis tertentu. Kompetisi, sebagaimana konser, ujian, dan latihan reguler adalah momen belajar yang masing-masing memberikan pengalaman berbeda pada Damai. Di dalamnya ia akan meningkatkan begitu banyak kemampuan, tidak hanya skill utamanya dalam memainkan instrumen musik.

QMC 1Latihan reguler bersama guru menyajikan pengalaman belajar rutin, sedangkan konser memberi tantangan pada anak untuk berani menampilkan kemampuan di depan orang lain, meski tanpa melibatkan unsur penilaian. Di dalam konser, anak akan berlatih mengembangkan percaya diri, mengelola emosi, berlatih tetap fokus untuk memainkan lagu dengan penuh penghayatan meskipun mungkin di tengah penonton yang karakternya tidak selalu sama. Ada yang mengapresiasi, ada pula yang mungkin tidak peduli. Baca lebih lanjut

Sekedar Percakapan Ringan (10): Refleksi Tentang Proses Belajar

Selamat hari menerima rapor! 😀

Saya juga baru saja kembali dari mengambil rapor Damai. Dia ikut ke sekolah, karena tidak mau sendirian saja di rumah menunggu Mbak Su datang. Nah, di perjalanan pulang, kami mengobrolkan tentang bagaimana proses dan hasil belajarnya selama satu semester ini.

FullSizeRender (89)“Yuk, sambil jalan kita bahas isinya…”, celetuk saya melihat Damai mengamati isi rapornya. Baca lebih lanjut