Beberapa Kekeliruan yang Kerap Terjadi dalam Berkomunikasi dengan Anak

Komunikasi adalah jembatan utama dalam rangkaian aktivitas pengasuhan. Komunikasi berjalan baik, pengasuhan akan dapat dioptimalkan. Sebaliknya, jika komunikasi antara orangtua dengan anak bermasalah, maka jangan terlalu berharap pengasuhan yang dilakukan akan berjalan dengan efektif.

Nah, tidak jarang terkait ini saya menerima pertanyaan dari orangtua yang merasa sudah mengupayakan untuk berkomunikasi semaksimal mungkin dengan anak, namun hasilnya tidak tampak seperti yang diharapkan. Mengapa demikian?

Banyak dari kita menyangka bahwa berkomunikasi dalam proses pengasuhan hanya tentang bagaimana berbicara sesering mungkin dengan anak, padahal sebenarnya tidak. Jarang atau sering bukan ukuran yang utama. Yang jauh lebih menentukan daripada itu adalah bagaimana proses komunikasi tersebut dilakukan.

Berikut adalah beberapa kekeliruan yang tanpa disadari kerap terjadi dalam proses komunikasi antara orangtua dengan anak. Coba cek, Anda pernah mengalami yang mana?

Berbicara (Hanya) Ketika Ada Persoalan

Tidak sedikit diantara orangtua yang berpikir bahwa selama anak baik-baik saja, ya sudah tidak apa dibiarkan. Pembiaran yang lalu berlanjut dengan sangat minimnya percakapan diantara keduanya. Saking minimnya, tanpa disadari orangtua lantas hanya berkomunikasi ketika terjadi persoalan atau hal-hal tertentu pada anak yang dipandang tidak pada tempatnya. Yang terjadi kemudian, pembicaraan pun penuh dengan kalimat koreksi atas perilaku anak. Jadi jika digambarkan situasinya, sudah jarang berbicara, sekalinya bicara justru dengan pernyataan-pernyataan yang cenderung lebih banyak menyudutkan.       

Apa efeknya? Sudah tentu tercipta jarak antara orangtua dengan anak. Anak merasa tidak dihargai dan hanya menjadi objek sasaran koreksi orangtua. Jarak ini akan semakin lebar jika situasi yang demikian terus-menerus terjadi. Akibatnya tentu dapat dibayangkan, anak menjadi semakin enggan terbuka pada orangtua, bahkan enggan pula untuk sekedar berbicara hal yang ringan sehari-hari.

Karena itu, komunikasi harus diupayakan untuk menjadi bagian dari rutinitas. Berbicara dengan anak perlu dibiasakan tanpa menunggu adanya masalah. Berbicara hal-hal yang sederhana apabila rutin dilakukan justru akan memperkuat ikatan (bonding) dan rasa percaya antara anak dengan orangtua, sehingga manakala ada kondisi tertentu yang di luar dugaan dialami oleh anak, ia akan mau terbuka menyampaikan pada orangtua dengan sendirinya.

Berbicara Sambil Lalu

Tipe kesalahan yang kedua ini juga cukup banyak pelakunya. Orangtua berbicara dan menanggapi anak sambil sibuk melakukan hal lain, sehingga seolah berkomunikasi, tapi sebenarnya tidak sungguh-sungguh menyimak. Anak yang melihat orangtuanya demikian, tidak sedikit yang kemudian mengikuti, melakukan modeling/imitasi perilaku, berbicara dan merespon sesuatu dengan sama-sama tidak fokus. Akibatnya, terjadi sekat antara satu dengan yang lain, hingga akhirnya antara apa yang disampaikan satu pihak dengan yang diterima dan dipahami pihak lain menjadi tidak sinkron.

Hal ini kerap berujung pada kemarahan orangtua yang mengatakan bahwa anak ketika diberitahu sesuatu “Masuk telinga kiri, keluar telinga kanan”. Orangtua lupa bahwa hal tersebut terjadi juga karena ketidaktepatan dalam pembiasaan komunikasi yang dilakukannya sendiri.

Oleh karena itu, penting bagi orangtua menunjukkan sikap yang atentif saat berkomunikasi dengan anak. Letakkan, tinggalkan sambilan apapun ketika sedang berkomunikasi. Panjang – pendek waktu bukan tolok ukur efektivitas komunikasi, melainkan bagaimana berkomunikasi dengan sepenuh perhatian, meski dalam waktu yang tidak begitu lama. Walaupun singkat namun berkualitas dan penuh perhatian akan membuat komunikasi yang baik tersebut berdampak positif pada anak. Dengan mengupayakan ini, orangtua juga sekaligus memberikan contoh yang baik dalam berinteraksi dengan orang lain, bukan sekedar mengeluhkan, menuntut, atau mengoreksi ketidaktepatan sikap anak.

Jika anak sudah terlanjur terbiasa berbicara dengan lepas perhatian, maka ubahlah kebiasaan tersebut dengan memintanya berhenti sejenak dan menyampaikan apa yang ingin dikatakan dengan pelan-pelan, sembari mengatur nafas dan menatap mata orangtua, begitu pula sebaliknya. Belajar berbicara dengan fokus, menggunakan seluruh indera dengan optimal.

Dominasi Emosi

Kekeliruan ketiga yang juga sering diltemukan pada sejumlah orangtua adalah berkomunikasi dengan dominasi emosi, sehingga justru mengaburkan pesan utama yang seharusnya disampaikan. Terbawa panik, terbawa rasa khawatir, atau bahkan kecewa dan marah atas sesuatu yang membuat tidak nyaman, tanpa disadari kerap memunculkan respon emosi yang berlebihan selama berbicara pada anak.

Dominasi emosi ini bukan saja membuat pesan menjadi tidak jelas sehingga anak sulit memahami apa yang diharapkan, lebih dari itu anak pun akan merasa lebih banyak disalahkan dan sedikit diberikan kesempatan untuk menjelaskan dan didengar. Terlebih jika yang senyatanya dialami berbeda dari yang dipikirkan atau disangkakan oleh orangtua. Jika ini berulang kali terjadi dan terpola, efek jarak komunikasi antara anak dan orangtua pun akan semakin lebar.

Itu sebabnya mengelola emosi setiap kali membangun interaksi dengan anak menjadi hal penting yang harus selalu diupayakan. Jangan sampai ketidaksadaran akan dampak dari emosi yang berlebihan semakin membuka potensi persoalan dan memperbesar kesulitan dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

Meremehkan

Setiap dari kita selalu mengharap untuk dihargai. Begitu pula dengan anak. Ketika mereka bercerita, menyampaikan sesuatu, tidak terbatas usia berapapun selalu menginginkan untuk diperhatikan, disimak, dan dipandang penting. Keinginan bercerita sejatinya adalah juga ruang belajar anak untuk berbicara, berani berpendapat, dan mampu menyampaikan informasi dengan baik. Ini adalah ruang bagi proses perkembangan kognitif sekaligus sosial.

Namun sayangnya, tidak sedikit dari orangtua yang gagal memahami, lalu bersikap meremehkan dan sekedar menjadikan kelakar ketika anak sedang menceritakan sesuatu. “Halah, kaya’ ngerti aja…”, atau “Sudah kamu main aja sana, ngomong apa sih…”, atau “Anak kecil, ngerti apa kamu?”, dan sebagainya. Dipotong keinginan bicaranya dengan kalimat sedemikian akan memberikan ketidaknyamanan pada anak, yang dapat berlanjut pada keengganan untuk berbicara di waktu-waktu kemudian. Sikap ini juga menghambat perkembangan keberanian anak untuk mengekspresikan diri, juga memberi hambatan pada perkembangan otonomi dan inisiatifnya.

Maka, apa yang harus dilakukan? Sudah pasti hindari yang sedemikian. Beri kesempatan yang cukup agar anak mampu menyampaikan apa yang dipikirkannya, dan ikuti hal tersebut dengan kesediaan untuk menyimak dan menghargai apapun yang disampaikan.

(Terlalu Banyak) Menasehati atau Menceramahi

Nah, ini, problem juga pada banyak orangtua yang hobi sekali memberikan pesan-pesan penuh nasihat, ceramah, dan wejangan-wejangan yang kadang tidak berjeda, sehingga masuk ke porsi yang berlebihan. Pada umumnya ini terjadi karena kekhawatiran berlebihan atas sesuatu yang mungkin akan terjadi pada anak. Dapat dipahami sebenarnya, dan menjadi hal yang wajar dialami oleh orangtua karena rasa sayangnya pada anak. Namun jika terlalu sering, banyaknya nasihat justru akan membuat anak merasa tidak dipercaya bahwa mereka mampu. Mampu untuk melakukan segala sesuatu dengan mandiri, mampu untuk membedakan mana yang baik dan yang tidak baik, mampu untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi, mampu menghindarkan diri dari kesulitan, dan sebagainya.

Ketika perasaan tidak dipercaya tersebut semakin kuat, yang muncul kemudian adalah kekesalan, kekecewaan, dan ketidaknyamanan yang semakin sangat untuk berkomunikasi dengan orangtua. Akibatnya, terdapat dua kemungkinan: Anak menghindar bicara dan berperilaku membangkang, atau pada akhirnya justru bergantung sekalian pada orangtua, sehingga tumbuh menjadi pribadi yang tidak mandiri.

Hal ini tentu berbeda dari apa yang diharapkan orangtua. Alih-alih terhindar dari yang dikhawatirkan, anak justru semakin dekat dengan persoalan perkembangan akibat emosi negatif yang dirasakan atas pola komunikasi orangtua yang tidak tepat.

Banyak Mengkritisi, Lupa Mengapresiasi

Masih terkait dengan 2 ketidaktepatan sebelumnya, serupa namun tak sama, kadang kita tanpa sadar juga memposisikan diri terlalu bersemangat menjadi kritikus atas hal-hal yang diupayakan oleh anak. Entah ketika belajar, mengerjakan tugas, melakukan aktivitas domestik sehari-hari, termasuk pada anak-anak usia dini saat bermain.

“Dik, bukan begitu caranya…”, atau “Masa ngerjakannya begitu? Yang betul dong…”, atau “Keliru itu caranya, harusnya begini dulu…”, atau “Ini dulu aja yang diwarnai, bukan yang itu. Lho kok nggak rapi mewarnanya…”, dan seterusnya, dan seterusnya, beragam contoh yang mungkin tidak ada habisnya jika dikumpulkan.

Kadang orangtua lupa bahwa untuk mengembangkan kemampuan tertentu, apapun itu, anak butuh waktu untuk berproses menjadi paham dan terampil. Mereka perlu kesempatan yang cukup untuk berlatih sedikit demi sedikit, bahkan ada kalanya juga belajar dari kesalahan yang mereka sadari. Kritik yang berlebihan di saat mereka masih berusaha keras akan dapat menurunkan motivasi. Lebih-lebih jika orangtua juga lupa mengapresiasi, lupa menunjukkan penghargaan atas setiap usaha anak, bertambahnya kemampuan yang dimiliki dan perubahan perilaku positif yang mampu ditunjukkan oleh mereka. Rasanya bukan saja anak-anak, kita saja jika diperlakukan demikian juga tidak mau, dan justru demotivasi yang berujung enggan untuk mengusahakannya lagi. Sayang bukan? Sikap yang bisa mematikan semangat belajar anak.

Jadi, menutup catatan singkat yang telah dipaparkan, mari bersama mencoba memperbaiki cara-cara berkomunikasi yang mungkin masih belum sepenuhnya tepat selama ini, agar tidak berdampak negatif pada pengasuhan yang kita upayakan pada anak. Mengevaluasi dan mengoreksi diri adalah bagian penting dari proses belajar panjang menjadi orangtua, yang semoga dapat membuat diri kita mampu menjadi pendamping tumbuh kembang anak yang semakin baik dari waktu-ke waktu.

Beri Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s