Upaya Menjadi Sosok Ibu yang Tangguh

Melanjutkan tulisan terdahulu tentang Materi Seminar Nasional Perempuan Pilar Peradaban Bangsa, kali ini saya akan ringkas menguraikan upaya yang dapat dilakukan Ibu untuk menjadi pribadi tangguh, sehingga nantinya mampu membesarkan anak-anak unggul yang juga berkarakter tangguh.

slide11

Sebagaimana telah ditulis sebelumnya, tantangan pengasuhan yang harus dihadapi ibu pada dasarnya tidak hanya berasal dari lingkungan tumbuh kembang anak saja, melainkan juga dari lingkungan personal ibu sendiri. Seorang ibu yang tangguh akan terus berusaha untuk mampu meregulasi diri agar sepadat apapun beban di tempat kerja (jika ibu bekerja), serumit apapun persoalan yang sedang dihadapi, ketidaknyamanan yang mungkin sedang dirasakan, dan sebagainya tidak menjadi halangan untuk tetap dapat mengasuh dan mendidik anak dengan baik.

Terkait hal tersebut, upaya pertama yang perlu dilakukan adalah: Self Improvementmemperbaiki diri dan melakukan penguatan psikologis secara terus-menerus. Mengapa demikian? Sebab bagaimana mungkin seorang pengasuh dapat mengasuh dengan baik jika psikologisnya tidak dijaga dalam kondisi baik? Bagaimana mungkin pendidik dapat optimal mendidik jika pikiran dan perasaannya carut-marut dan selalu tersita oleh urusan yang lain? Ini serupa juga dengan analogi tentang pentingnya seorang dokter dan psikolog harus sehat fisik dan mental terlebih dahulu sebelum kemudian bergerak membantu orang lain yang membutuhkan kemampuannya.

Lalu bagaimana cara melakukan self improvement tersebut?

1. Refleksi Diri

Dalam kondisi apapun, selalu berusaha untuk mengingat siapakah diri Ibu dan apa perannya saat itu. Bagi ibu yang bekerja, misalnya, jika sekian jam di kantor sudah memfokuskan segala tenaga untuk menyelesaikan sekian banyak pekerjaan, di rumah semestinya dapat menyesuaikan diri dengan perannya yang lain. Dalam peran sebagai ibu, penting untuk selalu mengingat apa yang baik dan kurang baik dilakukan, entah secara langsung kepada anak maupun kepada orang lain di depan anak.

Tepatkah jika sepulang dari kantor dalam keadaan yang memang sedang lelah, lalu anak yang datang ingin bercerita tentang sekolahnya hari itu direspon oleh ibu dengan ketus?

“Sudah nanti saja ceritanya, mama masih capek! Paling juga cerita nggak penting”.

Jika ingat bahwa sikap dan perilaku ibu akan memberikan pengaruh psikologis yang besar terhadap anak, semestinya Ibu tetap dapat memilih respon yang lebih baik, meskipun dengan maksud yang sama untuk menunda cerita anak sementara waktu, seperti:

“Wah pasti seru itu ceritanya. Mama ingin dengar, tapi sebentar mama mandi dulu ya. Biar keringatnya Mama hilang. Habis mandi, Mama sudah segar lagi nanti kita cerita-cerita”.

Pernyataan kedua jelas lebih baik dibandingkan pernyataan pertama. Pernyataan yang dilandasi kesadaran tentang bagaimana semestinya orangtua bersikap positif kepada anak. Sikap yang tidak memadamkan keterbukaan dan kepercayaan anak, sikap yang tetap menghargai anak, sekaligus sikap yang dapat memberi contoh tentang bagaimana anak kelak menyikapi situasi yang serupa.

Refleksi diri meningkatkan kesadaran akan peran dan tanggung jawab, sehingga sedikit banyak dapat menjadi kontrol internal agar Ibu mampu merespon segala sesuatu dengan cara yang lebih tepat, menciptakan lingkungan yang sehat bagi tumbuh kembang anak. Jika ibu dari refleksinya selalu ingat bahwa apa yang dikatakan dan diperbuat setiap saat akan menjadi sumber belajar bagi anak, maka apapun yang terjadi ia akan berusaha untuk lebih mengedepankan lisan yang baik ketika berbicara, mengendalikan emosi agar tidak meledak-ledak di depan anak, dan memberikan contoh-contoh perilaku positif.

2. Menjaga Komitmen Pengasuhan

Dalam pandangan subyektif saya, sudah bukan masanya lagi sekarang meributkan mana yang lebih baik antara ibu yang bekerja dengan yang tidak bekerja. Semua adalah pilihan. Yang jauh lebih penting untuk dibahas adalah bagaimana agar ibu, yang memilih bekerja maupun tidak, mampu menjaga komitmennya sebagai orangtua untuk memberikan pengasuhan secara optimal.

Sekian banyak kejadian di sekitar menunjukkan bahwa pada kedua kelompok ternyata sama-sama ditemukan baik catatan positif maupun negatif. Ada ibu bekerja yang memang memiliki persoalan serius dalam mengasuh anak, namun ada pula diantaranya yang ternyata tetap mampu menunjukkan keandalan dalam pengasuhannya.

Ada ibu tidak bekerja yang berkomitmen tinggi dalam mendampingi tumbuh kembang anak, namun ada pula diantaranya yang meskipun memiliki lebih banyak waktu di rumah ternyata juga tidak memanfaatkannya dengan efektif, justru menghabiskan waktu untuk melakukan hal-hal lain di luar tugas utamanya. Akibatnya, perkembangan anak pun terabaikan dan mengalami berbagai permasalahan.

Dengan demikian, upaya untuk menjadi ibu tangguh harus juga dilakukan dengan terus menjaga komitmen terhadap pengasuhan itu sendiri. Bagi para ibu yang bekerja, tulisan saya lima tahun lalu saat Damai masih pra-sekolah agaknya masih relevan dengan poin pentingnya refleksi diri dan komitmen pengasuhan ini. Silakan jika ada yang berminat untuk membacanya kembali di tautan berikut: Siapa Saya dan Apa Peran Saya.

3. Mengatur Prioritas

Setiap manusia memiliki energi yang terbatas. Jika dalam sehari ia harus menggunakan energi tersebut untuk menyelesaikan sejumlah banyak tanggung jawab dari peran-peran yang berbeda, maka sudah seharusnya ia mampu mengelola agar seluruh peran dapat terpenuhi dengan semaksimal mungkin. Ini terkait juga dengan aspek komitmen. Memilih untuk menjalani beberapa hal sekaligus akan menghadapkan kita pada sekian banyak konsekuensi. Semakin banyak peran diemban, semakin banyak beban tanggung jawab dipikul, maka harus semakin baik lah kemampuan individu dalam mengelola energinya. Berani memilih, harus berani menanggung konsekuensi dari pilihan masing-masing.

Atur prioritas secara tepat, pada saat mana harus fokus untuk mengerjakan A, B, maupun C. Pada saat mana urusan dengan anak harus benar-benar diutamakan, dan di saat mana mungkin kita bisa menjelaskan kepada anak untuk sejenak menunggu. Namun demikian, bagaimana cara kita menjelaskan, cara kita memberikan pengertian, dan keseimbangan yang kita tunjukkan dalam membagi fokus perhatian tetap menentukan respon anak kemudian.

Sudah tentu tidak akan beroleh respon dan hasil yang positif jika ibu berkeras sudah berusaha membagi waktu namun kenyataannya masih berat sebelah ke urusan lain dibandingkan mendampingi anak. Tidak akan berbuah tumbuh kembang yang sehat apabila saat bersama anak pun ibu gagal untuk fokus pada perannya sebagai ibu, tetap mengutamakan urusan yang lain, terlebih tanpa penjelasan yang dapat diterima oleh anak.

4. Melatih Regulasi Emosi

Masih terkait energi yang terbatas, sangat manusiawi jika suatu saat ibu merasakan tekanan psikologis yang cukup tinggi dalam melaksanakan segala tanggung jawabnya. Ada kalanya ibu menjadi emosional, apalagi jika sekian banyak tugas datang beruntun bahkan bersamaan. Panik, cemas, khawatir, kesal, bercampur dengan kelelahan.

Kondisi yang sedemikian jika tidak diatasi tentu akan berpengaruh terhadap kesehatan mental ibu, dan selanjutnya akan berpengaruh pula terhadap kesehatan mental anak. Ibu yang mengalami stres akan besar kemungkinan menunjukkan respon-respon tidak menyenangkan di depan anak: Mudah marah, mudah tersinggung, tidak komunikatif, bahkan tidak sedikit kejadian ekstrim menunjukkan adanya ibu yang justru melampiaskan emosi-emosi negatifnya pada anak dengan menghukum, melontarkan kata-kata keras yang berlebihan, dan sebagainya.

Sangat penting bagi semua ibu untuk memiliki kemampuan yang baik dalam meregulasi emosi, memulihkan ketidakseimbangan psikologis akibat dominasi emosi negatif ke kondisi yang lebih positif dan menenangkan. Kenali sinyal emosi dengan cermat, kenali berbagai situasi yang dapat membuat diri kita merasa tertekan, lalu ambil jarak sejenak dari sumber ketegangan dan lakukan relaksasi. Kendalikan pikiran untuk tidak larut dalam tekanan, kendalikan munculnya reaksi yang kurang tepat, lalu tanamkan dalam kesadaran bahwa apapun yang sedang dihadapi, ibu seyogyanya tidak menunjukkan sikap dan perilaku yang tidak semestinya di depan anak. Apabila terus-menerus dilatih, kemampuan meregulasi emosi ini tentu akan dapat dikuasai oleh ibu dengan baik.

5. Memperkaya Wawasan

Langkah kelima yang perlu diupayakan dalam self improvement adalah pentingnya ibu memperkaya wawasan yang dimiliki sebagai bekal dalam memberikan pendampingan yang terbaik untuk tumbuh kembang anak. Ibu yang berwawasan luas akan lebih mampu memberikan stimulasi perkembangan yang sesuai dengan kebutuhan anak. Ibu yang berwawasan luas juga akan mampu untuk menerapkan pengasuhan yang tepat sesuai karakter dan kondisi anak. Banyak membaca buku dan mengakses berbagai macam informasi terkait topik parenting dan perkembangan anak akan sangat membantu memperkaya wawasan ibu.

slide13

Setelah self improvement, hal kedua dari rangkaian upaya ini adalah parenting improvement. Dengan kondisi psikologis ibu yang sehat, ditambah wawasan yang luas, keduanya akan sangat memampukan untuk ibu senantiasa mengasuh anak dengan langkah-langkah yang efektif. Tinggal bagaimana para ibu mau bersungguh mengupayakan, dan membebaskan diri dari kebiasaan-kebiasaan, rutinitas pengasuhan ala kadarnya yang tidak benar-benar mengoptimalkan perkembangan anak dengan segala potensinya.

Sampai di sini, menjadi seorang ibu yang memiliki ketangguhan memang bukanlah hal yang mudah. Namun seperti yang pernah saya tuliskan, jika kita selalu ingat bahwa anak adalah amanah Tuhan yang tidak semua orang beruntung mendapatkannya, maka seberat apapun tentu akan selalu bisa kita upayakan.

slide15

Iklan

One thought on “Upaya Menjadi Sosok Ibu yang Tangguh

  1. Ping balik: Selamat Tinggal 2016, Selamat Datang 2017 | Wiwin Hendriani

Beri Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s