Memahami Perkembangan Remaja: Materi Temu Pendidik Daring 18 – KGB Surabaya

Bersyukur… wabah corona tidak lantas membatasi ruang-ruang mengabdi dan menebarkan ilmu, untuk memberi sebanyak mungkin manfaat di masyarakat. Di tengah interaksi yang serba terbatas, senang masih bisa membersamai para pendidik yang ingin memahami lebih jauh tentang Perkembangan Remaja, melalui forum Diskusi Daring yang dikelola oleh Komunitas Guru Belajar Surabaya. Dan di luar dugaan, yang hadir terlibat ternyata juga banyak pendidik dari luar daerah: Surakarta, Jogja, Bekasi, dan Bandung, selain dari berbagai wilayah Jawa Timur di luar Surabaya.

Sesuai permintaan, saya menyiapkan dan menyampaikan materi terkait seluk-beluk perkembangan remaja dan membaginya dalam 3 bagian:

Bagian pertama sebanyak beberapa slide berfokus mengantarkan bahasan sekaligus mengingatkan bahwa perkembangan individu adalah proses yang terjadi dalam kurun waktu lama (life long), sambung-menyambung antar usia, sehingga tidak ada pola perilaku baik positif maupun negatif yang muncul tiba-tiba di masa tertentu tanpa kronologis sebab tertentu. Perilaku dalam hal ini adalah hasil dari proses belajar panjang, baik yang disadari maupun tidak, yang turut pula dipengaruhi oleh berbagai macam kondisi lingkungan.
Dengan catatan ini pula kita perlu ingat untuk selalu berpikir dini dalam memberikan pendampingan tumbuh kembang, juga berpikir komprehensif. Membantu mengoptimalkan perkembangan remaja adalah proses yang harus dilakukan sejak usia lebih awal (berpikir dini), tidak bisa di usianya saja, serta harus jeli memfasilitasi setiap aspek dalam pertumbuhan pribadinya, baik kognitif, emosi, maupun perilaku (komprehensif).

Kemudian, dalam sejumlah slide di bagian kedua saya memaparkan beberapa karakteristik khas remaja yang memang di tahap perkembangan ini cukup menantang, karena mereka berada pada fase peralihan dari anak ke dewasa yang memunculkan dinamika psikologis tertentu dalam dirinya.

Dan melengkapi rangkaian paparan tersebut, pada bagian ketiga dari materi, saya menguraikan beberapa petunjuk untuk membantu mendampingi perkembangan remaja, baik sebagai orangtua maupun guru. Petunjuk ini didasarkan pada dua pertimbangan: Prinsip pendampingan perkembangan dan karakteristik khas remaja, pada pada aspek kognitif, emosi, dan sosialnya.

Tentang pendampingan perkembangan ini, saya tetap menempatkan peran orangtua dan keluarga sebagai porosnya. Hal ini untuk selalu mengingatkan para orangtua bahwa penanggung jawab utama tumbuh kembang anak (termasuk di dalamnya remaja) adalah tetap orangtua, bukan guru atau pihak sekolah. Guru adalah bagian dari support system bagi keluarga, yang tidak boleh dilimpahi seluruh tanggung jawab pengasuhan dan pendampingan begitu saja seperti yang tidak jarang terjadi di sekitar, dilakukan oleh sejumlah orangtua yang luput memahami, terjebak dengan segala kesibukan dan berbagai pikirannya.

Usai materi tersampaikan, diskusi pun dimulai dengan saya menanggapi sejumlah pertanyaan dari peserta, yang oleh moderator dibagi dalam tiga termin pembahasan. Mengingat ada cukup banyak pertanyaan menarik yang bisa menjadi sarana belajar bersama para guru dan orangtua, saya mencoba menuliskan ulang lima diantaranya di sini, berikut jawaban yang saya berikan. Semoga turut memberi manfaat bagi pembaca, meski tidak mengikuti diskusi daringnya secara langsung.

Tentang Terjadinya Perilaku Menyimpang

Pertanyaan: Ketika anak yang tumbuh dalam keluarga harmonis, dengan pola asuh orangtua yang cukup demokratis, mengapa di saat remajanya masih bisa/berpeluang memunculkan perilaku menyimpang? Lalu bagaimana mencegahnya?

Jawaban: Di slide 16 ppt saya (gambar di bawah paragraf ini) sudah tertuliskan beberapa kemungkinan yang menjadi penyebab munculnya problem perilaku pada anak dan remaja. Sebuah keluarga bisa saja harmonis, pola asuhnya tampak demokratis, tetapi ketika mendampingi tumbuh kembang anak ternyata pemberian stimulasinya tidak seimbang antar aspek perkembangan. Misal, di kognitif begitu diperhatikan, banyak diberikan stimulasi (dengan jam belajar yang banyak setiap harinya, topik pembicaraan yang berulang di setiap waktunya, dll), tetapi sebaliknya pada area emosi yang  ternyata minim perhatian. Ini bisa berpotensi menimbulkan persoalan di kemudian hari, karena aspek psikologis anak tidak saling berimbang. Sehingga manakala mengalami persoalan atau tekanan, kemampuan pengelolaan diri dan emosinya tidak cukup memadai. Jadilah kemudian anak memilih koping yang tidak tepat.

Hal lain yang juga bisa menyebabkannya adalah… seringkali apa yang tertampakkan dan ditangkap dari luar lingkup keluarga belum tentu sama dengan yang senyatanya terjadi di dalam lingkungan rumah. Sementara, anak berada pada posisi yang tahu, merasakan persis kondisi tersebut. Boleh jadi justru karena anak mendapati kenyataan yang tidak sama dengan yang dipahami lingkungannya, kekecewaan atas hal tersebut pun jauh lebih sangat. Sehingga ketidaknyamanan yang dirasakan kemudian muncul dalam pola-pola perilaku yang keliru.

Keluarga dalam dua penjelasan tersebut tidak sadar bahwa mereka sudah tidak seimbang (kurang) dalam mengembangkan aspek sosioemosional anaknya. Hanya saja fenomenanya, semakin ke sini semakin banyak yang demikian. Coba saja direnungkan, berapa banyak rata-rata stimulasi kognitif diberikan oleh orangtua di zaman ini pada anak hingga menghabiskan berjam-jam waktu tumbuh-kembang mereka dalam sehari? Sementara jumlah waktu yang digunakan untuk stimulasi emosi dan sosial tidak sebanding. Itulah kenapa banyak anak yang cerdas, kreatif, tapi memiliki toleransi emosi yang rendah.

Untuk mengantisipasinya, selain sejak awal mengasuh selalu berusaha menyeimbangkan stimulasi perkembangan yang diberikan, penting pula untuk selalu mengkomunikasikan value sejak dini, setiap saat dalam ruang-ruang diskusi keluarga. Selain itu, orangtua juga ada baiknya berbicara netral, objektif, bahwa mereka sendiri pun sebagai orangtua ada kalanya memiliki kekurangan. Kesalahan dalam berperilaku dapat terjadi pada siapapun, sehingga manakala anak merasakan ada yang membuat tidak nyaman dari perilaku orangtuanya, minta anak untuk:
a. Menyampaikan dengan terbuka, dan
b. Tetap berada pada pola perilaku yang positif, karena kekecewaan tidak perlu diatasi / dilampiaskan dengan hal-hal / perilaku yang kurang tepat, tidak sehat, dan justru mendatangkan persoalan baru.

Ini juga yang selalu saya usahakan pada anak saya sendiri setiap saat. Memperbanyak perbincangan yang berkait muatan value tertentu, termasuk juga dengan memberi kesempatan padanya untuk mengoreksi jika ada perilaku saya yang kurang tepat, dan saya imbangi dengan konsekuen untuk minta maaf apabila melakukan kesalahan.

Tentang Tumbuh Resilien di Tengah Lingkungan Perkembangan yang Tidak Ideal

Pertanyaan: Sedih jika membahas psikologi. Kita harus mampu memahami anak, padahal semua memiliki kompleksitas yang berbeda-beda. Apalagi jika anak lahirkan pada keluarga yang tidak harmonis. Saya hendak menanyakan apakah kedewasaan berpikir dipengaruhi oleh keadaan ataukah itu lebih pada bawaan sejak lahir?
Misalnya, ada seorang anak yang mengetahui ibunya bekerja sebagai (maaf) pekerja malam. Ia tinggal di lingkungan yang sudah tentu tidak kondusif. Namun kenyataannya, jika dibanding dengan anak lain yang keluarganya harmonis anak ini jauh lebih dewasa dan matang dalam berperilaku. Saya berpikir apakah ini anugerah? Karena anak ini seperti memahami keadaannya dan tidak menunjukkan perilaku yang bermasalah.

Jawaban: Pertama saya ingin menyampaikan dulu bahwa setiap anak punya kesempatan untuk bertumbuh dengan baik. Terlepas dari mereka hidup di keluarga yang harmonis maupun tidak. Semua punya peluang untuk menjadi baik, namun masing-masing akan menempuh jalan yang berbeda untuk dapat berkembang dengan optimal.

Ada cukup banyak anak-anak tangguh, anak-anak yang resilien besar dari keluarga yang justru tidak harmonis. Namun demikian support dari lingkungan yang lain mampu membantunya untuk bangkit. Nah termasuk yang dicontohkan dalam pertanyaan tersebut, ada anak yang lahir di lingkungan tidak ideal tapi justru lebih dewasa dan punya kematangan berpikir.

Ini menarik sekali. Artinya, meskipun mungkin si ibu di satu sisi punya catatan negatif pada pekerjaannya, tapi boleh jadi di sisi lain pada relasinya bersama anak ternyata ia berhasil memberikan stimulasi tumbuh kembang dengan baik. Ada banyak pekerja-pekerja yang “terpaksa” mencari nafkah di area yang menyimpang dari norma kemudian mampu bersikap demikian. Jadi di sisi pengasuhannya ternyata ada praktik baik yang mampu dilakukan. Entah dari pihak si Ibu sendiri yang mengupayakan, maupun support lingkungan/keluarganya yang membantu menyeimbangkan.

Apa yang tertampak dari pertanyaan ini sekaligus juga memberi harapan pada kita. Bahwa anak-anak yang berada di lingkungan kurang beruntung pun bisa dibantu untuk tumbuh tangguh dan positif. Hanya saja memang harus kita pikirkan “rute” perjalanannya menjadi tangguh. Dengan cara apa, dengan strategi apa, dengan penguatan seperti apa, siapa saja yang harus berperan, dan sebagainya. Jadi rutenya tidak bisa disamakan seperti idealnya anak-anak lain yang memang bertumbuh dalam kondisi keluarga yang relatif tanpa persoalan serius.

Tentang Ketidak-seimbangan Aspek Perkembangan

Pertanyaan: Terkait dengan isi Slide 16 (lihat di atas), bagaimana cara kita tahu bahwa seorang remaja mengalami ketidakseimbangan aspek perkembangannya?

Jawaban: Dengan memanfaatkan kemampuan dan kesempatan kita dalam mengamati perkembangan anak. Jadi diingat saja, setidaknya ada 4 area yang semestinya distimulasi selama waktu tumbuh-kembang anak: Biologis/fisik, Kognisi, Emosi, dan Sosial. Pertama, untuk tahu seimbang atau tidak, kita bisa mulai dari mencermati perilaku pendampingan kita sendiri. Tiap harinya sudah seimbang atau belum. Atau jangan-jangan kita masih berat di satu area saja. Hal ini bisa dievaluasi dari berapa jam kita habiskan untuk memberi stimulasi dan penguatan pada masing-masing aspek.

Lalu kedua, untuk melihat seimbang atau tidak, kita bisa mengamati dari pola perilaku anak sehari-hari juga. Misal: Ketika sudah kelas 1 SMP, tapi masih bergaul dengan anak-anak yang jauh lebih muda usianya, lalu banyak hal tidak mampu melakukan sendiri (sangat bergantung), meskipun di sisi lain dia sangat cerdas dan juara kelas, maka sebenarnya anak ini tidak sepenuhnya seimbang perkembangannya. Nah, menjadi tantangan kita untuk jeli mengamati.

Jangan sampai kita memperbanyak jumlah orangtua yang khilaf dalam mengasuh, berprinsip tidak masalah anaknya manja, bergantung dan tidak mandiri yang penting juara kelas dan piala banyak, hehehe… Tetapi kemudian ketika bertambah waktu bertambah pula problem perilaku yang ditunjukkan oleh si anak, mereka pun kebingungan. Sedapat mungkin jangan sampai demikian.

Karena itu sekali lagi, kunci sederhananya untuk mendeteksi ketidakseimbangan perkembangan anak dan remaja adalah dengan pengamatan, dan kepekaan terhadap kondisi anak. Terkait itu, tentang mana-mana saja kemampuan yang termasuk di area perkembangan aspek tertentu, di zaman ini informasinya bisa dengan mudah kita lacak menggunakan bantuan teknologi. Orangtua bisa mengakses mesin pencarian di internet, misal tentang cakupan perkembangan emosi, sosial, dll, di tiap usia, sebagai patokan saja untuk kita mengamati dan mengidentifikasi ada tidaknya persoalan tumbuh kembang dalam diri anak.

Mendampingi Remaja di Pesantren

Pertanyaan: Saya adalah pembimbing santri di pondok. Jumlah santri kami total putri sampai sekitar 400-an, dari latar belakang keluarga yang berbeda. Satu pembimbing bisa memegang 50-an anak yang berlainan karakter dan kebutuhan. Ada yang sudah bisa bertanggung jawab, ada yang masih egois dengan keinginan sendiri dan menimbulkan sejumlah masalah. Bagaimana langkah yang harus kami ambil agar bisa mendampingi begitu banyak anak? Mereka sehari-harinya penuh kegiatan sekolah dan mengaji. Mengingat kami adalah orang tua kedua bagi mereka, ingin rasanya kami menjadi pihak yang bisa mengarahkan dan menemani mereka semua menjadi baik.

Jawaban: Untuk para pendamping ini apakah ada pembekalan tentang parenting? Kebetulan saya setiap tahunnya juga membekali pendamping-pendamping di salah satu pesantren agar mereka bisa mengembangkan ko-parentingnya selama melaksanakan tugas. Karena memang, untuk menangani sekian puluh orang sekaligus harus dengan strategi tertentu, mengaktifkan fungsi kerjasama dalam pengasuhan, agar semua dapat tertangani. Jadi tidak bisa hanya menggunakan jurus-jurus parenting dasar (meskipun itu juga tetap diperhatikan). Tanpa strategi dan kerjasama antar pihak, jangkauan pendamping dalam membantu santri-santri menumbuhkan perilaku positif akan sangat terbatas.

Saran saya, paling tidak coba melakukan yang bisa diupayakan, dan secara mandiri membuat strategi sendiri untuk mengelola 50 anak tersebut. Misalnya, mencoba untuk mencari santri-santri kunci yang bisa diajak kerjasama, difungsikan sebagai “asisten” untuk membantu mendampingi yang lain. Jadi di sini pendamping membangun tim sendiri untuk mempermudah pelaksanaan tugasnya. Nah dalam tim ini dijalin komunikasi yang baik, untuk sama-sama berproses saling membantu agar semua santri dapat belajar dengan optimal. Proses ini secara tidak langsung adalah juga memfungsikan ko-parenting (aliansi pengasuhan) membangun kerjasama pengasuhan dengan beberapa pihak yang relevan, kita agar bisa menangani semua santri dengan sebaik yang mampu kita lakukan.

Langkah Awal Memulihkan Perkembangan yang Bermasalah

Pertanyaan: Apabila remaja melewati fase perkembangan sebelumnya yang kurang optimal, misalnya lingkungan keluarga yang cenderung abai, dan saat ini sedang dalam masa terguncang, maka langkah apa yang harus dilakukan dalam memberikan penguatan dan pemahaman? Mengingat remaja terkadang juga cukup sulit menerima pendapat dan merasa paling benar.

Jawaban: Kalau sebelumnya berpersoalan, memang kita tidak bisa langsung masuk ke dalam area personal mereka, apalagi akan memberi banyak sekali wejangan atau apalah ini-itu. Sudah pasti mereka akan menolak. Lebih baik memahami dulu karakter dasar mereka (bahwa remaja di masanya sangat ingin dipahami, dimengerti, didengar, dll) untuk kita jadikan pintu masuk membuka komunikasi. Kita dengarkan dulu apa yang mereka pikirkan dan rasakan sambil membangun kepercayaanya pada kita sebagai pendidik/teman, agar nanti jika kepercayaan sudah terbentuk kita akan lebih mudah untuk memberi masukan kepada mereka pelan-pelan.

*****

Beri Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s