Latar Belakang Masalah: Tantangan Pertama Menyusun Proposal dan Laporan Penelitian

Rasanya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa uraian latar belakang masalah adalah bagian paling menantang untuk diselesaikan dalam penyusunan sebuah proposal penelitian. Mengapa? Karena senyatanya tidak selalu seorang peneliti berhasil menyajikannya dengan baik. Terlebih bagi peneliti pemula. Perlu usaha untuk berulang kali membetulkan, menyempurnakan. Maka tidak heran dalam sebuah proses pembimbingan naskah tugas akhir, penyusunan latar belakang masalah membutuhkan waktu (juga kesabaran dan ketekunan) yang tidak sedikit. Bahkan setelah hasil analisis data diperoleh pun ada kalanya kita masih harus membenahi isi latar belakang kembali.

Bagian ini ibarat pembuka pintu, penentu kesan pertama pembaca terhadap penelitian tersebut, juga secara tidak langsung terhadap kualifikasi penelitinya. Sebab pada latar belakang akan tergambar sejauh mana urgensi penelitian, sekuat apa landasan ilmiahnya, sekaligus seruntut apa alur berpikir peneliti dalam mengkaji persoalan dan merencanakan studi yang akan dilakukan.

1. Data yang Berlapis

Uraian latar belakang masalah umumnya diawali dari upaya menggambarkan konteks atau situasi yang mendasari munculnya permasalahan yang menjadi perhatian peneliti. Penggambaran konteks permasalahan penelitian dilakukan dengan menunjukkan fenomena-fenomena, fakta-fakta empiris atau kejadian-kejadian aktual di masyarakat, dari sumber media masa, buku-buku, hasil-hasil penelitian terdahulu, dan sebagainya. Dengan kata lain, peneliti harus memaparkan data dari fenomena yang melatarbelakangi penelitiannya. Peneliti dapat menyertakan data statistik untuk menunjukkan aktualitas dan trend atau perkembangan fenomena. Peneliti dapat juga menyertakan hasil studi pendahuluannya atas fenomena tersebut, berupa data kuantitatif hasil asesmen maupun kutipan wawancara.

Sampai di sini, cukupkah paparan data yang diperlukan untuk menunjukkan problem penelitian? Belum. Itu baru data terkait fenomena atau konteks. Data lapis pertama. Sila dibayangkan seolah kita sedang membuat sebuah kue lapis…

Setelah lapisan pertama, peneliti harus melanjutkan lagi uraiannya untuk lebih masuk ke persoalan yang akan diangkat dari fenomena tersebut. Terlebih dari satu fenomena yang sama, peneliti yang berbeda bisa saja mengambil fokus persoalan yang berbeda pula. Semisal, berangkat dari keprihatinan yang sama terhadap fenomena kekerasan seksual pada anak, peneliti A berdasar data lanjutannya dapat memilih untuk memfokuskan kajian pada penerimaan diri korban. Sementara peneliti B dengan berpijak pada data berikutnya memilih untuk mengangkat permasalahan regulasi emosi pada orangtua korban.

Sebagaimana contoh tersebut, peneliti A harus melanjutkan uraiannya dengan memaparkan data dari beragam sumber yang menunjukkan adanya problem penerimaan diri pada korban kekerasan. Sementara peneliti B melanjutkan uraiannya dengan memaparkan data-data yang menunjukkan bahwa kekerasan seksual pada anak juga membawa efek psikologis yang besar pada orangtua, sehingga sekian banyak diantaranya mengalami persoalan dalam hal pengelolaan emosi. Ini adalah data lapis kedua, yang semakin mengerucut pada problem penelitian.

Sudah cukupkah paparan data sampai lapisan ini? Sabar…, masih belum😀

Jika paparan data diputus sampai di sini lalu peneliti tiba-tiba menyatakan misalnya: “Oleh karena itu (setelah rangkaian data problem penerimaan diri), peneliti bermaksud untuk menggali lebih lanjut tentang gambaran penerimaan diri pada korban kekerasan”, maka akan terasa ada keputusan yang melompat. Kalimat ini memancing pertanyaan: Mengapa ingin menggali lebih lanjut gambaran penerimaan diri korban kekerasan? Apakah sekian banyak hasil penelitian terdahulu belum ada yang menguraikannya? Apakah teori penerimaan diri tidak dapat menjelaskannya? Jawaban pertanyaan-pertanyaan inilah petunjuk problem penelitian yang sebenarnya.

(Cavanagh, 2007)

Problem penelitian dapat dipandang sebagai alasan terdekat dan utama mengapa penelitian tersebut dilakukan. Sehingga seperti yang seringkali ditemui dalam berbagai forum diskusi ide maupun laporan penelitian, menjadi kurang tepat jika peneliti menyatakan bahwa data fenomena atau konteks permasalahan merupakan problem penelitiannya.

Jika kembali pada contoh, semakin banyaknya kasus kekerasan seksual pada anak sebagaimana diuraikan pada data lapis pertama bukanlah problem penelitian. Ini data fenomena. Sementara yang menjadi problem penelitian adalah belum diketahuinya penjelasan tentang bagaimana anak yang menjadi korban kekerasan seksual mampu menerima diri dengan kejadian traumatis yang telah dialami. Problem ini muncul karena belum adanya hasil penelitian terdahulu yang memberikan penjelasan secara tepat sesuai konteks permasalahan, atau karena adanya inkonsistensi hasil-hasil penelitian yang telah mencoba mengkajinya.

Dalam hal ini, data problem penelitian (data lapis ketiga) dari berbagai sumber yang menunjukkan ketiadaan ataupun inkonsistensi penjelasan tersebut perlu dihadirkan dengan jelas. Dari mana saja sumber yang dimaksud? Buku, artikel ilmiah dari jurnal nasional maupun internasional bereputasi, laporan penelitian dari berbagai jenjang, dan sebagainya.

Jadi begitulah, sebuah kue lapis paparan data latar belakang masalah.

2. Keruntutan Alur Tulisan

Hal kedua yang perlu diperhatikan dalam menyusun latar belakang masalah adalah tentang keruntutan alur uraian. Keruntutan alur menentukan keberhasilan peneliti dalam menjelaskan problem penelitiannya. Peneliti perlu menata sedemikian rupa agar paparan dapat disajikan secara sistematis agar mudah dipahami. Berdasarkan pengamatan terhadap sejumlah naskah, saya menemukan setidaknya dua kekurangtepatan paparan yang seringkali terjadi.

Pertama, uraian yang berlompat-lompat topik pembicaraan antar paragraf sehingga membingungkan pembacanya. Semisal, belum tuntas membahas konteks, tiba-tiba melompat ke variabel/konsep yang dipersoalkan, lalu kembali bicara konteks lagi, kemudian berpindah menguraikan hal-hal lain, dan seterusnya, lalu diakhiri paksa dengan sekonyong-konyong mengajukan pertanyaan penelitian.

Kekurangtepatan kedua, seringkali dalam menyusun latar belakang, peneliti juga kesulitan untuk memilah mana sumber-sumber tulisan yang relevan dengan fokus penelitian, mana yang tidak dan harus disisihkan. Ada perasaan berkecamuk bahwa semua penting, semua terkait, sayang jika tidak ikut dituliskan. Akibatnya, ada begitu banyak atribut psikologis yang ikut diulas, yang pada akhirnya justru semakin mengaburkan fokus. Dan ketika uraian sudah semakin menyimpang dari alur seharusnya, begitu akan kembali lagi ke topik pembicaraan semula, peneliti yang kebingungan menyambungkan uraiannya kemudian terjun bebas melakukan lompatan-lompatan bahasan yang tidak kalah ruwet dari tulisan kelompok pertama. Seru! 😀

Lantas bagaimana cara mengatasinya?

Masih ingat tidak saat dulu di kelas Bahasa Indonesia kita belajar membuat karangan? Pertama yang perlu dilakukan adalah menentukan pokok-pokok pikiran dan menyusunnya secara urut. Nah, menyusun latar belakang masalah pun sama, akan baik jika dapat dilakukan dengan proses demikian. Sangat membantu agar kita tetap berada pada alur yang benar ketika merangkai uraian demi uraian, menyambung penjelasan demi penjelasan dari berbagai sumber rujukan. Dan sebenarnya jika penulisan latar belakang dapat dilakukan dengan selalu memperhatikan kebutuhan lapis demi lapis data mulai dari fenomena hingga problem, maka persoalan ketidakruntutan uraian juga akan dapat diminimalkan.

3. Pernyataan Pikiran Peneliti

Selain keutuhan data problem penelitian dan keruntutan alur pikir, satu lagi yang perlu diperhatikan dalam penyusunan latar belakang masalah adalah keharusan menuliskan pernyataan-pernyataan hasil penalaran peneliti terhadap data maupun berbagai literatur yang dirujuk. Peneliti harus memberikan argumentasi mulai dari bagaimana fenomena atau fakta-fakta yang sudah dijabarkan sebelumnya bisa menjadi suatu sumber masalah yang penting untuk diteliti, berikut penjelasan mengapa tema spesifiknya dipilih menjadi fokus penelitian. Peneliti perlu mengulas lebih lanjut sitasi-sitasi yang dibuatnya, memaknai setiap data, membuat benang merah antar bagian tulisan sehingga paparan ide penelitiannya menjadi utuh.

Tanpa pernyataan argumentatif peneliti, latar belakang masalah hanya akan berisi kutipan demi kutipan sumber rujukan yang dipotong-tempel begitu saja. Akibatnya, selain menyebabkan tulisan menjadi kering, kaku, tidak komunikatif dan sulit dipahami, langkah ini juga dekat dengan persoalan plagiasi ilmiah.

Karena itu, sebagaimana telah dituliskan terdahulu, membuat uraian latar belakang masalah penelitian merupakan bagian yang senyatanya sangat menantang. Namun mengingat ini adalah penentu persepsi lanjut pembaca terhadap keseluruhan proposal atau laporan penelitian, sekaligus penentu keberhasilan langkah mengkomunikasikan dan memanfaatkan hasil sebuah proses ilmiah, maka sudah semestinya setiap peneliti berusaha maksimal dalam menyusunnya.

*****

Tulisan lain yang terkait:
– Seputar Penyusunan Tugas Akhir
– Tentang Literature Review
– Ngobrol Skripsi Kualitatif

Iklan

Beri Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s