Sekedar Percakapan Ringan (13)

Dalam tulisan terdahulu, beberapa kali saya membahas bahwa menumbuhkan berbagai karakter positif anak merupakan bagian dari tanggung jawab pengasuhan yang harus dilakukan oleh orangtua. Sebab kemampuan yang perlu ditumbuhkan dalam diri anak tidak hanya sebatas wilayah akademik saja, namun juga tentang bagaimana mereka mampu berpikir kritis, memiliki kepekaan emosi, keterampilan sosial, dan sebagainya. Terkait ini, sebagaimana pernah saya ceritakan, saya pun berusaha terus mengingatkan diri sendiri untuk tidak luput mengupayakannya pada Damai. Setiap saat, melalui berbagai obrolan kami sehari-hari.

Berikut adalah catatan dan obrolan ringan yang sempat saya tulis di akun media sosial saya beberapa hari terakhir, menyusul rangkaian cerita percakapan ringan sebelumnya. Saya bagikan juga di sini siapa tahu cerita di dalamnya akan bisa memberi manfaat untuk teman-teman yang lain.

Catatan 10 Mei 2017

Kapan hari membahas dengan Damai, hal-hal apa saja yang digemari anak-anak saat ini. Salah satunya ternyata adalah tren membuat video musik dari lagu-lagu yang sedang hits.
Bertanyalah saya: Gitu itu anak-anak pada tahu nggak, apa isi lagu yang sedang divideokan, sampai ada yang gaya lipsingnya ekstrim ‘songong’ ala-ala gaya artis R&B jaman sekarang?
Damai: Nggak selalu tahu sih kayaknya…
Saya: Nah, kalau kamu sendiri, dari yang kamu tahu gimana?
Damai: Hmm… nggak selalu bagus memang, Mam.
Saya: Nggak bagusnya gimana?
Damai: Yaaa… gitu deh.
Saya: Ada yang isinya sangat orang dewasa ya?
Damai: Hooh… dan lain-lain
Saya: Pernah nggak terpikir, ketika banyak anak-anak yang membuat videonya, lalu upload di instagram misalnya, apa yang akan terjadi pada anak lain yang melihat postingan itu?
Damai: Ya kemungkinan ada yang nirukan, dan semacam tertarik pengen lebih tahu gitu.
Saya: Lalu, apa yang akan mereka lakukan?
Damai: Mencari-cari lagu itu mungkin..
Saya: Dimana?
Damai: Ya yang paling gampang di internet.
Saya: Nah, waktu mereka mencari-cari itu mungkin nggak mereka trus entah sengaja atau enggak akhirnya menemukan video klip yang asli, yang adegannya sama sekali nggak sesuai untuk dilihat anak-anak?
Damai: Ya iya.
Saya: Dan permasalahannya bisa jadi nggak hanya sampai di situ. Kalau mereka lalu keterusan mengakses video-video yang tidak baik, atau bahkan menirukan perilaku yang tidak oke, masalah pun bertambah. Efeknya berantai.
Damai: Iya sih. Berarti kalau melakukan sesuatu itu memang sebaiknya dipikirkan dulu ya kemungkinan efeknya.
Saya: Betul. Mama aja juga sering mikir dulu kalau mau melakukan apapun, meski cuma sekedar share drama korea tertentu di medsos (duh…contohnya 😅), mau nulis sesuatu, atau yang lain-lain.
Damai: Termasuk kalau nulis status-status gitu ya?
Saya: Iya, apapun. Kamu suka ngamati gimana status-statusnya orang di line, twitter atau di mana gitu?
Damai: Iya, dan ada yang nggak banget Mam.
Saya: Yang kayak apa itu?
Damai: Yang ngamuk-ngamuklah, kata-katanya kasar, ngomel-ngomel, pokoknya posting yang nggak enak dibaca atau dilihat.
Saya: Baguslah kamu bisa menilai mana yang ok, mana yang nggak ok. Apapun yang kita lakukan, usahakan jangan sampai berefek tidak baik ke orang lain. Karena sekecil apapun perilaku akan bisa memberi dampak ke lingkungan sekitar.

Catatan 14 Mei 2017

Semalam sakit gigi saya mendadak kambuh. Sangat. Tanpa saya minta Damai sibuk mencari obat penahan rasa sakit yang ternyata habis.
“Banget ya Mam?”
“Nggak apa-apa, sudah kamu tidur aja. Mama tunggu sakitnya reda dulu..” kata saya.

Pagi tadi begitu bangun, hal pertama yang dia katakan sambil masih kriyep-kriyep setengah sadar adalah, “Gimana sakit giginya Mam? Sudah baikan?”

Sepele, tapi membuat saya bersyukur. Sebab empati dan kepedulian pada sekitar adalah hal yang saya yakini penting untuk juga ditumbuhkan dalam diri anak sejak awal. Pondasi agar kelak ia juga memiliki kecerdasan emosi dan sosial yang baik, tidak hanya peduli pada kepentingan dirinya semata.

Beranilah Memilih dan Nyatakan Pilihanmu dengan Cara yang Baik

Ini catatan di Hari Senin beberapa waktu yang lalu. Pulang dari kampus, sampai rumah disambut dengan cerita Damai yang hari itu mendadak diminta oleh sekolahnya untuk mengikuti lomba siswa teladan tingkat kabupaten. Super mendadak, karena pelaksanaan lombanya adalah esok harinya dengan materi penilaian yang beragam. Cukup membuat geleng-geleng kepala memang, tapi saya tahan gelengan itu karena lebih tertarik untuk mendengar bagaimana respon Damai kemudian.

“Aku sempat tanya, kok mendadak. Trus dibilang sama Bu Guru kalau suratnya itu baru datang ke sekolah Hari Jumat. Sempat mikir juga kok nggak Hari Jumatnya langsung aku dibilangi. Kan lumayan misalnya aku mau, setidaknya masih ada 3 hari untuk nyiapkan”, kata Damai.

“Trus kamu jawab apa akhirnya?” tanya saya.

“Ya aku nggak mau…”

“Kenapa? Karena mendadak itukah?”

“Iya sih, itu satu hal. Hal yang lainnya, nggak semua materi yang akan dilombakan itu aku suka. Jadinya sudah mepet, materinya nggak semua suka, Mamski pasti kebayang gimana nggak enaknya.”

Sampai di sini, mungkin ada yang mengernyit dan berpikir, bukankah dalam kemepetan waktu persiapan itu ada sesuatu yang tetap bisa dipelajari anak? Setidaknya ada pengalaman untuk mengikuti sebuah perlombaan dengan persiapan seadanya dan kemudian belajar menerima apapun hasilnya. Hmmm…… mungkin ya. Hanya saja kalau pelajaran itu yang dimaksud, Damai sudah cukup terlatih selama ini. Saya lebih memilih untuk menguatkan keberaniannya menyatakan sikap, pilihan yang berbeda, meski tetap dengan cara yang baik dan sopan.

“Lalu apa yang kemudian kamu sampaikan?”

“Aku bilang ke Bu Guru kalau aku kurang berminat, meskipun memang Bu Guru sempat meyakinkan kalau nggak apa-apa aku nggak belajar. Apapun hasilnya yang penting ikut gitu aja. Tapi ya aku bilang kurang tertarik…”

“Diijinkan kamu nggak ikut?”

“Iya. Trus habis itu temanku yang akhirnya gantian ditunjuk.”

“Mama senang kamu berani menolak. Itu sikap yang bagus, karena setiap orang termasuk anak-anak berhak untuk berpendapat. Asalkan itu disampaikan dengan baik, dengan sopan, apalagi pada orang yang lebih tua. Belajar jujur dan berani berbicara itu satu hal yang penting. Belajar menyampaikan pendapat dengan cara yang baik dan sopan itu ketrampilan penting yang lain”, kata saya.

“Sempat sih habis aku menolak itu, aku kena protes temanku. Katanya, kok aku nggak mau, padahal banyak anak yang pengen ditunjuk untuk ikut lomba itu”, lanjut Damai.

“Trus, kamu jawab apa ke temanmu?”, tanya saya penasaran.

“Ya kubilang, aku nggak tertarik. Kan nggak setiap orang pikirannya sama. Ya nggak apa-apa juga kalau ada yang mau ikutan. Cuma kalau aku, aku nggak punya alasan kuat untuk ikut. Aku nggak melihat bisa belajar apa dengan mendadak ikut itu kecuali ya hanya yang penting mewakili sekolah gitu aja.”

So proud of you, Memskipi. Teruslah belajar untuk menumbuhkan pendirian, prinsip dalam dirimu. Agar kelak tidak menjadi orang yang mudah membeo, terbawa begitu saja arus sikap dan perilaku yang terjadi di sekelilingmu.

Iklan

Beri Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s