Cerita dari Seminar Appreciative dan Innovative Parenting

Sabtu, 30 Mei 2015. Sesuai jadwal yang telah disusun sejak sebulan sebelumnya, bersama dengan Ibu Abyz Wigati saya membantu Pusat Terapan Psikologi Pendidikan (PTPP) Fakultas Psikologi Universitas Airlangga untuk menjadi pembicara dalam Seminar Appreciative dan Innovative Parenting. Seminar yang bertempat di Aula Excellent with Morality Fakultas Psikologi UNAIR ini dihadiri oleh kurang lebih 60 orang peserta, terdiri dari para orangtua, guru, aktivis LSM yang bergerak di bidang pendidikan anak, juga sejumlah mahasiswa dan alumni.

IMG_5818

Suasana Seminar

Aula luas berdesain formal diubah oleh panitia menjadi ruang seminar bergaya “talk-show” yang jauh lebih nyaman untuk belajar dan berdialog. Di dalamnya, selama kurang lebih 4 jam para peserta menunjukkan antusiasme untuk menyimak berbagai penjelasan, baik dari saya, Ibu Abyz maupun Pak Rudi Cahyono selaku moderator. Tak hanya fokus di setiap pemaparan materi, mereka juga aktif mengajukan berbagai pertanyaan yang terkait langsung dengan topik seminar maupun hal-hal lain seputar pengasuhan dan pendidikan anak.

FullSizeRender (27)

Suasana yang kondusif ini bertambah menyenangkan ketika di sela-sela sesi, peserta juga disuguhi oleh penampilan beberapa mahasiswa magang PTPP yang menyanyikan beberapa buah lagu dengan apik. Sungguh kreatif kerja panitia, tidak kalah dengan acara-acara talk-show yang sering kita lihat di televisi.

FullSizeRender (26)

Sekilas Tentang Materi

Materi yang saya sampaikan adalah tentang “Pengasuhan untuk Mengembangkan Karakter dan Bakat Anak”. Saya mengawali pemaparan materi ini dengan mengajak seluruh peserta untuk menyamakan persepsi terlebih dahulu tentang apa itu pengasuhan dari sudut pandang Psikologi Perkembangan.

Secara ringkas, mengasuh pada prinsipnya adalah sebuah proses untuk ‘menumbuhkan’. Menumbuhkan berbagai potensi, berbagai kemampuan dan sifat baik, menumbuhkan pola-pola perilaku positif dalam diri pada anak. Seperti diketahui, seorang individu lahir dengan membawa berbagai macam potensi kemampuan, juga ciri dan sifat yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Karena itu, setiap anak dalam perkembangannya akan selalu memiliki kekuatan dan kelemahannya masing-masing yang tidak dapat disama-ratakan.

Processed with Moldiv

Ibarat akan menumbuhkan dan merawat berbagai macam tanaman, setiap orangtua perlu mengenal seperti apa karakteristik tanaman tersebut: Termasuk jenis tanaman apa; pada bagian apa ia tampak istimewa; penyuka sinar matahari atau lebih tepat ditempatkan di area yang teduh; penyuka air atau justru sebaliknya, akan cepat mati jika terlalu banyak disiram; dan sebagainya.

Pada dasarnya tidak ada 1 formula ataupun resep pengasuhan terbaik yang dapat digeneralisir untuk semua anak. Sebagaimana selalu saya yakini, pengasuhan yang tepat adalah yang sesuai dengan karakteristik masing-masing anak, agar mereka dapat mencapai perkembangannya secara optimal. Belum tentu cara mengasuh yang sesuai untuk si A akan berhasil sama baik ketika diterapkan pada si B. Sebagaimana belum tentu cara merawat dan menumbuhkan bunga Melati dapat diterapkan begitu saja pada tanaman Krisan.

FullSizeRender (30)

Saya mengambil satu konsep pengasuhan yang sederhana dari Diana Baumrind, yang menjelaskan bahwa pengasuhan dalam prakteknya adalah serangkaian proses pemberian support dan control terhadap berbagai aspek perkembangan anak secara tepat dan seimbang. Kata tepat dan seimbang di sini menjadi ketentuan sebuah pengasuhan yang baik. Jadi bukan pengasuhan yang terlalu banyak support namun minim control, maupun sebaliknya.

Pada sekian banyak problem pengasuhan yang seringkali terjadi, setelah ditelusur tidak sedikit diantaranya yang berakar dari pemberian support atau penerapan kontrol yang kurang sesuai. Misalnya, bermaksud mendukung proses belajar anak dengan selalu memberikan hadiah berupa barang atau uang setiap kali ia memperoleh nilai bagus, ternyata justru mendatangkan kebiasaan untuk berperilaku pamrih dalam belajar. Jadi bukan belajar dengan kesadaran untuk memperoleh ilmu atau menguasai ketrampilan tertentu, melainkan untuk mendapatkan hadiah.

FullSizeRender (31)

Terkait penjelasan sebelumnya, support dan control yang tepat dan seimbang juga harus memperhatikan keunikan dan karakteristik masing-masing anak. Salah satu diantaranya adalah bakat atau potensi yang secara spesifik ada dalam diri mereka. Bakat mencerminkan kekuatan yang dimiliki oleh anak, yang apabila terus diasah dan dikembangkan suatu saat dapat menjadi jalan baginya untuk berhasil dalam hidup.

Sampai di sini, dengan visualisasi beberapa slide dan video, saya kemudian menjelaskan beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orangtua dalam upaya mengenali dan mengembangkan bakat putra-purinya melalui pengasuhan.

Paparan mengenai pengembangan bakat saya lanjutkan dengan mengajak para peserta untuk mengimbanginya dengan pengembangan berbagai karakter positif dalam diri anak. Keduanya adalah unsur yang saling melengkapi. Karakter berhubungan dengan value dalam hidup, yang dimunculkan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku. Seorang yang berkarakter baik, perilakunya akan mencerminkan nilai-nilai yang baik, seperti: Pantang menyerah, bertanggung jawab, mandiri, hormat pada orang lain, dan sebagainya.

FullSizeRender (32)

Memiliki bakat di bidang akademik, misalnya, antara anak yang menyadari kemampuannya dan memiliki pengelolaan diri dalam belajar tentu akan berbeda perilaku dengan mereka yang masih bergantung pada kontrol atau pengingat dari orang lain dalam rutinitas pengembangan potensinya. 2 anak yang sama-sama berbakat musik, contoh yang lain, antara yang memiliki kemauan untuk giat berlatih secara mandiri dengan yang tidak tentu juga akan berbeda hasil.

Karakter positif yang perlu diasah sejak dini juga menentukan bagaimana kelak anak akan berperilaku ketika dewasa: Apakah akan menjadi seorang chef yang kreatif dalam mengkreasikan menu dan tampilan masakan baru, atau hanya memasak ala kadarnya? Apakah akan menjadi ilmuwan yang tekun, atau justru berdaya juang rendah sehingga mudah putus asa dalam usahanya? Apakah akan menjadi seorang dokter yang memiliki kepekaan sosial tinggi, atau malah berpikir dan bertindak menolong berdasarkan perhitungan untung-rugi? Apakah akan menjadi staf perusahaan yang handal dan jujur, atau justru menjadi karyawan berbakat yang berperilaku korup?

Semuanya tentang karakter. Dan sekali lagi, sebagaimana perkembangan bakat, aspek ini juga akan terbentuk lewat proses pengasuhan yang panjang, sehingga perlu diupayakan pembelajaran dan pembiasaannya sejak masa anak.

Beberapa Pertanyaan

Banyak pertanyaan dilontarkan oleh peserta yang menggali lebih jauh informasi di sesi diskusi seminar ini. Beberapa yang menarik dan terkait langsung dengan materi akan coba saya tuliskan secara khusus dalam posting berikutnya, sebagai sarana belajar kita bersama sebagai orangtua.

FullSizeRender (29)

Akhirnya, terima kasih kepada PTPP Fakultas Psikologi UNAIR yang telah menyelenggarakan event keren ini. Saya rasa semua sepakat bahwa menjadi orangtua adalah momen belajar panjang yang tiada akhir. Meski telah bertahun atau bahkan berpuluh tahun menjalaninya, akan selalu ada tantangan baru yang setiap saat muncul dan mau tidak mau harus dihadapi. Karena itu, kegiatan berbagi, berdiskusi dan saling belajar bersama orangtua yang lain akan selalu memberikan manfaat untuk terus memperbaiki proses pengasuhan yang kita lakukan.

FullSizeRender (28)

Iklan

Beri Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s