Menumbuhkan Resiliensi Generasi Z (Materi Seminar Nasional Pascasarjana 2018)

Jumat, 23 Maret 2018, kali kedua dipercaya untuk kembali menjadi salah satu pemateri dalam Seminar Nasional Pascasarjana yang diselenggarakan oleh Program Doktor Ilmu Psikologi UGM. Bahagia dan bersyukur sudah tentu. Bisa kembali pulang ke ‘rumah’ yang memberi saya pondasi ilmu psikologi, berbagi sekaligus mengulang momen belajar bersama para guru yang sungguh saya teladani.

Jika pada SemNas Pasca dua tahun lalu saya membawakan materi tentang Resiliensi, Perspektif Life Span, dan Peluang dalam Penelitian (sila klik 2 tautan tersebut jika ingin membaca materinya), kali ini dengan masih setia pada topik yang sama, saya menyampaikan tentang bagaimana Menumbuhkan Resiliensi pada Generasi Z.

Sebagaimana kita tahu, perubahan jaman dengan segala kondisinya selalu membawa konsekuensi bagi individu, baik positif dengan meningkatnya kemampuan tertentu, maupun negatif dengan munculnya berbagai persoalan baru. Demikian pula dengan generasi yang tumbuh di tengah pesatnya kemajuan teknologi digital seperti saat ini.

Selain untuk memberikan ide riset pada peserta yang sedang akan mengajukan usulan tesis atau disertasi, materi ini saya harapkan juga dapat menjadi stimulasi berpikir tentang tantangan ketangguhan anak di ‘zaman now’, sekaligus sarana berpikir reflektif bagi orangtua dalam upaya menumbuhkannya.

Saya membagi paparan dalam tiga bagian. Pertama dengan singkat saya mengajak peserta mengingat kembali tentang apa itu resiliensi, perkembangan kajiannya, serta kedudukannya diantara konsep-konsep lain yang serupa atau sejalan. Saya kutipkan beberapa ppt SemNas 2016 untuk bagian pertama ini, disertai penegasan mengapa resiliensi semakin dibutuhkan seiring perubahan jaman. Ada dua alasan yang saya kemukakan: (1) Karena gaya hidup dan pola perilaku individu di masyarakat terus berubah, menghadirkan berbagai tantangan yang berbeda dan semakin kompleks dalam interaksi sosial; dan karena itu jugalah (2) Stresor dan adversity dalam lingkungan tumbuh kembang anak pun menjadi semakin beragam.

Bergerak ke bagian kedua, penjelasan tentang resiliensi dilanjutkan dengan mengajak peserta mencermati bagaimana generasi z bertumbuh di tengah kemajuan teknologi dan keluasan akses informasi melalui dunia maya ini. Dari ringkas memahami apa yang terjadi pada kehidupan mereka, kekuatan dan keunggulan yang mereka miliki, saya pun memaparkan munculnya berbagai persoalan khas seperti adiksi terhadap penggunaan perangkat teknologi, meningkatnya pergaulan bebas, menurunnya ketrampilan sosial, serta problem-problem perilaku yang lain.

Resiliensi di tengah tantangan zaman yang sedemikian merupakan pembeda antara individu yang pada akhirnya terjebak dalam pola perilaku negatif, dengan mereka yang mampu mengelola berbagai risiko dan pengalaman tidak menyenangkan melalui koping dan adaptasi yang tepat. Orangtua sebagai pendamping utama tumbuh kembang anak memiliki peran besar dalam menumbuhkan resiliensi melalui pengasuhannya sehari-hari. Dinyatakan dalam literatur, pengasuhan yang tepat merupakan jembatan krusial dalam menumbuhkan resiliensi anak. Lingkungan tumbuh kembang yang positif diperlukan dalam proses belajar anak untuk berdaya, mampu mengelola diri sendiri dan menjadi individu resilien.

Terdapat empat hal yang dapat diupayakan oleh orangtua dalam membantu anak agar tumbuh menjadi individu yang resilien: (1) Menyediakan lingkungan tumbuh kembang yang sehat, termasuk di dalamnya menyediakan contoh-contoh baik yang setiap saat dapat diakses oleh anak sebagai rujukannya dalam berperilaku; (2) Menumbuhkan dan terus menguatkan faktor protektif internal anak seperti kemandirian, kematangan emosi, determinasi diri, dan komunikasi; (3) Melatih agar anak mampu mengelola berbagai risiko dalam interaksi sosialnya secara mandiri; serta (4) Melatih anak menguasai koping dan adaptasi positif.

Sampai pada bagian ini, bagaimanakah kemudian fenomena yang belakangan tampak di masyarakat? Apakah kebanyakan orangtua sudah menunjukkan kondisi ideal dari praktik pengasuhan yang berkontribusi menumbuhkan resiliensi tersebut?

Saya mengajak peserta untuk sejenak berpikir reflektif pada bagian ketiga dari paparan materi, dengan mengajukan beberapa pertanyaan ringan. Ringan pertanyaannya, agak berat menjawabnya, tampak dari ekspresi sejumlah peserta yang mayoritas adalah juga para orangtua.

Mengapa berat? Karena semua orangtua, terlepas dari keragaman latar belakang pendidikannya (termasuk pula orang-orang yang berlatar psikologi) adalah juga bagian dari masyarakat yang sejatinya telah turut memfasilitasi bergesernya karakter dari satu generasi ke generasi yang lain. Berarti pula, tanpa disadari kita sebenarnya turut berkontribusi ketika ada generasi yang mengalami persoalan tertentu sebagai salah satu konsekuensi dari pengaruh lingkungan tumbuh kembangnya. Saya pernah menulis tentang ini empat tahun yang lalu (Sila baca: Karena Kita pun Terlibat).

Setelah sejenak berefleksi, pada bagian akhir uraian saya memberikan beberapa peluang topik riset yang dapat ditindaklanjuti terkait dengan kebutuhan pengembangan model resiliensi di era digital, model pengasuhan yang efektif untuk memperkuat resiliensi anak di tengah keaktifannya berinteraksi dengan teknologi, dan topik-topik lain yang relevan dengan gejala yang tampak pada orangtua masa kini dan praktik pengasuhan yang dilakukannya.  

      

    
      Menutup catatan, ada satu hal lagi yang membuat saya hepi sekali di momen mengisi SemNas Pascasarjana kali ini: Proceeding SemNas 2016 telah selesai dibukukan dan diterbitkan oleh Gadjah Mada University Press. Tulisan berisi materi saya pada waktu itu tentang Resiliensi, Perspektif Perkembangan, dan Peluang dalam Penelitian termuat sebagai artikel pembuka. Bagi yang ingin mendapatkan buku ini dapat langsung menghubungi alamat kontak Program Doktor Ilmu Psikologi UGM.

*****

Iklan

2 thoughts on “Menumbuhkan Resiliensi Generasi Z (Materi Seminar Nasional Pascasarjana 2018)

  1. MasyaAlloh…pesannya nyampe ke hati banget Mbak Wiwin, meski saya ndak mudheng dengan istilah-istilah ilmiahnya. Yang saya catat bahwa peran ortu sangat penting ya, kasih teladan dan menyerap energi positif dari pergeseran peradaban (ini yang relatif susah…he3x).
    Di lingkungan saya kebanyakan orang tua terkubu menjadi dua kelompok ekstrim ketika bersikap dengan generasi Z ini. Ada yang super duper protektif, anak-anak sama sekali disterilkan dari gadget dan ini yang mayoritas diamini oleh komunitas saya. Kubu kedua adalah yang cuek, bahkan memfasilitasi anak-anak dengan piranti canggih dan ortu pun ikut serta “menikmati’ nya. Saya di kubu mana? Ambigu ini…he3x… Terus terang anak-anak saya punya gadget dan di rumah ada fasilitas wifi. Yang saya terapkan saat ini adalah membatasi penggunaannya hanya di hari Sabtu sepulang sekolah hingga Minggu menjelang maghrib, dengan syarat mereka setor hafalah Al Quran. Tapi saya merasa ini tidak benar juga. Karena di waktu-waktu itu anak-anak jadi “balas dendam” untuk ber-gadget ria”…:(
    Saya ingin “menyelaraskan” gadget ini dengan kebaikan, tapi belum tahu caranya. Cara yang pas bagi anak-anak. Karena biarpun gadget nya sama, tapi kalau pemakainya beda, jadi beda juga yang diakses. Bagi saya situs tertentu itu menarik, tapi ketika ditunjukkan ke anak-anak ternyata mereka tidak tertarik. Duh…sedih dan bingung jadinya.
    Akhirnya, saat ini saya hanya menyandarkan kepada Alloh untuk menitipkan pengasuhan anak-anak saya di peradaban sekarang hingga nanti. Saya tekankan kepada mereka untuk belajar Al Qur’an. Saya juga belajar bersama mereka. Namun, tetap saya ingin tahu dan jika bisa mempraktikkan teknologi ini agar sejalan dengan kebaikan anak-anak dan saya juga.
    Jika ada, Mbak Wiwin mohon tunjukkan ke saya artikel/tulisan atau bahkan buku tentang “Tips dan Trik mendidik anak di zaman Z”, terutama yang menitikberatkan ke motivasi bagi orang tua. Karena terus terang, kepekaan saya sebagai orang tua sangat kurang Mbak. Saya ini suka ga dong dengan perasaan anak, kebutuhan anak. Justru suami saya yang bagus radarnya. Beliau dapat mengidentifikasi keinginan dan kebutuhan anak….

    Maaf ya Mbak…jadi curcol ini. Semoga Mbak Wiwin diberi nikmat sehati, iman, dan mengalir terus ilmu dan inspirasinya…Amiiin…

    • Haluuu… jeng Rita. Senang sekali membaca komennya.
      Tantangan banget untuk orangtua jaman sekarang ya ^.^
      Terkait teknologi, saya sendiri bukan tipe ortu yang anti lalu menutup diri.
      Karena akan baik atau buruk efeknya tetap tergantung pada bagaimana penggunaannya.
      Dalam seminar, saya juga menyampaikan bahwa tidak pada tempatnya untuk sibuk menilai generasi mana yang lebih baik dari yang lain, lalu terus menyorot kelemahan dari satu generasi tertentu.
      Setiap generasi punya kelebihan dan kelemahannya masing-masing, karena itu fokus kita sebagai orangtua adalah membantu mengantisipasi konsekuensi-konsekuensi negatif dari cara hidup di generasi tertentu, tanpa membuat mereka terhalang untuk mengoptimalkan keunggulan sesuai jamannya.
      Itulah mengapa selalu yang saya sampaikan adalah pentingnya ortu menyeimbangkan kesempatan yang diberikan pada anak untuk berinteraksi dengan teknologi dengan juga membekali mereka kemampuan yang memadai untuk memiliki kontrol diri, mampu mengelola secara mandiri waktu dan pola penggunaan gawainya, sehingga bisa menghindarkan diri dari risiko-risiko negatif yang mungkin akan ditemui. Jadi pesan saya tidak untuk menjauhkan anak dari teknologi, tapi mengoptimalkan peran pengasuhan dalam mendampingi.
      Ada banyak artikel-artikel sejalan ini di media online, jeng.
      InsyaAllah aksesibel untuk dicari via internet, meskipun kadang memang ditulis oleh orang dengan sudut pandang yang berlainan.
      Semoga Allah memberikan kemudahan selalu untukmu mendidik anak-anak ya jeng cantik..

Beri Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s