Refleksi Ibu Belajar (2): Membangun Dialog yang Konstruktif

Damai dan kemampuan belajarnya terus berkembang. Begitu banyak perubahan positif yang terasa dari saat terakhir saya menuliskan refleksi tentang bagaimana dinamika menyesuaikan diri dalam proses mendampinginya bertumbuh di masa remaja ini.

Oya, sekedar memberikan gambaran tentang perkembangan yang saya maksud, silakan (jika memiliki cukup waktu) untuk membaca pula beberapa diantara sekian banyak tulisan Damai dalam blog-nya berikut (klik saja tautannya):

Tentang refleksi terhadap situasi sekitar (misal di tulisan A Reflection of Bhinneka Tunggal Ika); Tentang refleksi belajar sekaligus capaiannya di materi akademik (misal dalam tulisan The World Scholars Cup Tournament of Champions); Tentang telaahnya terhadap buku yang ia baca (seperti dalam tulisan Book Review: The Alchemist – Paulo Coelho); juga Tentang karya musiknya yang sederhana namun bermakna (seperti dalam A Short Note About My New Song: Enigma).

Pada catatan reflektif terdahulu yang saya buat dalam konteks mendampingi belajar Damai terkait mata pelajaran dan berbagai aktivitas di sekolah, saya telah menuliskan:

Berbagai catatan tersebut merupakan pengingat untuk tidak lagi membatasi ruang dalam mendampingi Damai belajar. Tidak boleh lagi membantu belajar hanya dengan berpatok pada materi dalam buku pegangan wajib mata pelajaran saja seperti dulu. Sebaliknya, diskusi sedapat mungkin harus diperluas mengikuti pola belajar di sekolah, yang selalu memperkaya pengetahuan siswa dengan berbagai macam wawasan. Mengecek dan memastikan pemahaman anak akan suatu topik harus pula diimbangi dengan berbagai dialog untuk menguatkan kemampuannya berpikir kritis, juga sikap yang peka, peduli, dan berusaha untuk banyak berkontribusi positif di masyarakat. Dalam proses ini, saya banyak mengevaluasi diri sendiri yang tanpa sadar masih kerap terbawa mindset dan pola-pola dukungan belajar yang lama…

Menyambung yang sudah tersampaikan, saya ingin berbagi lebih jauh tentang bagaimana mengupayakan berbagai dialog yang konstruktif bersama Damai, meskipun gambarannya sedikit banyak tentu sudah tertangkap dari tulisan refleksi sebelumnya. Ya, saya meluaskan ruang dan topik pembicaraan yang keluar dari area sederhana di masa anak dulu, meski 2 prinsipnya tetap sama: (1) Keragaman topik antar pembicaraan agar tidak monoton dan mendatangkan kebosanan; (2) Frekuensi melakukan dialog yang sesering mungkin dengan memanfaatkan setiap waktu bersama, sesempit apapun.

Terkait keragaman topik, pembicaraan bersama Damai sekarang semakin saya arahkan untuk mempertajam kemampuannya dalam menganalisis situasi, tanpa terburu menilai, meski secara normatif hal yang dibicarakan sudah jelas masuk di area mana dari rentang benar dan salah. Alih-alih meminta untuk menyimpulkan penilaiannya atas sesuatu, saya lebih mendorong Damai untuk melihat hal tersebut dari berbagai sisi terlebih dahulu, sebelum mengerucutkan pendapatnya ke satu arah yang lebih diyakini. Kemudian saya minta padanya menjelaskan mengapa ia lebih mempertimbangkan sisi itu. Dari sana, saya berganti menyampaikan pendapat saya. Kadang sama, kadang berbeda. Lalu kami mencoba mencari di mana titik temunya.

Sebagai contoh, kami pernah mendiskusikan terkait mengapa ada perbedaan perilaku diantara orang-orang yang sama-sama belajar khusus tentang agama. Ada yang kemudian bersikap sangat saklek dalam menerapkan apa yang dipelajari, ada yang tidak. Lalu mana yang sebaiknya diikuti. Pernah juga kami membahas tentang apakah anak-anak yang berasal dari keluarga bercerai pasti memunculkan problem perilaku? Sejak awal mengenai ini kami bersepakat tidak, karena begitu  banyak contoh di sekitar yang kami ketahui, dimana anak-anak dengan orangtua bercerai tetap memiliki kondisi psikologis yang sehat, terjaga positif, sehingga kemudian kami mendiskusikan bagaimana prosesnya untuk bisa demikian.

Pada saat yang lain kami membahas tentang isu poligami karena berkait dengan salah satu tugas baca dari sekolahnya. Pernah juga kami membahas tentang pilihan orang untuk berpindah agama, atau topik-topik seputar disonansi kognitif di berbagai konteks. Semua dengan proses dialog yang terbuka, saling menyimak, memahami dan memberi umpan balik.

Sementara itu terkait frekuensi dialog, sama seperti cerita saat Damai masih SD dulu, kami masih tetap mengupayakannya dengan mengambil waktu-waktu khusus ketika luang, maupun sambil melakukan hal bersama yang lain, semisal: Di perjalanan, saat makan, ketika bersiap ke sekolah / ke kampus, menjelang tidur, di sela aktivitas ketika menunggu sesuatu, dan sebagainya. Saya sendiri juga menanamkan dalam pikiran bahwa proses ini tidak hanya berguna untuk Damai. Proses ini adalah juga ruang belajar bagi saya untuk memperdalam ilmu perkembangan, memahami dinamika kognitif dan emosi remaja, yang pada akhirnya akan berguna menguatkan kemampuan dalam pengasuhan yang bisa dibagikan pula untuk membantu rekan yang lain.

Untuk bisa melakukan dialog yang konstruktif, dari pengalaman saya ada beberapa hal yang memang perlu diperhatikan oleh orangtua. Karena bagi sejumlah banyak orang proses ini ternyata cukup sulit dilakukan, terlebih pada mereka yang sudah terlanjur ‘berjarak’ dengan anak.

Pertama, resapi bahwa komunikasi itu sifatnya “saling”. Bukan hanya bicara satu arah, terlebih jika isinya hanya berupa perintah-perintah. Ada saatnya kita menyampaikan sesuatu, ada saatnya kita menyimak. Karena itu, penting untuk juga membiasakan diri bersabar dan mau menyimak apapun yang dikatakan oleh anak, tanpa terburu menyimpulkan, berkomentar, apalagi memotong di saat anak masih belum tuntas menyampaikan isi pikiran atau perasaannya.

Kedua, membiasakan diri untuk tetap menjaga respek pada anak dengan menghindari kata-kata yang mengecil-artikan atau meremehkan pendapat mereka. Terlebih pada fase remaja di mana anak mulai mengembangkan kesadaran akan diri, membangun identitasnya, sehingga kebutuhan untuk didengarkan dan diakui keberadaan maupun kemampuannya meningkat dari saat masih berusia anak.

Ketiga, mengimbangi berbagai stimulasi berpikir dan berkomunikasi tersebut dengan menumbuhkan pemahaman pada anak bahwa bagaimana pun kita tetap hidup dalam lingkungan yang penuh keragaman. Ketika ia mampu berpikir dengan kacamata yang luas, belum tentu setiap orang demikian. Ketika ia meyakini satu pendapat, boleh jadi orang lain berpendapat berbeda.

Mengingat keragaman adalah sebuah keniscayaan, antar individu tidak sama, maka melatih anak untuk mampu menyikapi setiap perbedaan dengan arif meski tetap memegang prinsip yang diyakini adalah hal yang menurut saya penting diupayakan oleh para orangtua. Agar kemudian anak tidak terjebak pada kesaklekan yang membuatnya berjarak lebar dengan sekelilingnya, lebih-lebih terputus kontak dengan lingkungannya. Jika demikian, maka kecerdasan mereka, kemampuan mereka, potensi-potensi yang mereka miliki akan sulit menjadi berkat dan memberikan sebanyak mungkin manfaat bagi orang lain.

*****

Sila baca pula: Menumbuhkan Ketangguhan Anak Melalui Percakapan yang Memberdayakan

Beri Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s