Amazing Russia (2): Moscow dan Arsitekturnya yang Penuh Sejarah

Ini adalah bagian kedua dari catatan ringkas perjalanan ke Russia Juli lalu. Saya akan menceritakan sedikit tentang Kota Moscow yang penuh dengan deretan bangunan bersejarah.

Kalau bicara tentang Moscow, ada 2 gambaran bangunan khas yang terbayang di kepala: Gereja-gereja Kristen Ortodok yang kubah-kubahnya berwarna-warni bak permen lolipop, dan deretan gedung besar pemukiman maupun perkantoran yang bentuknya mayoritas berkubus-kubus, besar dan tampak sangat kokoh. Tidak sedikit diantaranya yang sudah berusia ratusan tahun, dan tetap berdiri tegak, berfungsi hingga sekarang.

Saya akan menuliskan beberapa objek menarik yang sempat kami datangi, di antara waktu-waktu mengikuti ECP. Karena di Russia pada saat itu matahari baru terbenam sekitar pukul 12 malam, maka usai kongres yang selesai sekitar pukul 5 sore, kami biasanya tidak langsung kembali ke penginapan. Kami menyempatkan untuk berjalan-jalan dulu sekuat kaki, karena sayang saja jika sudah jauh-jauh pergi tidak dimaksimalkan berkelilingnya.

Kremlin, Historical Museums, Red Square, St. Basil’s Cathedral, dan Sekitarnya

Judul bagian ini kok panjang? Iya, karena objek-objek tersebut berada pada satu kompleks area, mengitari si lapangan merah yang seringkali juga disebut sebagai alun-alun Kota Moscow. Sebagai alun-alun, Red Square merupakan pusat berbagai aktivitas termasuk perdagangan, sejak pertama kali dibangun dulu. Dalam sejarahnya, lapangan merah ini merupakan tempat berbagai upacara umum dan proklamasi; dan beberapa kali digunakan sebagai lokasi penobatan Tsar Rusia serta berbagai upacara resmi pemerintah Rusia.

Pada sisi Tenggara dari Red Square berdiri dengan warna-warni menarik, Gereja Cathedral St. Basil yang banyak orang menyebutnya mirip permen. Pada sisi Timur Laut, ada pusat perbelanjaan (Gum Department Store) yang menjajakan beragam barang-barang branded. Lalu pada sisi Barat Laut, terdapat gedung museum sejarah negara (State Historical Museum) dan Kazan Cathedral. Sementara di sisi Barat Daya, terdapat tembok atau benteng yang berdiri tegak memisahkan antara lapangan merah sebagai ruang publik dengan istana Kremlin yang tertutup untuk umum. Istana Kremlin pernah dan masih menjadi lokasi domisili para pemimpin Rusia sejak zaman Tsar, hingga sekarang. Pada salah satu bagian benteng tersebut, dengan posisi agak ke Tenggara, berdiri tegak menara jam yang menurut catatan didesain oleh seorang arsitektur asal Italia, sekian banyak waktu yang lampau.

Moscow Cathedral Mosque

Karena Kristen Ortodok adalah agama yang paling banyak dianut di Russia, maka tidak heran jika bangunan-bangunan gerejanya begitu banyak ditemui di sepanjang perjalanan. Namun demikian, jumlah penduduk Russia yang memeluk Islam juga tidak sedikit, sehingga di beberapa tempat kita juga bisa menemukan bangunan masjid. Salah satu yang kebetulan dekat dengan hotel tempat rombongan kami menginap adalah Masjid Katedral Moscow.

Beberapa Sudut Kota

Hal lain terkait Moscow, sejauh pengamatan saya memang penduduknya terkesan tidak terlalu banyak tersenyum. Apalagi dengan orang asing. Mereka cenderung berbicara seperlunya. Pun demikian dari yang sempat saya amati ketika mencoba naik kereta bawah tanah dari hotel menuju tempat kongres. Kesan kakunya cukup terasa. Entahlah, mungkin tidak sepenuhnya demikian apabila terhadap orang-orang yang sudah cukup lama tinggal di sana.

Menutup catatan kedua ini, berikut adalah beberapa penampakan Kota Moscow di beberapa sudutnya.

 

Beri Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s