Cerita dari Ruang Kuliah: 12 Riset Kualitatif untuk Memahami Perilaku di Media Sosial (Bagian 4)

Masih melanjutkan tulisan sebelumnya, berikut adalah pelengkap dari cerita kelas kualitatif S1 semester ini. 3 tulisan terdahulu sudah memaparkan bagaimana hasil latihan meneliti dari 12 kelompok yang ada di kelas yang saya pandu. Sekali lagi, saya mengapresiasi betul proses belajar mahasiswa Semester 5 ini. Semua menunjukkan progres pemahaman yang baik, meski sejauh mananya tentu tidak sama antara satu dengan yang lain. Ada yang berada di kisaran rata-rata sebagaimana kemampuan individu yang baru mulai belajar meriset, ada yang masih sedikit di bawah yang lain, namun ada pula yang menunjukkan potensi besar untuk kelak dapat menghasilkan riset-riset kualitatif yang luar biasa sesuai jenjangnya.

Selama mendampingi mereka belajar di kelas ini, ada beberapa hal yang berulang saya tekankan. Pertama, tentang keluasan penelitian kualitatif. Bagaimanapun, apa yang telah mereka pelajari hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak pendekatan dalam penelitian kualitatif. Melalui proses pembelajaran yang telah dilalui, mereka masih sebatas mengenal kualitatif versi generik. Versi sederhana, versi pemula. Pendekatan pun baru belajar sedikit tentang studi kasus dan fenomenologi. Artinya, untuk menjadi mahir dan memiliki penguasaan yang baik, mereka perlu mengembangkan pemahaman dengan belajar dan berlatih secara mandiri, menerapkan pendekatan kualitatif yang lain berikut sekian banyak variasi teknik di dalamnya. Sebab penguasaan terhadap sebuah ketrampilan tidak akan pernah tercapai hanya dengan sekali-dua kali mencoba melakukan.

Kedua, sebuah penelitian yang baik harus didasarkan pada research problem yang jelas, berbasis data yang kuat, dan memiliki manfaat. Jadi bukan sekedar memenuhi keingintahuan peneliti. Karena itu, dalam setiap kesempatan memberikan umpan balik, hal ini juga selalu menjadi perhatian saya dalam mengoreksi. Saya dorong mereka untuk membangun argumentasi yang kuat dalam menyatakan persoalan penelitian, berdasarkan kajian teoritik, hasil riset terdahulu, berbagai literatur dan sumber data fenomena yang akurat.

Ketiga, pentingnya menentukan perspektif teori yang tepat dalam mengkaji persoalan yang diangkat. Bagian ini cukup sulit. Setidaknya menuntut peneliti untuk melacak akar dari penjelasan teoritik atas konsep yang menjadi fokus kajian. Ada yang berhasil, banyak yang belum. Terlebih karena waktu belajar satu semester yang terbatas di tengah tuntutan memenuhi kelengkapan setiap bagian riset yang lain, juga diantara tumpukan tugas/project yang tak kalah aduhai dari mata kuliah yang berbeda. Tapi tidak apa, meski belum optimal, setidaknya dengan umpan balik yang terus diberikan, mereka dapat menindaklanjutinya dengan lebih baik nanti pada saat mengerjakan skripsi. Kalau yang skripsinya tidak menggunakan pendekatan kualitatif? Ya paling tidak mereka sudah pernah mendapatkan penjelasan dan feedback-nya. Semoga masih tersimpan di ingatan manakala suatu saat nanti diperlukan 😀

Keempat, menjaga kesesuaian antara pertanyaan dan tujuan penelitian dengan hasil analisis yang diperoleh. Berulang saya sampaikan pada mahasiswa, ada banyak penelitian kualitatif yang tebalnya luar biasa, tapi isinya kemana-mana. Pertanyaan penelitian ke kiri, jawabannya ke kanan. Tujuan penelitian tidak sejalan dengan hasilnya. Kenapa? Sebabnya bisa beragam. Boleh jadi sejak awal peneliti kesulitan menetapkan fokus studinya, sehingga ketika turun lapangan juga tidak jelas akan menggali data apa. Kemungkinan yang lain, keterbatasan kemampuan peneliti membuatnya tersesat dengan banyaknya cerita subjek, lalu lepas arah.

Tapi bukankah itu bisa memperdalam hasil? Belum tentu. Kalau memperdalam, hasil penelitian akan tetap sesuai tujuannya. Jawaban akan tetap nyambung dengan pertanyaan, dengan penjelasan yang tajam dan uraian yang detil. Hanya saja kenyataannya tidak selalu demikian. Sesuatu yang dikatakan sebagai ‘mendalam’ ternyata pada banyak naskah laporan lebih tepat jika dikatakan ‘ngglambyar’, uraian yang ‘kemana-mana’ dan semuanya perifer. Hanya berisi cerita-cerita permukaan yang jauh dari kedalaman.

Kelima, tentang kejelian menganalisis. Agak terkait dengan poin keempat, tapi berbeda pokok penekanan. Tidak bosan saya mengingatkan mahasiswa dalam momen-momen diskusi progres riset untuk jeli dan hati-hati dalam membaca data. Saya minta mereka merasakan betul, menghayati apa yang dituturkan subjek, sehingga dapat menarik hasil analisis yang lebih tepat. Tidak asal menceritakan ulang begitu saja isi verbatim, tapi benar-benar mencari intisari, kata atau frasa kunci, tema-tema pokok yang ada dalam cerita subjek.

Jeli juga berarti tidak terburu-buru untuk menarik kesimpulan sebelum berulang kali melakukan pengecekan atas analisis yang telah dilakukan. Tidak terburu untuk mencukupkan penggalian data. Tidak terburu mereduksi informasi yang dianggap tidak penting, dan sebagainya. Itulah kenapa meneliti dengan pendekatan kualitatif ini tidak akan optimal jika dilaksanakan dalam waktu yang terbatas (baca: sempit).

Menutup pelaksanaan mata kuliah, saya meminta setiap mahasiswa menuliskan kesan singkatnya setelah mempelajari riset kualitatif ini. Berikut saya kutipkan beberapa diantaranya:

“Metode ini sulit, Ibu meminta standar yang tinggi. Tapi dengan feedback yang terus diberikan terhadap kinerja kelompok, pelan-pelan kami jadi bisa melakukannya”

“Ternyata melakukan penelitian kualitatif itu rumit. Dibutuhkan kemampuan yang sangat baik dalam berkomunikasi dan menggali data. Perlu kepekaan juga dalam menyimak jawaban-jawaban subjek saat wawancara dan ketika menganalisis”

“Setelah mencoba melakukan penelitian kualitatif lewat matakuliah ini, saya akhirnya menyadari bahwa kualitatif ternyata sama susahnya dengan kuanti, Bu. Sedih saya…”

“Harusnya ini 7 sks, bukan 4…”

“Benar-benar menikmati kepusingan ini. Mendekati subjeknya susah. Mewawancara juga ternyata tidak semudah kelihatannya. Tapi saya dapat banyak insight buat skripsi saya nanti”

“Momen wawancara dengan partisipan membuat saya mau tidak mau harus bisa memahami orang lain. Harus jadi pendengar yang baik, tidak boleh menyimpulkan/menilai dulu sebelum tuntas mendengar semua ceritanya”

“It’s kinda beautiful to see what people see about this world”

“Jadi makin paham, betapa logika berpikir kita belum tentu sama seperti pikiran orang lain. Memahami subjek tidak semudah yang saya bayangkan sebelumnya karena semua orang memiliki alasan masing-masing dalam melakukan sesuatu”

“Metode kualitatif ini menurut saya lebih efektif dilakukan pada tema-tema yang sensitif, spesifik, dan belum banyak dikaji oleh penelitian sebelumnya, sehingga akan dapat memperkaya kajian psikologi ke depannya”

“Setelah belajar ini, saya jadi merasakan bahwa data itu dapat digali sedalam-dalamnya, hingga memperoleh temuan-temuan baru yang bahkan tidak terpikirkan sebelumnya. Awalnya saya kira asal pertanyaan sudah terjawab, itu cukup. Ternyata saya salah…”

“Menyenangkan saat berinteraksi dengan orang baru (subjek). Menyenangkan juga analisisnya, tapi panjang banget prosesnya…”

“Saya harus bilang, saya tidak akan menggunakan metode ini untuk skripsi. Saya angkat tangan Buuu… Saya ndak sanggup”  😀

Well, mau sanggup atau tidak sanggup, I have to say:
I love this class ❤️
Semangat belajar mereka memberi energi balik yang positif untuk saya sendiri.

*****

Iklan

Beri Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s