Catatan dari Korea (1): ICEPAS 2016

Tuhan Maha Baik. Ketika kita bersungguh memohon dan percaya bahwa Dia akan memberi jalan, maka tak ada yang tak mungkin akan terjadi. Saya yang berasal dari keluarga sederhana, dulu rasanya jauh dari angan untuk bisa pergi mengunjungi tempat-tempat menarik di negara lain. Namun ternyata kuasa-Nya berkata lain.

Tahun 2007, keikutsertaan di International Conference on Education membawa saya untuk pertama kalinya mengunjungi Brunei Darussalam. Dua tahun kemudian, 2009, fakultas yang mengadakan gathering staf pengajar memberi kesempatan saya untuk ikut mengunjungi Beijing dan Shanghai di China. Lanjut di Tahun 2011, pengalaman bertambah ketika saya lolos seleksi untuk mengikuti program short course tentang pendidikan inklusif selama 6 minggu di Flinders University Adelaide, South Australia. Ini adalah pengalaman pertama dalam waktu yang cukup lama meninggalkan keluarga dan khususnya Damai yang saat itu masih berumur 5 tahun.

Tahun 2013, kesempatan lain datang untuk kembali mengikuti konferensi internasional psikologi di Osaka. Saya telah menuliskan secara khusus pengalaman di Jepang ini karena benar-benar terkesan dengan negaranya yang cantik. Lalu di 2014, seusai mengikuti Kolokium Psikologi Indonesia yang kala itu diselenggarakan di Pekanbaru, rombongan dimana saya bergabung ternyata memutuskan untuk singgah sebentar di Penang Malaysia, sebelum pulang. Dan masih di tahun yang sama, saya kemudian turut berangkat ke Queensland University of Technology, Brisbane Australia, terkait pengurusan kerjasama antar institusi.

Tahun 2015 saya kembali ke China untuk mengikuti konferensi psikologi di Hangzhou, sekaligus mengunjungi pula Senzhen, HongKong dan Macau. Dan setelah 7 perjalanan jauh tersebut, baru tahun inilah tiba saatnya saya pergi ke negeri impian, Korea Selatan. Kenapa Korea? Ah, sudahlah, tidak perlu dijawab. Semua rasanya sudah paham bahwa saya adalah salah satu penggemar drama Korea. Dari kegemaran tersebut, saya mulai membaca sejarah Korea, mencari berbagai informasi terkait beragam tradisinya, bahkan pernah mengambil kursus singkat tentang bahasanya, meskipun hanya 3 bulan karena kesulitan mencari waktu luang untuk melanjutkan.

Perjalanan saya ke Korea ini kembali melalui jalur konferensi, seperti saat ke Brunei, Jepang, dan China kali kedua. Saya mengikuti International Conference on Education, Psychology and Society (ICEPAS), yang diadakan di Jeju Island, semacam Bali-nya Korea. Dari fakultas, saya berangkat bersama 3 rekan dosen yang lain.

FullSizeRender 107

Mengingat banyaknya hal berkesan dalam pengalaman ke Korea ini, maka saya akan menceritakannya dalam beberapa tulisan yang berbeda. Untuk tulisan pertama, singkat akan saya uraikan lebih dulu tentang konferensi yang saya ikuti.

ICEPAS diselenggarakan oleh Higher Education Forum (HEF). HEF ini forum yang serupa dengan The International Academic Forum (IAFOR), penyelenggara Asian Conference on Psychology and Behavioral Sciences yang saya ikuti tiga tahun lalu di Jepang. Meski bukan asosiasi yang secara khusus mengembangkan kajian di bidang psikologi, HEF maupun IAFOR secara berkala mampu mengumpulkan hasil-hasil penelitian yang menarik dan baik secara metodologis melalui event ilmiah yang diadakan. Walaupun memang saya pribadi masih lebih suka dengan event yang dikelola oleh IAFOR karena penyelenggara yang jauh lebih informatif, lebih padat jadwal, dan lebih banyak keynote speaker yang keren dari para ilmuwan psikologi yang riset-risetnya sudah sangat diakui secara internasional. Saya tuliskan catatan tersebut sebagai masukan untuk HEF di lembar evaluasi yang diisi oleh semua peserta, agar ke depan pelaksanaan konferensi dapat diupayakan menjadi lebih baik.

Sekian banyak peserta yang tak kurang dari 10 negara berpartisipasi dalam ICEPAS 2016, antara lain Korea Selatan sebagai tuan rumah, Indonesia, Filipina, Taiwan, Oman, Kenya, India, Canada, Singapura, China, Jepang, dsb. Pada konferensi kali ini saya mempresentasikan paper dari materi disertasi, tentang empat fase dalam proses resiliensi yang dilalui individu dalam perubahan fisiknya menjadi difabel.

FullSizeRender x FullSizeRender 109 FullSizeRender 201
IMG_3343FullSizeRender202

Sesi presentasi aman terkendali, tugas terlaksana dengan cukup baik. Di luar kelas yang utama saya ikuti, sempat belajar juga di kelas-kelas paralel yang lain, dan menemukan beberapa ide penelitian yang sepertinya ke depan dapat dilakukan. Selain itu, saya sempat menemukan sejumlah mahasiswa dari Korea yang luar biasa penguasaan metodologi dalam penelitiannya, menggunakan analisis statistik yang rumit, dan mereka mampu menjelaskannya dengan detil pada saat presentasi, meskipun pendidikannya masih di level S1. Mau tidak mau ini menjadi catatan tersendiri untuk terus mendorong mahasiswa agar juga berusaha menguasai metodologi penelitian dengan optimal, sehingga nantinya mampu menghasilkan karya-karya ilmiah yang berkualitas, bukan ala kadarnya.

Icepas
icepassICEPAS lagi

OK, tampaknya cukup dulu untuk tulisan pertama tentang perjalanan ke Korea ini. Berikutnya akan saya lanjutkan dengan cerita tentang Pulau Jeju yang menawan 🙂

Iklan

6 thoughts on “Catatan dari Korea (1): ICEPAS 2016

  1. Ping balik: Catatan dari Korea (2): Pulau Jeju yang Menawan | Wiwin Hendriani

  2. Ping balik: Catatan dari Korea (3): Menyusuri Seoul, Diantara Sisa-sisa Tenaga | Wiwin Hendriani

  3. Ping balik: Disability and Resilience: Four Phases to Overcome Significant Adversity in The Life Changes | Wiwin Hendriani

  4. Ping balik: Selamat Tinggal 2016, Selamat Datang 2017 | Wiwin Hendriani

Beri Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s