Mengasuh Anak dengan Segala Keunikannya

Berikut dibagikan tulisan singkat yang termuat dalam Buletin Anak Ceria Edisi Oktober 2015.

FullSizeRender (21)

Tuhan telah menciptakan segala sesuatu di dunia dengan penuh warna. Keragamannya membuat hidup menjadi lebih dinamis, menjadikan manusia belajar tentang bagaimana saling memahami dan menghargai setiap perbedaan yang ada. Begitu pula terhadap anak dan segala kondisinya.

Seorang anak lahir membawa berbagai macam potensi kemampuan, juga ciri dan sifat yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Karena itu, setiap anak dalam perkembangannya akan selalu memiliki kekuatan dan kelemahan yang tidak dapat disama-ratakan. Ada yang kuat di kemampuan akademik, namun lemah di ketrampilan fisik-motorik. Ada yang memiliki kelebihan dalam bidang seni, namun kurang begitu menonjol dalam kemampuan berbahasa. Ada yang di satu sisi sangat perasa, namun di sisi lain begitu cekatan dalam menyelesaikan setiap tugas yang diberikan kepadanya. Jadi, setiap anak memiliki keunikannya masing-masing.

Lalu dengan keunikan yang ada, apakah setiap anak memiliki peluang yang sama untuk berhasil dalam hidup? Ya, namun tentu dalam bidang yang berbeda-beda, sejalan dengan kemampuan yang dimiliki. Demikian pula dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Berbagai media telah banyak memberitakan tentang sosok-sosok berkebutuhan khusus yang ternyata mampu mencapai prestasi, menunjukkan keberhasilan dan kiprah di masyarakat yang sama bahkan lebih baik dengan individu lain yang tidak menyandang disabilitas.

Terkait hal ini, tugas orangtua adalah menumbuhkan berbagai potensi, berbagai kemampuan dan sifat baik, menumbuhkan pola-pola perilaku positif dalam diri anak dengan segala kondisinya, melalui proses pengasuhan yang tepat dan dalam atmosfir interaksi yang juga sehat. Bagaimana caranya?

  1. Memahami dengan baik segala keunikan anak, apa kekuatan dan kelemahannya, seperti apa pola perilaku yang kerap dimunculkannya sehari-hari, dan berbagai ciri khas lain yang mungkin dimiliki. Setiap anak itu istimewa. Semua memiliki potensi yang dapat dikembangkan demi keberhasilan hidupnya kelak. Dalam hal ini orangtua juga harus objektif, tidak boleh begitu saja menyamaratakan harapan dan cara pengembangan potensi antara satu anak dengan anak yang lain, sebab bahkan antar saudara pun berbagai karakter dan kelebihan dapat saling berbeda.
  2. Mengupayakan pencapaian tujuan dengan menerapkan pengasuhan yang sesuai, sebagaimana kondisi masing-masing anak. Kemampuan apa yang akan dikuatkan, diberikan stimulasi yang lebih, dan perilaku apa yang mungkin perlu diperbaiki pada satu anak boleh jadi akan berbeda dengan anak yang lain.
  3. Menyediakan waktu dan perhatian yang cukup untuk anak, serta membangun suasana interaksi dalam keluarga yang baik, penuh dukungan dan komunikasi yang terbuka. Ibarat tanaman, jika ditanam di lahan yang subur dan terawat, tentu hasilnya akan lebih bagus daripada sejenisnya yang ditanam di lahan gersang. Belajar di ruang kelas yang nyaman dengan interaksi antar siswa dan guru yang penuh dukungan, akan membantu anak untuk berkonsentrasi sehingga hasil yang dicapai juga semakin baik. Nah, begitu pula dengan rumah dan keluarga. Anak akan tumbuh lebih optimal ketika berada dalam lingkungan yang sehat dan menyediakan banyak contoh perilaku positif.

Melengkapi penjelasan ringkas tersebut, berikut beberapa saran bagi orangtua yang keduanya bekerja:

  1. Selalu tanamkan dalam pikiran bahwa penanggungjawab utama tumbuh kembang anak bukanlah guru atau pengasuh, melainkan diri sendiri sebagai orangtua. Hal ini penting untuk membangun kendali dalam diri agar lebih optimal mendampingi anak di masa-masa penting tumbuh kembang mereka, tidak mudah menyalahkan pihak lain atau bahkan lepas tangan dengan berbagai alasan terhadap segala sesuatu yang terjadi pada anak.
  2. Terkait poin pertama, usahakan untuk mengatur waktu yang seimbang antara tugas pekerjaan dengan tugas sebagai orangtua di setiap harinya.
  3. Imbangi kurangnya waktu mendampingi aktivitas anak dengan mengupayakan kualitas interaksi yang baik manakala sudah berada kembali di rumah dan sedang bersama anak. Jadilah pendengar yang baik, teman yang penuh perhatian, sehingga anak akan tetap percaya bahwa meski kedua orangtuanya bekerja, bukan berarti mereka mengabaikannya.
  4. Ada baiknya mengenalkan anak dengan pekerjaan orangtua, disertai dengan penjelasan yang dapat dipahami oleh mereka tentang mengapa kedua orangtua harus bekerja.
  5. Membangun komunikasi dan kerjasama yang optimal dengan pengasuh anak, sehingga orangtua tidak kehilangan informasi tentang segala hal terkait perkembangan anak di setiap harinya. Saling dukung dan satu prinsip antara pihak-pihak yang terlibat mengasuh anak akan memberi hasil yang jauh lebih baik dibandingkan apabila antar pengasuh memberikan perlakuan dan mengajarkan segala sesuatu yang berbeda arah terhadap anak.
Iklan

Beri Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s