Selamat Jalan, Pak Udin

Tak terduga, long weekend yang awalnya disambut dengan begitu antusias ini harus ditutup dengan berita duka yang cukup menyesakkan. Satu lagi orang luar biasa di lingkungan tempat kerja saya telah berpulang. Dia adalah Pak Bakhrudin Ismail, atau yang biasa dipanggil Pak Udin, sosok karyawan yang dengan keramahan dan kesantunannya menjadi kesayangan para mahasiswa hingga dosen. Tak heran jika kemudian selama beberapa tahun berturut-turut di peringatan Dies Natalis, Pak Udin selalu dinobatkan sebagai tenaga kependidikan terbaik di Fakultas Psikologi Unair.

Bagi kami semua, rasanya kepergian Pak Udin begitu mendadak. Hingga Rabu lalu, sehari sebelum libur, saya sendiri masih bertemu dan bertegur sapa dengan Pak Udin di kampus. Masih melihatnya bekerja dengan penuh semangat sebagaimana biasanya. Selama ini pun saya tidak pernah mendengar Pak Udin mengalami sakit yang serius, meski memang pada akhirnya semua akan kembali pada kuasa dan rahasia Allah, dengan segala yang telah digariskan-Nya.

Pak Udin adalah tenaga kependidikan yang menurut saya tiada dua. Beberapa hal dalam perilakunya menjadi pembeda cukup menonjol dari sejawatnya yang lain.

1.Senyum Tulus dan Keramahan yang Memberi Semangat

Jika satu per satu orang yang mengenal Pak Udin ditanya tentang kesan mereka terhadap beliau, rasanya semua akan kompak bercerita tentang senyumnya yang tulus, sapaannya yang begitu ramah dan khas pada setiap orang yang ditemui.

“Selamat pagi, mbak/mas/pak/bu..”, “Ada yang bisa dibantu?”, “Semangat! Semangat!”, kata-kata itu selalu diucapkannya dengan wajah ceria, penuh keikhlasan, bukan sekedar basa-basi menggugurkan kewajiban. Disadari maupun tidak, sapaan hangat ini seringkali memberi energi lebih, menghadirkan pikiran positif yang perlahan menyisihkan mood yang kadangkala sedang tidak baik.

Saya masih ingat momen menggembirakan saat Pak Udin beralih tugas dari penjaga parkir yang kemudian diperbantukan untuk turut menjaga ruang dosen lama, lalu menjadi petugas resepsionis fakultas ketika berpindah di gedung baru. Itu adalah momen penting yang membuat fakultas kami menjadi Fakultas Psikologi yang jauh lebih humanis, dengan petugas garda depan yang benar-benar mampu membawa citra baik sebagaimana seharusnya: Ramah, informatif dan setiap saat menunjukkan kesediaan untuk membantu.

Tentang senyum dan sapaan ikhlas ini, beberapa kali di akun facebook miliknya Pak Udin juga seolah mengingatkan agar orang lain mau melakukan hal serupa.

PU 6PU 5

Seorang mahasiswa (Pradika) bahkan menuliskan penggalan percakapan yang menarik dengan Pak Udin di timeline-nya:

Masih ingat kata-kata almarhum Pak Udin ketika saya bertanya, “Panjenengan mboten kesel ta Pak, ngucap selamat pagi terus? Padahal yo akeh sing nggak ngreken?” Dan beliau pun menjawab, “Gak papa Mas, menularkan semangat pagi itu nambah amal”.

Jawaban ini konsisten diberikan Pak Udin setiap kali orang yang lain juga menanyakan hal serupa. Senyum bagi Pak Udin adalah ladang amalnya, untaian ibadah yang insyaAllah tak pernah putus hingga akhir usianya.

2. Sosok yang Religius

Selain melalui amalan baiknya tiap kali berinteraksi dengan orang lain, dalam hal ibadah Pak Udin juga salah satu penggiat shalat jamaah di kampus, sehingga mushalla di dalam ruang staf menjadi hidup setiap harinya. Melalui akun media sosial Pak Udin juga cukup banyak membagi infomasi atau sekedar pesan baik berdasar kutipan Ayat Al Qur’an, Hadis Nabi, tulisan ulama’, maupun penggalan isi buku agama yang dibacanya.

PU 8 PU 9

Meski penampilan biasa saja, tak pernah berusaha menonjolkan keimanannya, namun jangan pernah meragukan keyakinan Pak Udin tentang ajaran agamanya.

3. Pembelajar Mandiri

Tentang hal ini saya pertama kali tahu justru dari cerita suami, saat kampus masih menempati gedung lama, di masa-masa Pak Udin masih menjadi karyawan baru penjaga parkir. Kebetulan waktu itu suami yang belum mengundurkan diri dari pekerjaan sebagai dosen lebih dulu terlibat berbagai macam diskusi dengan Pak Udin, terkait buku-buku seputar pendidikan yang mereka baca.

Tak hanya tentang pendidikan, minat belajar Pak Udin juga ditunjukkan terhadap topik-topik pengetahuan yang lain, baik dalam bidang ilmu psikologi maupun hal-hal yang berbau ketrampilan praktis. Seorang mahasiswa menceritakan bagaimana Pak Udin meminta diajari untuk membuat sebuah proposal kegiatan. Mahasiswa yang lain menuturkan pengalamannya saat Pak Udin meminta diberikan informasi manakala ada pelatihan yang bisa diikutinya. Senior dosen menuturkan bagaimana Pak Udin mengikuti kuliah beliau dengan antusias demi untuk mendapatkan tambahan ilmu tentang anak dan keluarga. Sementara rekan dosen yang lain menceritakan saat Pak Udin ingin diajari tentang salah satu teknik dalam menganalisis data penelitian. Kepada saya sendiri, pernah suatu ketika Pak Udin mengatakan, “Kalau ada aktivitas-aktivitas tertentu yang memungkinkan saya ikut belajar, saya mau diajak ya mbak..”

Bagi Pak Udin, ilmu yang begitu luas adalah ruang-ruang belajar yang tidak boleh berbatas. Sampai kapan pun orang harus terus belajar, giat dan mandiri mencari kesempatan untuk mengumpulkan ilmu.

PU 1

4. Inisiatif dalam Bekerja

“Mbak, kalau ada acara-acara apa di kampus, saya terima kasih sekali kalau bisa diberi info sebelumnya. Biar kalau ada orang-orang yang datang nanya atau telepon, saya bisa jawab. Saya sedih kalau ditanya-tanya sesuatu trus nggak bisa njawab karena nggak tahu informasinya mbak. Padahal ini tugas saya. Takutnya kesannya jadi nggak bagus buat fakultas..”, saya terngiang lagi kalimat Pak Udin ini, saat ia masih jadi resepsionis di kampus.

“Siap, Pak Udin! Kalau ada apa-apa nanti saya kabarkan ke Pak Udin segera ya..”, begitu jawab saya sambil terkagum melihat inisiatifnya dalam bekerja. Sejak itu, setiap saya ditunjuk untuk mengkoordinir kepanitiaan tertentu, selama mengelola Prodi Magister Psikologi, ataupun saat sekedar mengetahui adanya kegiatan tertentu di luar rutin, saya selalu menyegerakan untuk menginformasikannya pada Pak Udin. Dan setiap kali info saya berikan, setiap kali pula sambutan antusias dan kata terima kasih berulang diucapkan oleh Pak Udin dengan sumringah. “Saya senang kalau tahu banyak mbak, bisa mbantu njelaskan ke yang membutuhkan informasinya”.

Begitulah, melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya dengan sebaik mungkin adalah keinginan Pak Udin. Tanpa ada yang meminta, tanpa menunggu instruksi, ia akan aktif mencari informasi. Inisiatifnya yang tinggi juga ditunjukkan dari kemauannya sendiri untuk membantu membangun citra baik fakultas dengan tampil rapi mengenakan jas ketika berperan sebagai resepsionis, khususnya di hari-hari di luar jadwal karyawan mengenakan seragam.

Bagi beberapa orang mungkin langkah ini dianggap sepele, atau justru dipandang berlebihan dan tidak perlu. Tapi menurut saya Pak Udin telah menunjukkan bahwa ia ingin berbuat banyak, ingin total dalam bekerja. Ia tahu bahwa garda depan adalah kunci dalam membangun kesan positif atau negatif dari pihak luar. Ia paham bahwa resepsionis adalah sosok penting yang sangat membantu fakultas dalam membangun branding. Karena itulah ia ingin melaksanakan perannya dengan maksimal, terlepas dari bagaimana penilaian sejawatnya yang mungkin berbeda pemikiran.

5. Kesabaran Tanpa Batas

Pendidikan terakhir Pak Udin itu S2. Dengan latar belakang ini semestinya Pak Udin bisa memperoleh pekerjaan yang lebih layak dari seorang office boy yang kemudian bergeser ke penjaga parkir, lalu resepsionis, hingga akhirnya belum lama dirotasi ke urusan kepegawaian. Tapi semua dijalaninya dengan ikhlas dan penuh syukur, karena kecintaan penuh terhadap tempat kerjanya.

“Saya sudah mengabdi belasan tahun di sini, mulai jadi office boy, tukang parkir, dll, sampai saya duduk di posisi saya sekarang ini. Saya bisa saja pindah untuk melamar kerja di tempat lain dengan posisi yang lebih baik. Tapi gimana ya, saya sudah terlanjur nyaman dan jatuh cinta dengan tempat ini. Fakultas Psikologi ini sudah seperti rumah saya, saya belajar banyak hal di tempat ini. Keluarga saya ada di sini.” (Catatan Intan Syahputri)

Kesabaran lain ditunjukkan dari sikapnya terhadap rekan kerja yang berpendapat berbeda terhadap keseharian Pak Udin. Pak Udin bukan tipe karyawan yang suka mengeluh, baik seorang diri maupun dalam pembicaraannya dengan sesama rekan kerja. Ia bukan orang yang suka membicarakan kejelekan sesuatu, bergunjing, atau sekedar ikut-ikutan menilai hal-hal yang berada di luar kapasitasnya. Jika ada suasana demikian, Pak Udin akan memilih untuk tidak terlibat.

“…(sembari tersenyum) Maaf Mbak, saya nggak punya kapasitas apa-apa untuk menjawab. Takut salah. Saya juga nggak suka menggunjing”. Sangat terlihat bagaimana beliau menanggapi pertanyaan. Kalau orang yang (mungkin) suka nyinyir pasti sudah terbawa oleh pertanyaan sederhana dari saya. Pasti bahasan A-Z akan dikeluarkan dari mulutnya. Tapi tidak untuk Pak Udin. Walaupun beliau punya value untuk tidak bergunjing, tapi beliau tetap berusaha menjawab setiap pertanyaan dengan sopan dan tidak menyinggung. Beliau juga tidak menyalahkan atau membenarkan pertanyaan yang bukan kapasitasnya untuk menjawab (Catatan Decy)

Pilihan sikap yang berbeda dari kebanyakan orang tersebut, ditambah dengan bagaimana ia kemudian mudah akrab dengan orang lain dan keinginan belajarnya yang sedemikian tinggi, membuat Pak Udin sadar bahwa tidak semua rekannya sependapat dan memandang positif terhadap hal-hal yang dilakukannya. Pak Udin pernah menyampaikan bagaimana ia memahami bahwa tidak semua orang menyukainya. Namun semua berusaha disikapinya dengan lapang dada, dengan pemahaman bahwa memang wajar jika setiap individu memiliki pikirannya masing-masing. Ia menghormati betul keragaman yang ada di sekelilingnya, meski pada saat yang sama ia tetap memilih untuk setia pada pendiriannya. Sabar ibarat jangkar, tempat Pak Udin berpegang erat manakala menghadapi berbagai situasi yang tidak menyenangkan.

PU 4PU 2Kini, Pak Udin telah tiada. Sosok luar biasa itu telah kembali ke hadapan Sang Khalik. Semoga teladannya selama ini tak hanya terkenang dalam ingatan, namun tetap hidup memberikan inspirasi baik untuk terus kita sebarkan dan lakukan. Ia adalah guru dalam bersikap dan berperilaku dengan penuh ketulusan.

Selamat jalan, Pak Udin. Allah Maha Mengetahui segala kebaikan yang Bapak tanam selama ini. Matur nuwun sanget untuk semuanya. Untuk setiap semangat dan keceriaan yang selalu dibagi setiap hari, untuk semua bantuan yang telah banyak diberikan kepada kami.

Semoga Allah memberikan tempat yang terbaik untuk Pak Udin di sisi-Nya. Hormat kami selalu untuk Pak Udin..

PU 3 (Terima kasih untuk Pradika, Intan Syahputri dan Decy yang catatan-catatan dalam timeline-nya turut menjadi sumber kutipan dalam tulisan ini)

Iklan

14 thoughts on “Selamat Jalan, Pak Udin

  1. Langsung mbrebes mili di bagian: nabi Zakaria berkata, aku tidak pernah kecewa dalam beroa kepadaMu.

    Bahwa yang dikutip pak Udin, adalah hal yang kadang masih saya lakukan hingga saat ini (tidak sabar dlm berdoa, mempertanyakan kepada Tuhan kenapa begini begitu, dst).

    Pak Udin, ternyata juga guru saya.
    Terima kasih bu Wiwin sudah menulis soal ini.

  2. Dan masih mellow walopun udh beberapa kali mengulang membaca tulisan ini.. Bahkan ketika sudah tiada pun, sosoknya masih menebar kebaikan lewat tulisan dari bu Wiwin dan orang2 lain yang terinspirasi melalui perilaku dan ucapannya ☺

  3. Kaget dengar p.udin meninggal. Ingatan itu langsung kembali dlm masa2 kuliah. Yg hampir tiap hari p.udin selalu membantu aku tiap kali parkir motor, tiap hari…itu yg p.udin lakukan wkt msh jadi tukang parkir dng ikhlas..semoga khusnul khotimah…

  4. Setuju dengan semua yang Bu Wiwin tulis ttg Pak Udin. Tetapi baru tahu juga kalau pak Udin ternyata sudah S2. Benar-benar individu langka. Semoga segera bermunculan pak Udin- pak Udin yang lain di kampus psikologi unair. Dari berbagai rasa duka yang disampaikan di medsos teman2, tulisan Bu Wiwin yang paling bikin saya menangis. Semoga amalnya diterima di Sisi-Nya… aamiin…

  5. Terima kasih kepada semua dosen, mahasiswa, rekan kerja, sahabat, teman, dan semuanya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu yang telah mendoakan kakak saya tercinta.
    Adikmu ini akan selalu mengenang engkau sebagai kakak, sahabat, teman, dan guru kehidupan yang sejati. Semoga adikmu ini bisa mencontoh setiap kebaikan yang telah kau contohkan selama hidup. Amiin

    Salam,

    Achmad Zaini

Beri Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s